Pak Ustadz tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Ia serasa ingin menangis. Keras-keras. Biarlah seisi dunia, dan bahkan Allah sekalipun mendengarnya. Tidak apa-apa. Yang penting beban di dada lenyap tak berbekas.
Duabelas tahun sudah ia menikah dengan istrinya, tapi segalanya masih saja tertatih-tatih. Tak ada kenyamanan, apalagi kenikmatan. Rumah megah dan mobil sangat jauh dari itu. Padahal anak sudah tiga. Baru kali ini Pak Ustadz merasa begitu bersalah. Bukan kepada siapa-siapa, melainkan kepada dirinya sendiri.
Mulanya hanya masalah sepele. Istri Pak Ustadz bercerita kalau Mak Iyem, tetangga sebelah baru membeli kulkas baru. Warnanya abu-abu, kulkas dua pintu. Kulkas itu dibeli setelah hampir tiga tahun ia tak membelinya.
"Jangankan tiga tahun, kita malah tak punya sama sekali ya, Bi. Padahal Mak Iyem hanya jualan sayur-mayur di depan rumah, tapi kulkas terbeli."
Pak Ustadz tergetar. Meski pendek ucapan istrinya begitu menohok perasaannya. Perih. Namun, Pak Ustadz tak menyahut. Ia asyik membaca deretan huruf pada sebuah buku yang baru beberapa hari dibelinya.
"Yang lucu lagi, Mas Ribut. Setiap hari ia lewat di depan rumah kita. Ayam-ayam yang hendak dibawa ke pasar nyantel di motornya. Eh, beberapa tahun kemudian, motornya lenyap. Berganti dengan mobil bak yang penuh dengan ayam-ayam. Sukses juga Mas Ribut."
Pak Ustadz tergores. Sakit. Ada luka yang mulai menganga di hatinya. Ia tahu, istrinya sedang membanding-bandingkan kehidupan dirinya dengan orang lain. Entah sadar entah tidak. Ucapan itu telah melukai suaminya sebagai kepala keluarga, sang pencari nafkah.
"Nah, yang hebat tentu Pak Kamal. Ia bareng-bareng dengan kita sewaktu pertama kali pindah ke kampung ini. Malah duluan kita. Motornya butut seperti kita. Rumah ngontrak. Eh, sekarang. Rumah sudah terbeli, dibangun megah. Motor dua, mobil gonta-ganti. Pemborong sih...."
Pak Ustadz sudah tidak tahan lagi. Hatinya tersudut. Pada sebuah tempat yang membuat dirinya tak mampu bergerak, terjepit.
"Dik, apakah kamu ingin semua itu? Kulkas, motor, rumah megah, mobil?!" tanya Pak Ustadz dengan bibir bergetar.
Istri Pak Ustadz terperanjat. Ia sangat kaget dengan ucapan suaminya. Matanya langsung menyelidik. Ia melihat ada bayang-bayang wajah dirinya di bola mata suaminya. Genangan air mata! Pak Ustadz menangis.
Istri Pak Ustadz terperanjat. Ia merasa bersalah. Ia sadar bahwa ucapan dirinya telah melukai perasaan suaminya.
"Dik, seandainya ada orang-orang yang mengajak engkau berlomba-lomba dalam kehidupan dunia, ajak dia supaya berlomba-lomba dalam kehidupan akhirat. Cukuplah Allah menjadi penolong kita," tutur Pak Ustadz dengan bibir yang masih bergetar.
Pak Ustadz masuk ke kamar. Ia ingin sendiri. * * *
Saturday, November 14, 2009
Tuesday, November 10, 2009
BANGGA DENGAN KEDURHAKAANNYA
Bunda Fifi tak kuasa menyembunyikan kesedihannya. Sepanjang jalan. Air matanya serasa tak terbendung. Mengalir terus. Jalan yang ditapakinya seolah basah.
Bunda Fifi masih saja tak percaya dengan kenyataan yang dialaminya. Seto, anak tunggalnya. Bertahun-tahun ia mengasuh dan mendidiknya. Tak lepas dari kasih sayang dan cinta kasih. Faktanya, Seto menjadi orang yang paling dicari. Kriminal. Kriminal akut!
Mulanya, di usia SMP Seto sudah coba-coba merokok. Sembunyi-sembunyi. Di usia SMA ia sudah terang-terangan. Tanpa rasa takut. Di masa kuliah ia kecanduan narkoba. Akibatnya, kuliahnya berantakan.
"Ya Allah, jangan Engkau uji hambamu ini dengan ujian yang hamba tidak kuat menanggungnya..."
Kuliah berantakan Seto balik ke rumah. Namun, narkoba jalan terus. Kini, ia bahkan berani menipu ibunya sendiri. Bilangnya sudah sembuh, tapi semua harta di rumah diraupnya hingga habis. Tape, televisi, ponsel, motor, bahkan mobil peninggalan bapaknya.
Bunda Fifi tak mampu mencegah. Ia sudah tak berdaya. Bahkan ketika pada suatu hari beberapa orang polisi datang ke rumahnya. Mereka mencari Seto. Mereka menangkap Seto. Tak hanya dituduh terlibat sebagai pemakai narkoba, Seto juga disangka masuk dalam jaringan bisnis barang haram itu dan terlibat penipuan.
"Ya Allah, apa hikmah di balik ini semua...."
Bunda Fifi telah mencap Seto sebagai anak durhaka. Ia sudah melupakan bahwa Seto pernah lahir dari rahimnya. Biarlah Seto menjadi urusan Tuhan semata, sang empunya sesungguhnya. Namun, haruskah kasih sayang ibu terus terbenam saat anaknya diberitakan pulang dan takut untuk menemuinya? Tidak! Tidak! Bunda Fifi memilih tidak.
Di rumah Pak Ustadz. Bunda Fifi melihat Seto dengan perasaaan bercampur aduk. Rindu, dendam, sayang, benci. Ia tak mampu berkata-kata. Ia hanya berdiri mematung dengan tangis tak berhenti. Bahkan ketika anak yang dianggapnya durhaka itu memeluk dan bersujud di kakinya.
"Bunda Fifi, Seto tetaplah Seto yang dahulu. Ia tetap anak yang durhaka...."
Bunda Fifi terkejut. Seto apalagi. Keduanya memandang Pak Ustadz dengan pandangan tak percaya. Tapi, Pak Ustadz tetap menyunggingkan senyum. Ia serasa tak bersalah dengan perkataannya.
"Seto kini adalah Seto yang durhaka terhadap segala bentuk kemaksiatan. Seto durhaka terhadap minuman keras dan narkoba. Seto durhaka dengan praktik penipuan. Seto durhaka terhadap kebencian dan kemunafikan. Sekarang Bunda, Seto amat bangga dengan kedurhakaannya itu."
Bunda Fifi tersenyum mendengar ucapan Pak Ustadz. Tapi, Pak Ustadz tidak paham apa makna di balik senyuman Bunda Fifi. Ia hanya sekadar meraba. * * *
Bunda Fifi masih saja tak percaya dengan kenyataan yang dialaminya. Seto, anak tunggalnya. Bertahun-tahun ia mengasuh dan mendidiknya. Tak lepas dari kasih sayang dan cinta kasih. Faktanya, Seto menjadi orang yang paling dicari. Kriminal. Kriminal akut!
Mulanya, di usia SMP Seto sudah coba-coba merokok. Sembunyi-sembunyi. Di usia SMA ia sudah terang-terangan. Tanpa rasa takut. Di masa kuliah ia kecanduan narkoba. Akibatnya, kuliahnya berantakan.
"Ya Allah, jangan Engkau uji hambamu ini dengan ujian yang hamba tidak kuat menanggungnya..."
Kuliah berantakan Seto balik ke rumah. Namun, narkoba jalan terus. Kini, ia bahkan berani menipu ibunya sendiri. Bilangnya sudah sembuh, tapi semua harta di rumah diraupnya hingga habis. Tape, televisi, ponsel, motor, bahkan mobil peninggalan bapaknya.
Bunda Fifi tak mampu mencegah. Ia sudah tak berdaya. Bahkan ketika pada suatu hari beberapa orang polisi datang ke rumahnya. Mereka mencari Seto. Mereka menangkap Seto. Tak hanya dituduh terlibat sebagai pemakai narkoba, Seto juga disangka masuk dalam jaringan bisnis barang haram itu dan terlibat penipuan.
"Ya Allah, apa hikmah di balik ini semua...."
Bunda Fifi telah mencap Seto sebagai anak durhaka. Ia sudah melupakan bahwa Seto pernah lahir dari rahimnya. Biarlah Seto menjadi urusan Tuhan semata, sang empunya sesungguhnya. Namun, haruskah kasih sayang ibu terus terbenam saat anaknya diberitakan pulang dan takut untuk menemuinya? Tidak! Tidak! Bunda Fifi memilih tidak.
Di rumah Pak Ustadz. Bunda Fifi melihat Seto dengan perasaaan bercampur aduk. Rindu, dendam, sayang, benci. Ia tak mampu berkata-kata. Ia hanya berdiri mematung dengan tangis tak berhenti. Bahkan ketika anak yang dianggapnya durhaka itu memeluk dan bersujud di kakinya.
"Bunda Fifi, Seto tetaplah Seto yang dahulu. Ia tetap anak yang durhaka...."
Bunda Fifi terkejut. Seto apalagi. Keduanya memandang Pak Ustadz dengan pandangan tak percaya. Tapi, Pak Ustadz tetap menyunggingkan senyum. Ia serasa tak bersalah dengan perkataannya.
"Seto kini adalah Seto yang durhaka terhadap segala bentuk kemaksiatan. Seto durhaka terhadap minuman keras dan narkoba. Seto durhaka dengan praktik penipuan. Seto durhaka terhadap kebencian dan kemunafikan. Sekarang Bunda, Seto amat bangga dengan kedurhakaannya itu."
Bunda Fifi tersenyum mendengar ucapan Pak Ustadz. Tapi, Pak Ustadz tidak paham apa makna di balik senyuman Bunda Fifi. Ia hanya sekadar meraba. * * *
Labels:
tentang CINTA
IBU...IBU....IBU.....!!!
Pak Ustadz tak mampu memejamkan matanya. Sejak tadi dua orang pria yang duduk di belakangnya terus berbicara. Ngalor-ngidul. Tak karuan. Laju mulus kereta api eksekutif yang membawanya pergi ke Jakarta tak bisa membuat Pak Ustadz tertidur. Walau barang sejenak.
Uniknya, telinga Pak Ustadz tiba-tiba serasa ditarik kekuatan untuk terus mendengarkannya. Ah, pembicaraan yang menarik buat sebuah pelajaran, batin Pak Ustadz. Dalih Pak Ustadz, bukan salah saya kalau saya mendengarkannya.
"Jadi, kamu benar-benar sudah kawin lagi. Dua dong kalau gitu..."
Seorang pria bersuara kecil tertawa lirih sembari menuding ke arah pria yang duduk di sebelahnya. Pria yang duduk di sebelahnya yang -ternyata- memiliki suara besar langsung bereaksi.
"Sssst. Jangan keras-keras. Malu. Semua orang tahu nanti. Apa kata orang kalau tiba-tiba di kereta api ini ada tetanggaku. Mati aku!"
"Lho, kenapa harus malu? Bukankah kamu mesti siap menghadapi setiap konsekuensi dari pilihan hidupmu itu. Kalau malu kenapa kamu lakukan ?"
Si suara besar tak membalas. Ia hanya diam. Tapi, sejenak. Ia kemudian berkata lagi.
"Yang penting adil. Kalau kita merasa mampu berbuat adil. Ya, sudah laksanakan. Aku nggak mau munafik. Aku memang pingin beristri lagi. Dan aku merasa mampu berbuat adil. Jadi, apa yang ditunggu?"
"Adil semuanya, termasuk hati?"
"Ah, ya tidak. Adil dalam pengertian materi. Bukankah ini yang dicontohkan Rasulullah? Rasul saja selalu tak bisa melupakan Khadijah, istri pertama yang begitu dikasihinya. Tentu, maknanya adil materi."
"Itu saja alasanmu?"
"Oh, tidak."
"Apalagi?"
"Ada hadist nabi yang berbunyi. Siapa yang harus saya hormati? Ibu. Lalu, siapa? Ibu. Siapa lagi? Ibu. Jelaskan, hadist ini secara tegas menyiratkan ada lebih dari seorang istri dalam keluarga. Nabi bahkan menyebutkan hingga tiga kali...."
Si suara kecil tertawa ngakak mendengar alasan si suara besar. Si suara besar tak ketinggalan. Mereka larut dalam canda.
Di depannya, Pak Ustadz hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya mendengarkan percakapan keduanya. Kalau nafsu sudah bicara selalu saja ada akal untuk melogikakannya sebagai dalih. Ah, manusia! Manusia! * * *
Uniknya, telinga Pak Ustadz tiba-tiba serasa ditarik kekuatan untuk terus mendengarkannya. Ah, pembicaraan yang menarik buat sebuah pelajaran, batin Pak Ustadz. Dalih Pak Ustadz, bukan salah saya kalau saya mendengarkannya.
"Jadi, kamu benar-benar sudah kawin lagi. Dua dong kalau gitu..."
Seorang pria bersuara kecil tertawa lirih sembari menuding ke arah pria yang duduk di sebelahnya. Pria yang duduk di sebelahnya yang -ternyata- memiliki suara besar langsung bereaksi.
"Sssst. Jangan keras-keras. Malu. Semua orang tahu nanti. Apa kata orang kalau tiba-tiba di kereta api ini ada tetanggaku. Mati aku!"
"Lho, kenapa harus malu? Bukankah kamu mesti siap menghadapi setiap konsekuensi dari pilihan hidupmu itu. Kalau malu kenapa kamu lakukan ?"
Si suara besar tak membalas. Ia hanya diam. Tapi, sejenak. Ia kemudian berkata lagi.
"Yang penting adil. Kalau kita merasa mampu berbuat adil. Ya, sudah laksanakan. Aku nggak mau munafik. Aku memang pingin beristri lagi. Dan aku merasa mampu berbuat adil. Jadi, apa yang ditunggu?"
"Adil semuanya, termasuk hati?"
"Ah, ya tidak. Adil dalam pengertian materi. Bukankah ini yang dicontohkan Rasulullah? Rasul saja selalu tak bisa melupakan Khadijah, istri pertama yang begitu dikasihinya. Tentu, maknanya adil materi."
"Itu saja alasanmu?"
"Oh, tidak."
"Apalagi?"
"Ada hadist nabi yang berbunyi. Siapa yang harus saya hormati? Ibu. Lalu, siapa? Ibu. Siapa lagi? Ibu. Jelaskan, hadist ini secara tegas menyiratkan ada lebih dari seorang istri dalam keluarga. Nabi bahkan menyebutkan hingga tiga kali...."
Si suara kecil tertawa ngakak mendengar alasan si suara besar. Si suara besar tak ketinggalan. Mereka larut dalam canda.
Di depannya, Pak Ustadz hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya mendengarkan percakapan keduanya. Kalau nafsu sudah bicara selalu saja ada akal untuk melogikakannya sebagai dalih. Ah, manusia! Manusia! * * *
Labels:
tentang AKHLAK
Subscribe to:
Posts (Atom)
