Showing posts with label tentang AKHLAK. Show all posts
Showing posts with label tentang AKHLAK. Show all posts

Friday, January 07, 2011

SENYUM SI MAYIT

Kampung Pak Ustadz gempar. Puluhan orang meniupkan suara dari jalan ke jalan, gang ke gang, dan rumah ke rumah. Gara-garanya Mbah Kisrun. Kematiannya yang tidak diduga-duga dan tanpa didahului sakit telah meninggalkan bekas di benak semua orang.

"Jenazah, Mbah Kisrun tersenyum!"

Puluhan orang yang melihat dengan mata kepala sendiri wujud jenazah Mbah Kisrun berusaha menyimpulkan tanpa membesarkan-besarkan.

"Iya. Aku yang pertama kali mengangkat jenazah Mbah Kisrun saat pertama kali terlentang di kamar mandi. Nggak ada luka, tapi nafasnya sudah tak berdetak. Saat dipindah ke kamar tidur tiba-tiba bibir Mbak Kisrun sudah membuka seperti tersenyum."

Kardi yang paling dulu melihat peristiwa meninggalnya Mbah Kisrun memberi kesaksian. Amin tak mau kalah. Ia juga berusaha menambahkannya.

"Bener omongan Kardi. Bahkan ketika disholatkan, jenazah itu tetap tak berubah. Meninggalkan senyum yang bagi semua orang terasa misteri."

"Misteri? Misteri apa?" tanya Kosim yang sedari tadi diam.

"Lho, bagaimana nggak misteri, bukankah sakaratul maut dan kematian itu sesuatu yang menyakitkan?" bantah Amin dengan nada cukup keras. "Kata Pak Ustadz, sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang."

"Iya. Pak Ustadz bahkan pernah menerangkan bahwa kematian yang paling ringan-pun dapat diibaratkan sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek?"

Kosim terdiam, tak membantah. Tapi, tiba-tiba mulutnya bergetar.

"Lalu, kenapa jenazah Mbak Kisrun tersenyum?"

Kardi dan Amin kini yang ganti terdiam. Ia seperti tak mampu menjawab pertanyaan Kosim. Namun, benak dan hatinya menari-nari berusaha untuk menjawab pertanyaan itu dengan cara mengingat-ingat kembali sosok Mbah Kisrun.

"Ah, pasti karena Mbah Kisrun rajin sholat berjamaah di masjid dan hadir pengajian-pengajian."

"Mungkin juga karena Mbah Kisrun suka menolong dan menyantuni anak yatim dan orang terlantar."

"Atau mungkin karena Mbah Kisrun tak suka bermusuhan dengan siapapun juga."

Kardi dan Amin berusaha menerka-nerka. Namun, semua jawaban itu seolah tak memuaskan Kosim, bahkan juga bagi diri Kardi dan Amin. Senyum Mbah Kisrun di saat ajal menjemput tetap menjadi misteri sampai kemudian Kosim nyeletuk ringan.

"Jenazah Mbah Kisrun tersenyum, pasti karena saat menjalani hidup dan kehidupannya Mbah Kisrun memang tak pernah tidak tersenyum."

Kardi dan Amin kali ini tersenyum. Benar! Benar sekali! Mereka memang tak pernah melihat Mbah Kisrun marah, sedih, jengkel, iri, atau dengki. Ia seolah menjalani hidup dengan ikhlas, apa adanya. Apakah ini yang menyebabkan jenzah Mbah Kisrun tersenyum? * * *

Tuesday, October 19, 2010

DRAMA ARISAN

Pulang arisan. Sore yang berkabut. Istri Pak Ustadz masuk rumah dengan wajah yang kusut. Tak enak dilihat. Jilbab putih yang dikenakannya menjadi terlihat suram. Bahkan kelam. Pak Ustadz tahu diri.

"Pulang-pulang kok malah kusut. Ada apa sih?"

Istri Pak Ustadz tak menjawab. Diam. Langkahnya tertuju ke dapur. Pasti minum! Pak Ustadz sudah hafal dengan kebiasaan istrinya. Setiap ada masalah yang hendak diungkapkan, tapi dirasakan mengganjal di hati, pasti istri Pak Ustadz meminum air dulu. Seteguk atau dua teguk.

"Sudah? Sekarang ceritakan!"

Istri Pak Ustadz mengambil napas. Lalu, keluarlah dari bibirnya keluhan yang dari waktu-waktu seolah itu-itu melulu. Pak Ustadz seperti sudah hafal. Karena setiap pulang arisan, istrinya selalu mengeluhkan hal yang sama. Ibu-ibu yang suka pamer!

Kali ini ia mengeluhkan sikap Ibu Andre yang baru membeli mobil baru. Diceritakan bagaimana enak dan nikmatnya mobil yang mereka miliki. Ke mana-mana jadi gampang. Tak perlu naik angkot. Topik arisan pun beralih ke soal mobil.

"Kalau setiap bulan seperti itu terus, mendingan saya tak berangkat arisan. Buat apa. Tujuannya arisan. Silaturahim dengan tetangga. Ujung-ujungnya pamer!"

Istri Pak Ustadz ngedumel. Pak Ustadz tersenyum kecut. Hatinya tidak mempermasalahkan sikap ibu-ibu di arisan. Tapi, ada rasa khawatir pada dirinya terhadap sikap istrinya. Hasud! Ya, hasud! Lama kelamaan sikap istrinya jengkel, marah akan bisa berubah menjadi hasud. Dendam!

"Bagaimana menurut, Abi?" tanya istri Pak Ustadz.

"Aku tidak peduli dengan mereka. Tapi, aku khawatir dengan sikap kamu. Sebab, tanpa terasa kamu bisa terhinggapi oleh hasud. Padahal, hasud adalah watak yang paling berbahaya jika sudah melekat dalam jiwa seseorang..."

"Ah, tidak mungkin. Tidak mungkin. Masa soal pembicaraan arisan bisa jadi hasud."

Pak Ustadz terdiam. Kali ini wajahnya berubah serius. Ia lontarkan pandangan matanya ke wajah istrinya.

"Sekarang, tolong dijawab. Apakah kamu tidak suka dengan kenikmatan yang mereka peroleh?"

"Iya. Sebab, kenikmatan itu membuat mereka lupa diri. Cerita tak ada ujung pangkalnya."

"Apakah kamu ingin kenikmatan itu hilang dari mereka?"

"Iya. Sebab, silaturahim dalam arisan akan menjadi baik jika kenikmatan itu dihilangkan."

"Apakah kamu ingin kenikmatan itu berpindah kepada dirimu?"

"Ehm... Kalau bisa, iya. Sebab, aku pasti tidak akan seperti mereka."

Pak Ustadz menutup wajahnya. Matanya memerah. Ia tahu, istrinya telah dihinggapi perasaan hasud. Dendam terhadap kenikmatan yang dimiliki orang lain. Mulut Pak Ustadz berucap lirih, memohon ampun. * * *

Monday, October 11, 2010

UTANG NERAKA

”Abi, ada Kang Giman di luar....”

Suara lembut menyentil telinga Pak Ustadz yang tengah memanjakan matanya; membaca buku. Tubuh Pak Ustadz malas bergerak. Baru setelah istri Pak Ustadz menyentil untuk kedua kalinya, Pak Ustadz beranjak.

Kang Giman. Ah, Kang Giman. Selalu saja hati Pak Ustadz tergetar jika nama itu disebut. Ada semacam perasaan tergores yang dalam. Padahal nama itu tidak pernah melukainya. Padahal nama itu terdengar kelam karena mulut orang-orang.
”Sehat, Pak Ustadz?” sapa Kang Giman dengan keramahan yang sengaja dibuat.

Pak Ustadz tersenyum. Kecut. Rasa curiga menyentak dadanya. Seperti tak mau berhenti. Pak Ustadz berusaha melawan. Namun, semakin keras dilawan, sentakan curiga itu malah semakin keras.
Dugh! Benar. Kang Giman datang untuk meminjam uang. Lumayan besar. Tentu untuk kantong Pak Ustadz yang tidak tergolong dalam, bahkan bisa dikatakan pas-pasan. Satu juta rupiah. Katanya untuk berobat.

Benak Pak Ustadz langsung berkelana. Ia tidak ingin menyakiti hati Kang Giman. Tapi, ia juga tak mau tertipu seperti orang-orang yang pernah bercerita kepadanya. Kang Giman tukang tipu! Ia penipu ulung!

”Kang Giman, saya tidak keberatan meminjami uang. Tapi, kapan Kang Giman mampu melunasi pinjaman itu?”

Kang Giman terkejut. Hatinya berbisik, lho kok seperti ini? Biasanya kalau pinjam uang tak pernah ditanya kapan mengembalikannya. Jadi, asyik-asyik saja. Pura-pura tak ingat. Bahkan kalau bisa melupakannya. Ah, Pak Ustadz aneh!

”Sebulan. Ya, sebulan. Ehm, tanggal tujuh,” jawab Kang Giman sekenanya.

”Nah, kalau sebulan dan tanggal tujuh, apa jaminannya?”

Gila! Ini sih gaya rentenir! Mosok meminjam uang ke Pak Ustadz ditanya jaminan segala. Persis bank. Edan! Kang Giman berontak. Ribet amat pinjam uang sama Pak Ustadz. Padahal cuma sejuta.
”Saya punya sertifikat rumah, Pak Ustadz....”

”Oh, ya. Kalau punya sertifikat, bawa ke sini. Nanti uang itu saya berikan.”

”Kalau uangnya dulu, gimana. Nanti saya antar sertifikatnya. Saya perlu banget.”

”Rumah Kang Giman-kan dekat. Tinggal bawa ke sini dan tunjukkan. Sertifikat itu juga tidak saya minta kok.”

Kang Giman melongo. Ia tak menyangka Pak Ustadz yang bijak dan budiman bisa sesulit itu tatkala dipinjami uang. Padahal, ia berharap Pak Ustadz tidak terlalu cerewet. Bukankah meminjamkan uang termasuk kebaikan?

Jangan keliru Kang, batin Pak Ustadz. Pinjam-meminjam uang bukan masalah ringan. Betapa banyak orang yang begitu mudahnya meminjamkan uang ke orang lain, tapi mereka justru enggan menagihnya. Malu. Pekewuh. Tak enak hati.

Akhirnya, menyebarlah fitnah. Keliru. Ini keliru. Piutang harus menagih orang yang terutang agar pintu surga terbuka bagi orang yang terutang untuk masuk ke dalamnya. Kasihan dia kalau tidak ditagih!

Di ruang tengah istri Pak Ustadz mencegat Pak Ustadz.

”Abi, katanya Abi tak punya uang. Kok mau pinjami uang ke Kang Giman?”

”Ah, mosok aku mesti menceritakan kesusahan kita kepada orang lain....”

Istri Pak Ustadz tertegun. Bingung. * * *

Tuesday, August 24, 2010

ANDA, AYAH DAN IBU YANG BAIK?

Minggu pagi. Matahari tersenyum cerah. Pak Ustadz dan istrinya asyik bercengkerama. Teh hangat dan pisang goreng menemani mereka berdua. Begitu biasanya. Entah kenapa. Mereka selalu dicekam kerinduan untuk bersama. Padahal, tidak ada yang istimewa pada setiap pagi itu.

Pak Ustadz dan istrinya seringkali hanya duduk sambil mengobrol. Kadang diselingi candaan santai. Tak pernah ada percakapan serius di pagi hari saat libur. Namun, kali ini sepertinya lain. Semua ini gara-gara celetukan istri Pak Ustadz.

"Abi, di mata anak-anak, kira-kira kita ini termasuk ayah dan ibu yang baik bukan ya?"

Pak Ustadz kaget mendengar celetukan istrinya. Amat kaget. Ia pandangi wajah istrinya. Ia takut ada yang keliru dengan ucapan istrinya. Sebab, ini tidak biasa. Benar, tidak biasa. Tapi, Pak Ustadz sepertinya tidak menemukan keanehan di wajah istrinya.

Istri Pak Ustadz tetap seperti biasa. Manis dan sedap dipandang mata. Bahkan wajah istri Pak Ustadz seolah menunjukkan keseriusan. Artinya, istri Pak Ustadz tidak sedang mengajak bercanda.

"Menurut Umi, bagaimana?" Pak Ustadz balik bertanya.

"Lho, Umi tanya malah Abi balik tanya. Bagaimana sih?"

Pak Ustadz tersenyum. Senang. Selalu saja ada kerinduan untuk menggoda istrinya. Manja. Ya, manja. Itu hal yang paling Pak Ustadz sukai dari istrinya. Kemanjaan yang alamiah. Bukan dibuat-buat dan dipaksakan.

Meski senang, di sudut hatinya Pak Ustadz tercenung. Benar! Ucapan istrinya benar! Hampir duabelas tahun ia menjalani pernikahan, tapi sekalipun ia tidak pernah menanyakan dalam hatinya perihal yang satu itu. Ayah yang baik dan ibu yang baik hanya sebuah proses. Itu keyakinan Pak Ustadz.

"Saya tidak tahu Umi sebab yang tahu pasti anak-anak kita?"

"Lho, kok anak-anak kita?"

"Iya. Sebab, mereka yang merasakan kehadiran kita sebagai ayah atau ibu."

"Tapi, Abi pasti punya penilaian tersendiri."

Pak Ustadz tersudut. Hatinya memang membenarkan tebakan istrinya. Kendati demikian, Pak Ustadz sejatinya hanya mampu meraba. Ia tetap tidak tahu apakah dirinya ayah yang baik atau bukan. Kata Pak Ustadz kemudian.

"Umi, kita berdua adalah pemimpin dalam rumah tangga kita. Kata Nabi, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang selalu mendoakan orang yang kita pimpin dan selalu didoakan oleh mereka. Sebaliknya, pemimpin yang buruk adalah pemimpin yg dibenci oleh orang yang kita pimpin dan dilaknat oleh mereka."

"Jadi?"

"Ya, nanti kita tanya ke anak-anak kita. Apakah mereka selalu mendoakan kita dalam sholatnya."

"Tapi, Abi selalu mendoakan anak-anak kitakan?"

"Insya Allah..."

Pak Ustadz dan istrinya saling tersenyum. Dalam hati mereka tersembul janji untuk senantiasa menjadi ayah dan ibu yang baik. * * *

Wednesday, July 07, 2010

KREATIF PELIT

Mobil-mobil di depan berjalan lambat. Seperti keong. Tertatih-tatih. Pak Ustadz mulai hilang kesabaran. Tombol klakson di kemudi sudah hendak ditekannya. Namun, jari Pak Ustadz langsung berhenti ketika telinganya menangkap sayup-sayup suara.

"Terima kasih bapak-ibu atas sumbangannya. Semoga sumbangan itu mampu membuat kami segera menyelesaikan pembangunan masjid ini. Dan semoga perjalanan bapak-ibu tidak kurang suatu apa hingga sampai di tempat tujuan. Amien."

Pak Ustadz paham. Amat paham. Mobil-mobil di depan yang berjalan pelan terhalang oleh "serombongan" peminta sumbangan. Mereka sengaja memasang tanda berupa tong dan sedikit tulisan pada kain. Mau tidak mau mobil yang melewati jalanan itu berjalan pelan.

Saat mobil yang lewat berjalan pelan, rombongan peminta sumbangan itu segera menyodorkan keropak ke mobil-mobil itu. Bila penumpang dalam mobil menyodorkan uang, maka ucapan terima kasih dan selarik senyuman meluncur dari mereka. Namun, jika penumpang tak menyodorkan, bibir mereka terkatup rapat.

"Paman, kita kasih nggak?" tanya Farid, keponakan Pak Ustadz yang kini beranjak remaja.

Pak Ustadz terdiam sebentar. Katanya kemudian.

"Kasih saja."

"Berapa Paman?"

"Kamu bisa ambil uang yang ada di laci dashboard. Di situ sepertinya ada uang yang cukup untuk menyumbang mereka."

Farid membuka laci. Ia menemukan selembar uang sepuluh ribuan. Dilihat dan ditimang-timangnya uang itu. Lalu, dielus-elusnya. Seperti ada yang aneh pada uang itu, tapi lebih-lebih pada Farid. Ia seperti berpikir keras. Keningnya berkerut.

"Paman, sayang ya kalau uang ini kita kasihkan ke mereka.., " ucapnya dengan mimik aneh.

"Lho kenapa?"

"Jujur, aku nggak suka orang-orang seperti mereka. Kerjanya cuma mempermalukan diri mereka sendiri. Lebih lagi, mereka telah mempermalukan Islam. Paman pikir, apakah tidak ada cara lain untuk membangun masjid, selain meminta-minta sumbangan di jalanan."

Pak Ustadz terkejut mendengar suara Farid. Ada puluhan rasa bertentangan yang bergelayut. Kecewa, sedih, jengkel, khawatir. Namun, di sudut lain, ada senyum dan rasa bangga Pak Ustadz terhadap sikap kritis Farid.

"Umat Islam mestinya kreatif dan jauh dari watak meminta-minta. Apalagi ini pekerjaan mulia, menggalang dana dan dukungan untuk pendirian masjid. Bener begitukan, Paman?"

Pak Ustadz terdiam.

"Bagaimana Paman?" ulang Faris.

Pak Ustadz mendehem sejenak. Lalu katanya.

"Bener. Tapi, tidak semestinya kita menyalahkan mereka. Sebab, bagaimana mereka tidak menengadahkan tangan di sepanjang jalan jika kita-kita ini tetap bersikap pelit dan bakhil terhadap sesama, bahkan terhadap orang-orang seperti mereka. Jelas agama ini susah untuk maju."

Kali ini gantian Sofwan yang terkejut. Ia seperti bingung mencerna ucapan Pak Ustadz. Namun, Pak Ustadz tak peduli. Ia tetap memandang ke depan dengan setir kemudi di tangannya. * * *

Tuesday, March 23, 2010

ROKOK? BUKAN MAKRUH ATAU HARAM!

Pak Ustadz sudah hampir mencapai taraf bosan. Ia sudah tidak mau lagi bicara. Tapi, kali ini ia datang lagi. Dengan soal yang lagi-lagi sama. Bang Tata! Rokok! Sepertinya, ucapan dan ketegasan Pak Ustadz beberapa hari yang lalu tidak menyurutkan Bang Tata untuk kembali menemuinya.

"Maaf, Pak Ustadz. Terpaksa saya datang lagi...."

Pak Ustadz hanya mesem. Bagi Pak Ustadz, datangnya Bang Tata ibarat mendapat kiriman durian busuk. Mabuk, memabukkan. Mual, memualkan. Lidah Pak Ustadz sudah kaku. Perut Pak Ustadz ingin muntah.

Namun, Bang Tata memang orang yang tidak tahu. Juga tidak mau tahu. Sikap Pak Ustadz yang ogah-ogahan tidak membuatnya keder, apalagi mundur. Ia tetap kekeueh untuk menemui Pak Ustadz. Urusan Pak Ustadz jengah dan malas adalah urusan Pak Ustadz sendiri, bukan urusannya.

"Pak Ustadz, sebagai umat muslim, saya ingin meminta ketegasan. Rokok itu sebenarnya makruh apa haram?" tanya Bang Tata.

Pak Ustadz menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sadar, percakapan dirinya dengan Bang Tata beberapa waktu lalu ternyata sama sekali tidak membekas. Bang Tata tetap bingung dan kebingungan dengan persoalan rokok.

"Memang apa pentingnya kalau rokok itu haram atau makruh..."

"Oh, sangat erat, Pak Ustadz, "potong Bang Tata. " Kalau haram, saya pasti berhenti merokok. Tapi, kalau hanya sekadar makruh, saya akan terus merokok."

Pak Ustadz tidak percaya dengan ucapan Bang Tata. Pengalaman dirinya bertemu dan berbicara dengan para pecandu rokok, label makhruh dan haram tidak terlalu bermakna bagi mereka. Apalagi jika mereka berkilah bahwa sepanjang ayat Al Qur'an tidak mengharamkan rokok, maka tidak pada tempatnya jika ada ulama atau organisasi keagamaan mengharamkan rokok.

"Ah, apa untungnya bicara rokok itu makruh atau haram? Dari dulu saya tidak pernah bersepakat. Tidak ada untungnya. Sebab jika kita berbicara tentang label makruh atau haram, yang terjadi pasti pro dan kontra. Ini tidak sehat bagi umat muslim, "terang Pak Ustadz.

"Lho...."

Kali ini Bang Tata melongo. Ia kaget mendengar pernyataan Pak Ustadz. Juga bingung.

"Makanya saya tidak pernah menyebut rokok itu makruh, apalagi haram. Sebab, dua kata itu pasti akan berujung pada dua kata yang lain. Pahala atau dosa. Saya menghindari itu semua."

Bibir Bang Tata menyungging. Ia serasa mendapat pembelaan. Ia merasa menang. Tapi, Pak Ustadz ternyata belum berhenti berbicara.

"Saya lebih senang menggunakan kata manfaat atau mudharat. Kalau dipandang dari segi apapun rokok ternyata bermanfaat, ya silakan merokok. Tapi, kalau dipandang dari segi kesehatan, sosial, ekonomi, ternyata rokok mengandung lebih banyak mudharat, ya tinggalkan saja."

Bang Tata manggut-manggut. Paham.

"Alhamdulillah.... Terima kasih, Pak Ustadz. Berarti merokok tidak berdosakan?"

Pak Ustadz tersenyum.

"Saya tidak tahu, Bang Tata. Tapi, kata Nabi, salah satu ciri orang beriman ialah ia mampu meninggalkan sesuatu pekerjaan yang tidak bermanfaat."

Bang Tata paham ke arah mana ucapan Pak Ustadz. Bang Tata menggigit bibir. Perih.* * *

Tuesday, March 09, 2010

BUKAN PUNCAK IMAN

Mata Pak Ustadz terpana. Ribuan perasaan berkecamuk. Bahagia, senang, terharu. Di depannya berdiri seorang gadis berkerudung putih. Manis, manis sekali. Pak Ustadz terkesiap beberapa detik untuk kemudian tersadarkan.

"Umi! Ini Danti?! Benar Danti?!" seru Pak Ustadz tertahan.

Istri Pak Ustadz senyum-senyum. Ia seperti membiarkan suaminya didera keraguan. Bingung. Hayo, siapa? Tebak sendiri! bantinnya.

"Benarkan, Danti?" kembali Pak Ustadz meyakinkan dirinya sendiri.

"Kalau bukan Danti, siapa? Apa orang lain?" goda istri Pak Ustadz.

"Jadi benar, ini Danti?"

Istri Pak Ustadz kini mengangguk. Di sampingnya, gadis menjelang dewasa itu hanya tersenyum. Parasnya menampakkan sedikit malu. Namun, hatinya tidak bisa membohongi kalau dirinya sangat bahagia.

"Alhamdulillah.... Kamu sepertinya sudah berubah sekarang!" cetus Pak Ustadz tak mampu menyembunyikan rasa senangnya.

Danti tersipu-sipu mendengar ucapan Pak Ustadz. Baginya, ucapan itu tak berbeda dengan pujian. Benar, pujian. Pujian terhadap dirinya. Wajah Danti memerah. Perasaannya seolah menuju puncak.

Pak Ustadz ingat benar siapa Danti. Ia adalah salah satu keponakan istrinya. Dari beberapa perempuan keponakan istrinya, Danti terbilang "istimewa". Ia gadis yang paling susah diatur. Kemauannya keras dan tak mudah ditaklukkan. Ibu dan ayahnya, bahkan sudah angkat tangan terhadap Danti.

Pikiran Danti aneh-aneh. Meski perempuan, ia tidak suka dibatasi. Hidup Danti adalah hidupnya sendiri. Maka pulang malam sudah sangat biasa bagi Danti. Merokok tidak asing baginya. Gonta-ganti kekasih pernah dilakoninya.

Hobi Danti ngeband. Tidak dengan perempuan, tetapi dengan laki-laki. Kata Danti, ngeband dengan laki-laki lebih asyik. Keras, lugas, dan bebas. Karena hobinya itu, sekolah Danti amburadul. Ia pernah tidak naik kelas gara-gara hobinya itu.

Kini, Pak Ustadz seperti kehilangan kata-kata berdiri di hadapan Danti yang lain. Danti yang berjilbab. Danti yang berperilaku lembut. Lalu, ke mana Danti yang dulu itu?

"Paman, Danti ingin mengaji di sini. Danti ingin menambah ilmu agama yang selama ini tidak Danti miliki. Danti berharap, Paman dan Bibi mau sedikit memberi pengetahuan kepada Danti, " harap Danti sambil tertunduk.

Pak Ustadz manggut-manggut. Hatinya mengucap syukur. Allah telah menunjukkan jalan-Nya. Pak Ustadz yakin, Danti sudah berubah. Jilbab yang dikenakannya adalah bukti. Tak hanya berjilbab, Danti bahkan bersemangat untuk terus mengaji.

"Danti, jilbab yang kamu kenakan bukanlah sebuah puncak keimanan. Justru dengan mengenakan jilbab, kamu dituntut untuk menambah wawasan dan pengetahuanmu. Jadi, jangan berhenti dengan jilbab!"

Danti manggut-manggut mendengar ucapan Pak Ustadz. Ucapan itu seakan menebalkan hatinya untuk terus melangkah pada keyakinannya yang baru. * * *

Wednesday, February 10, 2010

MUEEZA

Pak Ustadz terjebak macet. Mobil angkot yang ditumpanginya tiba-tiba berhenti. Tanpa sebab. Mobil itu tak bergerak sama sekali. Diam. Hanya suara mesin yang menderu. Suara mesin itu bersahut-sahutan dengan suara mesin mobil yang lain. Bising.

Para penumpang gelisah. Sinar matahari siang yang menghunjam ke tubuh terasa benar. Panas. Keringat mengucur deras. Dari sela-sela kulit mereka.

"Huuuh... Kenapa sih! Nggak jalan-jalan ini mobil. Sudah panas, macet lagi."

Seorang ibu berkerudung mengeluh. Para penumpang lain tersenyum. Kecut. Mereka tak mungkin menghilangkan keluhan sang ibu. Maka yang keluar kemudian adalah keluhan yang bersahut-sahutan.

"Mobil mogok mungkin..." cetus seorang pemuda berpakaian rapi.

"Sepertinya bukan. Kalau mobil mogok, pasti mobil ini bergerak ke samping. Ini nggak kok.." lontar gadis berpakaian mini.

"Apa tabrakan ya? Tapi, kalau tabrakan, jalanan di depan kok sepi-sepi saja," tukas seorang bapak berkaca mata tebal.

Pak Ustadz diam termangu. Ia melihat ke depan. Alhamdulillah... Mobil-mobil sudah bergerak. Meski sangat lambat. Tapi, tidak lama. Mobil yang Pak Ustadz tumpangi mulai berjalan normal. Mata para penumpang bergerak liar. Mereka mencari penyebab kemacetan yang sesaat.

"Wow....Anak kucing!"

Seekor anak kucing berbulu indah menyeberangi jalan. Tertatih-tatih. Matanya menyorot jenaka. Pada mata yang menyapanya.

"Pantas macet. Kucing....dilawan. Mana berani. Mobil pasti memilih berhenti demi memberikan jalan buat sang kucing."

Pak Ustadz tersedak oleh percakapan di angkot. Benaknya tiba-tiba berpikir keras. Kenapa ya orang-orang sangat menghormati keberadaan seekor kucing? Bahkan orang yang menabrak kucing di jalan kerap terpengaruh bayangan buruk bila tidak menolong dan merawatnya.

Mueeza! Ah, ya pasti ini gara-gara Mueeza! Mueeza, kucing peliharaan Nabi agung, Muhammad!

Gara-gara Mueeza, Nabi mewartakan kepada para sahabatnya agar menyayangi kucing seperti menyayangi keluarganya sendiri. Gara-gara Mueeza pula Nabi mengancam umatnya dengan api neraka bila mereka menyengsarakan kucing yang berdiam di rumahnya. * * *

Friday, November 20, 2009

PENGEMIS ITU MEMBERI

Nadia berlari-lari kecil menuju teras rumah. Tangannya menenteng pecahan uang seribuan. Matanya berbinar. Hatinya berbunga-bunga. Gadis yang manis, gadis yang solehah.

Tiba di depan pintu hatinya tertegun. Ini lagi! Ini lagi! Hatinya berontak. Wajahnya berubah kecut. Masam. Sangat tidak enak dilihat. Tapi, Nadia tak punya daya. Ia menyerahkan pecahan ribuan itu kepada si pengemis.

Dari jauh Pak Ustadz memperhatikan tingkah Nadia yang berubah. Setelah pengemis menghilang dari pandangan dan Nadia berbalik, Pak Ustadz bertanya lembut.

"Kenapa wajahmu, Nak. Kok tiba-tiba berubah kecut?"

Nadia, gadis terkecil, putri Pak Ustadz mulanya tak mau menjawab. Namun, setelah ayahnya agak mendesak, ia akhirnya mau berbicara.

"Abi, Nadia tuh kesel sama pengemis itu. Sering banget deh ia ke sini. Kayaknya baru kemarin ia ke sini, eh sekarang sudah ke sini lagi...."

"Memang kalau ke sini terus kenapa?"

"Lho, kan Abi sendiri yang sering bilang kalau 'memberi itu lebih baik daripada meminta'. Kalau pengemis itu terus-terusan ke sini, kapan pengemis itu punya waktu untuk memberi ke kita. Masa meminta terus?!"

Pak Ustadz tersenyum melihat ucapan Nadia. Dalam hatinya ia bersyukur Allah memberikan gadis yang cerdas kepadanya. Semoga ia menjadi anak yang sholehah, batin Pak Ustadz.

"Nadia, pengemis itu juga memberi kepada kita. Setiap kedatangannya selalu memberi. Kita dan pengemis itu sebenarnya saling memberi."

Nadia tertegun. Ia bingung dengan ucapan ayahnya.

"Pengemis itu memberi....." gumam Nadia.

"Ya benar! Pengemis itu memberi kesempatan kepada keluarga kita untuk memberikan sedikit rezeki yang kita punyai. Coba Nadia pikir, bagaimana kalau pengemis itu tidak datang ke sini? Kita jadi tidak memberi-kan?"

Nadia manggut-manggut
mendengar ucapan ayahnya.

"Dan ingat Nadia, tidak sedikit pengemis yang datang memberi doa kepada kita."

Nadia kini tersenyum. Hatinya lega.


"Anakku, "kata Pak Ustadz kemudian. "Setiap makhluk ciptaan Allah itu ditakdirkan untuk 'memberi'. Matahari memberi cahaya. Angin memberi hawa sejuk. Laut memberi ikan. Lebah memberi madu. Indahkan kalau kita memberi."

Nadia memeluk ayahnya. Ah, betapa bahagianya ia memiliki ayah yang baik hati. * * *

Saturday, November 14, 2009

AYO, SENYUMLAH!

"Pak Ustadz!"

Sebuah teriakan keras menyengat telinga Pak Ustadz. Sore itu, sehabis sholat asar. Pak Beni. Lelaki tegap yang mudah sekali tersenyum. Ramah. Ramah sekali. Semua orang tahu Pak Beni. Tahu, karena Pak Beni terkenal murah senyum dan ramah.

Ia berlari-lari dengan ketergesaan yang sungguh. Hampir terjatuh ia. Menyalami Pak Ustadz dengan kukuh dan memperlihatkan giginya yang putih teratur rapi.

"Pak Ustadz, bisakan nanti malam datang ke rumah saya? Oh ya, saya mau syukuran. Alhamdulillah, berkat doa restu Pak Ustadz dan warga di sini, saya terpilih menjadi ketua partai, "tutur Pak Beni.

Ada kebahagiaan di wajah Pak Beni. Pak Ustadz tahu, Pak Beni aktif di salah satu partai politik yang ada di negeri ini. Kemarin Pak Ustadz memang mendengar Pak Beni mencalonkan dirinya sebagai ketua partai di tingkat kota. Syukur, kalau Pak Beni menang dan akhirnya terpilih.

Itu cerita beberapa bulan yang lalu.

Kini, Pak Beni sudah muncul lagi di rumah Pak Ustadz dengan kebahagiaan serupa. Juga undangan yang serupa kepada Pak Ustadz.

"Pak Ustadz, saya meminta Pak Ustadz hadir nanti malam di rumah saya. Saya mau syukuran..."

"Syukuran?! Syukuran apa, Pak Beni?" tanya Pak Ustadz sedikit kaget.

"Alhamdulillah, berkat doa restu Pak Ustadz, juga seluruh warga di sini, saya terpilih menjadi anggota DPRD di kota kita ini..."

Pak Ustadz langsung berucap syukur. Ia menyalami Pak Beni kembali. Pak Ustadz senang ada salah seorang tetangganya yang kini menjadi wakil rakyat. Pak Ustadz berharap Pak Beni mampu menjalankan amanah yang dipikulnya itu.

"Saya minta doanya saja Pak Ustadz. Moga-moga saya mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab yang berat ini. Saya berharap Pak Ustadz tidak berhenti mendoakan saya, " pinta Pak Beni beranjak pergi.

Pak Ustadz manggut-manggut. Ia yakin bila mau bekerja keras Pak Beni pasti akan mampu melaksanakan tanggung jawab itu.

Senyum terus terukir di bibir Pak Beni. Sepanjang jalan yang dilalui. Demi mengabarkan warta gembira ke setiap warga yang diundang.

Jabatan telah mengundang Pak Beni untuk mendudukinya. Pak Beni senyum, Pak Beni teramat bahagia. Namun, dalam hati Pak Ustadz sebenarnya sangat merindukan senyuman Pak Beni yang lain. Ya, senyuman Pak Beni yang lain! Senyuman Pak Beni saat panggilan adzan memanggilnya. Bukan jabatan yang memanggil, tapi Allah yang memanggil!

Kenapa demikian? Karena Pak Beni memang sulit sekali tersenyum ketika Allah memanggilnya. Ia bahkan kerap cemberut. Kapan ya Pak Beni mau tersenyum kepada panggilan Allah.... * * *

Tuesday, November 10, 2009

IBU...IBU....IBU.....!!!

Pak Ustadz tak mampu memejamkan matanya. Sejak tadi dua orang pria yang duduk di belakangnya terus berbicara. Ngalor-ngidul. Tak karuan. Laju mulus kereta api eksekutif yang membawanya pergi ke Jakarta tak bisa membuat Pak Ustadz tertidur. Walau barang sejenak.

Uniknya, telinga Pak Ustadz tiba-tiba serasa ditarik kekuatan untuk terus mendengarkannya. Ah, pembicaraan yang menarik buat sebuah pelajaran, batin Pak Ustadz. Dalih Pak Ustadz, bukan salah saya kalau saya mendengarkannya.

"Jadi, kamu benar-benar sudah kawin lagi. Dua dong kalau gitu..."

Seorang pria bersuara kecil tertawa lirih sembari menuding ke arah pria yang duduk di sebelahnya. Pria yang duduk di sebelahnya yang -ternyata- memiliki suara besar langsung bereaksi.

"Sssst. Jangan keras-keras. Malu. Semua orang tahu nanti. Apa kata orang kalau tiba-tiba di kereta api ini ada tetanggaku. Mati aku!"

"Lho, kenapa harus malu? Bukankah kamu mesti siap menghadapi setiap konsekuensi dari pilihan hidupmu itu. Kalau malu kenapa kamu lakukan ?"

Si suara besar tak membalas. Ia hanya diam. Tapi, sejenak. Ia kemudian berkata lagi.

"Yang penting adil. Kalau kita merasa mampu berbuat adil. Ya, sudah laksanakan. Aku nggak mau munafik. Aku memang pingin beristri lagi. Dan aku merasa mampu berbuat adil. Jadi, apa yang ditunggu?"

"Adil semuanya, termasuk hati?"

"Ah, ya tidak. Adil dalam pengertian materi. Bukankah ini yang dicontohkan Rasulullah? Rasul saja selalu tak bisa melupakan Khadijah, istri pertama yang begitu dikasihinya. Tentu, maknanya adil materi."

"Itu saja alasanmu?"

"Oh, tidak."

"Apalagi?"

"Ada hadist nabi yang berbunyi. Siapa yang harus saya hormati? Ibu. Lalu, siapa? Ibu. Siapa lagi? Ibu. Jelaskan, hadist ini secara tegas menyiratkan ada lebih dari seorang istri dalam keluarga. Nabi bahkan menyebutkan hingga tiga kali...."

Si suara kecil tertawa ngakak mendengar alasan si suara besar. Si suara besar tak ketinggalan. Mereka larut dalam canda.

Di depannya, Pak Ustadz hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya mendengarkan percakapan keduanya. Kalau nafsu sudah bicara selalu saja ada akal untuk melogikakannya sebagai dalih. Ah, manusia! Manusia! * * *

Sunday, October 25, 2009

PERSAHABATAN INDAH

Pak Ustadz terus memperhatikan dua pria yang beranjak menjauh darinya. Keduanya terlihat sangat mesra. Mereka saling bergandengan. Mereka saling menggoda. Tak ada batas di antara keduanya.

Pak Ustadz menghela napas panjang. Mulutnya terus memohon ampun kepada Allah. Ia tak berdaya menyaksikan kedua pria yang telah lenyap dari hadapannya. Hatinya menangis. Sedih.

Semua daya dan upaya telah dilakukan, tapi kini Pak Ustadz tahu, Allah belum memberikan jalan kebenaran. Nasihat telah diucapkan. Peringatan sudah dilontarkan. Namun, Pak Ustadz memang harus menyerah. Ia memasrahkan segalanya kepada Sang Khalik.

"Menyerah Pak Ustadz...."

Sebuah suara lirih menyapanya. Pak Ustadz menolehkan wajah. Firman, salah satu pemuda yang sering menemaninya bepergian. Ke mana saja.

Pak Ustadz kembali menghela napas panjang.

"Saya sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Kemampuan saya sangat terbatas. Dia sudah kukuh dengan kehidupannya. Dia merasa benar. Jadi, buat apa saya memberikan perhatian yang berlebih kepadanya."

"Tapi, kasihan Pak Ustadz...."

"Hidup adalah pilihan, Firman. Semua ada konsekuensinya. Aldi telah memilih hidupnya. ia tahu ia keliru. Salah. Ia tahu itu. Tapi, ia menerima konsekuensinya meski ia sebenarnya tidak menyadari konsekuensinya. Ia lupa dan lalai."

Pak Ustadz kembali terbayang wajah anak sahabatnya. Aldi yang lembut, Aldi yang manis. Namun, sejak remaja, Aldi berubah. Ayahnya terperanjat saat kelembutan Aldi berubah menjadi "selembut-lembutnya". Ibunya menangis ketika manisnya Aldi berganti menjadi Aldi yang "semanis-manisnya". Ayah dan ibunya pingsan tatkala Aldi berubah menjadi pencinta pria.

"Apa yang mesti dilakukan Aldi sekarang, Ustadz?" tanya Firman lirih.

Pak Ustadz menunduk. Ia tak tahu harus menjawab apa. Tapi, Firman mengerti saat Pak Ustadz berkata tegas.

"Andai sebuah pertemanan atau persahabatan hanya menjadikan kita dekat dengan maksiat dan semakin jauh dari Allah, maka putuskanlah!" * * *

Monday, August 24, 2009

MELEMBUTKAN HATI

Hari ini hari yang melelahkan bagi Azam. Sepanjang waktu, dari mulai pagi hingga menjelang maghrib, ia mesti mengikuti ajakan Pak Ustadz. Pergi melanglang buana. Ke mana saja? Menuruti kata hati, begitu kata Pak Ustadz.

Awalnya biasa saja. Pak Ustadz mencari Azam seusai sholat Isya berjamaah. Ketemu! Azam langsung ditarik ke sudut masjid. Sambil tersenyum ramah Pak Ustadz bertanya.

"Azam, bisa tidak besok menemani saya keliling-keliling?"

"Ke mana Pak Ustadz?" tanya Azam sedikit penasaran.

"Yah.... ke mana saja. Mau nggak?"

Azam tak mungkin menolak permintaan orang yang sangat dihormatinya itu. Ia hanya mengangguk sembari mulutnya berucap, iya.

Esoknya Pak Ustadz sudah membawa sepeda motor tuanya. Tak lupa dua helm sudah ada di tangan. Sampai di rumah Azam, Pak Ustadz menampakkan senyumnya. Azam seolah kebingungan. Ke mana sebenarnya kita ini? Tapi, ia tidak peduli sebab ia tahu Pak Ustadz pasti mengajak ke jalan kebenaran.

Motor melaju dengan sedikit kencang. Pak Ustadz membawa Azam berkeliling. Ia membawa Azam berkunjung ke sebuah panti asuhan. Di situ Pak Ustadz asyik bermain dan bercanda dengan anak-anak yatim piatu. Pak Ustadz melawak, Pak Ustadz melucu, Pak Ustadz memberi semangat. Anak-anak tertawa gembira.

Tidak sampai dua jam, Pak Ustadz membawa Azam ke rumah sakit. Ia hendak menengok salah seorang temannya yang sedang dirawat karena sakit. Di rumah sakit Pak Ustadz asyik bercengkerama dengan temannya yang dirawat itu. Ia mendengarkan derita sang teman. Sekali-kali ia menghiburnya dengan ucapan-ucapan yang baik. Sang teman terlihat senang dengan kunjungan itu.

Tidak lama, Pak Ustadz sudah melesat kembali di jalanan. Kali ini ia membawa Azam ke kolong jembatan. Di sana Pak Ustadz menemui semua orang. Mereka bercakap-cakap tentang segala hal. Kadang Pak Ustadz bicara panjang lebar. Kadang Pak Ustadz mendengarkan penuh perhatian.

Menjelang sore Pak Ustadz dan Azam pulang. Namun, di tengah jalan ia membelokkan motornya ke sebuah makam. Azam bergidik. Tapi, Pak Ustadz tetap melajukan kendaraannya. Pada sebuah pohon yang rindang, ia berhenti. Pak Ustadz melangkahkan kakinya ke makam. Ia memandang ke seluruh makam. Lama sekali. Selanjutnya, ia berdoa untuk kemudian pulang.

Azam tidak mengerti kenapa ia dibawa ke tempat-tempat seperti itu. Panti Asuhan, rumah sakit, kolong jembatan, dan makam. Azam penasaran.

"Kenapa Pak Ustadz pergi ke tempat-tempat seperti tadi?"

Pak Ustadz terdiam sesaat. Ia tak menjawab. Kemudian....

"Saya sedang belajar melembutkan hati...."

Azam mengangguk. Tak percaya. * * *

Sunday, July 12, 2009

PEMIMPIN YANG MENONJOLKAN DIRI

Hiruk pikuk politik usai sudah. Rakyat telah menentukan pilihannya. Lima tahun ke depan rakyat hanya berharap menunggu. Benar berharap! Karena rakyat memang tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh para pemimpinnya kelak.

Pak Ustadz melihat-lihat suasana jalanan. Sore itu, sehabis sholat asar. Ia sengaja menyempatkan diri. Ada keharuan yang senyap di mata Pak Ustadz. Hampir lima bulan ia telah melihat segalanya. Di televisi, di koran-koran, di majalah.

"Ah, betapa sulit dan mahalnya ternyata mencari seorang pemimpin. Berduyun-duyun rakyat berjalan menuju lapangan. Di sana mereka bebas. Bertepuk tangan, berteriak marah, bahkan berjoget sekalipun. Tapi, apa yang sebenarnya rakyat dapatkan?"

Pak Ustadz melayangkan pandangannya ke sudut-sudut jalan. Ia tetap duduk pada sepeda motor tuanya. Mata Pak Ustadz terpaku pada baliho, poster, atau spanduk yang masih menempel pada tempatnya.

"Benar, ini memang sebuah pesta. Pesta rakyat! Karena pesta, semua orang berhak merayakannya. Dan hanya ada satu perasaan yang mesti mengemuka dalam sebuah pesta, yakni perasaan bahagia. Namun, kenapa pesta itu tidak mampu menjadikan rakyat bahagia selamanya?"

Pak Ustadz terus mengarahkan pandangannya. Kali ini matanya tertuju pada potret para calon pemimpin bangsa. Mereka memasang foto dirinya, juga mematut dirinya. Banyak macamnya. Ada yang pakai kopiah, jas, batik, atau pakaian tradisional. Ada yang tersenyum, diam berwibawa, atau nyengir.

Pak Ustadz tersenyum simpul.


"Mereka memang gagah. Yang perempuan-perempuan juga cantik. Ah, pasti mereka telah melakukan banyak hal yang membuat mereka mantap mencalonkan diri sebagai pemimpin bangsa. Mereka pasti tidak semata ingin berkuasa. Tapi, betulkah hati mereka meyakini sedalam-dalamnya bahwa mereka memang pantas untuk dipilih menjadi seorang pemimpin?"


Pak Ustadz tak mengendurkan senyumnya. Mulutnya bahkan kini tersenyum agak lebar. Ia memang ingin tertawa. Tertawa sekeras-kerasnya. Sekencang-kencangnya.

"Mereka pasti orang-orang yang rendah hati. Sebab hanya orang yang rendah hati sajalah yang mampu menjadi pemimpin. Orang yang suka menonjolkan diri hanya akan merengkuh kegagalan saat didaulat menjadi pemimpin. Namun, mengapa kerendahatian kini dilupakan? Kenapa yang muncul justru usaha untuk saling menonjolkan dirinya sendiri...."

Kini Pak Ustadz benar-benar tertawa. Ia tertawa terbahak-bahak. Mulutnya tak mungkin lagi dikunci. Saat foto para calon pemimpin bangsa itu seolah memandangi dirinya dengan tajam, Pak Ustadz menggelengkan kepalanya. Ia bahkan terus menggelengkan kepalanya.

"Ah, betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, tapi mereka tidak tahu caranya...."

Sepeda motor Pak Ustadz melaju, meninggalkan asap yang mengepul dan menutupi foto-foto para calon pemimpin bangsa itu. ***

Sunday, June 21, 2009

ANAK DOA

Pak Ustadz pulang dari pemakaman. Hatinya haru. Ratusan pelayat rela mengantarkan jenazah ibunya hingga ke pemakaman. Sepanjang jalan menuju pulang, tak henti-hentinya ia bersalaman dan berucap terima kasih kepada para pelayat.

Pak Ustadz merasakan letih. Derita sakit sang ibu hingga kematian menjemput telah mendera Pak Ustadz lahir batin. Hatinya memang ikhlas dan tulus. Tapi, Pak Ustadz tak mungkin mengingkari kenyataan bahwa dirinya teramat letih.

Hampir sebulan ia menjaga ibunya. Hampir sebulan Pak Ustadz lebih banyak membuka mata dibanding menutup mata. Hampir sebulan ia menyadari bahwa kasih ibu memang sepanjang hayat, sedangkan kasih anak cuma sepanjang hasta.

Pak Ustadz masuk ke rumahnya. Ia terkejut karena masih banyak pelayat yang antre menunjukkan rasa bela sungkawanya. Kebanyakan dari mereka para ibu. Ada yang sudah duduk, ada yang masih berdiri, ada pula yang malah baru datang.

"Terima kasih. Terima kasih."

Pak Ustadz menyapa para pelayat dengan senyum ramah. Ia berusaha tidak menampakkan keletihannya. Bagaimanapun juga tamu adalah orang-orang yang terhormat. Siapa lagi yang akan menghormati tamu kalau bukan si tuan rumah?

Pak Ustadz menarik kursi untuk duduk. Belum lima menit ia menyapa para pelayat, Pak Ustadz dikejutkan oleh melayangnya sebuah botol air minum ke kepalanya. Ups! Untung Pak ustadz menghindar. Lalu...

"Abi! Abi! Kakak nakal!"

Sebuah tangisan kecil ada dalam dekapan Pak Ustadz. Nadia, putri bungsu Pak Ustadz yang baru berusia lima tahun. Ia tersedu-sedan. Pak Ustadz tahu apa yang terjadi. Dari dalam rumah keluar tiga anak hampir sebaya yang saling bercanda, tertawa. Lepas. Liar. Merusak.

Fakih, Abdan, dan Zaki. Mereka adalah anak-anak pertama hingga ketiga Pak Ustadz. Mereka saling melempar botol minuman. Tubuh Zaki basah kuyup. Juga Abdan. Si sulung Fakih tergelak dalam tawa kemenangan.

Para pelayat tak mampu berucap. Mereka seolah takjub dengan pemandangan yang sangat tidak biasa itu. Entah apa yang ada dalam benak mereka.

"Fakih, Zaki, Abdan. Duduk di sini kalian, dekat Abi."

Ajaib! Hanya dalam beberapa kata perintah yang bernada lembut, dan bahkan terasa halus, ketiga anak itu beringsut duduk di dekat ayah mereka. Tak bersuara. Diam.

"Bapak-bapak. Ibu-ibu. Tolong aminkan doa saya ini...."

Maka Pak Ustadz segera menengadahkan tangannya. Lisannya berucap dengan doa-doa berbahasa Arab yang ditutup dengan kata-kata.

"Ya Allah, jadikanlah putra-putra kami layaknya Ismail putra Ibrahim dan putri kami layaknya Fathimah putri Muhammad..."

"Amin. Amin."

Para pelayat seolah tersihir dengan doa Pak Ustadz. Namun, mereka lebih terpesona dengan cara Pak Ustadz mendidik putra-putrinya. Sungguh elok!* * *

Wednesday, June 17, 2009

DAKWAH MALU

Malam sudah merambat ke tengah. Pak Ustadz hendak pulang ke rumah. Dakwah yang dilakukannya sejak pagi hingga sore telah menyita perhatiannya. Dampaknya, ia mesti pulang larut.

Angkot bersliweran di depan Pak Ustadz. Meski malam, jalan raya di daerahnya tetap ramai. Namun, hingga hampir setengah jam, ia belum menemukan angkot yang dicarinya. Hati Pak Ustadz sedikit gundah.

"Alhamdulillah..." batin Pak Ustadz tak lama setelah melihat angkot yang hendak dinaikinya muncul juga.

Pak Ustadz menghentikan angkot itu. Ia langsung naik dan mencari tempat duduk yang kosong. Diperhatikannya para penumpang yang ada. Oh, tidak terlalu penuh. Hanya ada lima orang termasuk dirinya.

Angkot melaju perlahan-lahan. Pak Ustadz berharap angkot berjalan cepat. Ia sudah tak sabar ingin sampai di rumahnya. Namun, belum lama angkot melaju, Pak Ustadz mulai terganggu dengan suara cekikikan di pojok.

Sepasang muda-mudi tampak asyik bercanda ria. Mereka asyik bermesraan. Beberapa kali sang pemudi mencubit manja pasangannya. Sedangkan yang pemuda tak berhenti menggoda sang pemudi. Sesudah itu mereka saling berpandangan. Mesra sekali. Tangan keduanya saling menggenggam, tak bisa dilepaskan.

Pak Ustadz gelisah. Ia paham muda-mudi itu telah mengganggu penumpang yang lain. Ia juga paham apa yang dilakukan keduanya merupakan perbuatan yang tidak semestinya. Tapi, Pak Ustadz sendiri bingung apa yang mesti dilakukannya.

Tiba-tiba ia memiliki akal. Ia tahu dakwah harus dilakukan dengan lembut dan membawa hikmah. Lembut artinya dakwah dilakukan dengan kata-kata yang sopan dan tindakan serta sikap yang santun. Hikmah, artinya dakwah itu mampu memberi pencerahan, baik kepada orang yang didakwahi maupun sang pendakwah.

Pak Ustadz menyapa ramah kepada sepasang muda-mudi itu.

"Dik, putranya berapa?"

Sepasang muda-muda itu terkejut. Mereka tidak menyangka ada orang yang bertanya seperti itu. Mereka tidak menjawab. Namun, mereka amat malu. Buru-buru sang pemuda meminta sopir untuk menghentikan angkotnya. Lalu, ia menarik pasangannya turun.

Melihat itu, Pak Ustadz hanya bisa tersenyum simpul. Juga penumpang yang lain. * * *