Ia segan untuk berkumpul. Ia lebih senang sendirian. Tepatnya menyendiri. Wafa, sarjana ilmu Islam yang baru lulus dari sebuah sekolah tinggi. Entah kenapa. Teman-temannya yang suka berjamaah bareng di masjid juga tidak tahu.
Sehabis sholat berjamaah atau acara lain di masjid Wafa langsung bergerak pergi. Pulang atau sekadar jalan-jalan. Ia tidak pernah tampak bergaul dengan pemuda sebaya. Hidupnya seolah kesendirian. Temannya adalah kesendirian.
Pak Ustadz tahu potensi Wafa. Maka ia bergerak menjejeri langkah Wafa sesudah selesai sholat Isya berjamaah.
"Kok langsung pulang, Wafa? Nggak kumpul dulu sama teman-teman di masjid. Siapa tahu ada yang bisa dibicarakan demi kemajuan masjid kita itu, " kata Pak Ustadz sedikit berharap.
Wafa tersenyum. Ia tidak menanggapi ucapan Pak Ustadz. Ada sedikit rasa jengah di sudut hatinya. Tentu terhadap Pak Ustadz. Buat apa tanya-tanya beginian segala?
"Ayolah... Mereka semua perlu gagasan-gagasan segar darimu. Saya yakin kalau kamu bergabung, dakwah di lingkungan kita akan lebih semarak."
Wafa tetap tidak mau membuka suara. Mulutnya terkunci. Hatinya mulai sedikit kesal. Ia tahu apa yang mesti dilakukannya. Bergaul dengan mereka? Ah, bukan itu yang dicari Wafa.
Wafa butuh gagasan-gagasan segar demi persemaian intelektualnya. Ia merasa mandeg kala bergaul dengan teman-teman yang ada di masjid. Ia seperti menjadi kuper alias kurang pergaulan. Masjid di kampungnya ternyata sangat berbeda dengan masjid di kampusnya.
"Saya pikir, ilmu yang baru saja kamu dapat di kampus bisa kamu amalkan di sini. Juga pengalaman-pengalaman kamu saat berorganisasi. Ajarkan kepada mereka-mereka itu. Siapa tahu wawasan dan pengetahuan teman-teman akan terbuka lebar."
Wafa sudah tidak mau lagi mendengar suara Pak Ustadz. Hatinya kecut. Masam.
"Maaf, Pak Ustadz. Jujur, saya tidak memerlukan mereka. Kalaupun hendak berdakwah pasti akan saya lakukan sendirian. Saya lebih nyaman bila sendirian...."
Pak Ustadz terpana. Ia tidak menyangka bila Wafa bisa berucap seperti itu. Ia berhenti berjalan. Namun, langkahnya tak beriringan lagi dengan Wafa yang bergerak cepat meninggalkannya. Pak Ustadz hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Hatinya bergumam lirih.
"Musa butuh Harun. Muhammad perlu Abubakar, Umar, dan yang lainnya. Tapi, kenapa umatnya lebih suka sendirian dalam berdakwah. Aneh!"
Di sudut yang lain, hati Pak Ustadz bersikap. Pasti lagi ada apa-apa. * * *
Tuesday, February 09, 2010
Monday, February 08, 2010
AMAL SESAK
Lelaki itu datang begitu tiba-tiba. Tepat di depan Pak Ustadz yang sedang membersihkan halaman rumahnya. Bruk! Buntalan karung menghunjam ke tanah. Pak Ustadz terkejut. Tapi, Pak Ustadz lebih terkejut lagi saat orang itu berkata ramah.
"Ini untuk Pak Ustadz. Hasil panen kebun di belakang rumah. Talas, Pak Ustadz."
Pak Ustadz bingung. Ia tidak mengenal lelaki itu. Sudah sepuh. Mungkin lebih dari enampuluh tahun. Tampak kumal. Bajunya sobek di sana-sini. Badannya juga kotor, penuh dengan lumpur tanah yang sudah kering.
"Ini untuk saya?"
"Iya, Pak Ustadz. Ini semua untuk Bapak. Saya baru saja panen, tiba-tiba ingat Pak Ustadz. Ya sudah talas ini langsung saya bawa ke sini."
Pak Ustadz tetap bingung. Tapi, ia seperti tidak percaya. Ah, masa sih talas sebanyak ini buat aku seorang? Sungguh betapa baiknya orang ini kalau demikian? Benarkah untukku seorang? Namun, tidak adakah keinginan orang ini untuk mengambil "sesuatu" dariku?
Pak Ustadz sedikit curiga. Hatinya berdesir. Ia lalu tersadar kembali. Ya Allah, jauhkan hambamu ini dari sifat suudzon kepada makhlukmu!
"Tapi, kok sebanyak ini. Buat apa saya diberi talas sebanyak ini?"
Orang tua itu tersenyum.
"Talas ini memang buat Pak Ustadz. Semuanya. Tapi, tolong pinjami saya uang limapuluh ribu rupiah. Anak saya besok mau sunat. Saya masih kekurangan uang untuk biayanya...."
Orang tua itu berucap dengan wajah memelas. Wajah ramahnya menghilang. Sesekali gurat kesedihan muncul dari mukanya. Pak Ustadz tergetar. Pak Ustadz memandang wajah orang tua itu. Ah, sungguh pribadi yang patut dikasihani.
Pak Ustadz bergegas masuk ke dalam. Uang limapuluh ribu rupiah segera berpindah tangan dari Pak Ustadz ke orang tua itu. Orang tua itu tersenyum bahagia. Pak Ustadz lebih-lebih lagi. Ia bersyukur dapat menolong orang yang sedang kesusahan.
"Insya Allah, besok uang ini akan saya kembalikan...."
Pak Ustadz mengangguk perlahan. Ia memandang dengan kebahagiaan penuh saat orang tua itu menghilang dari pandangannya. Pak Ustadz melanjutkannya kesibukannya. Tiba-tiba....
"Pak Ustadz! Pak Ustadz!"
Pak Ustadz mendongakkan wajahnya. Amir, pemuda yang aktif di remaja masjid. Berlari-lari kecil.
"Tadi ada orang tua bawa karung ke sini?"
"Iya. Nih, karungnya. Bawa talas banyak banget buat saya."
"Lalu, dia bilang apa sama Pak Ustadz?"
Pak Ustadz terdiam. Ia tidak ingin bicara. Takut amalan kebajikan berbuah riya'. Namun, melihat wajah Amir yang seperti merajuk membuat Pak Ustadz berucap jujur.
"Orang tua itu pinjam uang sama saya. Besok dia mau mengembalikan."
"Ah, Pak Ustadz tertipu, "kata Amir. "Orang itu sudah ke sana ke sini menipu orang. Ini saya lagi mengejar orang itu. Sudah ya Pak Ustadz...."
Pak Ustadz melongo. Ia tidak tahu apakah yang dilakukan terhadap orang tua itu masuk kategori amal yang ikhlas atau bukan saat menyadari bahwa dadanya terasa sesak. * * *
"Ini untuk Pak Ustadz. Hasil panen kebun di belakang rumah. Talas, Pak Ustadz."
Pak Ustadz bingung. Ia tidak mengenal lelaki itu. Sudah sepuh. Mungkin lebih dari enampuluh tahun. Tampak kumal. Bajunya sobek di sana-sini. Badannya juga kotor, penuh dengan lumpur tanah yang sudah kering.
"Ini untuk saya?"
"Iya, Pak Ustadz. Ini semua untuk Bapak. Saya baru saja panen, tiba-tiba ingat Pak Ustadz. Ya sudah talas ini langsung saya bawa ke sini."
Pak Ustadz tetap bingung. Tapi, ia seperti tidak percaya. Ah, masa sih talas sebanyak ini buat aku seorang? Sungguh betapa baiknya orang ini kalau demikian? Benarkah untukku seorang? Namun, tidak adakah keinginan orang ini untuk mengambil "sesuatu" dariku?
Pak Ustadz sedikit curiga. Hatinya berdesir. Ia lalu tersadar kembali. Ya Allah, jauhkan hambamu ini dari sifat suudzon kepada makhlukmu!
"Tapi, kok sebanyak ini. Buat apa saya diberi talas sebanyak ini?"
Orang tua itu tersenyum.
"Talas ini memang buat Pak Ustadz. Semuanya. Tapi, tolong pinjami saya uang limapuluh ribu rupiah. Anak saya besok mau sunat. Saya masih kekurangan uang untuk biayanya...."
Orang tua itu berucap dengan wajah memelas. Wajah ramahnya menghilang. Sesekali gurat kesedihan muncul dari mukanya. Pak Ustadz tergetar. Pak Ustadz memandang wajah orang tua itu. Ah, sungguh pribadi yang patut dikasihani.
Pak Ustadz bergegas masuk ke dalam. Uang limapuluh ribu rupiah segera berpindah tangan dari Pak Ustadz ke orang tua itu. Orang tua itu tersenyum bahagia. Pak Ustadz lebih-lebih lagi. Ia bersyukur dapat menolong orang yang sedang kesusahan.
"Insya Allah, besok uang ini akan saya kembalikan...."
Pak Ustadz mengangguk perlahan. Ia memandang dengan kebahagiaan penuh saat orang tua itu menghilang dari pandangannya. Pak Ustadz melanjutkannya kesibukannya. Tiba-tiba....
"Pak Ustadz! Pak Ustadz!"
Pak Ustadz mendongakkan wajahnya. Amir, pemuda yang aktif di remaja masjid. Berlari-lari kecil.
"Tadi ada orang tua bawa karung ke sini?"
"Iya. Nih, karungnya. Bawa talas banyak banget buat saya."
"Lalu, dia bilang apa sama Pak Ustadz?"
Pak Ustadz terdiam. Ia tidak ingin bicara. Takut amalan kebajikan berbuah riya'. Namun, melihat wajah Amir yang seperti merajuk membuat Pak Ustadz berucap jujur.
"Orang tua itu pinjam uang sama saya. Besok dia mau mengembalikan."
"Ah, Pak Ustadz tertipu, "kata Amir. "Orang itu sudah ke sana ke sini menipu orang. Ini saya lagi mengejar orang itu. Sudah ya Pak Ustadz...."
Pak Ustadz melongo. Ia tidak tahu apakah yang dilakukan terhadap orang tua itu masuk kategori amal yang ikhlas atau bukan saat menyadari bahwa dadanya terasa sesak. * * *
Labels:
tentang AMAL
Wednesday, February 03, 2010
AMALAN TERMUDAH
Mobil yang ditumpangi Pak Ustadz terus melaju kencang. Jalanan yang naik turun seperti tak berpengaruh. Pak Ustadz, Pak Waqi, dan Turino sebagai sopir seolah amat menikmati perjalanannya.
Mereka bertiga hendak melihat tanah di sebuah kampung. Pak Waqi yang wiraswasta sukses mengajak Pak Ustadz untuk ikut. Pak Waqi sudah punya rencana. Ia ingin membeli tanah itu untuk dijadikan yayasan sosial. Pak Ustadz dimintanya terlibat langsung.
"Saya berharap Pak Ustadz benar-benar terlibat. Tidak hanya ikut nyumbang pikiran dari belakang....." harap Pak Waqi.
Pak Ustadz tersenyum mendengar ucapan Pak Waqi. Katanya,
"Insya Allah. Apabila berjodoh saya pasti bersedia. Tapi, kalau Allah tidak membuat saya berjodoh tentu saya tidak mungkin terlibat. Moga-moga saja harapan Bapak terkabul."
"Saya yakin, Pak Ustadz pasti berjodoh. Sebab hanya Pak Ustadz seorang yang ada dalam bayangan saya untuk menangani, memimpin, dan mengelola yayasan yang hendak saya bangun nanti."
Pak Ustadz kembali tersenyum. Ia tidak menanggapinya.
Suasana hening.
Turino gelisah. Ia menangkap senyap. Sunyi. Kelam. Hanya hembusan dingin yang menyelinap ke tubuhnya. Perlahan-lahan tangan kirinya mengambil dan mengeluarkannya. Ia menyentuh tape yang di mobil. Klik!
Dari dalam mobil terdengar musik. Keras. Sangat keras. House music! Turino tertawa gembira. Bahagia. Reflek, kepalanya langsung bergoyang-goyang mengikuti irama. Ia menikmati betul suasananya. Pak Waqi tersenyum, coba memaklumi. Tapi, tidak dengan Pak Ustadz.
Telinga Pak Ustadz benar-benar terasa sakit. Suara musik yang keluar dari tape mobil itu seperti menghantam bilik-bilik jantungnya. Dugh! Dugh! Hatinya berusaha memaklumi. Namun, semakin lama memaklumi, dadanya semakin sakit. Pak Ustadz sudah tak tahan.
"Mas Turino, saya punya kaset. Bagus banget nih. Kemarin saya dengarkan di rumah. Semua senang, " cetus Pak Ustadz sambil menyerahkan kaset itu kepada Turino.
Turino menerima kaset dari Pak Ustadz. Ia tak kuasa untuk menolak. Ia tahu diri. Ia segera mengganti kaset yang ada di tape. Dari tape kini muncul suara dari langit. Mengalun. Syahdu. Murotal. Bacaan ayat-ayat Al Qur'an.
Turino terdiam. Pak Waqi biasa saja. Pak Ustadz tersenyum bahagia.
"Allah memberi kita banyak kenikmatan. Uang, mobil, dan bahkan tape ini. Maka mari kita rayakan kenikmatan ini dengan amal yang paling mudah. Mendengarkan murotal." * * *
Mereka bertiga hendak melihat tanah di sebuah kampung. Pak Waqi yang wiraswasta sukses mengajak Pak Ustadz untuk ikut. Pak Waqi sudah punya rencana. Ia ingin membeli tanah itu untuk dijadikan yayasan sosial. Pak Ustadz dimintanya terlibat langsung.
"Saya berharap Pak Ustadz benar-benar terlibat. Tidak hanya ikut nyumbang pikiran dari belakang....." harap Pak Waqi.
Pak Ustadz tersenyum mendengar ucapan Pak Waqi. Katanya,
"Insya Allah. Apabila berjodoh saya pasti bersedia. Tapi, kalau Allah tidak membuat saya berjodoh tentu saya tidak mungkin terlibat. Moga-moga saja harapan Bapak terkabul."
"Saya yakin, Pak Ustadz pasti berjodoh. Sebab hanya Pak Ustadz seorang yang ada dalam bayangan saya untuk menangani, memimpin, dan mengelola yayasan yang hendak saya bangun nanti."
Pak Ustadz kembali tersenyum. Ia tidak menanggapinya.
Suasana hening.
Turino gelisah. Ia menangkap senyap. Sunyi. Kelam. Hanya hembusan dingin yang menyelinap ke tubuhnya. Perlahan-lahan tangan kirinya mengambil dan mengeluarkannya. Ia menyentuh tape yang di mobil. Klik!
Dari dalam mobil terdengar musik. Keras. Sangat keras. House music! Turino tertawa gembira. Bahagia. Reflek, kepalanya langsung bergoyang-goyang mengikuti irama. Ia menikmati betul suasananya. Pak Waqi tersenyum, coba memaklumi. Tapi, tidak dengan Pak Ustadz.
Telinga Pak Ustadz benar-benar terasa sakit. Suara musik yang keluar dari tape mobil itu seperti menghantam bilik-bilik jantungnya. Dugh! Dugh! Hatinya berusaha memaklumi. Namun, semakin lama memaklumi, dadanya semakin sakit. Pak Ustadz sudah tak tahan.
"Mas Turino, saya punya kaset. Bagus banget nih. Kemarin saya dengarkan di rumah. Semua senang, " cetus Pak Ustadz sambil menyerahkan kaset itu kepada Turino.
Turino menerima kaset dari Pak Ustadz. Ia tak kuasa untuk menolak. Ia tahu diri. Ia segera mengganti kaset yang ada di tape. Dari tape kini muncul suara dari langit. Mengalun. Syahdu. Murotal. Bacaan ayat-ayat Al Qur'an.
Turino terdiam. Pak Waqi biasa saja. Pak Ustadz tersenyum bahagia.
"Allah memberi kita banyak kenikmatan. Uang, mobil, dan bahkan tape ini. Maka mari kita rayakan kenikmatan ini dengan amal yang paling mudah. Mendengarkan murotal." * * *
Labels:
tentang AMAL
Subscribe to:
Posts (Atom)
