Pak Ustadz terjebak macet. Mobil angkot yang ditumpanginya tiba-tiba berhenti. Tanpa sebab. Mobil itu tak bergerak sama sekali. Diam. Hanya suara mesin yang menderu. Suara mesin itu bersahut-sahutan dengan suara mesin mobil yang lain. Bising.
Para penumpang gelisah. Sinar matahari siang yang menghunjam ke tubuh terasa benar. Panas. Keringat mengucur deras. Dari sela-sela kulit mereka.
"Huuuh... Kenapa sih! Nggak jalan-jalan ini mobil. Sudah panas, macet lagi."
Seorang ibu berkerudung mengeluh. Para penumpang lain tersenyum. Kecut. Mereka tak mungkin menghilangkan keluhan sang ibu. Maka yang keluar kemudian adalah keluhan yang bersahut-sahutan.
"Mobil mogok mungkin..." cetus seorang pemuda berpakaian rapi.
"Sepertinya bukan. Kalau mobil mogok, pasti mobil ini bergerak ke samping. Ini nggak kok.." lontar gadis berpakaian mini.
"Apa tabrakan ya? Tapi, kalau tabrakan, jalanan di depan kok sepi-sepi saja," tukas seorang bapak berkaca mata tebal.
Pak Ustadz diam termangu. Ia melihat ke depan. Alhamdulillah... Mobil-mobil sudah bergerak. Meski sangat lambat. Tapi, tidak lama. Mobil yang Pak Ustadz tumpangi mulai berjalan normal. Mata para penumpang bergerak liar. Mereka mencari penyebab kemacetan yang sesaat.
"Wow....Anak kucing!"
Seekor anak kucing berbulu indah menyeberangi jalan. Tertatih-tatih. Matanya menyorot jenaka. Pada mata yang menyapanya.
"Pantas macet. Kucing....dilawan. Mana berani. Mobil pasti memilih berhenti demi memberikan jalan buat sang kucing."
Pak Ustadz tersedak oleh percakapan di angkot. Benaknya tiba-tiba berpikir keras. Kenapa ya orang-orang sangat menghormati keberadaan seekor kucing? Bahkan orang yang menabrak kucing di jalan kerap terpengaruh bayangan buruk bila tidak menolong dan merawatnya.
Mueeza! Ah, ya pasti ini gara-gara Mueeza! Mueeza, kucing peliharaan Nabi yang agung, Muhammad. Gara-gara Mueeza, Nabi mewartakan kepada para sahabatnya agar menyayangi kucing seperti menyayangi keluarganya sendiri. Gara-gara Mueeza pula Nabi mengancam umatnya dengan api neraka bila menyengsarakan kucing yang berdiam di rumahnya. * * *
Wednesday, February 10, 2010
Tuesday, February 09, 2010
PINTU HARTA
Selalu saja ada perasaan tidak enak di hati Pak Ustadz bila berkunjung ke rumah itu. Entah kenapa. Dirinya juga tidak pernah bisa paham. Pernah Pak Ustadz berusaha memetakan. Tapi, selalu gagal. Ia merasa bukan itu jawabannya.
Apakah karena harta? Ah, tidak. Meski kaya, dia tidak lebih kaya daripada orang-orang yang dikenal Pak Ustadz. Apakah karena sikap sombong? Juga tidak. Dia malah tergolong orang yang amat rendah hati. Apakah karena dia tidak menghormati dirinya? Salah besar. Dia sangat hormat kepada dirinya. Apalagi dia terbilang keponakan Pak Ustadz dari garis istrinya.
"Ayo, masuk! Kok malah diam saja," suara istri Pak Ustadz berdesing.
Langkah Pak Ustadz tertahan. Kedua kakinya seperti ada yang memegangnya. Keras. Pak Ustadz tak bisa melangkah. Rumah mewah dan mentereng yang ada di depannya tak juga dimasuki.
"Hei, ayo! Masa mau berdiri di depan rumah," kembali desingan suara istrinya.
"Umi masuk saja dulu. Nanti Abi menyusul...."
Istri Pak Ustadz cemberut. Mukanya ditekuk. Ia tidak suka melihat suaminya seperti itu. Mosok berkunjung ke rumah orang masuk duluan dan meninggalkan suaminya di luar.
"Ayolah Abi...."
Pak Ustadz tetap tak bergerak. Ia hanya memandang kosong. Namun, tak lama. Tiba-tiba matanya diarahkan ke wajah istrinya. Tanpa berkedip. Istri Pak Ustadz menjadi jengah.
"Kok Abi seperti itu. Kenapa?"
Pak Ustadz terdiam sesaat. Lalu, bibirnya berucap lirih.
"Aku bukannya tidak suka bersilaturahim ke sini. Tapi, aku takut bila terlalu sering ke sini, kamu akan lupa."
Istri Pak Ustadz bergetar. Mungkin benar, sebab ia memang sangat suka bila berada di rumah keponakannya itu. Segalanya ada. Rumahnya mewah. Sejuk karena ber-AC. Kursinya empuk. Super mewah. Makanan semua ada. Tersedia. Lengkap. Tak pernah kekurangan. Mobil siap mengantar untuk cari hiburan.
"Kau tahukan Umi, keberadaan harta di mata Allah? Jika haram ia akan menjadi azab. Kalaupun halal ia akan dihisab. Dan sungguh berat orang yang diberi amanah berupa harta. Sebab, harta memiliki dua pintu. Cara mendapatkannya ia akan ditanya, cara menggunakannya pun ia ditanya...."
Istri Pak Ustadz mengangguk. Lemah. Ajaib! Pak Ustadz kini bisa melangkah. * * *
Apakah karena harta? Ah, tidak. Meski kaya, dia tidak lebih kaya daripada orang-orang yang dikenal Pak Ustadz. Apakah karena sikap sombong? Juga tidak. Dia malah tergolong orang yang amat rendah hati. Apakah karena dia tidak menghormati dirinya? Salah besar. Dia sangat hormat kepada dirinya. Apalagi dia terbilang keponakan Pak Ustadz dari garis istrinya.
"Ayo, masuk! Kok malah diam saja," suara istri Pak Ustadz berdesing.
Langkah Pak Ustadz tertahan. Kedua kakinya seperti ada yang memegangnya. Keras. Pak Ustadz tak bisa melangkah. Rumah mewah dan mentereng yang ada di depannya tak juga dimasuki.
"Hei, ayo! Masa mau berdiri di depan rumah," kembali desingan suara istrinya.
"Umi masuk saja dulu. Nanti Abi menyusul...."
Istri Pak Ustadz cemberut. Mukanya ditekuk. Ia tidak suka melihat suaminya seperti itu. Mosok berkunjung ke rumah orang masuk duluan dan meninggalkan suaminya di luar.
"Ayolah Abi...."
Pak Ustadz tetap tak bergerak. Ia hanya memandang kosong. Namun, tak lama. Tiba-tiba matanya diarahkan ke wajah istrinya. Tanpa berkedip. Istri Pak Ustadz menjadi jengah.
"Kok Abi seperti itu. Kenapa?"
Pak Ustadz terdiam sesaat. Lalu, bibirnya berucap lirih.
"Aku bukannya tidak suka bersilaturahim ke sini. Tapi, aku takut bila terlalu sering ke sini, kamu akan lupa."
Istri Pak Ustadz bergetar. Mungkin benar, sebab ia memang sangat suka bila berada di rumah keponakannya itu. Segalanya ada. Rumahnya mewah. Sejuk karena ber-AC. Kursinya empuk. Super mewah. Makanan semua ada. Tersedia. Lengkap. Tak pernah kekurangan. Mobil siap mengantar untuk cari hiburan.
"Kau tahukan Umi, keberadaan harta di mata Allah? Jika haram ia akan menjadi azab. Kalaupun halal ia akan dihisab. Dan sungguh berat orang yang diberi amanah berupa harta. Sebab, harta memiliki dua pintu. Cara mendapatkannya ia akan ditanya, cara menggunakannya pun ia ditanya...."
Istri Pak Ustadz mengangguk. Lemah. Ajaib! Pak Ustadz kini bisa melangkah. * * *
Labels:
tentang AMAL
DAKWAH SENDIRIAN
Ia segan untuk berkumpul. Ia lebih senang sendirian. Tepatnya menyendiri. Wafa, sarjana ilmu Islam yang baru lulus dari sebuah sekolah tinggi. Entah kenapa. Teman-temannya yang suka berjamaah bareng di masjid juga tidak tahu.
Sehabis sholat berjamaah atau acara lain di masjid Wafa langsung bergerak pergi. Pulang atau sekadar jalan-jalan. Ia tidak pernah tampak bergaul dengan pemuda sebaya. Hidupnya seolah kesendirian. Temannya adalah kesendirian.
Pak Ustadz tahu potensi Wafa. Maka ia bergerak menjejeri langkah Wafa sesudah selesai sholat Isya berjamaah.
"Kok langsung pulang, Wafa? Nggak kumpul dulu sama teman-teman di masjid. Siapa tahu ada yang bisa dibicarakan demi kemajuan masjid kita itu, " kata Pak Ustadz sedikit berharap.
Wafa tersenyum. Ia tidak menanggapi ucapan Pak Ustadz. Ada sedikit rasa jengah di sudut hatinya. Tentu terhadap Pak Ustadz. Buat apa tanya-tanya beginian segala?
"Ayolah... Mereka semua perlu gagasan-gagasan segar darimu. Saya yakin kalau kamu bergabung, dakwah di lingkungan kita akan lebih semarak."
Wafa tetap tidak mau membuka suara. Mulutnya terkunci. Hatinya mulai sedikit kesal. Ia tahu apa yang mesti dilakukannya. Bergaul dengan mereka? Ah, bukan itu yang dicari Wafa.
Wafa butuh gagasan-gagasan segar demi persemaian intelektualnya. Ia merasa mandeg kala bergaul dengan teman-teman yang ada di masjid. Ia seperti menjadi kuper alias kurang pergaulan. Masjid di kampungnya ternyata sangat berbeda dengan masjid di kampusnya.
"Saya pikir, ilmu yang baru saja kamu dapat di kampus bisa kamu amalkan di sini. Juga pengalaman-pengalaman kamu saat berorganisasi. Ajarkan kepada mereka-mereka itu. Siapa tahu wawasan dan pengetahuan teman-teman akan terbuka lebar."
Wafa sudah tidak mau lagi mendengar suara Pak Ustadz. Hatinya kecut. Masam.
"Maaf, Pak Ustadz. Jujur, saya tidak memerlukan mereka. Kalaupun hendak berdakwah pasti akan saya lakukan sendirian. Saya lebih nyaman bila sendirian...."
Pak Ustadz terpana. Ia tidak menyangka bila Wafa bisa berucap seperti itu. Ia berhenti berjalan. Namun, langkahnya tak beriringan lagi dengan Wafa yang bergerak cepat meninggalkannya. Pak Ustadz hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Hatinya bergumam lirih.
"Musa butuh Harun. Muhammad perlu Abubakar, Umar, dan yang lainnya. Tapi, kenapa umatnya lebih suka sendirian dalam berdakwah. Aneh!"
Di sudut yang lain, hati Pak Ustadz bersikap. Pasti lagi ada apa-apa. * * *
Sehabis sholat berjamaah atau acara lain di masjid Wafa langsung bergerak pergi. Pulang atau sekadar jalan-jalan. Ia tidak pernah tampak bergaul dengan pemuda sebaya. Hidupnya seolah kesendirian. Temannya adalah kesendirian.
Pak Ustadz tahu potensi Wafa. Maka ia bergerak menjejeri langkah Wafa sesudah selesai sholat Isya berjamaah.
"Kok langsung pulang, Wafa? Nggak kumpul dulu sama teman-teman di masjid. Siapa tahu ada yang bisa dibicarakan demi kemajuan masjid kita itu, " kata Pak Ustadz sedikit berharap.
Wafa tersenyum. Ia tidak menanggapi ucapan Pak Ustadz. Ada sedikit rasa jengah di sudut hatinya. Tentu terhadap Pak Ustadz. Buat apa tanya-tanya beginian segala?
"Ayolah... Mereka semua perlu gagasan-gagasan segar darimu. Saya yakin kalau kamu bergabung, dakwah di lingkungan kita akan lebih semarak."
Wafa tetap tidak mau membuka suara. Mulutnya terkunci. Hatinya mulai sedikit kesal. Ia tahu apa yang mesti dilakukannya. Bergaul dengan mereka? Ah, bukan itu yang dicari Wafa.
Wafa butuh gagasan-gagasan segar demi persemaian intelektualnya. Ia merasa mandeg kala bergaul dengan teman-teman yang ada di masjid. Ia seperti menjadi kuper alias kurang pergaulan. Masjid di kampungnya ternyata sangat berbeda dengan masjid di kampusnya.
"Saya pikir, ilmu yang baru saja kamu dapat di kampus bisa kamu amalkan di sini. Juga pengalaman-pengalaman kamu saat berorganisasi. Ajarkan kepada mereka-mereka itu. Siapa tahu wawasan dan pengetahuan teman-teman akan terbuka lebar."
Wafa sudah tidak mau lagi mendengar suara Pak Ustadz. Hatinya kecut. Masam.
"Maaf, Pak Ustadz. Jujur, saya tidak memerlukan mereka. Kalaupun hendak berdakwah pasti akan saya lakukan sendirian. Saya lebih nyaman bila sendirian...."
Pak Ustadz terpana. Ia tidak menyangka bila Wafa bisa berucap seperti itu. Ia berhenti berjalan. Namun, langkahnya tak beriringan lagi dengan Wafa yang bergerak cepat meninggalkannya. Pak Ustadz hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Hatinya bergumam lirih.
"Musa butuh Harun. Muhammad perlu Abubakar, Umar, dan yang lainnya. Tapi, kenapa umatnya lebih suka sendirian dalam berdakwah. Aneh!"
Di sudut yang lain, hati Pak Ustadz bersikap. Pasti lagi ada apa-apa. * * *
Labels:
tentang ILMU
Subscribe to:
Posts (Atom)

