Tuesday, July 14, 2009

UBAN OMPONG BONGKOK

Pak Ustadz memandangi lelaki di hadapannya. Ia seolah tak percaya. Ia seakan tak percaya bahwa lelaki yang berdiri di hadapannya adalah orang yang pernah akrab dengannya selama belasan tahun.

"Bener kamu Kang Sarbini?!" tanya Pak Ustadz tetap dengan pandangan tak percaya. Lelaki itu mengangguk lemah. Pak Ustadz menggeleng-gelengkan kepalanya.

Kang Sarbini adalah sahabatnya dulu, saat masih
mondok di pesantren. Tapi, Kang Sarbini bukan santri. Ia penduduk kampung yang biasa main di lingkungan pesantren. Umur Kang Sarbini sedikit lebih tua dibanding Pak Ustadz.

Namun, ya Allah! Kang Sarbini sudah berubah. Ia jauh dari Kang Sarbini yang dulu. Kang Sarbini sekarang terlihat renta. Rambutnya memutih di hampir seluruh kepala. Giginya ompong, tinggal sedikit yang tersisa. Tubuhnya membungkuk, bongkok.

"Kang, bagaimana mungkin rambutmu memutih? Apa yang terjadi?" tanya Pak Ustadz prihatin.

Kang Sarbini tersenyum. Wajahnya menatap lembut.

"Allah telah mengingatkan saya agar segera bersiap menemuinya. Saya sudah tua. Alhamdulilah... Dia sudah memberi tanda. Bukankah lebih enak bagi kita bila Allah sudah memberi sinyal daripada Dia datang tiba-tiba dengan mengirim malaikat-Nya?"

Pak Ustadz terkejut. Ia tak menyangka bila Kang Sarbini akan menjawab seperti itu. Namun, ia tak mempermasalahkannya.

"Lalu, kenapa gigimu habis seperti tak bersisa?" tanya Pak Ustadz lagi.

Kang Sarbini kembali tersenyum. Wajahnya tak berubah. Lembut.

"Inilah siklus kehidupan. Allah telah mencabut sedikit demi sedikit kenikmatan raga yang sebelumnya pernah aku rasakan. Ini juga pertanda! Pertanda bahwa saya sudah saatnya mencari kenikmatan jiwa yang lebih...."

Pak Ustadz mengangguk. Ia membenarkan jawaban Kang Sarbini. Namun, ia masih dibelit rasa penasaran.

"Tapi, kenapa tubuhmu berubah bongkok?"

Lagi-lagi Kang Sarbini tersenyum lembut.

"Tubuh ini sudah sedemikian rindu dengan tanah, makanya ia bongkok. Ia ingin berjumpa, bersama, dan menyatu dengannya. Adakah yang lebih rindu selain kerinduan tubuh untuk berjumpa dengan tanah, sang pemula itu...."

Pak Ustadz tak kuasa membendung keharuan. Ia memeluk sahabatnya itu erat. Ia seperti tidak ingin berpisah. * * *

Sunday, July 12, 2009

PEMIMPIN YANG MENONJOLKAN DIRI

Hiruk pikuk politik usai sudah. Rakyat telah menentukan pilihannya. Lima tahun ke depan rakyat hanya berharap menunggu. Benar berharap! Karena rakyat memang tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh para pemimpinnya kelak.

Pak Ustadz melihat-lihat suasana jalanan. Sore itu, sehabis sholat asar. Ia sengaja menyempatkan diri. Ada keharuan yang senyap di mata Pak Ustadz. Hampir lima bulan ia telah melihat segalanya. Di televisi, di koran-koran, di majalah.

"Ah, betapa sulit dan mahalnya ternyata mencari seorang pemimpin. Berduyun-duyun rakyat berjalan menuju lapangan. Di sana mereka bebas. Bertepuk tangan, berteriak marah, bahkan berjoget sekalipun. Tapi, apa yang sebenarnya rakyat dapatkan?"

Pak Ustadz melayangkan pandangannya ke sudut-sudut jalan. Ia tetap duduk pada sepeda motor tuanya. Mata Pak Ustadz terpaku pada baliho, poster, atau spanduk yang masih menempel pada tempatnya.

"Benar, ini memang sebuah pesta. Pesta rakyat! Karena pesta, semua orang berhak merayakannya. Dan hanya ada satu perasaan yang mesti mengemuka dalam sebuah pesta, yakni perasaan bahagia. Namun, kenapa pesta itu tidak mampu menjadikan rakyat bahagia selamanya?"

Pak Ustadz terus mengarahkan pandangannya. Kali ini matanya tertuju pada potret para calon pemimpin bangsa. Mereka memasang foto dirinya, juga mematut dirinya. Banyak macamnya. Ada yang pakai kopiah, jas, batik, atau pakaian tradisional. Ada yang tersenyum, diam berwibawa, atau nyengir.

Pak Ustadz tersenyum simpul.


"Mereka memang gagah. Yang perempuan-perempuan juga cantik. Ah, pasti mereka telah melakukan banyak hal yang membuat mereka mantap mencalonkan diri sebagai pemimpin bangsa. Mereka pasti tidak semata ingin berkuasa. Tapi, betulkah hati mereka meyakini sedalam-dalamnya bahwa mereka memang pantas untuk dipilih menjadi seorang pemimpin?"


Pak Ustadz tak mengendurkan senyumnya. Mulutnya bahkan kini tersenyum agak lebar. Ia memang ingin tertawa. Tertawa sekeras-kerasnya. Sekencang-kencangnya.

"Mereka pasti orang-orang yang rendah hati. Sebab hanya orang yang rendah hati sajalah yang mampu menjadi pemimpin. Orang yang suka menonjolkan diri hanya akan merengkuh kegagalan saat didaulat menjadi pemimpin. Namun, mengapa kerendahatian kini dilupakan? Kenapa yang muncul justru usaha untuk saling menonjolkan dirinya sendiri...."

Kini Pak Ustadz benar-benar tertawa. Ia tertawa terbahak-bahak. Mulutnya tak mungkin lagi dikunci. Saat foto para calon pemimpin bangsa itu seolah memandangi dirinya dengan tajam, Pak Ustadz menggelengkan kepalanya. Ia bahkan terus menggelengkan kepalanya.

"Ah, betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, tapi mereka tidak tahu caranya...."

Sepeda motor Pak Ustadz melaju, meninggalkan asap yang mengepul dan menutupi foto-foto para calon pemimpin bangsa itu. ***

Friday, July 10, 2009

KENAPA ISLAM?

Usai sholat Jum'at. Hari yang panas tidak menyurutkan langkah Pak Ustadz untuk meluncur ke pasar. Tak perlu heran karena jalan pulang menuju rumah memang melewati pasar. Pak Ustadz suka sekali dengan pasar.

Di pasar Pak Ustadz menyapa ramah siapa saja. Dengan senyum sedikit, tentu. Bukankah senyum adalah bagian dari ibadah? Tapi, bukan itu sebenarnya tujuan utama Pak Ustadz. Di pasar Pak Ustadz dapat belajar apa saja kepada orang-orang yang ditemuinya.

"Ibu, kenapa ibu memeluk agama Islam?" tanya Pak Ustadz kepada seorang ibu yang lagi asyik memilih pakaian anak. Ibu muda berkerudung biru itu tersenyum. Malu. Ia bingung hendak menjawab apa.

"Ah, Pak Ustadz pertanyaannya ada-ada saja. Bingung ibu ini menjawabnya," timpal si ibu penjual baju yang sepertinya sudah kenal akrab dengan Pak Ustadz.

Pak Ustadz mengalihkan pertanyaannya kepada seorang penjual pisang ambon yang nongkrong di depan kios ibu penjual baju tadi.

"Pak, kenapa bapak beragama Islam?"

Sama seperti ibu yang sedang memilih baju, bapak penjual pisang itu juga kebingungan. Ia hanya memegang kopiah hitamnya yang sudah terlihat lusuh. Katanya,

"Wah bingung, Pak. Saya bingung mau jawab apa.
Wong sudah sejak dulu keluarga saya Islam. Kakek Islam, bapak Islam, ya saya juga Islam. Turun temurun Pak Ustadz, jadi saya tinggal ikut."

Pak Ustadz manggut-manggut. Ia berusaha mengerti. Penjual pisang itu ditepuk-tepuknya dengan akrab. Bahkan tanpa canggung Pak Ustadz memeluknya dengan akrab.

Pak Ustadz melangkah lebih jauh. Ia lalu menghampiri seorang pemuda berambut gondrong yang menggunakan kaos hitam bertuliskan "Jihad". Pak Ustadz tersenyum senang. Ada semangat Islam pada dada anak itu.

"Dik, apa alasan Anda memeluk agama Islam?" tanya Pak Ustadz seramah mungkin.

Pemuda itu tersenyum. Ia memandang Pak Ustadz dengan pandangan menyelidik.

"Bapak lebih tahu daripada saya tentang Islam. Kalaupun Bapak bertanya, saya tidak akan mampu menjawab pertanyaan Bapak dengan memuaskan."

"Tentang kaos itu...."

"Oh, saya tidak peduli dengan tulisannya, Pak. Saya suka kaos ini karena saya tertarik dengan desainnya. Unik dan artistik. Bapak suka?"

Hari ini Pak Ustadz disadarkan. Dakwah memang tidak boleh berhenti, terus berlanjut. Pak Ustadz tersenyum sendiri. Langkahnya di jalan dakwah semakin pasti. Allahu Akbar, desisnya. * * *

Thursday, July 09, 2009

Mazhab Cinta

Pak Ustadz sedang memberikan materi kajian tentang rukun ibadah. Kata Pak Ustadz, rukun ibadah itu ada tiga, yakni takut (al khouf), berharap (roja'), dan cinta (mahabbah). Namun, di sela-sela memberikan materi kajian itu, Pak Ustadz beberapa kali diganggu oleh ucapan seorang pemuda yang hadir.

Pak Ustadz mulai jengah. Pertanyaan yang dilakukan seorang pemuda berpakaian lusuh dalam majelis taklim yang dipimpinnya benar-benar telah menyita seluruh perhatiannya. Mulanya Pak Ustadz berusaha sabar. Tapi, setelah berkali-kali pemuda itu memotong percakapannya, Pak Ustadz menjadi jengkel.

"Sebenarnya apa yang saudara inginkan dari saya?" kata Pak Ustadz sedikit keras.

Pak Ustadz tidak tahu siapa pemuda itu. Dari beberapa jamaah yang dikenalnya tidak ada yang seperti dia. Penampilannya ganjil. Ia berambut gondrong ketika yang lain berambut pendek. Ia memakai topi saat jamaah lain memakai kopiah. Ia berkaos ketika yang lain bergamis. Ia bercelana
jeans saat yang lain bersarung.

"Saya ingin menolak secara keras pernyataan Ustadz. Menurut saya hanya
mahabbah atau cinta yang patut kita jadikan sebagai rukun ibadah. Dengan cinta semua akan selesai. Bahkan cintalah yang akan membuat perang menjadi damai, bercerai menjadi satu. Cinta dan cinta. Tidak ada yang lain," kata pemuda itu.

Pak Ustadz berusaha mendengarkan ucapan pemuda itu. Ia terus berusaha memendam kemarahan hatinya. Hati boleh panas, tapi kepala harus dingin. Maka Pak Ustadz membiarkan pemuda itu berbicara panjang lebar.

"Cinta adalah perekat utama keabadian. Tidak sempurna iman seseorang bila ia beribadah kepada Allah tanpa dilandasi cinta. Kalau kita sudah cinta kepada Allah, maka itulah hakikat ibadah yang sesungguhnya."

"Kalau demikian apakah orang yang beribadah kepada Allah karena takut akan azab Allah, ia keliru?" sergah Pak Ustadz.

"Bukan keliru Pak Ustadz, tapi salah. Salah besar!" tegas pemuda itu. "Ia berarti tidak mengenal hakikat ibadah yang sesungguhnya. Bagaimana mungkin ia menjadi hamba Allah, tapi ia justru takut kepada Allah. Allah bukan untuk ditakuti. Allah untuk dicintai."

Pak Ustadz mencoba memahami ucapan pemuda itu. Namun, kembali lagi Pak Ustadz menyela ucapan pemuda itu sebelum ia melanjutkannya.

"Apakah orang yang beribadah kepada Allah karena ia mengharap keridhoan Allah juga salah?"

"Itu juga salah, Pak Ustadz. Tidak boleh kita beribadah karena kita mengharap keridhoaan dan pahala Allah. Itu akan membuat ibadah kita tidak ikhlas. Hati mesti suci dalam beribadah."

Pak Ustadz manggut-manggut. Ia kini paham pikiran dan alur benak pemuda itu. Melihat pemuda itu Pak Ustadz jadi ingat kepada tokoh perempuan sufi, Rabiah al Adawiyah. Karena dari dialah sepertinya pemikiran pemuda itu bermula. Cinta, ya mazhab cinta!

"Kalau demikian apa yang Anda harapkan dari ibadah yang Anda lakukan?" tanya Pak Ustadz lagi.

Pemuda itu tergeragap. Ia tak menyangka Pak Ustadz akan bertanya seperti itu. Sesaat ia terdiam. Tak mau dirinya tersudut, pemuda itu menjawab dengan sedikit congkak.

"Oh, saya tidak mengharap apa-apa dari Allah. Saya cinta kepada Allah. Karena cinta, maka keinginan saya hanya satu, yaitu bertemu dengan pujaan saya itu. Tidak ada yang lain."

"Kalau demikian, saya pikir Anda keliru," cetus Pak Ustadz.

"Kok keliru?"

" Ya, keliru. Kalau Anda mencintai seorang wanita bukankah Anda menginginkan wanita itu memberikan apa yang Anda inginkan setelah Anda memberikan segalanya untuk dia?"

"Tapi, ini Allah, bukan wanita..."

"Apalagi Allah, zat yang Maha Kaya dan Maha Pemurah, tempat kita meminta dan memohon. Jelas tidak salah kalau kita berharap dari kemurahan Dia setelah kita ikhlas mencintai-Nya. Dan ingat, Allah memberikan kemurahan itu sebab Dia memang sudah berjanji kepada kita semua."

Pak Ustadz sudah tak terbendung. Ia berusaha terus menjelaskan kepada pemuda itu tentang rukun ibadah. Bahkan akhirnya ia juga berusaha menjelaskan hakikat cinta agar pemuda itu tak keliru dalam memahami cinta. * * *

Wednesday, July 08, 2009

ISTRI YANG DITINGGAL SUAMINYA

Hari Minggu. Pak Ustadz, istri, dan keempat anaknya berniat jalan-jalan. Mereka hendak memanfaatkan waktu liburan akhir pekan. Pak Ustadz ingin ke pantai. Istri Pak Ustadz ingin ke gunung. Anak-anaknya tak berubah dari keinginannya; pergi ke pusat perbelanjaan.

Seorang perempuan berkerudung hitam tiba-tiba sudah berdiri di pintu rumah. Pak Ustadz dan istrinya terkejut. Lebih-lebih anaknya. Mereka kaget karena perempuan itu datang seperti tanpa jejak dan suara.

Perempuan itu datang tidak sendirian. Ia datang bersama dua anak balita. Seorang dituntunnya, seorang lagi masih dalam gendongannya. Mereka bukan peminta-minta. Tapi, dari gurat wajahnya, Pak Ustadz tahu bahwa perempuan itu sedang memendam kesedihan.

"Maaf Pak Ustadz, saya menganggu keluarga Bapak...."

Perempuan itu memulai ucapannya dengan getir. Matanya menyipit, seperti telah lama menahan butiran airmata yang jatuh satu-satu. Beberapa kali ia memandang ke atas, lalu turun lagi ke bawah. Bibirnya tak lagi membuka.

"Ada apa ibu? Apa yang bisa saya bantu?" tanya Pak Ustadz ramah.

Perempuan itu menahan suaranya. Bujuk rayu Pak Ustadz agar perempuan itu segera menceritakan keluh resahnya seolah tak mempan. Perempuan itu asyik dengan kesedihannya. Namun, tak lama. Setelah istri Pak Ustadz campur tangan, perempuan berkerudung itu akhirnya membuka suara.

Perempuan itu mengenalkan dirinya sebagai Surti, ibu tiga anak yang baru saja ditinggal mati suaminya. Ia kini tidak punya siapa-siapa. Ia kini tidak memiliki apa-apa. Perempuan empatpuluhan itu harus menanggung beban hidup ketiga anaknya.

Surti hidup tanpa harapan. Ia takut dan bingung. Ia takut menghadapi masa depan yang tidak pasti. Ia bingung bagaimana mengasuh dan mendidik ketiga anaknya. Ia tak tahu mesti berbuat apa. Masa depan dan hidupnya gelap. Kelam.

Pak Ustadz dan istrinya mendengarkan kisah Surti hingga selesai. Mereka tak mampu menahan keharuan. Tapi, hidup memang terus berjalan. Sikap optimis harus dikedepankan. Maka Pak Ustadz dan istrinya berjanji kepada Surti akan membantunya.

"Insya Allah saya akan membantu sebisa mungkin, " janji Pak Ustadz.

"Ibu bisa ke rumah saya setiap hari. Saya dan ibu-ibu di sekitar sini biasa belajar keterampilan untuk mengisi waktu. Belajar memasak, belajar menjahit, dan keterampilan lain. Banyak ibu-ibu yang berhasil mandiri setelah belajar di sini," terang istri Pak Ustadz.

Bibir Surti membelah. Ada sedikit harapan menyeruak dari sana. Tak berapa lama Surti berpamitan. Persis di depan pintu, istri Pak Ustadz berucap tegas.

"Ibu, anak-anak yang sukses biasanya muncul dari seorang istri yang ditinggal suaminya, bukan muncul dari suami yang ditinggal mati istrinya."

Surti tersenyum puas. Pak Ustadz terperanjat. Tapi, hatinya mengamini perkataan istrinya. * * *

Tuesday, July 07, 2009

JATUH, MAKA BANGKIT

Anak-anak TK Assalam itu berlarian ke sana kemari. Bebas. Lepas. Mereka tengah berusaha membebaskan dan melepaskan dirinya masing-masing. Tertawa dan bersorak, menangis dan gembira. Laki-laki dan perempuan.

Tanah yang lapang itu serasa sempit, tak mampu menampung gejolak anak-anak Assalam. Suara lembut nan teduh dari para guru gagal membedungnya. Saran dan nasihat nan mencerahkan dari para orang tua tidak mereka pedulikan. Mereka demikian asyik hingga seperti terlupa.

"Anak-anak memang mata dunia...."

Pak Ustadz dan istrinya memandang dari jauh. Mereka menyaksikan Nadia, putri bungsunya larut dalam kegembiraan. Bersama teman-temannnya, Nadia tengah merayakan piknik liburan akhir sekolah.

Nadia tubuhnya kecil, tidak seperti teman-teman yang lain. Meski sudah merangkak naik ke kelas yang lebih tinggi, tubuh Nadia tak berubah. Ia tetap kecil. Tubuh Nadia tidak seperti tubuh teman-temannya yang naik berat dan tingginya seiring dengan kenaikan kelas di sekolahnya.

Walau kecil, Pak Ustadz selalu bangga dengan Nadia. Nadia tipikal anak yang tidak mau kalah dengan teman-temannya. Bahkan dengan teman yang lebih besar dan lebih tinggi. Nadia juga model anak yang pantang menyerah. Ia tidak mudah patah sebelum berjuang.

Bruk!!!

Pak Ustadz terkejut. Istri Pak Ustadz menjerit. Nadia yang sedang berlomba lari dengan teman-temannya terjatuh. Tubuhnya terjerembab. Nadia meringis. Ia seperti memendam rasa sakit. Juga malu.

Sontak istri Pak Ustadz berdiri. Ia berniat menuju Nadia untuk menolongnya. Di saat kakinya melangkah, tangan Pak Ustadz mencengkeram pergelangan tangan istrinya.

"Biarkan!" perintah Pak Ustadz.

Istri Pak Ustadz berusaha melepaskan diri. Ia tak tega membiarkan Nadia kesakitan. Tapi, Pak Ustadz malah bertambah keras mencengkeram. Istri Pak Ustadz tak berkutik. Ia terbenam dalam tempat berdirinya.

"Lihat! Lihat saja!"

Nadia perlahan bangkit. Ya, bangkit berdiri. Tak berapa lama ia telah berlari kembali. Ia berusaha menyusul teman-temannya yang sudah jauh di depan. Nadia tak putus asa. Ia terus mengejar dan mengejar. Terus mengejar!

"Kau tahu, kenapa Nadia terjatuh?" tanya Pak Ustadz kepada istrinya.

"Mungkin ada benda yang menghalanginya. Atau mungkin karena dia kurang hati-hati," jawab istri Pak Ustadz.

Pak Ustadz menggeleng.

"Bukan. Bukan itu, " terang Pak Ustadz. "Nadia terjatuh karena dia hendak bangkit. Kemudian berdiri. Lalu berlari mengejar...."

Istri Pak Ustadz memandang suaminya. Ia tak mengerti maksud jawaban suaminya itu. Pak Ustadz membalas pandangan istrinya dengan senyum. Tanpa kata. Hanya senyum. * * *

PUASALAH DENGAN HATI!

Agus penasaran dengan kegemaran Pak Ustadz puasa Senin-Kamis. Apa sebenarnya yang dicari? Ibadah lengkap. Akhlak unggul. Ilmu tak tertandingi. Kalau segalanya telah paripurna, mestinya ia tak perlu berbuat "macem-macem".

Maka sepulang dari tempat kerjanya Agus langsung meluncur ke rumah Pak Ustadz. Waktu sudah menjelang maghrib. Alhamdulillah, bisik Agus dalam hati. Ia melihat Pak Ustadz tengah membaca buku di teras rumah.

Tetapi, dari jauh Pak Ustadz sudah menjulurkan senyum. Secara tak sengaja matanya telah melihat bayangan Agus yang sedang berjalan ke rumahnya.

"Baru pulang?" tanya Pak Ustadz ramah setelah menjawab salam Agus.

"Iya, pak. Mumpung lewat, sekalian mampir," sahut Agus.

Pak Ustadz sepertinya sudah siap pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah. Itu terlihat dari pakaiannya yang rapi. Sarung, baju gamis, dan kopiah menjadi asesoris yang melekat di tubuhnya.

"Nunggu maghrib, Pak Ustadz?"

Pak Ustadz tersenyum. Mulutnya tidak bersuara. Tapi, dari senyumnya Agus tahu Pak Ustadz sedang menunggu bedug maghrib. Ah, sebuah kenikmatan yang tiada tara. Menunggu bedug magrib untuk segera berbuka puasa setelah seharian bergelut dengan lapar dan dahaga.

"Pak Ustadz, saya kok kalau puasa Senin-Kamis nggak pernah kuat ya?" tanya Agus. Mirip sebuah keluhan.

Pak Ustadz tidak segera menanggapi. Buku yang sedang dibaca ia letakkan di atas paha. Matanya menatap Agus.

"Memang kamu pingin puasa Senin-Kamis juga?"

"Ya kepingin. Tapi, bagaimana lagi wong nggak pernah kuat."

Pak Ustadz tersenyum. Agus merasa senyuman Pak Ustadz lebih mirip sebuah cibiran. Tapi, ia tidak peduli.

"Benar Pak Ustadz, saya tidak bohong. Kalau puasa Ramadhan, saya kuat, tapi kalau puasa Senin-Kamis saya nggak pernah kuat. Batal terus."

Agus terkekeh.Namun, Pak Ustadz jauh dari terkekeh. Matanya tetap terarah ke mata Agus. Katanya kemudian.

"Kamu nggak kuat puasa Senin-Kamis karena kamu belum menyertakan hatimu dalam berpuasa. Kalau kamu sudah menyertakan hatimu, kamu pasti kuat." kata Pak Ustadz.

"Ah, Pak Ustadz ada-ada saja. Mana bisa hati berpuasa...."

"Bisa!Bukankah hatimu yang memutuskan berniat puasa. Kalau hatimu yang memutuskan niat, hatimu pula yang akan melindungi puasamu. Karena itu, puasalah dengan hati! Jangan dengan yang lain...."

"Kalau saya tidak kuat puasa berarti hati saya sebenarnya tidak kuat. Lalu ia kirim rasa tidak kuat itu ke otak dan dari otak lalu ke perut. Dari perut lalu ke kaki dan tangan untuk menuju warung makan hingga makanannya sampai di mulut."

"Nah, itu kamu tahu...."

Agus tersenyum gembira mendengar pujian Pak Ustadz. Tapi, Agus akan lebih gembira lagi bila mulai besok ia sudah mampu puasa Senin-Kamis. Puasa dengan hati!* * *

"I LIKE MONDAY"

Hari Senin. Matahari merekah cerah. Pak Ustadz asyik mengelap motor kesayangannya. Sepeda motor bebek tahun 80-an. Di tangan Pak Ustadz sepeda motor lawas itu masih terlihat kinclong. Jangan heran! Karena Pak Ustadz tak pernah lelah mencintainya.

"Sibuk Pak Ustadz?"

Sebuah suara ramah menyentuh gendang telinga Pak Ustadz. Sesaat Pak Ustadz terkejut. Namun, bibir Pak Ustadz mengembang tipis melihat siapa yang menyapanya. Agus! Preman kampung yang mulai sadar.

"Eh, kamu Gus. Ya beginilah...."

Agus tampak rapi. Kemeja berwarna oranye menyelimuti bajunya. Baju seragam. Ya, sejak satu bulan yang lalu Agus memang telah diangkat sebagai juru parkir di pasar. Sebuah anugerah yang sangat disyukuri Agus.

Semuanya berkat jasa Pak Ustadz. Demikian Agus berkali-kali mengungkapkannya bila ada orang yang bertanya,
kok bisa jadi tukang parkir di pasar. Karena Pak Ustadz telah menawari dirinya bekerja setelah Pak Ustadz melobi kepala pasar.

"Mau berangkat?" tanya Pak Ustadz.

"Ya, pak."

"Baik-baiklah bekerja."

"Terima kasih."

Pak Ustadz menepuk-nepuk pundak Agus. Agus sedikit bergetar. Perhatian dan kasih sayang yang diberikan Pak Ustadz tak pernah berubah. Tetap seperti dulu. Entah bagaimana nasib diriku kalau Pak Ustadz tidak menolongku, batin Agus.

"Ini hari Senin, jangan lupa. Semangat ya...."

"Insya Allah, Pak Ustadz."

"I Like Monday...."

Pak Ustadz tersenyum. Agus juga tersenyum.

"Kenapa memang Pak Ustadz?"

"Karena aku bisa puasa Senin-Kamis."

Agus kembali bergetar. Ah, Pak Ustadz. Tak henti-hentinya Bapak memberikan arti dalam kehidupan ini. Agus melangkah pergi.* * *

Friday, July 03, 2009

JIHAD HUJAN (II)

Irfan benar-benar tak mampu menyembunyikan perasaannya. Peristiwa mengantarkan Pak Ustadz berdakwah di kampung Karangsari membuatnya agak bergidik. Bukan ngeri, tapi takjub. Seumur-umur ia baru pertama kali mengalami kejadian seperti itu.

"Jadi, kamu tidak kehujanan sampai di sana?" tanya Marwan.

"Heeh! Aku juga bingung!" jawab Irfan masih juga dengan kebingungannya.

Sore itu, teras di rumah Irfan sumpek. Penuh ketidakpercayaan. Irfan harus menjelaskan kepada semua yang hadir. Teman-temannya. Ada Marwan yang hobi sekali adzan. Jafar yang bercita-cita mati di medan jihad. Juga Akmal si penggiat ilmu. Mereka tumplek demi mendengarkan cerita menakjubkan dari Irfan.

"Reaksi Pak Ustadz bagaimana saat itu?" selidik Marwan.

"Yah, biasa saja...." terang Irfan.

"Maksud kamu?"

"Ya biasa. Pak Ustadz tidak kaget dengan peristiwa itu. Sepertinya ia sudah biasa mengalami hal itu. Pak Ustadz juga hanya tersenyum saat beberapa orang kebingungan menyaksikan kejadian itu."

Marwan mengangguk-angguk. Ia mulai sedikit mengerti. Tapi, tidak dengan Jafar. Ia masih penasaran dengan Pak Ustadz.

"Apa sebelumnya Pak Ustadz baca doa-doa sebelum ia menembus hujan lebat itu?"

"Tidak. Ia hanya berucap singkat. Bismillah."

"Jangan-jangan Pak Ustadz memelihara jin. Sebab bagaimana mungkin hujan deras itu tidak mampu membasahi tubuhnya. Ajaib sekalikan?"

Semua mata memandang ke arah Jafar. Mereka tidak menyangka Jafar berkata seperti itu. Soalnya, selama ini Pak Ustadz justru sangat melarang para jamaah pengajiannya untuk "bergaul" atau mencoba bergaul dengan makhluk halus. Jadi tidak mungkin Pak Ustadz memelihara jin.

"Oh, maaf. Maaf, "cetus Jafar menyadari kekeliruannya. "Soalnya aku juga bingung
kok Pak Ustadz bisa seperti itu. Kayak orang sakti saja."

"Menurutku itu karomah."

Kali ini semua pandangan tertuju kepada ucapan Akmal. Karomah?

"Bagaimana kamu tahu itu karomah?"

Irfan, Marwan, dan Jafar menunggu jawaban Akmal. Giliran Akmal sekarang memandang lurus ke arah Irfan. Irfan jadi bingung.

"Saat kamu dan Pak Ustadz pulang dari pengajian masih hujan?" tanya Akmal.

"Masih. Tapi hanya gerimis..." jawab Irfan.

"Apa kamu dan Pak Ustadz basah terkena air?"

Irfan mengingat-ingat kejadian itu. Ia ingat benar baju dan celananya agak basah karena air gerimis terus menerpa badannya. Pak Ustadz juga demikian.

"Iya. Aku basah. Juga Pak Ustadz."

Yup! Akmal menjentikkan jarinya. Bibirnya tersenyum. Tapi, senyuman Akmal malah membuat teman-temannya bertambah bingung.

"Kok senyum-senyum?" protes Jafar.

"Lho kalian bagaimana?! Bukankah Pak Ustadz sendiri yang pernah menerangkan bahwa karomah bisa diterima siapa saja asal ia terus berusaha mendekat kepada Allah. Tapi, Pak Ustadz pula yang menjelaskan kalau karomah hanya bisa diterima satu kali pada satu kejadian. Kalau berkali-kali itu pasti perbuatan jin...."

Semua mendengar penjelasan Akmal dengan penuh perhatian. Mereka baru ingat, iya Pak Ustadz memang pernah menerangkan hal itu. * * *

JIHAD HUJAN (I)

Sudah lebih dari setengah jam Pak Ustadz dan Irfan berteduh. Hujan masih mengguyur deras kampung Karangsari di kaki bukit Karangkobar. Langit gelap, dan awan biru seolah enggan memunculkan pesonanya.

Pak Ustadz dan Irfan berteduh dalam sebuah warung kecil. Sambil menanti hujan reda, mereka berusaha menikmati makanan kecil yang terhidang. Pak Ustadz memesan teh hangat. Irfan menyeruput kopi hitam kegemarannya.

"Masih hujan deras Pak Ustadz, bagaimana ini?" tanya Irfan meminta pendapat.

Pak Ustadz melihat jam di pergelangan tangannya. Kepalanya lalu mendongak, melongok langit di atas. Ia tersenyum tipis.

"Kita berteduh saja dulu. Masih banyak waktu. Insya Allah kita tidak terlambat."

Ini adalah kesekian kalinya Irfan diajak Pak Ustadz berdakwah. Awalnya, Irfan tidak mau karena takut dirinya akan menjadi beban bagi Pak Ustadz. Tapi, Pak Ustadz memaksanya. Pak Ustadz bahkan menunjukkan kepada dirinya bahwa ia diperlukan.

Irfan memang ahli dalam mengendarai motor. Jadi, apa salahnya bila Pak Ustadz merasa nyaman bepergian dengan Irfan. Selain itu, Irfan juga cepat hafal dengan situasi jalanan. Maka tak salah jika Pak Ustadz meminta Irfan mengantarkan ke mana saja ia pergi berdakwah.

Irfan bersyukur dapat berdekatan dengan Pak Ustadz yang ia hormati. Ia jadi bisa belajar banyak kepada Pak Ustadz. Soal-soal agama yang tidak ia pahami dengan mudah bisa ia mengerti setelah bertanya kepada Pak Ustadz.

"Irfan, sepertinya hujan tidak akan reda. Padahal, waktu kita mendesak. Kasihan para jamaah yang sudah menunggu...." ucap Pak Ustadz. "Kita lanjutkan saja!"

"Tapi, masih hujan Pak Ustadz. Bisa basah kuyup kita sampai di sana."

"Insya Allah tidak apa-apa."

"Jadi nekad kita
nih, Pak Ustadz..."

Pak Ustadz tersenyum. Irfan menyalakan motornya. Pak Ustadz membonceng di belakang. Berdua mereka menyibak hujan yang deras. Mereka seolah tidak peduli semua itu. Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah secepatnya sampai di tujuan dan betrtemu jamaah.

Sekitar setengah jam Pak Ustadz dan Irfan sampai di tempat pengajian. Pak Ustadz turun dan Irfan memarkir motornya. Betapa terkejutnya Irfan saat mendapati tubuhnya jauh dari basah. Kering sama sekali! Bajunya kering, celananya kering. Aneh, padahal di jalanan tadi hujan deras mengguyur kepala.

Irfan memandang Pak Ustadz yang sedang bersalaman dengan panitia pengajian. Sama! Baju dan celana Pak Ustadz juga tidak basah. Kering! Menyaksikan hal itu, Irfan tertegun. Ia seperti hendak pingsan. Ia tidak tahu apa yang terjadi. * * *

Thursday, July 02, 2009

JEBAKAN AMAL

Pak Ustadz tersipu-sipu. Ia benar-benar tak mampu menahan rasa malu sekaligus bangganya. Di hadapan jamaah yang kebanyakan ibu-ibu, salah seorang jamaah memuji habis-habisan akhlak Pak Ustadz.

"Pak Ustadz, saya ingin anak-anak saya nantinya seperti Pak Ustadz. Alim, lembut, tidak suka marah, baik kepada semua orang, dan disayangi para jamaah," cetus ibu muda yang berkerudung putih itu.

Mulanya Pak Ustadz terkejut dengan pernyataan ibu itu. Karena setelah selesai memberikan kajian, para ibu sebenarnya diminta mengajukan pertanyaan. Namun, yang keluar dari ibu itu malah sebuah pujian.

"Pak Ustadz, zaman sekarang sulit sekali kita mencari teladan. Di televisi, koran, kita sering menjumpai orang yang baik. Ia santun. Suka menolong. Perhatian terhadap rakyat. Eh, tak tahunya ia seorang koruptor."

Pak Ustadz membiarkan ibu itu terus berbicara.

"Ada pula orang terkenal. Ia layak jadi panutan. Halus budinya. Pintar otaknya. Tinggi ilmunya. Tak tahunya ia suka sekali melakukan kekerasan terhadap anak istrinya. Keluarganya hancur. Istrinya kabur. Anaknya lebur."

Para ibu tergelak mendengar ibu itu. Si ibu bertambah semangat.

"Pak Ustadz, saya tidak mau tertipu dengan televisi atau koran. Saya juga tidak mau tertipu dengan omongan orang. Saya telah lama mengikuti kajian Pak Ustadz. Dan menurut saya, hanya Pak Ustadz yang pantas menjadi teladan di mata kami semua. Ibu-ibu di sini...."

Tepuk tangan menggemuruh. Para ibu bersorak sorai. Mereka mengamini perkataan ibu berkerudung putih itu. Pak Ustadz menjadi salah tingkah.

"Ibu, mohon pertanyaan saja...."

"Oh, saya tidak akan bertanya, Pak Ustadz, " ucap ibu itu terus-terang. "Saya hanya ingin mengucapkan bahwa kita semua sebenarnya telah kehilangan figur teladan. Hanya Pak Ustadz yang sebenarnya layak menjadi teladan bagi kami semua."

Pernyataan ibu itu telah sungguh meninabobokan Pak Ustadz. Ia menjadi tidak fokus. Untung sekali itu terjadi sebelum ia menutup acara pengajian. Kalau tidak bisa
berabe nantinya. Bisa-bisa acara pengajian bubar sebelum waktunya gara-gara ustadnya grogi abis.

Sepulang dari pengajian itu, Pak Ustadz tercenung. Benarkah ia seperti yang ibu itu bayangkan? Benarkah ia seorang ahli ibadah? Benarkah ia seorang ahli ilmu? Pak Ustadz tersenyum. Di hatinya terselip rasa bangga yang susah ia tepis.

Tiba-tiba sebuah suara dari kedalaman mengusir keras senyum Pak Ustadz.

"Ahli ibadah kerap terjerembab oleh sikap
ghuluw, berlebih-lebihan dalam beribadah. Ahli ilmu sering terjebak pada sikap riya, sombong sehingga merasa dirinya paling benar. Berhati-hatilah...."

Pak Ustadz terkaget-kaget. Mulutnya segera berucap, memohon ampun kepada Sang Khalik. * * *