Mobil yang ditumpangi Pak Ustadz terus melaju kencang. Jalanan yang naik turun seperti tak berpengaruh. Pak Ustadz, Pak Waqi, dan Turino sebagai sopir seolah amat menikmati perjalanannya.
Mereka bertiga hendak melihat tanah di sebuah kampung. Pak Waqi yang wiraswasta sukses mengajak Pak Ustadz untuk ikut. Pak Waqi sudah punya rencana. Ia ingin membeli tanah itu untuk dijadikan yayasan sosial. Pak Ustadz dimintanya terlibat langsung.
"Saya berharap Pak Ustadz benar-benar terlibat. Tidak hanya ikut nyumbang pikiran dari belakang....." harap Pak Waqi.
Pak Ustadz tersenyum mendengar ucapan Pak Waqi. Katanya,
"Insya Allah. Apabila berjodoh saya pasti bersedia. Tapi, kalau Allah tidak membuat saya berjodoh tentu saya tidak mungkin terlibat. Moga-moga saja harapan Bapak terkabul."
"Saya yakin, Pak Ustadz pasti berjodoh. Sebab hanya Pak Ustadz seorang yang ada dalam bayangan saya untuk menangani, memimpin, dan mengelola yayasan yang hendak saya bangun nanti."
Pak Ustadz kembali tersenyum. Ia tidak menanggapinya.
Suasana hening.
Turino gelisah. Ia menangkap senyap. Sunyi. Kelam. Hanya hembusan dingin yang menyelinap ke tubuhnya. Perlahan-lahan tangan kirinya mengambil dan mengeluarkannya. Ia menyentuh tape yang di mobil. Klik!
Dari dalam mobil terdengar musik. Keras. Sangat keras. House music! Turino tertawa gembira. Bahagia. Reflek, kepalanya langsung bergoyang-goyang mengikuti irama. Ia menikmati betul suasananya. Pak Waqi tersenyum, coba memaklumi. Tapi, tidak dengan Pak Ustadz.
Telinga Pak Ustadz benar-benar terasa sakit. Suara musik yang keluar dari tape mobil itu seperti menghantam bilik-bilik jantungnya. Dugh! Dugh! Hatinya berusaha memaklumi. Namun, semakin lama memaklumi, dadanya semakin sakit. Pak Ustadz sudah tak tahan.
"Mas Turino, saya punya kaset. Bagus banget nih. Kemarin saya dengarkan di rumah. Semua senang, " cetus Pak Ustadz sambil menyerahkan kaset itu kepada Turino.
Turino menerima kaset dari Pak Ustadz. Ia tak kuasa untuk menolak. Ia tahu diri. Ia segera mengganti kaset yang ada di tape. Dari tape kini muncul suara dari langit. Mengalun. Syahdu. Murotal. Bacaan ayat-ayat Al Qur'an.
Turino terdiam. Pak Waqi biasa saja. Pak Ustadz tersenyum bahagia.
"Allah memberi kita banyak kenikmatan. Uang, mobil, dan bahkan tape ini. Maka mari kita rayakan kenikmatan ini dengan amal yang paling mudah. Mendengarkan murotal." * * *
Wednesday, February 03, 2010
Friday, January 29, 2010
MUSIBAH PALING BESAR
Bersama para warga, Pak Ustadz sibuk membetulkan beberapa rumah yang roboh. Siang itu, setelah semalam rumah-rumah mereka dihajar angin ribut yang marah. Atap melayang. Genteng amblas. Bangunan jebol.
"Capek Pak Ustadz?" tanya Mang Sudin kepada Pak Ustadz yang terlihat menyingkir dan duduk di sebongkah batu.
Pak Ustadz tak menjawab. Bibirnya hanya membalas dengan senyuman. Pak Sudin yang usianya sudah melewati enampuluh ikut duduk. Mereka asyik memandang para warga yang seperti tak kenal lelah berusaha membetulkan sisa-sisa "bencana" semalam.
"Untung tidak terlalu gede anginnya ya Pak Ustadz...."
"Iya. Alhamdulillah... Masih bisa kita atasi sendiri musibah ini."
Pak Ustadz menyeka keringat yang mengalir deras. Napasnya sedikit ngos-ngosan. Kepayahan. Sejak semalam ia memang belum beristirahat. Musibah angin ribut itu telah menyita waktu dan perhatiannya. Juga tenaganya.
Musibah yang tidak disangka-sangka. Semua penduduk! Karena mereka sedang lelap menuju mimpi. Siapa nyana, pukul duabelas malam angin datang bak pasukan tempur. Gemuruh. Mengerikan. Untung tidak lama. Namun, waktu yang tidak lama tetap membuat para warga berteriak-teriak ketakutan.
"Ini musibah paling besar yang terjadi di kampung kita ya Pak Ustadz?" tanya Mang Sudin meminta persetujuan.
Pak Ustadz tersenyum. Mang Sudin senang. Tapi, Mang Sudin lalu kebingungan melihat Pak Ustadz menggelengkan kepalanya sambil bergumam.
"Bukan. Ini bukan musibah paling besar..."
"Lho, memang ada musibah yang paling besar dibanding ini?" tanya Mang Sudin terheran-heran. Mulutnya melongo.
"Ada."
"Musibah apa, Pak Ustadz?"
"Musibah paling besar pada diri manusia adalah hilangnya kekuatan ilmu dan amal pada dirinya. Jika keduanya hilang, orang akan menderita kerugian yang paling besar, tanpa bisa menggantinya..."
Mang Sudin terpana mendengar ucapan Pak Ustadz. Ia sedang merenungi maksudnya. Tapi, ia seolah tak kuasa. Mulutnya hendak berucap, tapi Pak Ustadz telah mendahuluinya.
"Ayo, kita kerja lagi Mang!" * * *
"Capek Pak Ustadz?" tanya Mang Sudin kepada Pak Ustadz yang terlihat menyingkir dan duduk di sebongkah batu.
Pak Ustadz tak menjawab. Bibirnya hanya membalas dengan senyuman. Pak Sudin yang usianya sudah melewati enampuluh ikut duduk. Mereka asyik memandang para warga yang seperti tak kenal lelah berusaha membetulkan sisa-sisa "bencana" semalam.
"Untung tidak terlalu gede anginnya ya Pak Ustadz...."
"Iya. Alhamdulillah... Masih bisa kita atasi sendiri musibah ini."
Pak Ustadz menyeka keringat yang mengalir deras. Napasnya sedikit ngos-ngosan. Kepayahan. Sejak semalam ia memang belum beristirahat. Musibah angin ribut itu telah menyita waktu dan perhatiannya. Juga tenaganya.
Musibah yang tidak disangka-sangka. Semua penduduk! Karena mereka sedang lelap menuju mimpi. Siapa nyana, pukul duabelas malam angin datang bak pasukan tempur. Gemuruh. Mengerikan. Untung tidak lama. Namun, waktu yang tidak lama tetap membuat para warga berteriak-teriak ketakutan.
"Ini musibah paling besar yang terjadi di kampung kita ya Pak Ustadz?" tanya Mang Sudin meminta persetujuan.
Pak Ustadz tersenyum. Mang Sudin senang. Tapi, Mang Sudin lalu kebingungan melihat Pak Ustadz menggelengkan kepalanya sambil bergumam.
"Bukan. Ini bukan musibah paling besar..."
"Lho, memang ada musibah yang paling besar dibanding ini?" tanya Mang Sudin terheran-heran. Mulutnya melongo.
"Ada."
"Musibah apa, Pak Ustadz?"
"Musibah paling besar pada diri manusia adalah hilangnya kekuatan ilmu dan amal pada dirinya. Jika keduanya hilang, orang akan menderita kerugian yang paling besar, tanpa bisa menggantinya..."
Mang Sudin terpana mendengar ucapan Pak Ustadz. Ia sedang merenungi maksudnya. Tapi, ia seolah tak kuasa. Mulutnya hendak berucap, tapi Pak Ustadz telah mendahuluinya.
"Ayo, kita kerja lagi Mang!" * * *
Labels:
tentang AMAL
Wednesday, January 06, 2010
HANYA TUKANG BACA DOA
Pak Ustadz masih duduk di kursinya. Diam. Wajahnya termangu. Gundah. Ia belum beranjak pergi. Padahal pakaiannya sudah terlihat rapi. Celana dan bajunya putih bersih. Kopiah putih nyantel di kepala.
"Lho, kok Abi belum juga pergi...."
Sang istri menyapa lembut. Perempuan berparas ayu itu lalu duduk di hadapannya. Ia menatap mesra suaminya. Pak Ustadz tak tergoda. Pak Ustadz tetap menampakkan wajah gundah.
"Abi, kenapa belum pergi? Kasihan lho Pak Agus sudah menunggu. Kalau Abi nggak ada di sana nanti siapa yang akan bertugas menggantikan Abi di acara syukuran itu?"
Pak Ustadz tetap diam. Matanya memandang ke luar. Mulutnya lalu bergerak lirih, seperti melepas kegundahan hatinya.
"Umi, aku sebenarnya agak malas pergi ke acaranya Pak Agus. Soalnya dari dulu ya seperti itu. Nggak ada yang lain. Aku hanya diminta baca doa, selesai lalu pulang."
"Lho, Abi nggak kasih ceramah di situ?"
Pak Ustadz menggelengkan kepalanya. Selalu begitu bila ada acara di tempat Pak Agus. Acara ceramah keagamaan tidak diperlukan di rumah Pak Agus yang mewah. Dari Pak Ustadz, Pak Agus hanya memerlukan doa penutup. Doa yang dianggapnya paling makbul.
Pak Ustadz paham siapa Pak Agus. Ia jauh dari Islam. Sangat jarang Pak Agus ikut dalam kegiatan pengajian warga. Pak Agus juga jarang terlihat di masjid, bahkan hari Jum'at sekalipun. Pak Agus lebih suka merayakan pesta-pesta di rumahnya.
Pak Agus memang orang terpandang. Di kantornya, karirnya moncer. Prinsipnya, tunduk patuh sama atasan adalah kunci kesuksesan. Loyalitas total! Tidak ada yang lain. Kerja keras, kerja sama, atau rajin hanyalah pendukung.
"Jadi, Abi mau berangkat tidak?"
"Sepertinya tidak....," jawab Pak Ustadz sedikit gamang.
"Kenapa?"
"Abi tidak mungkin datang ke tempat orang yang hanya tunduk dan patuh kepada atasan, tapi tidak pernah tunduk dan patuh kepada atasan yang sesungguhnya, yakni Allah."
Istri Pak Ustadz terkejut. Selama hidup berdampingan sebagai suami-istri, rasanya tidak pernah Pak Ustadz mengeluarkan kata-kata keras seperti itu. Baru kali ini ia berkata seperti itu. Keras. Tegas. Sedikit menyakitkan.
Istri Pak Ustadz memandang lembut. Bibirnya menyunggingkan senyum. Katanya kemudian.
"Abi, berangkatlah. Allah sudah menunggu Abi untuk mengucapkan kata-kata pujian dari mulut Abi....."
Pak Ustadz terpana. Dadanya bergetar. * * *
"Lho, kok Abi belum juga pergi...."
Sang istri menyapa lembut. Perempuan berparas ayu itu lalu duduk di hadapannya. Ia menatap mesra suaminya. Pak Ustadz tak tergoda. Pak Ustadz tetap menampakkan wajah gundah.
"Abi, kenapa belum pergi? Kasihan lho Pak Agus sudah menunggu. Kalau Abi nggak ada di sana nanti siapa yang akan bertugas menggantikan Abi di acara syukuran itu?"
Pak Ustadz tetap diam. Matanya memandang ke luar. Mulutnya lalu bergerak lirih, seperti melepas kegundahan hatinya.
"Umi, aku sebenarnya agak malas pergi ke acaranya Pak Agus. Soalnya dari dulu ya seperti itu. Nggak ada yang lain. Aku hanya diminta baca doa, selesai lalu pulang."
"Lho, Abi nggak kasih ceramah di situ?"
Pak Ustadz menggelengkan kepalanya. Selalu begitu bila ada acara di tempat Pak Agus. Acara ceramah keagamaan tidak diperlukan di rumah Pak Agus yang mewah. Dari Pak Ustadz, Pak Agus hanya memerlukan doa penutup. Doa yang dianggapnya paling makbul.
Pak Ustadz paham siapa Pak Agus. Ia jauh dari Islam. Sangat jarang Pak Agus ikut dalam kegiatan pengajian warga. Pak Agus juga jarang terlihat di masjid, bahkan hari Jum'at sekalipun. Pak Agus lebih suka merayakan pesta-pesta di rumahnya.
Pak Agus memang orang terpandang. Di kantornya, karirnya moncer. Prinsipnya, tunduk patuh sama atasan adalah kunci kesuksesan. Loyalitas total! Tidak ada yang lain. Kerja keras, kerja sama, atau rajin hanyalah pendukung.
"Jadi, Abi mau berangkat tidak?"
"Sepertinya tidak....," jawab Pak Ustadz sedikit gamang.
"Kenapa?"
"Abi tidak mungkin datang ke tempat orang yang hanya tunduk dan patuh kepada atasan, tapi tidak pernah tunduk dan patuh kepada atasan yang sesungguhnya, yakni Allah."
Istri Pak Ustadz terkejut. Selama hidup berdampingan sebagai suami-istri, rasanya tidak pernah Pak Ustadz mengeluarkan kata-kata keras seperti itu. Baru kali ini ia berkata seperti itu. Keras. Tegas. Sedikit menyakitkan.
Istri Pak Ustadz memandang lembut. Bibirnya menyunggingkan senyum. Katanya kemudian.
"Abi, berangkatlah. Allah sudah menunggu Abi untuk mengucapkan kata-kata pujian dari mulut Abi....."
Pak Ustadz terpana. Dadanya bergetar. * * *
Labels:
tentang CINTA
Subscribe to:
Posts (Atom)
