<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680</id><updated>2012-02-16T15:56:02.629+07:00</updated><category term='tentang AMAL'/><category term='tentang ILMU'/><category term='tentang CINTA'/><category term='tentang TUBUH'/><category term='tentang AKHLAK'/><category term='tentang IBADAH'/><title type='text'>"..........dan kata-kata adalah ibadah".</title><subtitle type='html'>Setiap pertemuan selalu bermakna. Dengan siapa saja. Pertemuan membuat kita bisa berlatih untuk membaca hati juga mengasah diri.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>82</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-1798123131378262764</id><published>2011-01-25T08:41:00.002+07:00</published><updated>2011-01-25T10:17:48.384+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang TUBUH'/><title type='text'>ANAK-ANAK MUDA JOMPO</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pagi subuh. Pak Ustadz bergegas hendak pergi ke masjid. Entah masjid apa. Pak Ustadz tidak tahu. Ia hanya mendengar panggilan sholat itu terus bergema di atas langit menjelang fajar. Pada sebuah daerah yang Pak Ustadz sendiri tidak terlalu memahaminya. Akibat mobilnya mogok di tengah perjalanan, Pak Ustadz terpaksa terlambat pulang.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz masuk ke sebuah masjid yang agak jauh dari sebuah gang. Mobilnya diparkir di pinggir jalan dan ia berjalan kaki. Setelah berwudhu, Pak Ustadz melaksanakan sholat sunnah dua rakaat. Beberapa orang masuk ke dalam masjid. Hanya beberapa, ya beberapa. Mungkin sekitar lima atau enam orang. Tak lebih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Di masjid itu Pak Ustadz melemparkan pandangannya. Hatinya sedikit tergetar. Pak Ustadz hanya bertemu orang-orang yang sudah tua. Rata-rata mereka sudah berumur enampuluh tahun ke atas. Bahkan Pak Ustadz masih sempat melihat ada seorang lelaki yang seolah terhuyung-huyung saat masuk ke masjid. Renta. Ah, pasti lebih dari tujupuluh tahun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ke mana anak-anak muda di kampung ini? Adakah kampung ini masih memiliki anak-anak muda yang kekar, berotot, dan punya vitalitas tinggi? batin Pak Ustadz bertanya. Tapi, hingga iqamah dan sholat jamaah berlangsung, Pak Ustadz tak menemukan anak-anak muda di situ. Anak-anak muda di situ seolah ditelan kelam malam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Seusai sholat, iseng-iseng Pak Ustadz bertanya kepada orang tua yang menjadi imam. Saat berjalan menuju pulang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Maaf, Pak. Aneh, kenapa ya sholat subuh di masjid ini hanya terisi oleh orang tua saja? Ke mana anak-anak muda di kampung ini?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Orang tua yang tadi menjadi imam itu tersenyum kepada Pak Ustadz. Mulutnya sama sekali tidak mengeluarkan suara. Pak Ustadz menjadi sedikit penasaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kenapa ya, Pak?" ulang Pak Ustadz. Sedikit menegaskan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kini, senyum di bibir orang tua itu lenyap. Wajahnya seperti mendung. Gelap. Lalu dari mulutnya keluar kata-kata keras.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Anak-anak muda di sini tak ubahnya keledai di siang hari. Lambat, malas, dekat dengan kebingungan. Tapi, di malam hari mereka layaknya bangkai. Tidur tak bergerak, enggan untuk bangun, dan susah untuk bangkit."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz terkejut. Ia tak menyangka orang tua itu bisa berkata begitu keras, tajam, seolah tanpa tedeng aling-aling. Hatinya menjadi semakin penasaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kok bisa?" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Bisa saja. Sebab anak-anak muda di sini adalah anak-anak muda yang sudah menjadi jompo."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz kembali terkejut. Hatinya sedikit terluka. Anak muda jompo? Ah, pasti begitu banyak di negeri ini anak-anak muda yang tidak mau kalah dengan para orang tua. Menjadi jompo! * * *&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-1798123131378262764?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/1798123131378262764/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=1798123131378262764' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1798123131378262764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1798123131378262764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2011/01/anak-anak-muda-jompo.html' title='ANAK-ANAK MUDA JOMPO'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-3944371938272187396</id><published>2011-01-19T09:12:00.003+07:00</published><updated>2011-01-19T10:02:06.269+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang CINTA'/><title type='text'>CERITA ANAK TENTANG KEMESRAAN ORANG TUA</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Nadia, si bungsu Pak Ustadz sedang bermain di teras depan rumahnya. Ia bermain bersama Husna, Alysa, dan Ajma. Mereka bermain congklak. Nadia berhadapan dengan Husna, Alysa menghadapi Ajma. Semua anak tampak menikmati permainan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dari ruang depan Pak Ustadz melihat keempat anak itu. Ah, anak-anak yang manis. Moga kalian menjadi anak-anak yang salehah nantinya, batin Pak Ustadz. Congklak, ah permainan yang baik. Ada sedekah di situ. Ada kejujuran di situ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Husna, bapak ibu kamu kalau sayang-sayangan di rumah seperti apa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz terbelalak. Tiba-tiba mulut Ajma berucap seolah tak teratur. Anak usia TK, lima tahun, mengapa mereka berbicara seperti itu? Pak Ustadz hendak keluar dan menegur Ajma. Tapi, hatinya tiba-tiba berbisik, jangan! Jangan! Biarkan mereka berbicara!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz seperti dicegah dasar hatinya. Ia justru kini menunggu ucapan Husna. Ia penasaran dengan kelanjutan pembicaraan anak-anak itu. Seperti tanpa bersalah Husna berucap ringan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ya, gitulah. Ayah dan ibu paling salaman doang. Nggak ngapain-ngapain."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Sama seperti bapak dan ibuku dong, " cetus Ajma menyela. "Mereka kalau sayang-sayangan juga salaman aja. Itupun jarang. Pernah aku melihat bapak mencium pipi ibu. Eh, bapak sama ibu malu banget."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kalau bapak-ibu kamu, gimana Alysa? Apa mereka seperti aku dan Husna?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Alysa terdiam. Tapi, wajahnya seperti menunjukkan rasa tak enak untuk bicara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Nggak pernah. Ayah dan bundaku nggak pernah sayang-sayangan. Kalau di rumah ya biasa saja. Bicara, bercanda."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Hening sejenak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kalau ayah dan ibu kamu gimana, Nadia?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz gemetar. Ia seperti sedang menunggu vonis hakim. Dadanya seolah tak enak. Ia agak takut jika rahasia diri dan istrinya keluar dari anak bungsunya. Tapi, hatinya meyakinkan. Tidak! Tidak mungkin!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Nadia tersenyum manis. Dari mulut kecilnya terlontar kata-kata sejuk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Abi dan Umi kalau sayang-sayangan suka berpelukan. Awalnya mereka bersalaman. Lalu, Abi memeluk dan mencium kening Umi."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Memeluk? Ayah dan ibumu berpelukan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Iya, malah sering. Kayaknya setiap hari Abi dan Umi berpelukan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Husna, Alysa, dan Ajma melongo. Mereka seperti bingung. Berpelukan setiap hari? Ah, aneh. Mungkin begitu pikir anak-anak itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz memaklumi ketidapahaman teman-teman Nadia. Mereka belum paham bahwa setiap pelukan sayang dari seorang suami kepada istrinya atau sebaliknya akan mampu menambah angka harapan hidup pasangannya setiap hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tak percaya? Buktikan saja! * * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-3944371938272187396?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/3944371938272187396/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=3944371938272187396' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/3944371938272187396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/3944371938272187396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2011/01/cerita-anak-tentang-kemesraan-orang-tua.html' title='CERITA ANAK TENTANG KEMESRAAN ORANG TUA'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-4567038819213479606</id><published>2011-01-10T12:47:00.006+07:00</published><updated>2011-01-10T16:40:21.588+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AMAL'/><title type='text'>MISTERI BAU TUBUH KYAI KASAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Namanya singkat, Hasan, tapi banyak orang memanggilnya Kasan. Dia bukan kyai yang punya pesantren, namun orang menyapanya dengan sebutan kyai, panggilan khas orang berpengaruh di pesantren. Konon, panggilan kyai itu diperoleh Kasan karena sikapnya yang mirip ulama; taat beribadah, saleh, santun, lembut, jauh dari marah. Maka lengkaplah panggilan namanya sebagai Kyai Kasan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Usia Kyai Kasan sekitar enampuluh tahun. Sudah cukup untuk pensiun dari pekerjaannya. Namun, kata pensiun sepertinya tidak dikenal oleh Kyai Kasan. Pada ujung usianya menuju batas, ia masih tetap setia dengan pekerjaannya, yakni &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;ngider &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;alias keliling.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;Ngider&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;? Ya, Kyai Kasan adalah penjual pisang keliling dari kampung ke kampung. Dengan gerobak yang dimilikinya, beberapa tandan pisang yang dijual Kyai Kasan tak pernah tidak laku. Selalu habis. Bahkan kalau Kyai Kasan belum kelihatan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;ngider&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;, puluhan ibu-ibu sudah antre menunggu di depan rumah masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ada satu hal ganjil yang dimiliki Kyai Kasan yang tidak dimiliki orang lain. Bau tubuhnya. Ya, bau tubuh Kyai Kasan terlalu harum untuk ukuran orang seperti dirinya yang sederhana dan tidak terlalu mempedulikan persoalan tubuh. Bau tubuh Kyai Kasan juga unik. Bau itu kadang seperti melati, tapi lain waktu bisa seperti mawar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz secara serius pernah bertanya kepada Kyai Kasan mengenai bau tubuh dirinya yang harum. Tapi, Kyai Kasan malah menertawakan Pak Ustadz sambil menunjukkan bajunya yang berkeringat..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ah, Pak Ustadz ini ada-ada saja. Mana mungkin bau tubuh saya seperti melati atau mawar. Tiap hari saja badan saya basah kuyup seperti ini."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Aku tidak bohong, Kyai, " kata Pak Ustadz tetap dengan keyakinannya. "Bau badanmu harum seperti bunga. Wangi. Aku jadi penasaran, apa parfum yang kamu pakai hingga badanmu bau seperti itu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Saya tidak memakai apa-apa, Pak Ustadz."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ayo, jujurlah. Bau itu wangi sekali. Dan sepertinya awet. Tidak mudah luntur. Aku ingin punya bau yang seperti itu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kyai Kasan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak paham dengan ucapan Pak Ustadz. Namun, ketidakpahaman inilah yang sedang merasuki benaknya. Sebab, tak hanya Pak Ustadz, tetapi juga ibu atau bapak-bapak yang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Pak Ustadz, demi Tuhan, saya tidak tahu kenapa bau tubuh saya harum seperti yang Pak Ustadz dan orang lain bicarakan. Sebab, saya mandi dua kali sehari seperti orang lain mandi. Pakai sabun yang dibeli di pasar oleh istri saya. Malah saya tak tahu apa itu parfum."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz manggut-manggut. Jawaban Kyai Kasan malah membuatnya penasaran. Ia ingin tahu apa yang terjadi di balik itu semua. Pak Ustadz yakin ada "tangan" tak terlihat yang menjadikan Kyai Kasan seperti itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Apa Kyai Kasan punya amalan-amalan yang mungkin dulu diberi oleh seseorang hingga membuat tubuh Kyai berbau harum?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kyai Kasan mengingat-ingat segalanya. Namun, benaknya tak mampu menjawab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Tidak, Pak Ustadz. Saya tak kenal amalan-amalan. Saya sholat seperti orang lain sholat. Saya puasa seperti orang lain puasa. Saya juga coba berbuat kebaikan seperti orang lain berbuatnya. Tidak ada yang aneh pada diri saya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Benar &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;nih&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Demi Allah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz mengangguk-angguk. Dia percaya dengan jawaban Kyai Kasan. Tapi, dia tetap penasaran dengan bau tubuh Kyai Kasan. Dari mana sebenarnya bau harum itu muncul? Apa yang menyebabkannya? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bahkan ketika jasad Kyai Kasan sudah terbujur kaku, bau harum itu tetap merebak. Pak Ustadz baru sedikit mengerti tentang itu sesudah istri Kyai Kasan bercerita kepadanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Itulah, Pak Ustadz. Dia sebenarnya sudah saya larang pergi ke rumah Haji Sahal karena dia sendiri juga lagi sakit. Tapi, dia ngotot. Tak bisa diomongin. Sebagai istri saya sudah menyerah kalau Dia sudah bicara silaturahim. Katanya, setiap orang boleh masuk surga melalui pintu manapun, tapi aku ingin masuk melalui jalan silaturahim. Karena ini yang aku mampu..."  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Silaturahim? Ah, Pak Ustadz kini sedikit tahu jawabannya. * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-4567038819213479606?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/4567038819213479606/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=4567038819213479606' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4567038819213479606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4567038819213479606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2011/01/misteri-bau-tubuh-kyai-kasan.html' title='MISTERI BAU TUBUH KYAI KASAN'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-4679916767997563264</id><published>2011-01-07T08:40:00.002+07:00</published><updated>2011-01-07T10:07:30.617+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AKHLAK'/><title type='text'>SENYUM SI MAYIT</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kampung Pak Ustadz gempar. Puluhan orang meniupkan suara dari jalan ke jalan, gang ke gang, dan rumah ke rumah. Gara-garanya Mbah Kisrun. Kematiannya yang tidak diduga-duga dan tanpa didahului sakit telah meninggalkan bekas di benak semua orang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Jenazah, Mbah Kisrun tersenyum!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Puluhan orang yang melihat dengan mata kepala sendiri wujud jenazah Mbah Kisrun berusaha menyimpulkan tanpa membesarkan-besarkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Iya. Aku yang pertama kali mengangkat jenazah Mbah Kisrun saat pertama kali terlentang di kamar mandi. Nggak ada luka, tapi nafasnya sudah tak berdetak. Saat dipindah ke kamar tidur tiba-tiba bibir Mbak Kisrun sudah membuka seperti tersenyum."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kardi yang paling dulu melihat peristiwa meninggalnya Mbah Kisrun memberi kesaksian. Amin tak mau kalah. Ia juga berusaha menambahkannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Bener omongan Kardi. Bahkan ketika disholatkan, jenazah itu tetap tak berubah. Meninggalkan senyum yang bagi semua orang terasa misteri."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Misteri? Misteri apa?" tanya Kosim yang sedari tadi diam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Lho, bagaimana nggak misteri, bukankah sakaratul maut dan kematian itu sesuatu yang menyakitkan?" bantah Amin dengan nada cukup keras. "Kata Pak Ustadz, sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;em style="font-family: verdana;"&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Iya. Pak Ustadz bahkan pernah menerangkan bahwa kematian yang paling ringan-pun dapat diibaratkan sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kosim terdiam, tak membantah. Tapi, tiba-tiba mulutnya bergetar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Lalu, kenapa jenazah Mbak Kisrun tersenyum?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kardi dan Amin kini yang ganti terdiam. Ia seperti tak mampu menjawab pertanyaan Kosim. Namun, benak dan hatinya menari-nari berusaha untuk menjawab pertanyaan itu dengan cara mengingat-ingat kembali sosok Mbah Kisrun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ah, pasti karena Mbah Kisrun rajin sholat berjamaah di masjid dan hadir pengajian-pengajian."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Mungkin juga karena Mbah Kisrun suka menolong dan menyantuni anak yatim dan orang terlantar."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Atau mungkin karena Mbah Kisrun tak suka bermusuhan dengan siapapun juga." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kardi dan Amin berusaha menerka-nerka. Namun, semua jawaban itu seolah tak memuaskan Kosim, bahkan juga bagi diri Kardi dan Amin. Senyum Mbah Kisrun di saat ajal menjemput tetap menjadi misteri sampai kemudian Kosim nyeletuk ringan.  &lt;/span&gt;&lt;em style="font-family: verdana;"&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Jenazah Mbah Kisrun tersenyum, pasti karena saat menjalani hidup dan kehidupannya Mbah Kisrun memang tak pernah tidak tersenyum."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kardi dan Amin kali ini tersenyum. Benar! Benar sekali! Mereka memang tak pernah melihat Mbah Kisrun marah, sedih, jengkel, iri, atau dengki. Ia seolah menjalani hidup dengan ikhlas, apa adanya. Apakah ini yang menyebabkan jenzah Mbah Kisrun tersenyum? * * *&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-4679916767997563264?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/4679916767997563264/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=4679916767997563264' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4679916767997563264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4679916767997563264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2011/01/senyum-si-mayit.html' title='SENYUM SI MAYIT'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-1251981697513574083</id><published>2010-11-25T08:55:00.006+07:00</published><updated>2010-11-25T09:54:18.515+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang IBADAH'/><title type='text'>PERJANJIAN  DENGAN TUHAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz berjalan tertatih-tatih. Malam itu, saat gerimis mulai tumpah di tanah. Bukan karena sakit di kaki, juga bukan karena tak ingin lekas sampai. Pak Ustadz tertatih-tatih karena di sampingnya hadir Eyang Sukro.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz menemani Eyang Sukro kembali dari rumah Pak Said. Mereka sengaja bersilaturahim ke rumah keluarga Pak Said setelah mendengar kabar bahwa Pak Said meninggal dunia di Mekah. Ya, Pak Said meninggal di tanah suci saat menunaikan ibadah haji. Hal yang sebenarnya dianggap percaya dan tidak oleh Eyang Sukro. Lho?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Said itu sebenarnya pergi ke Mekah tidak semata-mata naik haji, Pak Ustadz. Dia hendak melakukan perjanjian dengan Tuhan di sana...." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Eyang Sukro mulai membuka rahasia. Pak Ustadz kaget. Tapi, dia percaya. Dia tahu bagaimana akrabnya Eyang Sukro dan Pak Said. Bahkan Pak Said sudah menganggap Eyang Sukro ibarat orang tuanya sendiri. Tapi, perjanjian dengan Tuhan? Apa maksudnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz tak menanggapi. Eyang Sukro melanjutkan ceritanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Pak Ustadz tahu sendirikan kondisi Said. Tubuhnya ringkih. Tidak sekuat dulu lagi. Tubuhnya setiap waktu digerogoti penyakit yang entah kapan bisa sembuhnya. Segala cara sudah ia tempuh. Tapi, penyakit yang dideritanya tak juga mau pergi."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Lalu..." Pak Ustadz mulai tertarik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Maka Said meniatkan haji tahun ini untuk melakukan perjanjian dengan Tuhan...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Maksudnya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kata Said kepada saya. Jika Tuhan menyembuhkan sakitnya, sepulang dari haji ia berjanji akan menjadi sebaik-baiknya manusia. Segala amalan yang diperintahkan oleh Allah dan rasulnya akan ia tunaikan. Namun, sebaliknya, jika sepulang dari Haji, Tuhan tidak juga menyembuhkan sakitnya, ia berjanji akan menjadi manusia yang paling buruk dari seburuk-buruknya manusia."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz terkejut dengan ucapan Eyang Sukro. Ia seperti tidak percaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Benar itu Eyang?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Benar. Dia bilang sendiri ke saya satu hari sebelum ia berangkat."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz terpekur. Benaknya berkelana. Ah, selalu saja manusia memiliki kehendak untuk berencana, tapi Tuhan selalu menentukan yang terbaik bagi umatnya. Apakah ini yang menyebabkan manusia memiliki ribuan niat saat hendak berhaji ke tanah suci hingga perlu muncul sikap "meluruskan niat"? * * * &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-1251981697513574083?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/1251981697513574083/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=1251981697513574083' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1251981697513574083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1251981697513574083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/11/perjanjian-dengan-tuhan.html' title='PERJANJIAN  DENGAN TUHAN'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-9196490863404049315</id><published>2010-11-23T08:59:00.005+07:00</published><updated>2010-11-23T10:10:06.118+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang TUBUH'/><title type='text'>KENTUT BATAL</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Selalu saja ada kenikmatan yang tidak mungkin mampu dituangkan ke dalam kata-kata jika Pak Ustadz pergi ke masjid. Apalagi dilakukan bersama kedua anaknya yang masih kanak-kanak. Di kedua tangannya yang menggenggam jari-jari anaknya seolah menguak harapan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jelang matahari terbit. Di pagi subuh. Mulanya memang agak susah, tapi lama kelamaan Fakih dan Abdan mampu mengikuti irama yang dimainkan oleh Pak Ustadz. Bahkan keduanya sangat menikmati pergi ke masjid di saat orang lain masih terlelap dalam tidur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Abi, Adik tadi sholatnya nggak sah," cetus Fakih tiba-tiba. Nada suaranya seperti menggoda. Pak Ustadz hanya tersenyum mendengar ucapan anaknya yang pertama itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Namun, tidak dengan Abdan. Adiknya itu tampaknya tidak suka "belangnya" diketahui orang lain, apalagi sampai dikoar-koarkan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Bohong. Kakak bohong, Abi. Sholat Adik sah," balas Abdan dengan wajah sedikit cemberut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Memang Adik kenapa?" tanya Pak Ustadz berusaha menengahi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Adik kentut."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Tidak. Adik tidak kentut."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Fakih dan Abdan mulai ribut. Keduanya tak mau kalah. Masing-masing bersikeras dengan tuduhan dan penolakannya. Pak Ustadz paham kalau dibiarkan keduanya bisa bertikai tanpa akhir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Kok Kakak tahu kalau Adik kentut."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Baunya. Kakak hafal banget bau kentut Adik. Ya seperti bau yang ada di masjid tadi."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz geli mendengar jawaban Fakih. Tak ingin memperpanjang, Pak Ustadz lalau bertanya kepada Abdan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Benar, Adik tadi kentut?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Adik memang merasa ada bau yang aneh tadi. Tapi, Adik nggak kentut. Bener, Adik nggak kentut. Lagian, itu bukan bau kentut."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz kini tahu masalahnya. Pak Ustadz kemudian menyudahi masalah itu dengan berucap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Abi percaya kalau ada bau yang aneh tadi seperti yang Kakak omongkan. Tapi, Abi juga percaya kalau Adik tadi nggak kentut. Sebab, Adik tadi sudah bilang. Dan tandanya orang kentut itu bukan pada baunya...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, pada apanya, Abi?" tanya Fakih dan Abdan hampir berbarengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tandanya kita kentut &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;sehingga kita batal sholat itu ada dua. Pertama, ada suara yang keluar dan kedua ada angin yang juga keluar dari lubang belakang kita. Bau itu hanya akibat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakih mengangguk-angguk. Abdan tersenyum puas. Sangat puas. * * *&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-9196490863404049315?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/9196490863404049315/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=9196490863404049315' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/9196490863404049315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/9196490863404049315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/11/kentut-batal.html' title='KENTUT BATAL'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-8540019371598969591</id><published>2010-10-19T09:24:00.002+07:00</published><updated>2010-10-19T10:05:05.713+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AKHLAK'/><title type='text'>DRAMA ARISAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pulang arisan. Sore yang berkabut. Istri Pak Ustadz masuk rumah dengan wajah yang kusut. Tak enak dilihat. Jilbab putih yang dikenakannya menjadi terlihat suram. Bahkan kelam. Pak Ustadz tahu diri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Pulang-pulang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;"&gt;kok&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt; malah kusut. Ada apa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;"&gt;sih&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Istri Pak Ustadz tak menjawab. Diam. Langkahnya tertuju ke dapur. Pasti minum! Pak Ustadz sudah hafal dengan kebiasaan istrinya. Setiap ada masalah yang hendak diungkapkan, tapi dirasakan mengganjal di hati, pasti istri Pak Ustadz meminum air dulu. Seteguk atau dua teguk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Sudah? Sekarang ceritakan!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Istri Pak Ustadz mengambil napas. Lalu, keluarlah dari bibirnya keluhan yang dari waktu-waktu seolah itu-itu melulu. Pak Ustadz seperti sudah hafal. Karena setiap pulang arisan, istrinya selalu mengeluhkan hal yang sama. Ibu-ibu yang suka pamer!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kali ini ia mengeluhkan sikap Ibu Andre yang baru membeli mobil baru. Diceritakan bagaimana enak dan nikmatnya mobil yang mereka miliki. Ke mana-mana jadi gampang. Tak perlu naik angkot. Topik arisan pun beralih ke soal mobil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kalau setiap bulan seperti itu terus, mendingan saya tak berangkat arisan. Buat apa. Tujuannya arisan. Silaturahim dengan tetangga. Ujung-ujungnya pamer!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Istri Pak Ustadz &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;"&gt;ngedumel&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;. Pak Ustadz tersenyum kecut. Hatinya tidak mempermasalahkan sikap ibu-ibu di arisan. Tapi, ada rasa khawatir pada dirinya terhadap sikap istrinya. Hasud! Ya, hasud! Lama kelamaan sikap istrinya jengkel, marah akan bisa berubah menjadi hasud. Dendam! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Bagaimana menurut, Abi?" tanya istri Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Aku tidak peduli dengan mereka. Tapi, aku khawatir dengan sikap kamu. Sebab, tanpa terasa kamu bisa terhinggapi oleh hasud. Padahal, hasud adalah watak yang paling berbahaya jika sudah melekat dalam jiwa seseorang..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ah, tidak mungkin. Tidak mungkin. Masa soal pembicaraan arisan bisa jadi hasud."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz terdiam. Kali ini wajahnya berubah serius. Ia lontarkan pandangan matanya ke wajah istrinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Sekarang, tolong dijawab. Apakah kamu tidak suka dengan kenikmatan yang mereka peroleh?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Iya. Sebab, kenikmatan itu membuat mereka lupa diri. Cerita tak ada ujung pangkalnya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Apakah kamu ingin kenikmatan itu hilang dari mereka?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Iya. Sebab, silaturahim dalam arisan akan menjadi baik jika kenikmatan itu dihilangkan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Apakah kamu ingin kenikmatan itu berpindah kepada dirimu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ehm... Kalau bisa, iya. Sebab, aku pasti tidak akan seperti mereka."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz menutup wajahnya. Matanya memerah. Ia tahu, istrinya telah dihinggapi perasaan hasud. Dendam terhadap kenikmatan yang dimiliki orang lain. Mulut Pak Ustadz berucap lirih, memohon ampun. * * *          &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-8540019371598969591?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/8540019371598969591/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=8540019371598969591' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/8540019371598969591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/8540019371598969591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/10/drama-arisan.html' title='DRAMA ARISAN'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-8928056183523261345</id><published>2010-10-11T10:08:00.000+07:00</published><updated>2010-10-11T10:10:00.279+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AKHLAK'/><title type='text'>UTANG NERAKA</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;”Abi, ada Kang Giman di luar....”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Suara lembut menyentil telinga Pak Ustadz yang tengah memanjakan matanya; membaca buku. Tubuh Pak Ustadz malas bergerak. Baru setelah istri Pak Ustadz menyentil untuk kedua kalinya, Pak Ustadz beranjak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kang Giman. Ah, Kang Giman. Selalu saja hati Pak Ustadz tergetar jika nama itu disebut. Ada semacam perasaan tergores yang dalam. Padahal nama itu tidak pernah melukainya. Padahal nama itu terdengar kelam karena mulut orang-orang.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;”Sehat, Pak Ustadz?” sapa Kang Giman dengan keramahan yang sengaja dibuat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz tersenyum. Kecut. Rasa curiga menyentak dadanya. Seperti tak mau berhenti. Pak Ustadz berusaha melawan. Namun, semakin keras dilawan, sentakan curiga itu malah semakin keras.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dugh! Benar. Kang Giman datang untuk meminjam uang. Lumayan besar. Tentu untuk kantong Pak Ustadz yang tidak tergolong dalam, bahkan bisa dikatakan pas-pasan. Satu juta rupiah. Katanya untuk berobat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Benak Pak Ustadz langsung berkelana. Ia tidak ingin menyakiti hati Kang Giman. Tapi, ia juga tak mau tertipu seperti orang-orang yang pernah bercerita kepadanya. Kang Giman tukang tipu! Ia penipu ulung!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;”Kang Giman, saya tidak keberatan meminjami uang. Tapi, kapan Kang Giman mampu melunasi pinjaman itu?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kang Giman terkejut. Hatinya berbisik, lho kok seperti ini? Biasanya kalau pinjam uang tak pernah ditanya kapan mengembalikannya. Jadi, asyik-asyik saja. Pura-pura tak ingat. Bahkan kalau bisa melupakannya. Ah, Pak Ustadz aneh!    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;”Sebulan. Ya, sebulan. Ehm, tanggal tujuh,” jawab Kang Giman sekenanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;”Nah, kalau sebulan dan tanggal tujuh, apa jaminannya?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Gila! Ini sih gaya rentenir! Mosok meminjam uang ke Pak Ustadz ditanya jaminan segala. Persis bank. Edan! Kang Giman berontak. Ribet amat pinjam uang sama Pak Ustadz. Padahal cuma sejuta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;”Saya punya sertifikat rumah, Pak Ustadz....”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;”Oh, ya. Kalau punya sertifikat, bawa ke sini. Nanti uang itu saya berikan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;”Kalau uangnya dulu, gimana. Nanti saya antar sertifikatnya. Saya perlu banget.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;”Rumah Kang Giman-kan dekat. Tinggal bawa ke sini dan tunjukkan. Sertifikat itu juga tidak saya minta kok.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kang Giman melongo. Ia tak menyangka Pak Ustadz yang bijak dan budiman bisa sesulit itu tatkala dipinjami uang. Padahal, ia berharap Pak Ustadz tidak terlalu cerewet. Bukankah meminjamkan uang termasuk kebaikan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Jangan keliru Kang, batin Pak Ustadz. Pinjam-meminjam uang bukan masalah ringan. Betapa banyak orang yang begitu mudahnya meminjamkan uang ke orang lain, tapi mereka justru enggan menagihnya. Malu. Pekewuh. Tak enak hati.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Akhirnya, menyebarlah fitnah. Keliru. Ini keliru. Piutang harus menagih orang yang terutang agar pintu surga terbuka bagi orang yang terutang untuk masuk ke dalamnya. Kasihan dia kalau tidak ditagih! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Di ruang tengah istri Pak Ustadz mencegat Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;”Abi, katanya Abi tak punya uang. Kok mau pinjami uang ke Kang Giman?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;”Ah, mosok aku mesti menceritakan kesusahan kita kepada orang lain....”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Istri Pak Ustadz tertegun. Bingung. * * * &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-8928056183523261345?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/8928056183523261345/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=8928056183523261345' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/8928056183523261345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/8928056183523261345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/10/utang-neraka.html' title='UTANG NERAKA'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-7677629727934527885</id><published>2010-10-08T08:38:00.002+07:00</published><updated>2010-10-08T10:39:10.198+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang TUBUH'/><title type='text'>MENJEMPUT KEMATIAN DENGAN SENYUM</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ia lari tergopoh-gopoh. Kakinya seperti diseret. Napasnya tersengal-sengal. Mang Jani, pria yang sudah tidak muda lagi. Pak Ustadz memperhatikan dari jauh. Ia menunggu karena Mang Jani seolah hendak mendatanginya. Ada apa gerangan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Pak Ustadz! Pak Ustadz!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Mang Jani melambai-lambaikan tangannya. Pak Ustadz mendekat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ada apa, Mang?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Fadli! Fadli, Pak Ustadz! Fadli meninggal...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ucapan berduka langsung muncul dari bibir Pak Ustadz. Wajahnya menampakkan rasa terkejut yang luar biasa. Pikirannya langsung membayang kepada sesosok anak muda berkulit bersih dengan wajah yang tidak bisa dibilang jelek. Fadli, ya Fadli.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Tadi siang aku masih omong-omong dengannya setelah ia pulang dari kantor kepolisian. Katanya, mau mengurus surat kelakuan baik sebagai syarat kerja."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Iya, benar. Sepulang dari sana ia langsung rebahan dan tidur. Ternyata saat dibangunkan, dia sudah tidak bisa bangun untuk selamanya. Sudah ya Pak Ustadz. Saya mau mengurus pemakamannya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Mang Jani pamit. Pak Ustadz mengangguk. Pak Ustadz berjanji hendak menyusul Mang Jani sesegera mungkin. Tapi, tiba-tiba saja benak dan hatinya seolah tak bisa lepas dari Fadli. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ah, Fadli! Anak muda yang merindukan kematian. Setiap ketemu Pak Ustadz tak ada topik pembicaraan yang begitu diminatinya selain kematian. Kematian! Ya, kematian! Pak Ustadz sampai bingung dengan sikap Fadli.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Apa kamu tidak lagi ingin hidup, Fadli?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Oh, bukan begitu, Pak Ustadz. Saya mencintai kehidupan. Tapi, tak ada yang lebih saya cintai dan sangat saya rindukan, selain kematian. Masa lalu itu sangat jauh dari kita. Tapi, kematian itu sesungguhnya sangat dekat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kenapa kamu bisa berpikir begitu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Setiap detik, setiap menit, kematian seolah mengintai kita. Jujur, saya tidak ingin diintai oleh kematian. Saya juga tak mau menjadikan kematian sebagai musuh dalam selimut. Saya justru ingin bersahabat dengannya sehingga andai kematian datang, ia datang dengan senyum persahabatan yang tulus." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ah, apakah ini jawaban dari pertanyaan kenapa Fadli sangat rajin ke masjid akhir-akhir ini? Apakah ini juga jawaban mengapa Fadli begitu sangat sayang dan kasih kepada ibunya? Apakah ini jawaban kenapa Fadli tidak pernah menyakiti hati para tetangga, teman, sahabat, atau kerabat? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Di rumah Fadli, Pak Ustadz melihat Fadli tersenyum. Benar tersenyum. Senyum dalam kematian. Jelang senja itu. * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-7677629727934527885?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/7677629727934527885/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=7677629727934527885' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/7677629727934527885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/7677629727934527885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/10/menjemput-kematian-dengan-senyum.html' title='MENJEMPUT KEMATIAN DENGAN SENYUM'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-1686425382941891706</id><published>2010-09-27T08:51:00.003+07:00</published><updated>2010-09-27T10:01:28.291+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang TUBUH'/><title type='text'>BAWAHAN LEBIH PENTING DIBANDING ATASAN!</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ceramah pesanan. Begitulah Pak Ustadz biasa menjuluki saat seorang utusan menjumpai dan memintanya berceramah di suatu tempat. Tapi, tidak berhenti di situ. Karena, sang utusan kemudian meminta beberapa pesan "kebaikan" kepada Pak Ustadz agar disampaikan di depan jamaah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz kadang pusing. Tentu saja, sebab ia mesti mengaitkan pesan itu dengan ayat-ayat yang ada dalam kitab suci. Kadang Pak Ustadz mengabaikan. Namun, Pak Ustadz kadang melakukan, sejauh hal itu tidak bertentangan dengan nuraninya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Intinya, Pak Ustadz diminta menyampaikan tentang pentingnya seorang atasan dalam sebuah pekerjaan. Kami berharap Pak Ustadz menyampaikannya dalam ceramah nanti. "&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz manggut-manggut. Dua utusan yang datang terlihat gembira. Mereka senang karena misi yang berasal dari atasannya telah tersampaikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Tapi, kenapa Bapak berpesan seperti ini?" tanya Pak Ustadz mulai sedikit usil. Ia memang  penasaran dengan kebiasaan kantor atau perusahaan yang memintanya berceramah, tapi selalu disisipi pesan titipan alias sponsor atawa iklan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Oh, nggak kenapa-kenapa, Pak," kata dua orang utusan itu sedikit gagap.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kami hanya ingin para bawahan mengerti bahwa tugas atasan itu sangat penting. Suara atasan mesti didengar, dihormati, dan dilaksanakan oleh para bawahan. Jika suara atasan diabaikan, maka entah apa yang terjadi dalam sebuah organisasi."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz mengangguk. Ia mulai mengerti ke arah mana pembicaraan itu. Tapi, rasa usilnya tetap tak pudar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Menurut anda berdua, apakah di kantor, atasan itu memang lebih penting dibanding bawahan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Utusan yang pertama menjawab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Oh, jelas, Pak Ustadz. Atasan itu ibarat kepala dalam tubuh manusia. Kepala itu isinya otak atau pikiran. Tanpa, kepala, otak, dan pikiran, tak akan mungkin kantor kami akan mampu bergerak. Kami semua sangat tergantung kepada kepala itu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Utusan yang kedua menjawab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Atasan itu pemimpin, Pak Ustadz. Ia pemilik tongkat komando. Tanpa, komando atasan, para bawahan akan kebingungan, tak tahu apa yang mesti kerjakan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz tersenyum. Ia paham jalan pikiran kedua orang itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kalau saya malah berpikir bawahan itu lebih penting dibanding atasan. Sebab, tanpa bawahan tidak mungkin ada atasan. Tanpa bawahan, orang juga akan dianggap gila. Tapi, tanpa atasan, orang dinilai biasa-biasa saja. "&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Lho, kok bisa, Pak Ustadz?" Kedua orang itu bingung menyimak maksud Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Anda pasti berani ke luar rumah tanpa atasan. Tapi, tanpa bawahan, Anda berani tidak?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kedua orang utusan itu terdiam sejenak. Lalu, keduanya tertawa terbahak-bahak mendengar maksud ucapan Pak Ustadz. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Jadi, benarkan, bawahan itu lebih penting dibanding atasan?!" * * *  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-1686425382941891706?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/1686425382941891706/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=1686425382941891706' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1686425382941891706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1686425382941891706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/09/bawahan-lebih-penting-dibanding-atasan.html' title='BAWAHAN LEBIH PENTING DIBANDING ATASAN!'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-6437286271788912340</id><published>2010-09-24T09:04:00.003+07:00</published><updated>2010-09-24T10:38:08.360+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>PEMBURU JABATAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Teman-temannya dulu tidak sedikit yang menjuluki sebagai "pemburu jabatan". Sebab, hampir seabreg jabatan telah diraihnya. Tentu dengan kerja keras dan sedikit ambisi. Mulai dari jabatan yang rendah hingga yang tinggi. Mulai dari jabatan yang "basah" sampai jabatan yang konon "kering kerontang".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dik Singgih, demikian Pak Ustadz memanggilnya akrab. Mantan adik kelasnya saat duduk di bangku sekolah dasar. Jangan dibandingkan sekarang. Karena Pak Ustadz bukan siapa-siapa, sedangkan Mas Singgih jelas "siapa-siapa". Mereka bertemu ketika sekolahnya mengadakan reuni. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Bagaimana kabarnya sekarang, dik? Jadi orang penting ya...." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz coba menyapa ramah. Ia memang masih mengenalnya. Dan memang tak akan pernah melupakannya. Singgih tetap seperti dulu dengan ciri khas tahi lalat yang cukup besar di kening sebelah kiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ah, bisa saja Mas ini. Biasa saja kok," jawab Singgih tersipu malu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz agak terkejut dengan sikap Singgih. Ternyata ia tetap ramah, tidak berubah. Ia juga tak segan menjawab pertanyaan dan pernyatan yang dikeluarkan Pak Ustadz. Bahkan termasuk ambisinya untuk meniti jalan sebagai politisi. Kata Singgih, politisi adalah batu loncatan bagi dirinya untuk menggapai ratusan jabatan empuk di beragam bidang kehidupan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Maaf, Dik Singgih. Saya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;"&gt;kok&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt; agak bingung. Kenapa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;"&gt;sih&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt; Dik Singgih begitu berambisi menduduki jabatan-jabatan yang empuk di negeri ini?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Singgih tertawa kecil. Ia seperti mentertawakan kebodohan Pak Ustadz. Bahkan mulutnya Singgih agak lama menutupnya. Baru setelah diam sejenak ia menjawab pertanyaan Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Jujur, Mas. Jabatan tinggi membuat saya lebih mudah mencari harta dan kekayaan. Andaipun saya memiliki harta, belum tentu dengan harta dan kekayaan saya akan mampu menduduki jabatan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz terperangah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Jabatan juga bebas dari pencurian, Mas. Bahkan pencuri ternama sekalipun keder melihat jabatan yang diduduki seseorang." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz tercenung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ingat, Mas. Jabatan akan meluas tanpa paksaan. Orang akan memuji ketinggian, kebesaran, dan kemuliaan kita setelah tahu bahwa kita menduduki suatu jabatan tertentu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Dan terakhir, Mas. Ini yang paling penting. Jabatan membuat kita mampu menguasai dan mengendalikan seseorang, banyak orang, bahkan keadaan di sebuah lingkungan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kepala Pak Ustadz puyeng. Ia kini baru menyadari bahwa Singgih, adik kelasnya dulu memang telah berubah. * * * &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-6437286271788912340?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/6437286271788912340/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=6437286271788912340' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6437286271788912340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6437286271788912340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/09/pemburu-jabatan.html' title='PEMBURU JABATAN'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-5190856914751801369</id><published>2010-09-23T08:30:00.005+07:00</published><updated>2010-09-23T11:36:15.652+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang IBADAH'/><title type='text'>ANAK NAKAL DARI TUHAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Resepsi pernikahan. Di malam hari. Sendirian. Di gedung. Ah, selalu saja muncul perasaan galau. Entah apa dan dari mana datangnya. Pak Ustadz tidak tahu. Hanya, ia setiap kali berusaha melawannya, meski tak sampai memusnahkannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Oh, ada! Seru Pak Ustadz dalam hati setelah melihat sebuah bangku kosong. Dengan membawa piring makanan Pak Ustadz menikmati sajian mewah yang tersedia. Cukup! Cukup! Pak Ustadz hanya mencukupi perutnya dengan kue puding, apel, dan salak pondok.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Suara musik hiburan bergema di atas panggung. Para tamu memamerkan ribuan wajah. Bersliweran. Ketawa, canda, ceria. Sungguh, memang hari yang berbahagia. Tapi, tiba-tiba.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Plak! Plak!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz terkejut. Lemparan benda asing menerpa tubuhnya. Kue puding! Ya, kue puding. Bercak kotor tampak di baju Pak Ustadz. Pak Ustadz melemparkan pandangannya. Dua anak lelaki berusia sekitar tujuh dan lima tahun tertawa terbahak-bahak. Mereka seperti tidak merasa bersalah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Maaf, Pak. Maaf. Anak saya ini nakalnya memang minta ampun. Saya sampai malu dibuatnya. Tadi sudah menjatuhkan piring. Sekarang lempar-lemparan puding..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Seorang perempuan berpakaian istimewa mendatangi Pak Ustadz. Tangannya mencengkeram kedua anak lelakinya kuat-kuat. Wajahnya menampakkan ribuan perasaan. Marah, malu, jengkel, kecewa.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ayo, duduk kalian! Diam di sini! Ingat, kalian tak boleh ke mana-mana! Di sini saja! Di sini!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Perempuan berpakaian istimewa itu menatap Pak Ustadz dengan perasaan amat bersalah. Berkali-kali bibirnya berucap maaf dan maaf. Keluhnya kemudian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Saya sudah putus asa terhadap mereka berdua. Mereka benar-benar nakal. Aneh, ya Pak, kenapa saya bisa melahirkan anak-anak yang demikian nakal? Padahal, saya dan suami saya bukan orang-orang yang nakal."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Perempuan berpakaian istimewa itu seolah membela diri. Pak Ustadz tak menanggapi. Hanya diam. Perempuan itu terus melanjutkan ucapannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Saya tidak tahu salahnya di mana. Anak-anak sudah saya berikan fasilitas pendidikan yang terbaik. Sekolah terbaik. Guru terbaik. Teman dan lingkungan yang baik. Hasilnya..." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Perempuan berpakaian istimewa itu melingkarkan dua jarinya sehingga membentuk angko nol. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Akhirnya, saya berpikir, Tuhan memang telah memberikan saya anak-anak yang nakal."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kali ini Pak Ustadz tersenyum. Ia seperti memahami . Namun, Pak Ustadz tak bisa menahan bibirnya untuk berucap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Maaf, ibu. Jangan salahkan anak-anak. Kasihan mereka. Mereka adalah anak-anak Tuhan. Karena anak-anak Tuhan, mungkin malah ibu dan suami ibu yang sejatinya bersalah. Sebab, siapa tahu ibu dan suami ibu yang justru lupa melibatkan Tuhan dalam proses pembuatannya...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Perempuan berpakaian istimewa itu seperti tercenung mendengar perkataan Pak Ustadz. Namun, sebelum perempuan itu membuka mulutnya kembali, Pak Ustadz telah terlebih dahulu mohon pamit. ***    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-5190856914751801369?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/5190856914751801369/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=5190856914751801369' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/5190856914751801369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/5190856914751801369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/09/anak-nakal-dari-tuhan.html' title='ANAK NAKAL DARI TUHAN'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-2341058902132192678</id><published>2010-09-21T09:10:00.003+07:00</published><updated>2010-09-21T10:08:30.027+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang TUBUH'/><title type='text'>DOA MINTA JABATAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz kedatangan tamu. Seorang lelaki berpakaian perlente. Kulitnya bersih, tubuhnya sedikit tambun, dan baunya wangi. Rambut lelaki itu klimis. Pak Ustadz tidak tahu siapa dia. Pak Ustadz hanya tahu bahwa lelaki itu mencari dirinya dan masuk ke rumahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Lelaki perlente itu tidak sendirian. Ia datang berdua dengan seorang pria berbaju hitam dan bercelana hitam. Pria itu lebih terkesan sebagai pengawal atau sopirnya. Sikap dan tindak tanduknya mengisyaratkan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Bapak mungkin salah mencari saya. Sebab, maaf. Saya sama sekali tidak mengenal Bapak. Saya takut Bapak salah alamat."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz bersikap seramah mungkin. Ia khawatir lelaki perlente itu salah tujuan dan merasa malu telah masuk ke rumahnya. Tapi, lelaki itu bersikeras. Ia tidak merasa salah tujuan. Ia yakin dirinya benar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Oh, tidak. Saya memang ingin bertemu dengan Pak Ustadz. Saya punya keperluan khusus dengan Bapak."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Keperluan khusus?" Pak Ustadz sedikit terkejut. Keningnya berkerut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pikiran Pak Ustadz langsung berputar-putar dengan seribu dugaan. Mungkin lelaki perlente itu meminta Pak Ustadz untuk mengisi ceramah di rumahnya atau mungkin lelaki perlente itu hendak mengundang Pak Ustadz hadir dalam sebuah acara. Mungkin lelaki perlente itu berniat mengajak Pak Ustadz mendirikan sebuah pondok pesantren. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Maaf, keperluan khusus apa ya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Lelaki perlente itu terdiam sejenak. Ia sedikit ragu. Wajahnya menunjukkan itu. Namun, setelah Pak Ustadz meyakinkannya, lelaki perlente itu kemudian menjelaskan maksudnya. Awalnya terdengar rikuh, lama kelamaan suaranya semakin meyakinkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kata lelaki perlente itu, ia sengaja datang khusus ke Pak Ustadz karena ingin meminta berkah. Ia berharap Pak Ustadz dapat mewujudkannya. Berkah itu berupa jabatan dan pangkat yang ingin ia diduduki. Ia sudah berusaha sekeras mungkin dalam bekerja, tapi jabatan dan pangkat yang diincarnya seolah lepas. Jauh dari dirinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Saya harap Pak Ustadz bisa memberikan sesuatu untuk saya. Bisa doa, pertolongan, atau pegangan. Terserah Pak Ustadz pokoknya...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz kini tahu maksud kedatangan lelaki perlente itu. Tapi, bagi Pak Ustadz, lelaki perlente ini telah keliru. Ia salah alamat. Pak Ustadz tidak cukup punya kemampuan untuk mewujudkan jabatan atau pangkat pada diri seseorang.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Maaf, Bapak. Sekali lagi maaf. Bapak salah alamat. Saya tidak memiliki kemampuan itu. Benar, sungguh, " kata Pak Ustadz lembut tapi tegas.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Semburat kekecewaan langsung terlihat di wajah lelaki perlente itu. Tapi, ia tak kurang akal. Beberapa kali ia berusaha memaksakan kehendaknya dengan beragam iming-iming. Pak Ustadz tak goyah. Lelaki perlente itu akhirnya pamit. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Di beranda rumah, Pak Ustadz tercenung. Pangkat! Jabatan! Ah, betapa banyak orang yang bersikeras mendapatkannya, bahkan dengan segala macam cara. Mereka pikir, dengan pangkat atau jabatan, ketinggian, kebesaran, dan kemuliaan layaknya Tuhan Sang Penguasa Jagat, akan mereka dapatkan. * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-2341058902132192678?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/2341058902132192678/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=2341058902132192678' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/2341058902132192678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/2341058902132192678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/09/doa-minta-jabatan.html' title='DOA MINTA JABATAN'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-6044586873801874790</id><published>2010-09-17T09:39:00.002+07:00</published><updated>2010-09-17T14:07:43.435+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>ANAK-ANAK PENDUSTA</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pulang dari mudik. Pak Ustadz berdesak-desakan dalam kereta api bisnis. Lega, akhirnya ia dan keluarganya mendapat tempat duduk. Tapi, gelisah karena sejak tadi si bungsu Nadia tak kunjung berhenti rewelnya. Aneh-aneh saja ulahnya. Dari mulai merasa lelah hingga ke soal permintaan macam-macam khas anak kecil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Istri pak Ustadz sudah menyerah. Ia angkat tangan. Istri Pak Ustadz sudah tak kuasa lagi menangani anak perempuan satu-satunya itu. Nadia kini sudah menjadi urusan Pak Ustadz. Namun, di tangan Pak Ustadz, Nadia tak berubah. Ia tetap menunjukkan perilaku yang menjengkelkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Sebenarnya Nadia pingin apa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz berusaha bersikap lembut. Ia percaya Nadia bukan anak yang susah untuk "ditaklukkan". Dengan kelembutan pasti segala sesuatunya berjalan sesuai rencana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kecele. Pak Ustadz kecele. Nadia justru menampakkan wajah tak ramah. Wajahnya tak enak dilihat. Sebentar kemudian air matanya sudah tumpah. Dari bibirnya keluar suara sesenggukan. Nadia menangis. Semakin lama tangisan itu semakin keras.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz kebingungan. Ia malu melihat Nadia dan dirinya menjadi tontonan penumpang kereta. Seketika trik Pak Ustadz muncul.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Nadia, mau eskrim? Nanti Abi belikan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tangisan Nadia tak berubah. Pak Ustadz mulai kelimpungan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Nadia kepingin naik kuda? Nanti, pulangnya kita naik kuda. Atau naik delman? Pasti kita naik nanti."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Nadia tak berhenti menangis. Pak Ustadz bertambah bingung. Akalnya sudah mencapai ambang batas. Nadia memang terlalu sulit untuk "ditaklukkan".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Oh, ya. Katanya Nadia kepingin yoyo. Setiba di rumah Abi janji Nadia akan Abi belikan yoyo. Sepuluh malah..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ajaib! Nadia terdiam. Tangisnya berhenti. Ia memandang wajah Pak Ustadz. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Bener, Abi?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz mengangguk. Nadia tak lagi menyebalkan. Senyumnya kini mengembang.&lt;/span&gt; Rengekannya pudar sudah. Pak Ustadz tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Seorang ibu berkerudung putih ikut tersenyum. Namun, senyumnya terasa aneh di mata Pak Ustadz. Apalagi saat ia bertanya lirih kepada Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Apakah Bapak benar-benar akan memenuhi permintaan putri Bapak? Es krim, naik kuda, dan sepuluh yoyo?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak, " jawab Pak ustadz cepat. " Itu semua hanya agar anak saya berhenti menangis. Saya berharap ia akan lupa dengan apa yang pernah saya janjikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu berkerudung putih itu mengangguk-angguk. Ia seperti memahami. Tiba-tiba ia bergumam lirih. Sangat lirih. Tapi, hal itu sudah cukup untuk membuat telinga Pak Ustadz tersentil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ternyata masih banyak orang tua yang mengajarkan dusta kepada anak-anaknya. Meski baik, tapi itu keliru. Keliru."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz menundukkan pandangan. Saat ia mendongak, ibu berkerudung putih itu telah lenyap dari hadapannya.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-6044586873801874790?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/6044586873801874790/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=6044586873801874790' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6044586873801874790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6044586873801874790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/09/anak-anak-pendusta.html' title='ANAK-ANAK PENDUSTA'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-7627402436729176992</id><published>2010-08-24T09:27:00.005+07:00</published><updated>2010-09-20T10:24:11.880+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AKHLAK'/><title type='text'>ANDA, AYAH DAN IBU YANG BAIK?</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Minggu pagi. Matahari tersenyum cerah. Pak Ustadz dan istrinya asyik bercengkerama. Teh hangat dan pisang goreng menemani mereka berdua. Begitu biasanya. Entah kenapa. Mereka selalu dicekam kerinduan untuk bersama. Padahal, tidak ada yang istimewa pada setiap pagi itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz dan istrinya seringkali hanya duduk sambil mengobrol. Kadang diselingi candaan santai. Tak pernah ada percakapan serius di pagi hari saat libur. Namun, kali ini sepertinya lain. Semua ini gara-gara celetukan istri Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Abi, di mata anak-anak, kira-kira kita ini termasuk ayah dan ibu yang baik bukan ya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz kaget mendengar celetukan istrinya. Amat kaget. Ia pandangi wajah istrinya. Ia takut ada yang keliru dengan ucapan istrinya. Sebab, ini tidak biasa. Benar, tidak biasa. Tapi, Pak Ustadz sepertinya tidak menemukan keanehan di wajah istrinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Istri Pak Ustadz tetap seperti biasa. Manis dan sedap dipandang mata. Bahkan wajah istri Pak Ustadz seolah menunjukkan keseriusan. Artinya, istri Pak Ustadz tidak sedang mengajak bercanda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Menurut Umi, bagaimana?" Pak Ustadz balik bertanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Lho, Umi tanya malah Abi balik tanya. Bagaimana sih?" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz tersenyum. Senang. Selalu saja ada kerinduan untuk menggoda istrinya. Manja. Ya, manja. Itu hal yang paling Pak Ustadz sukai dari istrinya. Kemanjaan yang alamiah. Bukan dibuat-buat dan dipaksakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Meski senang, di sudut hatinya Pak Ustadz tercenung. Benar! Ucapan istrinya benar! Hampir duabelas tahun ia menjalani pernikahan, tapi sekalipun ia tidak pernah menanyakan dalam hatinya perihal yang satu itu. Ayah yang baik dan ibu yang baik hanya sebuah proses. Itu keyakinan Pak Ustadz.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Saya tidak tahu Umi sebab yang tahu pasti anak-anak kita?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Lho, kok anak-anak kita?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Iya. Sebab, mereka yang merasakan kehadiran kita sebagai ayah atau ibu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Tapi, Abi pasti punya penilaian tersendiri."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz tersudut. Hatinya memang membenarkan tebakan istrinya. Kendati demikian, Pak Ustadz sejatinya hanya mampu meraba. Ia tetap tidak tahu apakah dirinya ayah yang baik atau bukan. Kata Pak Ustadz kemudian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Umi, kita berdua adalah pemimpin dalam rumah tangga kita. Kata Nabi, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang selalu mendoakan orang yang kita pimpin dan selalu didoakan oleh mereka. Sebaliknya, pemimpin yang buruk adalah pemimpin yg dibenci oleh orang yang kita pimpin dan dilaknat oleh mereka."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Jadi?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ya, nanti kita tanya ke anak-anak kita. Apakah mereka selalu mendoakan kita dalam sholatnya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Tapi, Abi selalu mendoakan anak-anak kitakan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Insya Allah..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz dan istrinya saling tersenyum. Dalam hati mereka tersembul janji untuk senantiasa menjadi ayah dan ibu yang baik. * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-7627402436729176992?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/7627402436729176992/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=7627402436729176992' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/7627402436729176992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/7627402436729176992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/08/anda-ayah-dan-ibu-yang-baik.html' title='ANDA, AYAH DAN IBU YANG BAIK?'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-3702166504813262107</id><published>2010-08-20T09:46:00.007+07:00</published><updated>2010-09-22T14:42:06.376+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>21 TAHUN TERTIDUR</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Hari libur. Fakih masih saja asyik dengan selimut dan bantalnya. Matanya terpejam. Rapat. Tubuhnya tak bergerak. Seolah mati. Padahal, pagi sudah hendak menanti. Ayah, ibu, dan ketiga adiknya sudah terjaga sedari tadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz menggeleng-gelengkan kepalanya. Selalu saja begitu. Sejak dulu. Hobi tidur anak sulungnya itu telah sedikit merepotkan Pak Ustadz. Juga mengkhawatirkan. Tidak pagi, siang, sore, atau malam, tidur seperti menjadi idaman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kak, bangun! Bangun!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Suara Pak Ustadz tak membuat Fakih bergerak. Ia tetap saja diam. Seperti tidak mendengar suara dan tepukan ayahnya sendiri. Pak Ustadz sedikit geregetan. Karena, adzan subuh sudah siap-siap hendak dikumandangkan dari masjid seberang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pyur! Pyur!! Pyur!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Fakih gelagapan. Cipratan air dari tangan Pak Ustadz mengenai mukanya. Seketika Fakih terjaga. Matanya melek. Tapi, badannya masih saja tergelepar di tempat tidur. Melihat siapa yang usil Fakih mengeluh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ah, Abi. Ngganggu saja. Inikan masih pagi..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kak, ini hampir subuh. Ayo, siap-siap. Adik-adikmu sudah bangun dari tadi. Mereka sudah siap sholat berjamaah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ah, aku nanti saja. Sholat sendirian."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Fakih menutupkan selimutnya rapat-rapat. Pak Ustadz tak mau kalah. Ia membuka selimut Fakih yang menutupi mukanya. Tak hanya itu, Pak Ustadz juga menarik tubuh Fakih hingga ia terduduk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kakak, dengar!" ucap Pak Ustadz sedikit tegas. "Berapa usia Nabi saat wafat?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Fakih terkejut. Ia bingung kenapa tiba-tiba ayahnya bertanya seperti itu. Mata Fakih mulai membuka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"63 tahun," jawab Fakih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Selama usia itu, berapa tahun Nabi tidur?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Fakih tak paham. Pertanyaan ayahnya membingungkan dirinya. Ia menggelengkan kepalanya. Pak Ustadz manggut-manggut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Jika usia Kakak nanti mencapai 63 tahun, maukah Kakak selama 21 tahun dari usia tersebut digunakan untuk tidur?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ah, Abi ada-ada saja. Ya nggak mau."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Nggak mau bagaimana? Kalau setiap hari manusia tidur delapan jam, berarti saat Kakak usia 63 tahun nanti, 21 tahunnya untuk tidur. Bahkan bisa lebih karena hobi Kakak tidur," kata Pak Ustadz sambil bergegas meninggalkan Fakih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Fakih melongo. Lebih dari 21 tahun dalam hidup untuk tidur? Tidak!!!! * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-3702166504813262107?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/3702166504813262107/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=3702166504813262107' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/3702166504813262107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/3702166504813262107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/08/21-tahun-tertidur.html' title='21 TAHUN TERTIDUR'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-1748566927722484242</id><published>2010-08-10T14:06:00.004+07:00</published><updated>2010-12-22T10:44:03.050+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang CINTA'/><title type='text'>BERI KEBAHAGIAAN KEPADA IBUMU!</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz sudah lama mengenalnya. Mungkin sekitar lima atau enam tahun. Mereka memang bertetangga, meski tidak terlalu dekat jarak rumahnya. Kegiatan di masjid kerap membuat Pak Ustadz dan dirinya bertemu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Orang-orang, juga Pak Ustadz, mengenalnya sebagai Aldi. Mulanya, Aldi datang dengan status sebagai mahasiswa. Ia tercatat sebagai mahasiswa pada salah satu perguruan tinggi negeri di kota Pak Ustadz tinggal. Setelah beberapa waktu lulus, Aldi tetap tinggal di tempat itu, bahkan hingga kini. Ia tak pernah pindah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ada yang aneh dari Aldi. Selama studi ia tak pernah pulang kampung ke rumah orang tuanya. Juga tidak pernah terdengar orang tua, sanak atau kerabat dari kampung, menengok Aldi. Secara kebetulan Pak Ustadz pernah menanyakan persoalan itu kepada Aldi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Aldi, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;"&gt;kok&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt; tidak pernah kedengaran pulang kampung ya?" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Mendengar pertanyaan seperti itu Aldi hanya tersenyum. Ia seperti malu hati. Lalu jawabnya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Belum kepingin pulang, Pak Ustadz. Nanti kalau kepingin pasti juga saya akan pulang."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;'Tapi, orang tua masih sehatkan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Tinggal ibu, Pak Ustadz."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz sedikit tersedak. Tinggal ibu? Ah, kenapa justru malah tidak kepingin pulang jika ibu masih sehat. Pak Ustadz mulai sedikit meraba-raba. Tapi, dalam hati Pak Ustadz tidak timbul sedikitpun rasa curiga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kalau tinggal ibu, kenapa Aldi malah jarang pulang?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Aldi agak jengah. Mukanya sedikit memerah. Hatinya seperti tersudut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Saya ingin membahagiakan ibu saya, Pak Ustadz."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Membahagiakan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Iya, Pak Ustadz. Saya sudah berjanji dalam hati bahwa saya tidak akan pulang untuk menemui ibu saya sebelum saya sukses dalam studi dan pekerjaan. Sebab, hanya itulah yang mampu membahagiakan ibu saya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz tidak kaget dengan jawaban seperti itu. Karena jawaban seperti itu seringkali ia dengar dari mulut banyak orang. Mereka berpikir, hanya sukses dalam studi dan pekerjaan yang akan membuat orang tua bahagia. Ah, betapa rendahnya orang tua kalau hanya dipandang seperti itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Tak bisakah Aldi pulang satu kali dalam setahun?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Sepertinya tidak bisa, Pak Ustadz."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Tak bisakah Aldi pulang setelah enam tahun merantau?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Sepertinya belum, Pak Ustadz."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz merinding. Hatinya bergetar. Ia tak mampu membayangkan betapa rindunya hati sang ibu kepada Aldi, anaknya itu. Kata Pak Ustadz kemudian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Aldi, pulanglah besok! Beri kebahagiaan kepada ibumu! Dengan kehadiranmu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Aldi terdiam. Pak Ustadz pergi menghilang dari pandangan. * * *&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-1748566927722484242?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/1748566927722484242/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=1748566927722484242' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1748566927722484242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1748566927722484242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/08/beri-kebahagiaan-kepada-ibumu.html' title='BERI KEBAHAGIAAN KEPADA IBUMU!'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-4230177113656384496</id><published>2010-08-06T09:34:00.001+07:00</published><updated>2010-08-06T09:34:45.895+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>PERKAWINAN KOTOR</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tak tahu lagi harus berbuat apa. Matanya memerah. Menyala. Seperti marah. Tapi, sekejap kemudian berubah. Meredup. Lalu, seperti ada cahaya bening dalam bola matanya. Pak Ustadz menangis? Tidak! Matanya telah lelah untuk mengeluarkan air mata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Duduk di hadapannya Pak Sodri, sepupu Pak Ustadz. Raut mukanya tak beda dengan Pak Ustadz. Hanya Pak Sodri terlihat sangat kuyu. Kusut. Kusam. Cahaya manusiawi yang diberikan Tuhan seolah luluh. Musnah. Hilang entah ke mana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Jadi, apa yang mesti aku lakukan sekarang?" tanya Pak Sodri lirih. Amat lirih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tak mampu menjawab. Bibirnya terkatup rapat. Ia sangat takut keliru. Pak Ustadz tahu, sekali saja ia mengeluarkan nasihatnya, maka Pak Sodri pasti akan mengikutinya. Padahal, ini bukan persoalan biasa. Ini persoalan yang sungguh maha berat. Baru sekali Pak Ustadz menghadapi masalah yang seperti ini dan ia belum menemukan jawabannya. Jika ada masalah yang seperti ini Pak Ustadz lebih suka menghindar membicarakannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Apa mesti aku nikahkan keduanya?" kembali bibir Pak Sodri  membuka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mata Pak Ustadz menerawang. Mulutnya tetap tak menjawab. Hatinya menggeram. Ini semua gara-gara Nita! Akibat salah pergaulan, semua orang kini dipaksa menanggung akibatnya. Ya, menangung malu. Ya, menanggung bingung. Ya, menanggung dosa. Nita hamil sebelum ia melangsungkan pernikahannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Atau aku tunggu sampai Nita melahirkan baru aku nikahkah?" Pak Sodri lagi-lagi meminta persetujuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tetap tak bersuara. Hatinya tidak yakin Pak Sodri mampu melakukan itu. Jika itu benar dilakukan persoalannya adalah bersediakah Nita untuk tidak menikah demi bayi yang dikandungnya? Lalu, bagaimana dengan keluarga pihak laki-laki? Maukah mereka menuruti dan mengikuti kemauan Pak Sodri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Aku benar-benar bingung. Sebagai orang tua, aku tak tahu lagi mesti berbuat apa. Aku benar-benar putus asa...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Putus asa? Pak Ustadz tergeragap. Kaget. Allah mengutuk orang-orang yang bersikap putus asa. Tapi, ia memaklumi jika Pak Sodri dilanda putus asa. Siapa yang mau anaknya hamil di luar nikah? Siapa yang mau anaknya menikah dalam keadaan perut membesar? Siapa yang mau dilanda persoalan tanpa tahu jalan keluarnya. Maka sungguh tidak mudah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Kau benar tidak tahu jalan keluarnya?!" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz menatap mata Pak Sodri. Terarah. Tajam. Matanya menandakan bahwa Pak Ustadz memang tidak mampu memberikan jawabannya, walau sedikit. Pak Ustadz menyerah. Ia diterpa jalan buntu seperti yang juga dialami Pak Sodri, sepupunya itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz mengutuki dirinya sendiri. Batinnya berbicara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Pernikahan adalah sesuatu yang indah. Kenapa banyak orang yang suka merusaknya sendiri. Perkawinan adalah sesuatu yang suci. Kenapa tidak sedikit orang yang malah mengotorinya sendiri."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Sodri beranjak pergi. Mata Pak Ustadz seperti berair. Ia tak rela melepas sepupunya itu pergi tanpa pegangan dari dirinya. Ah, kenapa hanya masalah hamil di luar nikah aku tak mampu berbicara tegas?, bisiknya. Pak Ustadz menutup wajahnya dengan kedua tangannya. * * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-4230177113656384496?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/4230177113656384496/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=4230177113656384496' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4230177113656384496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4230177113656384496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/08/perkawinan-kotor.html' title='PERKAWINAN KOTOR'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-3326137661757478544</id><published>2010-08-03T10:15:00.006+07:00</published><updated>2010-12-21T10:30:05.021+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>MENGAMBIL "HATI" TUHAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz masih terpekur di atas sajadahnya. Sepertiga malam. Sebuah waktu yang sangat dianjurkan Allah untuk mengadu, bahkan kalau perlu hingga menitikkan air mata. Tentu, karena keterbatasan kita sebagai mahkluk, hamba. Tapi, jangankan menitikkan air mata, bahkan untuk sekadar berbisik pun Pak Ustadz gagal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bibir Pak Ustadz bisu, lidahnya terasa kelu. Pak Ustadz ingin berucap, tapi ia tak punya daya. Pak Ustadz ingin ingin berbicara, tapi ia tak kuasa. Pak Ustadz ingin menumpahkan air mata, tapi bulir-bulir air mata itu tak pernah meluncur dari mata air di matanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ya Allah, kenapa Engkau hilangkan air mata di saat aku memerlukannya? Bukankah Engkau senantiasa perlu bukti agar aku pantas dimasukkan ke dalam surgamu karena aku adalah seorang hamba yang saleh?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tak menyerah. Ia ingat nasihat dan petuah para gurunya dulu jika ia ingin menangis di hadapan Allah pada sepertiga malam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kata gurunya, "Ingatlah akan nikmat Tuhan yang tanpa batas itu. Udara, air, tumbuhan, atau hewan. Juga kesehatan, mata sebagai indera penglihat atau telinga sebagai indera pendengar. Pada nikmat yang tanpa batas itu sesungguhnya ada air mata bila kamu merenunginya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Guru yang lain berkata, " Cobalah engkau ingat akan keliru dan salah. Pada keliru dan salah itu tak jarang terkandung dosa. Seorang hamba yang saleh pasti akan menitikkan air mata sebagai tanda sesal saat ia berbuat dosa."  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tetap tak bisa menangis. Air matanya enggan tumpah. Sepertiga malam seolah menjadi rutinitas belaka. Ia tidak menimbulkan sensasi pribadi, apalagi menumbuhkan watak dan sifat hakiki. Pak Ustadz merasakan ada yang salah pada dirinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz selalu ingat betapa banyak ia menumpahkan air mata saat ia memimpin doa di hadapan para khalayak yang berjejal dalam majelis-majelis zikir yang dipimpinnya. Bersama ratusan jamaah ia sesenggukan meluberkan air mata. Air mata itu tak pernah kering, ia selalu ada.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ya Allah, haruskah aku menangis karena aku sudah tidak lagi bisa menangis di hadapanMu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz sekarang tahu, sejatinya ia belum paham benar bagaimana cara mengambil hati Tuhan. Pak Ustadz juga belum mengerti benar bagaimana cara "bercinta" dengan Tuhan. Kalau itu saja belum, bagaimana mungkin dirinya hendak disebut sebagai hamba yang saleh dan alim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tanpa sadar, Pak Ustadz menitikkan air mata. * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-3326137661757478544?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/3326137661757478544/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=3326137661757478544' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/3326137661757478544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/3326137661757478544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/08/mengambil-hati-tuhan.html' title='MENGAMBIL &quot;HATI&quot; TUHAN'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-762117737258860838</id><published>2010-08-03T10:01:00.011+07:00</published><updated>2010-08-30T14:06:42.641+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>ANAK PINTAR DAN ANAK BODOH</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz terperangah. Wajahnya kaget, tak percaya. Di depan mukanya ia melihat langsung anak pertamanya marah-marah. Fakih memarahi kedua temannya yang tidak mengikuti, bahkan menolak pendapatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Salah! Itu salah! Pendapat aku yang benar. Kamu keliru!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mirip berteriak. Wajah Fakih mengeras. Matanya seolah hendak meloncat keluar. Ia tidak menerima jika yang dikatakannya keliru. Ia justru menyalahkan pendapat kedua temannya yang berbeda dengan dirinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jaka dan Ade yang duduk mengapit Fakih seperti tak enak hati. Keduanya bahkan seperti ketakutan. Mereka hanya menundukkan wajahnya. Mereka tak berani mempertahankan pendapatnya setelah melihat raut muka Fakih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Kalau tidak percaya kamu bisa buka kembali catatan yang dulu. Di situ pasti tertulis jelas bahwa simbiosis komensalisme adalah hubungan sesama makhluk hidup yang satu diuntungkan yang lain dirugikan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Bukan Fakih....." tampik Jaka dengan ucapan yang lirih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Itu simbiosis parasitisme..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Bukan! Komensalisme. Kamu berdua keliru. Salah!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tahu mana pendapat yang benar dan pendapat mana yang salah. Namun, ia sengaja membiarkan ketiganya berdebat. Ia ingin tahu bagaimana ketiganya menyelesaikan perbedaan pendapat saat belajar bersama di rumah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz hanya memainkan matanya. Melirik, pura-pura tidak melihat. Ia seperti asyik membaca buku yang ada di pangkuannya. Padahal seluruh indera yang dimilikinya diluncurkan pada peristiwa &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ayo, sekarang kita lihat catatan kemarin!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tahu, kenapa kedua teman Fakih tidak yakin dengan pendapatnya sendiri. Bahkan mereka berdua terlihat takut. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;, mereka tidak yakin dengan pendapatnya karena Fakih memang anak yang paling pintar di kelasnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;, Fakih memiliki pribadi yang kuat dan sulit untuk mengalah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;, mereka belajar di rumah Fakih sehingga mereka terkesan tidak ingin ribut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sesaat kemudian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Kalian benar. Aku yang keliru."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Plong! Pak Ustadz tersenyum melihat Fakih mengakui kesalahannya. Secara sportif, Fakih bahkan menyalami kedua temannya. Ketiganya tersenyum. Mereka melanjutkan belajar bersama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz terpekur. Benaknya teringat kata-kata bijak tentang anak pintar dan anak bodoh. Konon, anak pintar ialah anak yang mampu mengekang jiwanya dan memikirkan bahwa segala tindakannya selalu berkaitan dengan Tuhan yang Maha Melihat. Sedangkan, anak yang bodoh adalah anak-anak yang mengikuti hawa nafsunya dan selalu berangan-angan bahwa Tuhan akan selalu bersama dirinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ah, semoga kalian menjadi anak-anak yang pintar, bisik Pak Ustadz. ***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-762117737258860838?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/762117737258860838/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=762117737258860838' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/762117737258860838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/762117737258860838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/08/anak-anak-yang-kuat.html' title='ANAK PINTAR DAN ANAK BODOH'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-2745890121040395613</id><published>2010-07-30T14:51:00.002+07:00</published><updated>2010-08-03T10:54:29.831+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang TUBUH'/><title type='text'>MATA PESANTREN</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;Istri Pak Ustadz lagi tak enak badan. Alhasil, Pak Ustadz mesti berangkat ke sekolah untuk mengambil rapor milik si sulung. Ah, pekerjaan yang membuatku malas, batin Pak Ustadz. Selalu begitu, sejak dulu. Kenapa Pak Ustadz didera rasa malas setiap pergi ke sekolah untuk mengambil rapor?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Pak Ustadz menyapa ruang kelas. Penuh! Hanya ada satu kursi yang tersisa. Itupun ada di ujung. Mata Pak Ustadz kembali beredar. Aduh, hatinya mengeluh. Tak ada lelaki yang duduk di sana. Semua perempuan, semua ibu-ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz melangkah masuk. Ia memberi senyuman, pertanda kesopanan. Pak Ustadz mengambil tempat duduk yang kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengambil rapor, Pak?" Basa-basi seorang ibu yang duduk paling dekat dengan Pak Ustadz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz mengangguk. Bibirnya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, kok bukan ibunya. Ke mana ibunya, Pak?" Ibu-ibu yang lain mulai terlibat dalam pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sakit. Tidak enak badan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ibu mengerti setelah mendengar jawaban Pak Ustadz. Mereka melanjutkan pembicaraannya. Mereka meninggalkan Pak Ustadz dalam diam. Meski ditinggalkan, Pak Ustadz tetap mendengar suara-suara mereka. Ibu-ibu itu sedang berbicara tentang masa depan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, anakku pingin jadi artis. Saya kan bingung. Soalnya bapak ibunya bukan artis," kata ibu yang berbaju merah sambil terkekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu yang berbaju hijau tidak mau kalah. Ia berusaha menganggap dirinya lebih dibanding ibu yang berbaju merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anakku artis nggak mau. Katanya, para artis banyak yang tidak pintar. Ia malah pingin jadi dokter. Padahal sudah saya bilang kalau dokter sekarang sama saja. Susah nyari kerjanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu yang terakhir bergabung menyela. Nadanya sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anakku belum punya cita-cita. Tapi, aku ingin ia jadi politisi. Gede bayarannya, kerjanya sedikit. Bisa bolos lagi. Enak-kan kerja seperti itu.... "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepi. Pembicaraan ibu-ibu itu berhenti. Nyenyat. Tiba-tiba ibu yang berbaju hijau menoleh ke Pak Ustadz dan bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau putra Bapak ingin jadi apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz tergeragap. Kaget. Benar-benar kaget. Namun, hanya sesaat. Ia kemudian menjawabnya ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi ustadz, makanya habis lulus nanti akan saya masukkan ke pesantren."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pesantren?" Ibu-ibu yang lain ikut terkejut.  Pak Ustadz mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya. Biar mata anak saya belajar melihat apa yang semestinya dilihat. Telinga anak saya belajar mendengar apa yang seharusnya didengar. Mulut anak saya belajar berbicara apa yang seharusnya ia bicarakan.Hati anak saya belajar bergumam apa yang seharusnya ia gumamkan.""&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini ibu-ibu yang lain ikut terkejut mendengar jawaban Pak Ustadz. Dalam benak dan hati mereka berucap lirih, orang aneh! Benar orang aneh! * * * &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-2745890121040395613?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/2745890121040395613/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=2745890121040395613' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/2745890121040395613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/2745890121040395613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/07/mata-pesantren.html' title='MATA PESANTREN'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-6995035586480878740</id><published>2010-07-07T09:33:00.007+07:00</published><updated>2010-07-09T16:10:05.578+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AKHLAK'/><title type='text'>KREATIF PELIT</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Mobil-mobil di depan berjalan lambat. Seperti keong. Tertatih-tatih. Pak Ustadz mulai hilang kesabaran. Tombol klakson di kemudi sudah hendak ditekannya. Namun, jari Pak Ustadz langsung berhenti ketika telinganya menangkap sayup-sayup suara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Terima kasih bapak-ibu atas sumbangannya. Semoga sumbangan itu mampu membuat kami segera menyelesaikan pembangunan masjid ini. Dan semoga perjalanan bapak-ibu tidak kurang suatu apa hingga sampai di tempat tujuan. Amien."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz paham. Amat paham. Mobil-mobil di depan yang berjalan pelan terhalang oleh "serombongan" peminta sumbangan. Mereka sengaja memasang tanda berupa tong dan sedikit tulisan pada kain. Mau tidak mau mobil yang melewati jalanan itu berjalan pelan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Saat mobil yang lewat berjalan pelan, rombongan peminta sumbangan itu segera menyodorkan keropak ke mobil-mobil itu. Bila penumpang dalam mobil menyodorkan uang, maka ucapan terima kasih dan selarik senyuman meluncur dari mereka. Namun, jika penumpang tak menyodorkan, bibir mereka terkatup rapat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Paman, kita kasih nggak?" tanya Farid, keponakan Pak Ustadz yang kini beranjak remaja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz terdiam sebentar. Katanya kemudian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kasih saja."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Berapa Paman?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kamu bisa ambil uang yang ada di laci dashboard. Di situ sepertinya ada uang yang cukup untuk menyumbang mereka."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Farid membuka laci. Ia menemukan selembar uang sepuluh ribuan. Dilihat dan ditimang-timangnya uang itu. Lalu, dielus-elusnya. Seperti ada yang aneh pada uang itu, tapi lebih-lebih pada Farid. Ia seperti berpikir keras. Keningnya berkerut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Paman, sayang ya kalau uang ini kita kasihkan ke mereka.., " ucapnya dengan mimik aneh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Lho kenapa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Jujur, aku nggak suka orang-orang seperti mereka. Kerjanya cuma mempermalukan diri mereka sendiri. Lebih lagi, mereka telah mempermalukan Islam. Paman pikir, apakah tidak ada cara lain untuk membangun masjid, selain meminta-minta sumbangan di jalanan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz terkejut mendengar suara Farid. Ada puluhan rasa bertentangan yang bergelayut. Kecewa, sedih, jengkel, khawatir. Namun, di sudut lain, ada senyum dan rasa bangga Pak Ustadz terhadap sikap kritis Farid.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Umat Islam mestinya kreatif dan jauh dari watak meminta-minta. Apalagi ini pekerjaan mulia, menggalang dana dan dukungan untuk pendirian masjid. Bener begitukan, Paman?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz terdiam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Bagaimana Paman?" ulang Faris.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz mendehem sejenak. Lalu katanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Bener. Tapi, tidak semestinya kita menyalahkan mereka. Sebab, bagaimana mereka tidak menengadahkan tangan di sepanjang jalan jika kita-kita ini tetap bersikap pelit dan bakhil terhadap sesama, bahkan terhadap orang-orang seperti mereka. Jelas agama ini susah untuk maju."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kali ini gantian Sofwan yang terkejut. Ia seperti bingung mencerna ucapan Pak Ustadz. Namun, Pak Ustadz tak peduli. Ia tetap memandang ke depan dengan setir kemudi di tangannya. * * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-6995035586480878740?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/6995035586480878740/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=6995035586480878740' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6995035586480878740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6995035586480878740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/07/kreatif-pelit.html' title='KREATIF PELIT'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-4332604632942739098</id><published>2010-06-29T10:15:00.002+07:00</published><updated>2010-06-29T10:17:18.841+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AMAL'/><title type='text'>CITA-CITA SANG KUNCEN</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ada banyak penjaga makam atau kuncen. Tapi, tidak ada yang seunik Pak Tarno. Usianya sudah mendekati uzur. Jalannya sedikit tertatih. Tongkat tak pernah lepas dari tangannya. Namun, wajah Pak Tarno seolah polos, bersih. Wajahnya ibarat orang tak berdosa. Seperti kanak-kanak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Tarno serasa beda dengan wajah para kuncen di makam yang lain. Kebanyakan kuncen berwajah seram atau sengaja menyeramkan diri. Juga kumuh, terlihat kotor. Entah kenapa. Mungkin karena dirinya sadar sebagai penjaga kuburan, maka sengaja menyeramkanatau mengumuhkan diri. Biar disegani sekaligus ditakuti para peziarah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Sehat, Pak Pak Tarno?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sebuah sapaan ramah menyentuh telinga Pak Tarno. Pak Ustadz!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Eh, Pak Ustadz. Alhamdulillah. Berkat doa Pak Ustadz."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz dan Pak Tarno kemudian duduk di bebatuan dekat makam. Seperti biasa mereka bicara ngalor ngidul. Seperti tak ada habisnya. Kadang Pak Tarno yang bertanya, Pak Ustadz menjawab. Kadang Pak Ustadz yang bertanya, Pak Tarno yang menjawab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Oh, jadi setua gini, Pak Tarno masih menyimpan cita-cita?" Canda Pak Ustadz yang dibarengi dengan senyum menggoda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Tarno tersipu malu. Mulutnya sedikit membuka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Tapi, aneh juga ya, apakah orang tua tidak boleh bercita-cita? Tentu saja boleh dan bahkan harus. Selama tubuh masih bernafas, kita mesti memiliki cita-cita. Hidup Pak Tarno!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz tetap menggoda Pak Tarno.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Cita-cita Pak Tarno apa memang?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Tarno tak menjawab. Mulutnya tertutup rapat. Ia hanya menunduk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Lho kok jadi diam..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Tarno hanya memainkan tongkatnya yang mengorek-orek rumput. Bibirnya terkatup rapat. Suasana senyap. Sepi. Namun, tiba-tiba Pak Tarno bersuara lirih. Amat lirih. Pak Ustadz seolah tidak mendengarnya. Tapi, suara Pak Tarno lama kelamaan terdengar jelas. Amat jelas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Saya hanya memiliki sedikit cita-cita. Itupun banyak yang tidak bisa saya capai. Tapi, untuk yang ini saya berusaha mencapainya. Dengan sekuat tenaga. Dengan sekukuh daya. Saya tidak tahu lagi jika cita-cita inipun tidak mampu saya wujudkan. Mungkin saya akan menjadi orang yang paling menyesal seumur hidup."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Memang sekarang ini cita-cita Pak Tarno apa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Tarno mendongakkan wajahnya. Ia menatap Pak Ustadz tajam. Katanya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Mati dalam keadaan tidak merepotkan. Mati dalam keadaan tidak menyedihkan. Mati dalam keadaan tidak memalukan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz terkejut. Dadanya bergetar mendengar suara Pak Tarno. Tubuhnya merinding. Kali ini ia mendapatkan pelajaran yang sangat dalam dari Pak Tarno, seorang kuncen, sahabatnya itu. * * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-4332604632942739098?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/4332604632942739098/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=4332604632942739098' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4332604632942739098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4332604632942739098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/06/cita-cita-sang-kuncen.html' title='CITA-CITA SANG KUNCEN'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-4686987727521811022</id><published>2010-04-27T10:05:00.010+07:00</published><updated>2010-04-27T14:10:53.646+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang CINTA'/><title type='text'>MUNAFIK CINTA</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mata Pak Ustadz mengerjap-ngerjap. Mulutnya kadang tersenyum, kadang diam membisu. Sendirian. Di ruang tengah. Ia asyik mendengarkan celoteh dua perempuan yang berada di ruang tamu. Istrinya sendiri dan Wanti, sahabat istrinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Benar! Aku tak bisa melupakan dia. Setiap saat dia datang dalam mimpiku. Wajahnya, perawakannya, candanya. Semuanya. Aku tidak tahu kenapa Tuhan tidak pernah menyatukan aku dengannya...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Suara Wanti terdengar sendu. Istri Pak Ustadz terkekeh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Kamu kira aku bercanda?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Wanti mengeras. Ia tidak senang suara hatinya ditertawakan orang lain, sekalipun itu sahabatnya sendiri. Ia tak mau dirinya menjadi bahan olok-olokan dari masalah yang tengah dihadapinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Maaf... Maaf. Aku tidak bermaksud demikian. Benar, aku sama sekali tidak ingin mentertawakanmu. Sekali lagi aku minta maaf."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Istri Pak Ustadz merasa bersalah. Senyumannya yang terasa sedikit nyinyir hanyalah karena ia memang tak kuasa menahan tawa di hatinya mendengar curahan hati Wanti, sahabatnya itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;Mosok&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;, sudah menikah hampir delapan tahun dan beranak satu masih saja tak bisa melupakan kekasih yang dulu. Aneh, tapi unik. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Mungkin dari hatimu yang paling dalam sebenarnya kau tidak terlalu mencintai suamimu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Oh, tidak! Tidak! " potong Wanti cepat. " Aku sangat mencintainya. Dia seorang suami yang penuh pengertian bagiku. Ayah yang baik bagi anakku. Pria yang tulus bagi keluargaku."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Lalu, kenapa kamu begitu susah untuk melupakan kekasihmu yang dulu itu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Itulah... Kenapa aku datang ke sini. Karena aku butuh nasihatmu. Aku tersiksa dengan hal ini."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Istri Pak Ustadz terdiam. Hatinya tercenung. Ia tidak menyangka Wanti yang terlihat begitu bahagia dengan suaminya itu ternyata menyimpan derita. Derita masa lalu yang tidak mampu ia kubur. Derita tentang cinta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Aku merasa berdosa terhadap semuanya. Aku seolah orang yang paling munafik di dunia ini. Aku telah menyimpan dua orang terkasih dalam satu hati."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Istri Pak Ustadz melihat rona merah di wajah Wanti. Sembab. Seolah menahan diri dari tangis. Istri Pak Ustadz ingin berkata banyak, tapi ia sendiri bingung apa yang mesti diungkapkannya. Sebab, ini masalah hati. Sebab, ini masalah perasaan. Sebab, ini masalah cinta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Hilangkan pikiran tentang kebaikannya. Munculkan keburukan-keburukannya. Moga ini dapat menghilangkan mantan kekasihmu itu dari hatimu...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Istri Pak Ustadz terbebas dari beban. Ia merasa senang telah memberikan jalan keluar yang -menurutnya- terbaik. Namun, ucapan Wanti membuat istri Pak Ustadz terkejut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Itu semua sudah aku lakukan. Aku gagal...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Di ruang tengah, Pak Ustadz terpekur. Pikirannya melayang ke Surat Al Baqarah ayat 216.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat berguna bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah jawaban itu sebenarnya?* * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-4686987727521811022?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/4686987727521811022/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=4686987727521811022' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4686987727521811022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4686987727521811022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/04/munafik-cinta.html' title='MUNAFIK CINTA'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-5085813721330508943</id><published>2010-04-26T09:10:00.002+07:00</published><updated>2010-04-26T11:54:22.401+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang IBADAH'/><title type='text'>CERAI? SETAN PASTI TERTAWA!</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz mendampingi sepupunya di Kantor Pengadilan Agama (PA). Bukan mendampingi! Karena lebih tepatnya menasehati. Pak Ustadz berusaha mencegah saudara sepupunya itu mengajukan gugatan cerai terhadap istrinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sejak sebelum sampai di Kantor PA Pak Ustadz sudah menganjurkan. Hentikan! Hentikan upayamu untuk menggugat cerai istrimu! Namun, mulut Pak Ustadz rasanya sudah berbusa-busa tanpa hasil. Sepupunya tetap berniat menceraikan istrinya yang telah memberinya seorang anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Apa sebenarnya yang membuatmu ingin menceraikan istrimu?" tanya Pak Ustadz kepada saudara sepupunya itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sepupunya tak mau menjawab. Ia hanya diam. Lalu lalang orang di kantor PA seolah membuat sepupu Pak Ustadz itu malas bicara. Tapi, itu tak lama. Semenit kemudian muncul suara saudara sepupu Pak Ustadz itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Yah... karena memang sudah tak ada kecocokan lagi."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Oh, jadi kalau sudah nggak cocok cerai, begitu. Iya? Enak banget ya...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sepupu Pak Ustadz itu terdiam, tak menjawab. Matanya lurus menatap ke depan. Kosong. Omelan Pak Ustadz seperti mengenai benar sudut hatinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kalau setiap ketidakcocokan dalam pernikahan lalu diselesaikan dengan perceraian, betapa bodohnya orang yang melakukan pernikahan itu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sepupu Pak Ustadz bergetar. Hatinya tersentil. Perih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Coba kamu pikir. Apakah Tuhan menciptakan manusia dalam bentuk yang sama? Tentu tidakkan. Nah, kalau kita sadar bahwa kita tidak sama, kenapa kita memaksa orang lain, bahkan yang paling dekat dengan kita sekalipun, untuk selalu sama dengan kita? Bukankah Tuhan sekalipun, sang penguasa alam, tidak pernah memaksa makhluknya untuk tunduk dan patuh kepada diri-Nya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sepupu Pak Ustadz kini menunduk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Sama, seragam, cocok sejatinya malah membuat pernikahan menjadi hambar. Ia kehilangan kekuatan dan keindahannya. Pernikahan menjadi indah karena adanya perbedaan, ketidakcocokan. Bukankah taman yang indah karena di sana ada mawar, melati, matahari?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz sengaja menumpahkan perkataannya. Ia sadar, inilah waktu terakhir yang bisa ia gunakan untuk mencegah sepupunya itu memasukkan gugatan cerai di Kantor PA.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz terdiam sesaat. Tangannya menyentuh pundak saudara sepupunya itu. Katanya kemudian. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kau tahu, siapa yang paling senang dengan perceraian yang hendak kamu lakukan ini?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Saudara sepupu Pak Ustadz mendongak. Matanya menatap mata Pak Ustadz. Ia menggelengkan kepalanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Setan!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sepupu Pak Ustadz terkejut sejenak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Jika kamu ingin menjadi musuh setan, batalkan gugatan itu. Tapi, bila kamu ingin bersahabat dengan setan, teruskan gugatan perceraianmu itu." * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-5085813721330508943?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/5085813721330508943/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=5085813721330508943' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/5085813721330508943'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/5085813721330508943'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/04/cerai-setan-pasti-tertawa.html' title='CERAI? SETAN PASTI TERTAWA!'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-335239241374510489</id><published>2010-04-23T09:20:00.005+07:00</published><updated>2010-04-23T13:08:12.936+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AMAL'/><title type='text'>NARAPIDANA</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz menyambangi rumah bercat biru. Rumah yang sederhana. Tak ada kesan mewah pada rumah itu. Tapi, tidak untuk penghuninya. Sudah seminggu lebih puluhan orang mengunjunginya. Tentu pertanda, kalau penghuninya cukup istimewa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Namun, siapa pemiliknya? Pak Agus, pemilik rumah bercat biru itu. Orang yang sangat biasa. Sederhana dan jujur, lembut dan baik hati. Tapi, gara-gara sebuah perkara, ia mesti rela memasrahkan tubuhnya di jeruji besi. Selama 3 tahun. Kini, Pak Agus telah bebas. Ia kembali ke tengah-tengah keluarga dan masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Sehat, Pak Agus?" sapa Pak Ustadz sambil memeluk Pak Agus. Pak Agus membalasnya dengan senyum tulus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Alhamdulillah.... Berkat doa Pak Ustadz."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mereka berdua duduk di ruang depan. Secangkir teh hangat dan suguhan pisang goreng menemani pertemuan keduanya. Pak Ustadz dan Pak Agus ngobrol &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;ngalor-ngidul&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Eposide ini jadi pelajaran yang sangat penting, ya Pak Agus?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Sangat penting, Pak Ustadz. Dulu, saya tidak terlalu paham apa yang seharusnya saya raih dalam hidup. Di penjara, saya kini jadi tahu apa yang semestinya saya cari. Hanya ada tiga. Cukup tiga saja. Dan kini saya sedang mencoba belajar meraihnya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Apa itu Pak Agus?" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz sedikit penasaran. Mukanya memerah. Tak sabar ingin segera mendapat penjelasan dari Pak Agus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Pertama, ikhlas. Karena, hanya sikap ikhlas yang membuat setiap amalan yang kita lakukan menjadi nikmat, ringan, dan tidak melelahkan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz mengangguk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Kedua, istiqomah. Sebab, cuma istiqomah yang mampu mengantarkan kita untuk bersikap tegak dan lurus pada jalan Allah pada setiap waktu dan tempat."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz manggut-manggut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Lalu, yang ketiga apa Pak Agus?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Agus terdiam. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan Pak Ustadz. Matanya menerawang. Menerobos jendela rumah. Entah memikirkan apa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Yang ketiga, Pak Agus?" ulang Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Saya hanya ingin mengakhiri hidup ini dengan khusnul khotimah. Mati dalam keadaan sebagus-bagusnya orang mati. Karena, hanya mati yang seperti ini yang membuat manusia menjadi mulia di mata Allah dan Rasulnya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz memandang mata Pak Agus. Ia melihat air jernih di mata Pak Agus. Bersih. Mengambang. Pak Ustadz tak ingin berkedip. Ia tahu, ia kini telah mendapat pelajaran yang sangat berharga dari Pak Agus, mantan narapidana itu. * * *       &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-335239241374510489?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/335239241374510489/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=335239241374510489' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/335239241374510489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/335239241374510489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/04/ikhlas-istiqomah-dan-khusnul-khotimah.html' title='NARAPIDANA'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-6988213959820064201</id><published>2010-04-05T12:52:00.009+07:00</published><updated>2010-04-05T14:36:03.784+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>TAK ADAKAH KEHORMATAN DALAM PERNIAGAAN?</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;Pak Ustadz termangu. Matanya sedikit nanar. Ia takjub melihat ratusan orang antre berdesak-desakan. Peluh dan rasa lelah seperti tak dihiraukan orang-orang itu. Pendaftaran PNS. Ah, maklum mereka semua masih muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan hati Pak Ustadz untuk bertemu dengan temannya yang bekerja di sebuah departemen seketika diurungkan. Antre itu begitu menarik perhatiannya. Mata Pak Ustadz menengok ke kanan-kiri. Alhamdulillah, batin Pak Ustadz. Ia melihat sebuah kursi yang kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, ibu. Kursi ini kosong?" tanya Pak Ustadz kepada seorang ibu setengah tua yang duduk di samping kursi yang hendak diduduki Pak Ustadz.  Ibu itu sedikit terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, kosong, Pak. Silakan... Silakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz meletakkan tubuhnya pada kursi bersandar. Badannya diluruskan. Sejenak rasa lelah dan pegal hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ikut mendaftar PNS, Pak?" tanya ibu itu ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, nggak, bu. Nggak. Saya hendak bertemu dengan teman saya yang bekerja di sini. Kami janjian. Sudah lama kami tidak bertemu, " jawab Pak Ustadz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu itu mengangguk.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau Ibu, ada urusan apa di sini?" Pak Ustadz balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya mengantar anak. Mau mendaftar PNS. Itu anak saya, laki-laki. Yang pakai baju biru celana hitam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Pak Ustadz mengikuti telunjuk ibu itu. Ia melihat seorang pemuda berambut ikal, berpakaian rapi, dan berkulit bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya ingin ia diterima. Saya berharap ia bisa menjunjung tinggi harkat dan martabat orang tua. Nama keluarga kami pasti akan terangkat jika ia diterima sebagai PNS."  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz manggut-manggut mendengar harapan ibu itu. Hatinya terdera rasa penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasti keluarga ibu PNS..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, tidak. Tidak ada, " potong ibu itu. "Bahkan tidak ada satupun keluarga kami yang PNS. Kami semua wiraswasta tulen. Kami memiliki beberapa pabrik yang cukup buat kami makan dan hidup."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz tidak terkejut dengan jawaban ibu itu karena penampilan ibu itu memang menunjukkan kalau ia orang berada. Tapi, Pak Ustadz terkejut dengan kehendak ibu itu terhadap anaknya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu, kenapa ibu ingin anak ibu lulus PNS?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu itu tersenyum. Agak nyinyir. Pak Ustadz jengah. Ia merasa jika pertanyaannya disalahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena kami ingin ia menduduki jabatan yang tinggi. Dengan jabatan itu kedudukan, juga martabat dan kehormatan akan ia dapat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah wiraswasta yang selama ini keluarga ibu jalankan tidak mendatangkan kedudukan, kehormatan, dan martabat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu itu kembali tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau Bapak seorang wiraswasta pasti Bapak tidak akan bertanya seperti itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz tergeragap. Pikirannya berputar-putar. Bingung. Baru kali ini Pak Ustadz merasakan kebingungan yang luar biasa. Bagaimana mungkin rezeki perniagaan yang begitu dianjurkan oleh Nabi untuk direngkuh, ternyata malah begitu disepelekan oleh umatnya. Apakah rezeki dan kedudukan PNS lebih berharga dibanding rezeki dan kedudukan perniagaan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mari Pak, anak saya sudah selesai." * * * &lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-6988213959820064201?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/6988213959820064201/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=6988213959820064201' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6988213959820064201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6988213959820064201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/04/tak-adakah-kehormatan-dalam-perniagaan.html' title='TAK ADAKAH KEHORMATAN DALAM PERNIAGAAN?'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-619193080797863203</id><published>2010-03-30T08:48:00.003+07:00</published><updated>2010-03-30T10:05:27.698+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>BAKSO RASA BASMALAH</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz duduk pada bangku kayu di depan rumah. Sore itu, sehabis ashar. Matanya sedari tadi bergerak ke sana ke mari. Sedikit gelisah. Pak Ustadz menunggu sesuatu. Ia menunggu Kang Sabar, penjual bakso yang setiap hari melintas di depan rumahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Alhamdulillah.... Akhirnya datang juga!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Mulut Pak Ustadz bergumam lirih. Bibirnya menyungging senyum. Dari jauh telinga Pak Ustadz mendengar suara sendok yang diketukkan ke mangkok. Ting! Ting! Ting! Bakso Kang Sabar. Bakso yang dirindukan oleh hampir semua warga di kampung Pak Ustadz tinggal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tidak terlalu beda, begitu banyak orang berkata setiap kali melihat bakso Kang Sabar tersedia di mangkok putih. Mie campur bihun, sayur cesim, daun seledri, bawang merah goreng, kecap, saus, dan bola bakso. Tapi, jangan ditanya soal rasa. Bakso semangkok Rp. 5000 itu telah menjungkir-balikkan nalar orang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Enak! Enak sekali!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Wah, ini sih nggak kalah dengan bakso yang mangkal."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Hebat. Bagaimana cara bikinnya ya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz adalah salah seorang yang tergoda dengan bakso Kang Sabar. Syukur, Kang Sabar bukan tipe penjual bakso yang pelit menularkan resepnya. Di hadapan Pak Ustadz, ia memberikan pengetahuan cara membuat bakso agar memiliki rasa seperti bakso dagangannya. Tak ada yang ditutup-tutupi. Semuanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sayang, Pak Ustadz memang bukan Kang Sabar. Tangan, lidah, dan keterampilan Pak Ustadz berbeda dengan Kang Sabar. Sesudah bolak-balik mencoba hingga puluhan kali, Pak Ustadz mengambil kesimpulan bahwa bakso buatannya tak pernah mampu menandingi rasa bakso Kang Sabar yang gurih, kenyal, dan enak.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kang, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;"&gt;kok&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt; bakso yang aku buat tetap beda ya. Padahal semua petunjuk Kang Sabar sudah aku praktikkan. Tak ada yang kurang," keluh Pak Ustadz sesaat sesudah Kang Sabar berhenti di hadapannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kang Sabar tersenyum. Sedikit malu. Keluhan Pak Ustadz, baginya lebih mirip pujian. Dada Kang Sabar berdesir. Bangga. Namun, Kang Sabar tak mau jumawa. Ia berusaha mengikisnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Waduh, saya juga nggak tahu, Pak Ustadz. Wong semua cara dan resep sudah saya tularkan." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Hayo, jangan-jangan ada yang Kang Sabar sembunyikan..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz mencoba bercanda. Mulutnya menggoda. Tapi, candaan Pak Ustadz ternyata membuat Kang Sabar terdiam. Tak bicara. Sepi. Nyenyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok diam, Kang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Sabar tergeragap. Ia kini tahu jawabannya. Mulutnya tersenyum. Matanya sedikit nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tahu, Pak Ustadz, kenapa rasa bakso itu berbeda..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa, Kang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena pada setiap memulai pembuatan bakso, saya tak pernah lupa mengawalinya dengan ucapan basmalah dan doa, sedangkan Pak Ustadz mungkin melupakannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz terkejut. Matanya sedikit terbelalak. Halah! Kok ucapan mulia itu dibawa-bawa dalam urusan bakso?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, Pak Ustadz. Dagang bakso pekerjaan utama saya, bukan sampingan. Saya tidak bisa main-main. Karena itu, dalam setiap doa, saya berucap. Ya, Allah, berikanlah kemudahan yang semudah-mudahnya kepada saya jika bakso ini bermanfaat bagi orang lain. Namun, berikanlah kesulitan yang sesulit-sulitnya bila bakso ini tidak bermanfaat bagi orang lain. Begitu Pak Ustadz."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, begitu. Tapi, ah, mungkin benar kata Kang Sabar. Aku menyepelekan pekerjaan itu sehingga aku melupakan ucapan Basmalah dan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Diam-diam Pak Ustadz tersenyum. Gembira. Walau dalam hati.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;* * * &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-619193080797863203?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/619193080797863203/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=619193080797863203' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/619193080797863203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/619193080797863203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/03/bakso-rasa-basmalah.html' title='BAKSO RASA BASMALAH'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-1140167324278145573</id><published>2010-03-23T09:14:00.005+07:00</published><updated>2010-03-23T10:31:51.680+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AKHLAK'/><title type='text'>ROKOK? BUKAN MAKRUH ATAU HARAM!</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz sudah hampir mencapai taraf bosan. Ia sudah tidak mau lagi bicara. Tapi, kali ini ia datang lagi. Dengan soal yang lagi-lagi sama. Bang Tata! Rokok! Sepertinya, ucapan dan ketegasan Pak Ustadz beberapa hari yang lalu tidak menyurutkan Bang Tata untuk kembali menemuinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Maaf, Pak Ustadz. Terpaksa saya datang lagi...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz hanya mesem. Bagi Pak Ustadz, datangnya Bang Tata ibarat mendapat kiriman durian busuk. Mabuk, memabukkan. Mual, memualkan. Lidah Pak Ustadz sudah kaku. Perut Pak Ustadz ingin muntah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Namun, Bang Tata memang orang yang tidak tahu. Juga tidak mau tahu. Sikap Pak Ustadz yang ogah-ogahan tidak membuatnya keder, apalagi mundur. Ia tetap kekeueh untuk menemui Pak Ustadz. Urusan Pak Ustadz jengah dan malas adalah urusan Pak Ustadz sendiri, bukan urusannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Pak Ustadz, sebagai umat muslim, saya ingin meminta ketegasan. Rokok itu sebenarnya makruh apa haram?" tanya Bang Tata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sadar, percakapan dirinya dengan Bang Tata beberapa waktu lalu ternyata sama sekali tidak membekas. Bang Tata tetap bingung dan kebingungan dengan persoalan rokok.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Memang apa pentingnya kalau rokok itu haram atau makruh..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Oh, sangat erat, Pak Ustadz, "potong Bang Tata. " Kalau haram, saya pasti berhenti merokok. Tapi, kalau hanya sekadar makruh, saya akan terus merokok." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tidak percaya dengan ucapan Bang Tata. Pengalaman dirinya bertemu dan berbicara dengan para pecandu rokok, label makhruh dan haram tidak terlalu bermakna bagi mereka. Apalagi jika mereka berkilah bahwa sepanjang ayat Al Qur'an tidak mengharamkan rokok, maka tidak pada tempatnya jika ada ulama atau organisasi keagamaan mengharamkan rokok.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ah, apa untungnya bicara rokok itu makruh atau haram? Dari dulu saya tidak pernah bersepakat. Tidak ada untungnya. Sebab jika kita berbicara tentang label makruh atau haram, yang terjadi pasti pro dan kontra. Ini tidak sehat bagi umat muslim, "terang Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Lho...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kali ini Bang Tata melongo. Ia kaget mendengar pernyataan Pak Ustadz. Juga bingung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Makanya saya tidak pernah menyebut rokok itu makruh, apalagi haram. Sebab, dua kata itu pasti akan berujung pada dua kata yang lain. Pahala atau dosa. Saya menghindari itu semua."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bibir Bang Tata menyungging. Ia serasa mendapat pembelaan. Ia merasa menang. Tapi, Pak Ustadz ternyata belum berhenti berbicara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Saya lebih senang menggunakan kata manfaat atau mudharat. Kalau dipandang dari segi apapun rokok ternyata bermanfaat, ya silakan merokok. Tapi, kalau dipandang dari segi kesehatan, sosial, ekonomi, ternyata rokok mengandung lebih banyak mudharat, ya tinggalkan saja." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bang Tata manggut-manggut. Paham.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Alhamdulillah.... Terima kasih, Pak Ustadz. Berarti merokok tidak berdosakan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tersenyum. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Saya tidak tahu, Bang Tata. Tapi, kata Nabi, salah satu ciri orang beriman ialah ia mampu meninggalkan sesuatu pekerjaan yang tidak bermanfaat."  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bang Tata paham ke arah mana ucapan Pak Ustadz. Bang Tata menggigit bibir. Perih.* * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-1140167324278145573?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/1140167324278145573/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=1140167324278145573' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1140167324278145573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1140167324278145573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/03/rokok-bukan-makruh-atau-haram.html' title='ROKOK? BUKAN MAKRUH ATAU HARAM!'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-1375103983000337923</id><published>2010-03-18T10:34:00.009+07:00</published><updated>2010-03-18T14:25:12.433+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AMAL'/><title type='text'>LATIHAN JIHAD</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hati Pak Ustadz menjerit keras. Kumandang azan isya tidak membuat beberapa anak muda tergerak masuk ke masjid. Padahal, jamaah masjid sudah mulai penuh. Sholat Isya sebentar lagi dimulai.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak muda itu tetap memilih duduk-duduk santai. Mereka asyik ngobrol, ngalor ngidul. Suara gitar dan tawa cekikikan turut meramaikan. Suasana sangat gaduh. Asap rokok yang  mengudara seolah menari-nari di atas kepala mereka.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamaah masjid mulai gelisah. Mereka diterkam ragu. Bila iqamat dilantunkan, pasti sholat isya jauh dari khusu'. Namun, bila tidak disegerakan iqamat, kapan sholat isya dimulai. Menunggu mereka bubar? Tidak mungkin.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz menengok ke belakang. Ia memandang beberapa anak muda yang duduk di pojok masjid. Ada lima anak muda di situ. Mereka berpeci semua. Pak Ustadz tahu siapa saja mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Salah satu di antara kalian. Keluar. Peringatkan teman-temanmu yang di luar itu agar berhenti bermain gitar. Kalau bisa, ajak mereka ke masjid dan sholat."&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima anak muda itu terkejut mendengar perintah Pak Ustadz. Mereka saling berpandangan. Masing-masing tidak tahu harus bertindak apa. Mereka ragu. Mereka merasa sungkan. Mereka tak bergerak.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo! Kenapa kalian diam saja. Apa kalian tidak mendengar perintahku? Tegur mereka.  Suruh mereka sholat berjamaah." &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak muda berpeci itu tak juga beranjak pergi. Mereka malah main tunjuk dan main dorong. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo, kamu saja!"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak ah. Kamu saja."&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita sama-sama saja, yuk!"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak bisa. Aku nggak enak."&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz menggeleng-gelengkan kepala melihat anak-anak muda yang berpeci itu. Ia berdiri dan berjalan menuju ke arah mereka. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kalian semua ini. Takut? Sungkan? Merasa tidak enak?"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak muda berpeci itu hanya diam. Muka mereka menunduk. Mereka memilih dimarahi Pak Ustadz dibanding memenuhi permintaan Pak Ustadz untuk menegur para pemuda yang bermain gitar di luar masjid.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aneh kalian semua! Bagaimana mungkin kalian pergi ke medan jihad di Palestina, Irak, atau Afghanistan jika hanya untuk sekadar menegur mereka yang bermain gitar di dekat masjid saja kalian tidak berani! Payah!" &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz kecewa. Benar-benar kecewa. Ia langsung pergi setelah menumpahkan kejengkelannya.  Ia sangat kecewa dengan anak-anak muda yang aktif di masjid. Mereka taat, tapi kurang memiliki keberanian. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dalam masjid, para jamaah melihat Pak Ustadz berbicara dengan para pemuda yang  bermain gitar. Para pemuda menyingkir setelah Pak Ustadz menegurnya. * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-1375103983000337923?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/1375103983000337923/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=1375103983000337923' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1375103983000337923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1375103983000337923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/03/latihan-jihad.html' title='LATIHAN JIHAD'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-7328714662631668369</id><published>2010-03-18T09:00:00.005+07:00</published><updated>2010-03-18T10:05:41.225+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang TUBUH'/><title type='text'>MANTRA SAKTI 40 HARI</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Telepon di rumah Pak Ustadz berdering nyaring. Sehabis subuh. Kala Pak Ustadz masih asyik menyimak huruf demi huruf yang tertera dalam lembaran kitab suci, Al Qur'an. Sedikit tersentak, Pak Ustadz menyentuh gagang telepon. Ia mengangkatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ucapan salam terulur dari bibir Pak Ustadz. Lalu, pujian syukur meluncur setelah tahu bahwa suara di seberang adalah adiknya. Firman, adik lelaki Pak Ustadz yang paling kecil, si bungsu. Anak kesayangan ibu Pak Ustadz yang sudah tiada.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Jadi, istrimu sudah melahirkan? Kapan? Laki-laki apa perempuan? Sehatkan? Masih di rumah sakit sekarang? Anakmu bagaimana?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz membombardir Firman dengan pertanyaan-pertanyaan yang diselingi semburat kebahagiaan. Wajar karena Firman memang adik yang paling dekat dengan dirinya. Wajar karena Firman sudah menunggu kedatangan anaknya lebih dari dua tahun. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dari seberang, Firman menjelaskan secara panjang lebar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Iya, Mas. Kemarin melahirkannya. Laki-laki. Alhamdulillah, ibu dan bayinya sehat. Sekarang di rumah. Dokter sudah memperbolehkan pulang. Sudah dua hari tiba di rumah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tersenyum. Wajahnya ikut memancarkan kebahagiaan. Pesannya kemudian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Jangan lupa aqiqah, ya Firman. Ingat, itu sebagai wujud syukur atas kelahiran anakmu. Semoga dengan aqiqah itu doa dan kehendakmu atas anakmu untuk menjadi manusia yang soleh bisa terwujud."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Terima kasih, Mas. Insya Allah. Tapi, mungkin tidak segera. Mertuaku meminta di hari ke-40 aqiqah baru bisa dilaksanakan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz terkejut mendengar penjelasan Firman. Batinnya berdesir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Lho? Kok hari ke-40? Kata siapa itu? Aqiqah itu mesti dilaksanakan hari ketujuh atau hari keempatbelas. Bukan hari ke-40. Keliru itu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Firman tergeragap. Di telepon suaranya seperti ditelan ragu. Bingung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Iya, Mas. Aku sudah jelaskan ke mertua. Tapi, mereka ngotot. Harus hari ke-40. Bahkan anakku juga tak boleh keluar rumah sebelum hari ke-40 tiba. Rambut dipotongnya pas hari ke-40. Istriku tak boleh memotong kuku kalau belum melewati hari ke-40."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz coba mengerti.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Firman menahan napas. Pak Ustadz mendengar dengan jelas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Aku tak bisa menentang....." Lirih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz kini tahu posisi Firman, adiknya itu. Hatinya menyesalkan. Bukankah aku sudah mengingatkan agar kamu jangan mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Kenapa? Karena mata, telinga, dan hati; kesemuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya kelak.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tercenung. Sendirian. Pelan-pelan ia menutup teleponnya. * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-7328714662631668369?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/7328714662631668369/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=7328714662631668369' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/7328714662631668369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/7328714662631668369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/03/mantra-sakti-40-hari.html' title='MANTRA SAKTI 40 HARI'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-6607916873657924980</id><published>2010-03-11T08:41:00.009+07:00</published><updated>2010-03-18T08:40:10.483+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang TUBUH'/><title type='text'>ROKOK? TANYAKAN SAJA KEPADA NURANIMU!</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Pak Ustadz, ini fatwa yang nggak bener. Fatwa ini tidak menenteramkan, tapi justru membuat umat resah. Apa sebelumnya mereka tidak berpikir saat mengeluarkan fatwa?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Suara Bang Tata keras menghunjam. Hari Minggu. Pagi itu, saat secara kebetulan Pak Ustadz yang sedang berolahraga bertemu Bang Tata di jalan. Pak Ustadz hanya tersenyum. Diam. Ia membiarkan Bang Tata berbicara dari sudut hatinya yang paling dalam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Pak Ustadz, fatwa seperti ini akan membuat para petani tembakau menjerit. Buruh di pabrik berteriak. Pengusaha memberontak. Pemerintah kehilangan dana dari cukai. Saya yakin, fatwa ini tidak akan pernah dihormati, apalagi ditaati umatnya!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tetap menyimak suara Bang Tata. Ia bahkan membiarkan Bang Tata pasang aksi. Mengambil rokok dari kantong, menyulut dengan korek api, dan menghisapnya dalam-dalam. Asap mulai menyelimuti sekelilingnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Contohnya saya, Pak Ustadz. Saya mewakili suara para perokok. Saya pasti tidak akan pernah berhenti merokok. Ada atau tidaknya fatwa itu saya tetap merokok. Saya tidak peduli dengan fatwa rokok!"    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bang Tata terus berbicara. Asap rokok dan suara kerasnya bergantian keluar dari bibirnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Pak Ustadz, apa yang terjadi kalau umat sudah tidak lagi mau mendengar ulama?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz diam tak menjawab. Ia hanya memperhatikan jemari Bang Tata yang lincah mempermainkan batangan rokok. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Kacau! Pasti kacau! Makanya semestinya para ulama atau organisasi keagamaan berpikir dahulu sebelum mengeluarkan fatwa. Telaah dari berbagai macam segi. Jangan hanya emosi sesaat!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Suara Bang Tata bergulir seirama air. Terus mengalir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Kalau sudah begini siapa yang susah. Semuanya!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kali ini sepi. Tiba-tiba. Suara Bang Tata menghilang. Pak Ustadz membiarkan Bang Tata bermain-main dengan rokoknya. Pak Ustadz sama sekali tak bersuara. Ia tak berusaha untuk menanggapi Bang Tata. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Pak Ustadz, bukankah kalau rokok itu haram berarti yang merokok berdosa? Lalu, bagaimana semestinya saya bersikap?"  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Lirih. Hampir tak terdengar. Ada nada kekhawatiran, lebih lagi ketakutan. Pak Ustadz hampir-hampir tak bisa menahan ketawa. Bagaimana mungkin sebongkah batu yang keras hanya sepersekian detik kemudian lalu meluruh?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz sungguh mengasihani. Bang Tata, ya Bang Tata kini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Rokok soal kecil, Bang. Jangan tanya saya. Tanyakan saja kepada nurani Abang. Karena nurani tak mungkin bisa berbohong, apalagi menipu..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz melangkah, meneruskan lari paginya. Bang Tata termangu. * * *&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-6607916873657924980?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/6607916873657924980/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=6607916873657924980' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6607916873657924980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6607916873657924980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/03/rokok-tanyakan-saja-kepada-hatimu.html' title='ROKOK? TANYAKAN SAJA KEPADA NURANIMU!'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-5188296562314021154</id><published>2010-03-09T09:14:00.007+07:00</published><updated>2010-03-11T08:26:48.884+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang IBADAH'/><title type='text'>SELEKSI MUJAHID</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hari Jumat, ba'da ashar. Ah, selalu saja muncul kegelisahan pada setiap waktu itu dalam diri Pak Ustadz. Bukan kegelisahan sebenarnya, tapi lebih mirip kemalasan. Entah, kenapa. Pak Ustadz sendiri kadang bingung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz sudah berusaha mengusirnya. Keras. Dengan segala macam cara. Tapi, rasa malas itu muncul lagi dan muncul lagi. Susah untuk ditahan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Hari ini mengisi di Masjid Attaubah, Abi?" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Suara istri Pak Ustadz muncul dari balik pintu dapur. Secangkir teh hangat terhidang di depan Pak Ustadz. Teh itu tidak sendirian. Pisang goreng yang juga masih hangat ikut menemani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tak menyentuh. Teh dan pisang goreng itu dibiarkan saja. Mata Pak Ustadz lebih senang terarah ke langit-langit rumah. Putih. Tapi,  pada beberapa bagian sudah mulai menghitam, tanda air hujan telah menggerusnya. Keropos.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Istri Pak Ustadz langsung duduk di sampingnya. Tak bersuara juga. Hanya menatap wajah suaminya. Ruang dapur menjadi terasa senyap. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Malas ke Masjid Attaubah....."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz menghela napas. Ucapan istrinya menohok perasaannya. Sakit. Menyakitkan. Tapi, benar. Amat benar. Pak Ustadz tidak pernah bisa membantah perkataan istrinya  bila sudah menyangkut Masjid Attaubah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Setiap kali mendengar Masjid Attaubah Pak Ustadz merasa bak orang kalah. Ia serasa gagal menjadikan jamaah masjid itu membludak. Setiap ia datang dan memberi kajian, yang datang hanya segelintir. Orang-orangnya juga itu-itu saja. Pak Ustadz sudah sampai taraf bosan dan putus asa berdakwah di Masjid Attaubah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Apa sebaiknya aku tinggalkan saja ya?" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Istri Pak Ustadz terkejut mendengar ucapan suaminya. Seumur-umur baru kali ini suaminya berniat meninggalkan medan dakwah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Lho, kenapa Abi tinggalkan?!" cetus istri Pak Ustadz agak keras. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Bukankah Masjid Attaubah merupakan bukti bahwa Allah sangat mengasihi Abi? Justru di Masjid Attaubah Allah telah memenuhi janjinya bahwa ia tidak meninggalkan Abi jika Abi tetap lurus dalam berdakwah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Maksud Umi?" tanya Pak Ustadz kebingungan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Di Masjid Attaubah, Abi tidak perlu lagi menyeleksi mana yang calon mujahid dakwah, mana yang bukan. Allah yang langsung menyeleksinya dari jumlah yang banyak. Jamaah yang sedikit adalah pilihan Allah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz terkesiap mendengar ucapan istrinya. Ia menyimak kata-kata istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Beda dengan di masjid lain. Jamaah membludak. Tapi, Abi tidak tahu mana yang calon mujahid dakwah, mana yang bukan. Abi bahkan kebingungan menyeleksinya karena terlalu banyak dan kerap berganti-ganti..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz mengangguk. Ia membenarkan ucapan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;istrinya. Ah, kenapa aku harus meninggalkan medan dakwah hanya karena jamaahnya sedikit? * * * &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-5188296562314021154?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/5188296562314021154/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=5188296562314021154' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/5188296562314021154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/5188296562314021154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/03/seleksi-mujahid.html' title='SELEKSI MUJAHID'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-6673821092373844743</id><published>2010-03-09T07:54:00.002+07:00</published><updated>2010-03-09T09:11:22.760+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AKHLAK'/><title type='text'>BUKAN PUNCAK IMAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Mata Pak Ustadz terpana. Ribuan perasaan berkecamuk. Bahagia, senang, terharu. Di depannya berdiri seorang gadis berkerudung putih. Manis, manis sekali. Pak Ustadz terkesiap beberapa detik untuk kemudian tersadarkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Umi! Ini Danti?! Benar Danti?!" seru Pak Ustadz tertahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Istri Pak Ustadz senyum-senyum. Ia seperti membiarkan suaminya didera keraguan. Bingung. Hayo, siapa? Tebak sendiri! bantinnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Benarkan, Danti?" kembali Pak Ustadz meyakinkan dirinya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kalau bukan Danti, siapa? Apa orang lain?"  goda istri Pak Ustadz. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Jadi benar, ini Danti?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Istri Pak Ustadz kini mengangguk. Di sampingnya, gadis menjelang dewasa itu hanya tersenyum. Parasnya menampakkan sedikit malu. Namun, hatinya tidak bisa membohongi kalau dirinya sangat bahagia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Alhamdulillah.... Kamu sepertinya sudah berubah sekarang!" cetus Pak Ustadz tak mampu menyembunyikan rasa senangnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Danti tersipu-sipu mendengar ucapan Pak Ustadz. Baginya, ucapan itu tak berbeda dengan pujian. Benar, pujian. Pujian terhadap dirinya. Wajah Danti memerah. Perasaannya seolah menuju puncak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz ingat benar siapa Danti. Ia adalah salah satu keponakan istrinya. Dari beberapa perempuan keponakan istrinya, Danti terbilang "istimewa". Ia gadis yang paling susah diatur. Kemauannya keras dan tak mudah ditaklukkan. Ibu dan ayahnya, bahkan sudah angkat tangan terhadap Danti. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pikiran Danti aneh-aneh. Meski perempuan, ia tidak suka dibatasi. Hidup Danti adalah hidupnya sendiri. Maka pulang malam sudah sangat biasa bagi Danti. Merokok tidak asing baginya. Gonta-ganti kekasih pernah dilakoninya.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Hobi Danti ngeband. Tidak dengan perempuan, tetapi dengan laki-laki. Kata Danti, ngeband dengan laki-laki lebih asyik. Keras, lugas, dan bebas.  Karena hobinya itu, sekolah Danti amburadul. Ia pernah tidak naik kelas gara-gara hobinya itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kini, Pak Ustadz seperti kehilangan kata-kata berdiri di hadapan Danti yang lain. Danti yang berjilbab. Danti yang berperilaku lembut. Lalu, ke mana Danti yang dulu itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Paman, Danti ingin mengaji di sini. Danti ingin menambah ilmu agama yang selama ini tidak Danti miliki. Danti berharap, Paman dan Bibi mau sedikit memberi pengetahuan kepada Danti, " harap Danti sambil tertunduk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz manggut-manggut. Hatinya mengucap syukur. Allah telah menunjukkan jalan-Nya. Pak Ustadz yakin, Danti sudah berubah. Jilbab yang dikenakannya adalah bukti. Tak hanya berjilbab, Danti bahkan bersemangat untuk terus mengaji.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Danti, jilbab yang kamu kenakan bukanlah sebuah puncak keimanan. Justru dengan mengenakan jilbab, kamu dituntut untuk menambah wawasan dan pengetahuanmu. Jadi, jangan berhenti dengan jilbab!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Danti manggut-manggut mendengar ucapan Pak Ustadz. Ucapan itu seakan menebalkan hatinya untuk terus melangkah pada keyakinannya yang baru. * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-6673821092373844743?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/6673821092373844743/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=6673821092373844743' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6673821092373844743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6673821092373844743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/03/bukan-puncak-iman.html' title='BUKAN PUNCAK IMAN'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-4710252352944444222</id><published>2010-02-10T09:00:00.005+07:00</published><updated>2010-03-11T08:36:53.831+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AKHLAK'/><title type='text'>MUEEZA</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz terjebak macet. Mobil angkot yang ditumpanginya tiba-tiba berhenti. Tanpa sebab. Mobil itu tak bergerak sama sekali. Diam. Hanya suara mesin yang menderu. Suara mesin itu bersahut-sahutan dengan suara mesin mobil yang lain. Bising. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Para penumpang gelisah. Sinar matahari siang yang menghunjam ke tubuh terasa benar. Panas. Keringat mengucur deras. Dari sela-sela kulit mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Huuuh... Kenapa sih! Nggak jalan-jalan ini mobil. Sudah panas, macet lagi."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Seorang ibu berkerudung mengeluh. Para penumpang lain tersenyum. Kecut. Mereka tak mungkin menghilangkan keluhan sang ibu. Maka yang keluar kemudian adalah keluhan yang bersahut-sahutan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Mobil mogok mungkin..." cetus seorang pemuda berpakaian rapi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Sepertinya bukan. Kalau mobil mogok, pasti mobil ini bergerak ke samping. Ini nggak kok.." lontar gadis berpakaian mini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Apa tabrakan ya? Tapi, kalau tabrakan, jalanan di depan kok sepi-sepi saja," tukas seorang bapak berkaca mata tebal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz diam termangu. Ia melihat ke depan. Alhamdulillah... Mobil-mobil sudah bergerak. Meski sangat lambat. Tapi, tidak lama. Mobil yang Pak Ustadz tumpangi mulai berjalan normal. Mata para penumpang bergerak liar. Mereka mencari penyebab kemacetan yang sesaat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Wow....Anak kucing!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Seekor anak kucing berbulu indah menyeberangi jalan. Tertatih-tatih. Matanya menyorot jenaka. Pada mata yang menyapanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Pantas macet. Kucing....dilawan. Mana berani. Mobil pasti memilih berhenti demi memberikan jalan buat sang kucing."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tersedak oleh percakapan di angkot. Benaknya tiba-tiba berpikir keras. Kenapa ya orang-orang sangat menghormati keberadaan seekor kucing? Bahkan orang yang menabrak kucing di jalan kerap terpengaruh bayangan buruk bila tidak menolong dan merawatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mueeza! Ah, ya pasti ini gara-gara Mueeza! Mueeza, kucing peliharaan Nabi agung, Muhammad!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara Mueeza, Nabi mewartakan kepada para sahabatnya agar menyayangi kucing seperti menyayangi keluarganya sendiri. Gara-gara Mueeza pula Nabi mengancam umatnya dengan api neraka bila mereka menyengsarakan kucing yang berdiam di rumahnya. * * *  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-4710252352944444222?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/4710252352944444222/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=4710252352944444222' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4710252352944444222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4710252352944444222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/02/mueeza.html' title='MUEEZA'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-5912214177123319710</id><published>2010-02-09T10:56:00.003+07:00</published><updated>2010-02-09T14:07:25.473+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AMAL'/><title type='text'>PINTU HARTA</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Selalu saja ada perasaan tidak enak di hati Pak Ustadz bila berkunjung ke rumah itu. Entah kenapa. Dirinya juga tidak pernah bisa paham. Pernah Pak Ustadz berusaha memetakan. Tapi, selalu gagal. Ia merasa bukan itu jawabannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Apakah karena harta? Ah, tidak. Meski kaya, dia tidak lebih kaya daripada orang-orang yang dikenal Pak Ustadz. Apakah karena sikap sombong? Juga tidak. Dia malah tergolong orang yang amat rendah hati. Apakah karena dia tidak menghormati dirinya? Salah besar. Dia sangat hormat kepada dirinya. Apalagi dia terbilang keponakan Pak Ustadz dari garis istrinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ayo, masuk! Kok malah diam saja," suara istri Pak Ustadz berdesing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Langkah Pak Ustadz tertahan. Kedua kakinya seperti ada yang memegangnya. Keras. Pak Ustadz tak bisa melangkah. Rumah mewah dan mentereng yang ada di depannya tak juga dimasuki.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Hei, ayo! Masa mau berdiri di depan rumah," kembali desingan suara istrinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Umi masuk saja dulu. Nanti Abi menyusul...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Istri Pak Ustadz cemberut. Mukanya ditekuk. Ia tidak suka melihat suaminya seperti itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;"&gt;Mosok&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt; berkunjung ke rumah orang masuk duluan dan meninggalkan suaminya di luar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ayolah Abi...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz tetap tak bergerak. Ia hanya memandang kosong. Namun, tak lama. Tiba-tiba matanya diarahkan ke wajah istrinya. Tanpa berkedip. Istri Pak Ustadz menjadi jengah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kok Abi seperti itu. Kenapa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz terdiam sesaat. Lalu, bibirnya berucap lirih. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Aku bukannya tidak suka bersilaturahim ke sini. Tapi, aku takut bila terlalu sering ke sini, kamu akan lupa."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Istri Pak Ustadz bergetar. Mungkin benar, sebab ia memang sangat suka bila berada di rumah keponakannya itu. Segalanya ada. Rumahnya mewah. Sejuk karena ber-AC. Kursinya empuk. Super mewah.  Makanan semua ada. Tersedia. Lengkap. Tak pernah kekurangan. Mobil siap mengantar untuk cari hiburan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kau tahukan Umi, keberadaan harta di mata Allah? Jika haram ia akan menjadi azab. Kalaupun halal ia akan dihisab. Dan sungguh berat orang yang diberi amanah berupa harta. Sebab, harta memiliki dua pintu. Cara mendapatkannya ia akan ditanya, cara menggunakannya pun ia ditanya...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Istri Pak Ustadz mengangguk. Lemah. Ajaib! Pak Ustadz kini bisa melangkah. * * *        &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-5912214177123319710?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/5912214177123319710/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=5912214177123319710' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/5912214177123319710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/5912214177123319710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/02/pintu-harta.html' title='PINTU HARTA'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-1711078486533927567</id><published>2010-02-09T09:29:00.003+07:00</published><updated>2010-02-09T10:34:26.734+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>DAKWAH SENDIRIAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ia segan untuk berkumpul. Ia lebih senang sendirian. Tepatnya menyendiri. Wafa, sarjana ilmu Islam yang baru lulus dari sebuah sekolah tinggi. Entah kenapa. Teman-temannya yang suka berjamaah bareng di masjid juga tidak tahu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sehabis sholat berjamaah atau acara lain di masjid Wafa langsung bergerak pergi. Pulang atau sekadar jalan-jalan. Ia tidak pernah tampak bergaul dengan pemuda sebaya. Hidupnya seolah kesendirian. Temannya adalah kesendirian. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz tahu potensi Wafa. Maka ia bergerak menjejeri langkah Wafa sesudah selesai sholat Isya berjamaah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kok langsung pulang, Wafa? Nggak kumpul dulu sama teman-teman di masjid. Siapa tahu ada yang bisa dibicarakan demi kemajuan masjid kita itu, " kata Pak Ustadz sedikit berharap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Wafa tersenyum. Ia tidak menanggapi ucapan Pak Ustadz. Ada sedikit rasa jengah di sudut hatinya. Tentu terhadap Pak Ustadz. Buat apa tanya-tanya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;"&gt;beginian&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt; segala?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ayolah... Mereka semua perlu gagasan-gagasan segar darimu. Saya yakin kalau kamu bergabung, dakwah di lingkungan kita akan lebih semarak."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Wafa tetap tidak mau membuka suara. Mulutnya terkunci. Hatinya mulai sedikit kesal. Ia tahu apa yang mesti dilakukannya. Bergaul dengan mereka? Ah, bukan itu yang dicari Wafa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Wafa butuh gagasan-gagasan segar demi persemaian intelektualnya. Ia merasa mandeg kala bergaul dengan teman-teman yang ada di masjid. Ia seperti menjadi kuper alias kurang pergaulan. Masjid di kampungnya ternyata sangat berbeda dengan masjid di kampusnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Saya pikir, ilmu yang baru saja kamu dapat di kampus bisa kamu amalkan di sini. Juga pengalaman-pengalaman kamu saat berorganisasi. Ajarkan kepada mereka-mereka itu. Siapa tahu wawasan dan pengetahuan teman-teman akan terbuka lebar."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Wafa sudah tidak mau lagi mendengar suara Pak Ustadz. Hatinya kecut. Masam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Maaf, Pak Ustadz. Jujur, saya tidak memerlukan mereka. Kalaupun hendak berdakwah pasti akan saya lakukan sendirian. Saya lebih nyaman bila sendirian...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz terpana. Ia tidak menyangka bila Wafa bisa berucap seperti itu. Ia berhenti berjalan. Namun, langkahnya tak beriringan lagi dengan Wafa yang bergerak cepat meninggalkannya. Pak Ustadz hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Hatinya bergumam lirih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Musa butuh Harun. Muhammad perlu Abubakar, Umar, dan yang lainnya. Tapi, kenapa umatnya lebih suka sendirian dalam berdakwah. Aneh!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Di sudut yang lain, hati Pak Ustadz bersikap. Pasti lagi ada apa-apa. * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-1711078486533927567?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/1711078486533927567/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=1711078486533927567' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1711078486533927567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1711078486533927567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/02/dakwah-sendirian.html' title='DAKWAH SENDIRIAN'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-7888060479894444543</id><published>2010-02-08T09:46:00.003+07:00</published><updated>2010-02-08T11:14:04.491+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AMAL'/><title type='text'>AMAL SESAK</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Lelaki itu datang begitu tiba-tiba. Tepat di depan Pak Ustadz yang sedang membersihkan halaman rumahnya. Bruk! Buntalan karung menghunjam ke tanah. Pak Ustadz terkejut. Tapi, Pak Ustadz lebih terkejut lagi saat orang itu berkata ramah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ini untuk Pak Ustadz. Hasil panen kebun di belakang rumah. Talas, Pak Ustadz."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz bingung. Ia tidak mengenal lelaki itu. Sudah sepuh. Mungkin lebih dari enampuluh tahun. Tampak kumal. Bajunya sobek di sana-sini. Badannya juga kotor, penuh dengan lumpur tanah yang sudah kering.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ini untuk saya?" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Iya, Pak Ustadz. Ini semua untuk Bapak. Saya baru saja panen, tiba-tiba ingat Pak Ustadz. Ya sudah talas ini langsung saya bawa ke sini."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz tetap bingung. Tapi, ia seperti tidak percaya. Ah, masa sih talas sebanyak ini buat aku seorang? Sungguh betapa baiknya orang ini kalau demikian? Benarkah untukku seorang? Namun, tidak adakah keinginan orang ini untuk mengambil "sesuatu" dariku?  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz sedikit curiga. Hatinya berdesir. Ia lalu tersadar kembali. Ya Allah, jauhkan hambamu ini dari sifat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;"&gt;suudzon&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt; kepada makhlukmu!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Tapi, kok sebanyak ini. Buat apa saya diberi talas sebanyak ini?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Orang tua itu tersenyum. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Talas ini memang buat Pak Ustadz. Semuanya. Tapi, tolong pinjami saya uang limapuluh ribu rupiah. Anak saya besok mau sunat. Saya masih kekurangan uang untuk biayanya...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Orang tua itu berucap dengan wajah memelas. Wajah ramahnya menghilang. Sesekali gurat kesedihan muncul dari mukanya. Pak Ustadz tergetar. Pak Ustadz memandang wajah orang tua itu. Ah, sungguh pribadi yang patut dikasihani.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz bergegas masuk ke dalam. Uang limapuluh ribu rupiah segera berpindah tangan dari Pak Ustadz ke orang tua itu. Orang tua itu tersenyum bahagia. Pak Ustadz lebih-lebih lagi. Ia bersyukur dapat menolong orang yang sedang kesusahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Insya Allah, besok uang ini akan saya kembalikan...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz mengangguk perlahan. Ia memandang dengan kebahagiaan penuh saat orang tua itu menghilang dari pandangannya. Pak Ustadz melanjutkannya kesibukannya. Tiba-tiba....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Pak Ustadz! Pak Ustadz!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz mendongakkan wajahnya. Amir, pemuda yang aktif di remaja masjid. Berlari-lari kecil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Tadi ada orang tua bawa karung ke sini?" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Iya. Nih, karungnya. Bawa talas banyak banget buat saya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Lalu, dia bilang apa sama Pak Ustadz?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz terdiam. Ia tidak ingin bicara. Takut amalan kebajikan berbuah riya'. Namun, melihat wajah Amir yang seperti merajuk membuat Pak Ustadz berucap jujur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Orang tua itu pinjam uang sama saya. Besok dia mau mengembalikan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ah, Pak Ustadz tertipu, "kata Amir. "Orang itu sudah ke sana ke sini menipu orang. Ini saya lagi mengejar orang itu. Sudah ya Pak Ustadz...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz melongo. Ia tidak tahu apakah yang dilakukan terhadap orang tua itu masuk kategori amal yang ikhlas atau bukan saat menyadari bahwa dadanya terasa sesak. * * * &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-7888060479894444543?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/7888060479894444543/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=7888060479894444543' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/7888060479894444543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/7888060479894444543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/02/amal-sesak.html' title='AMAL SESAK'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-7045091623624400917</id><published>2010-02-03T10:37:00.007+07:00</published><updated>2010-02-03T13:53:49.763+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AMAL'/><title type='text'>AMALAN TERMUDAH</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mobil yang ditumpangi Pak Ustadz terus melaju kencang. Jalanan yang naik turun seperti tak berpengaruh. Pak Ustadz, Pak Waqi, dan Turino sebagai sopir seolah amat menikmati perjalanannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mereka bertiga hendak melihat tanah di sebuah kampung. Pak Waqi yang wiraswasta sukses mengajak Pak Ustadz untuk ikut. Pak Waqi sudah punya rencana. Ia ingin membeli tanah itu untuk dijadikan yayasan sosial. Pak Ustadz dimintanya terlibat langsung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Saya berharap Pak Ustadz benar-benar terlibat. Tidak hanya ikut nyumbang pikiran dari belakang....." harap Pak Waqi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tersenyum mendengar ucapan Pak Waqi. Katanya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Insya Allah. Apabila berjodoh saya pasti bersedia. Tapi, kalau Allah tidak membuat saya berjodoh tentu saya tidak mungkin terlibat. Moga-moga saja harapan Bapak terkabul."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Saya yakin, Pak Ustadz pasti berjodoh. Sebab hanya Pak Ustadz seorang yang ada dalam bayangan saya untuk menangani, memimpin, dan mengelola yayasan yang hendak saya bangun nanti."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz kembali tersenyum. Ia tidak menanggapinya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Suasana hening.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Turino gelisah. Ia menangkap senyap. Sunyi. Kelam. Hanya hembusan dingin yang menyelinap ke tubuhnya. Perlahan-lahan tangan kirinya mengambil dan mengeluarkannya. Ia menyentuh tape yang di mobil. Klik!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dari dalam mobil terdengar musik. Keras. Sangat keras. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;House music&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;! Turino tertawa gembira. Bahagia. Reflek, kepalanya langsung bergoyang-goyang mengikuti irama. Ia menikmati betul suasananya. Pak Waqi tersenyum, coba memaklumi. Tapi, tidak dengan Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Telinga Pak Ustadz benar-benar terasa sakit. Suara musik yang keluar dari tape mobil itu seperti menghantam bilik-bilik jantungnya. Dugh! Dugh! Hatinya berusaha  memaklumi. Namun, semakin lama memaklumi, dadanya semakin sakit. Pak Ustadz sudah tak tahan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Mas Turino, saya punya kaset. Bagus banget nih. Kemarin saya dengarkan di rumah. Semua senang, " cetus Pak Ustadz sambil menyerahkan kaset itu kepada Turino.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Turino menerima kaset dari Pak Ustadz. Ia tak kuasa untuk menolak. Ia tahu diri. Ia segera mengganti kaset yang ada di tape. Dari tape kini muncul suara dari langit. Mengalun. Syahdu. Murotal. Bacaan ayat-ayat Al Qur'an. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Turino terdiam. Pak Waqi biasa saja. Pak Ustadz tersenyum bahagia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Allah memberi kita banyak kenikmatan. Uang, mobil, dan bahkan tape ini. Maka mari kita rayakan kenikmatan ini dengan amal yang paling mudah. Mendengarkan murotal." * * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-7045091623624400917?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/7045091623624400917/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=7045091623624400917' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/7045091623624400917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/7045091623624400917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/02/amal-termudah.html' title='AMALAN TERMUDAH'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-4393407218565360887</id><published>2010-01-29T10:25:00.007+07:00</published><updated>2010-01-29T14:39:28.686+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AMAL'/><title type='text'>MUSIBAH PALING BESAR</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bersama para warga, Pak Ustadz sibuk membetulkan beberapa rumah yang roboh. Siang itu, setelah semalam rumah-rumah mereka dihajar angin ribut yang marah. Atap melayang. Genteng amblas. Bangunan jebol. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Capek Pak Ustadz?" tanya Mang Sudin kepada Pak Ustadz yang terlihat menyingkir dan duduk di sebongkah batu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz tak menjawab. Bibirnya hanya membalas dengan senyuman. Pak Sudin yang usianya sudah melewati enampuluh ikut duduk. Mereka asyik memandang para warga yang seperti tak kenal lelah berusaha membetulkan sisa-sisa "bencana" semalam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Untung tidak terlalu gede anginnya ya Pak Ustadz...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Iya. Alhamdulillah... Masih bisa kita atasi sendiri musibah ini."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz menyeka keringat yang mengalir deras. Napasnya sedikit ngos-ngosan. Kepayahan. Sejak semalam ia memang belum beristirahat. Musibah angin ribut itu telah menyita waktu dan perhatiannya. Juga tenaganya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Musibah yang tidak disangka-sangka. Semua penduduk! Karena mereka sedang lelap menuju mimpi. Siapa nyana, pukul duabelas malam angin datang bak pasukan tempur. Gemuruh. Mengerikan. Untung tidak lama. Namun, waktu yang tidak lama tetap membuat para warga berteriak-teriak ketakutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ini musibah paling besar yang terjadi di kampung kita ya Pak Ustadz?" tanya Mang Sudin meminta persetujuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz tersenyum. Mang Sudin senang. Tapi, Mang Sudin lalu kebingungan melihat Pak Ustadz menggelengkan kepalanya sambil bergumam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Bukan. Ini bukan musibah paling besar..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Lho, memang ada musibah yang paling besar dibanding ini?" tanya Mang Sudin terheran-heran. Mulutnya melongo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ada."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Musibah apa, Pak Ustadz?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Musibah paling besar pada diri manusia adalah hilangnya kekuatan ilmu dan amal pada dirinya. Jika keduanya hilang, orang akan menderita kerugian yang paling besar, tanpa bisa menggantinya..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Mang Sudin terpana mendengar ucapan Pak Ustadz. Ia sedang merenungi maksudnya. Tapi, ia seolah tak kuasa. Mulutnya hendak berucap, tapi Pak Ustadz telah mendahuluinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ayo, kita kerja lagi Mang!" * * *   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-4393407218565360887?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/4393407218565360887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=4393407218565360887' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4393407218565360887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4393407218565360887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/01/musibah-paling-besar.html' title='MUSIBAH PALING BESAR'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-3950026099950277868</id><published>2010-01-06T15:46:00.008+07:00</published><updated>2010-01-07T11:09:48.542+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang CINTA'/><title type='text'>HANYA TUKANG BACA DOA</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz masih duduk di kursinya. Diam. Wajahnya termangu. Gundah. Ia belum beranjak pergi. Padahal pakaiannya sudah terlihat rapi. Celana dan bajunya putih bersih. Kopiah putih nyantel di kepala.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Lho, kok Abi belum juga pergi...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sang istri menyapa lembut. Perempuan berparas ayu itu lalu duduk di hadapannya. Ia menatap mesra suaminya. Pak Ustadz tak tergoda. Pak Ustadz tetap menampakkan wajah gundah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Abi, kenapa belum pergi? Kasihan lho Pak Agus sudah menunggu. Kalau Abi nggak ada di sana nanti siapa yang akan bertugas menggantikan Abi di acara syukuran itu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tetap diam. Matanya memandang ke luar. Mulutnya lalu bergerak lirih, seperti melepas kegundahan hatinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Umi, aku sebenarnya agak malas pergi ke acaranya Pak Agus. Soalnya dari dulu ya seperti itu. Nggak ada yang lain. Aku hanya diminta baca doa, selesai lalu pulang."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Lho, Abi nggak kasih ceramah di situ?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz menggelengkan kepalanya. Selalu begitu bila ada acara di tempat Pak Agus. Acara ceramah keagamaan tidak diperlukan di rumah Pak Agus yang mewah. Dari Pak Ustadz, Pak Agus hanya memerlukan doa penutup. Doa yang dianggapnya paling makbul. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz paham siapa Pak Agus. Ia jauh dari Islam. Sangat jarang Pak Agus ikut dalam kegiatan pengajian warga. Pak Agus juga jarang terlihat di masjid, bahkan hari Jum'at sekalipun. Pak Agus lebih suka merayakan pesta-pesta di rumahnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Agus memang orang terpandang. Di kantornya, karirnya moncer. Prinsipnya, tunduk patuh sama atasan adalah kunci kesuksesan. Loyalitas total! Tidak ada yang lain. Kerja keras, kerja sama, atau rajin hanyalah pendukung.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Jadi, Abi mau berangkat tidak?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Sepertinya tidak....," jawab Pak Ustadz sedikit gamang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Kenapa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Abi tidak mungkin datang ke tempat orang yang hanya tunduk dan patuh kepada atasan, tapi tidak pernah tunduk dan patuh kepada atasan yang sesungguhnya, yakni Allah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Istri Pak Ustadz terkejut. Selama hidup berdampingan sebagai suami-istri, rasanya tidak pernah Pak Ustadz mengeluarkan kata-kata keras seperti itu. Baru kali ini ia berkata seperti itu. Keras. Tegas. Sedikit menyakitkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Istri Pak Ustadz memandang lembut. Bibirnya menyunggingkan senyum. Katanya kemudian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Abi, berangkatlah. Allah sudah menunggu Abi untuk mengucapkan kata-kata pujian dari mulut Abi....." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz terpana. Dadanya bergetar. * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-3950026099950277868?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/3950026099950277868/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=3950026099950277868' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/3950026099950277868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/3950026099950277868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2010/01/hanya-tukang-baca-doa.html' title='HANYA TUKANG BACA DOA'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-5838610755601537702</id><published>2009-12-28T10:03:00.008+07:00</published><updated>2010-01-07T11:11:24.639+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>MANAJEMEN KELUARGA</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Rumah yang sederhana. Rumah yang terpencil. Pada sebuah kampung di pinggiran desa. Selalu saja Pak Ustadz merasa mendapatkan banyak ilmu ketika datang dan bersilaturahim ke rumah kediamannya. Mbah Rahmat, lelaki yang renta, tapi terlihat masih sehat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mbah Rahmat bukan siapa-siapa. Ia hanya orang biasa. Pekerjaan sehari-harinya bertani. Namun, jangan ditanya kesibukannya. Setiap hari ia seperti tak kenal lelah menerima tamu yang hilir mudik datang ke rumahnya. Pagi, siang, sore, malam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mbah Rahmat bukan petani sembarangan. Keluasan ilmunya melampaui masalah padi, musim panen, atau hama wereng. Tak bisa disangkal, semua yang ada pada diri Mbah Rahmat memang menunjukkan bahwa dia pribadi yang mumpuni. Wajahnya tenang. Bicaranya tertata. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Sehatkan, Mbah.... "&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ya, beginilah Pak Ustadz. Sehatnya orang tua. Selalu saja ada masalah yang membuat badan ini mesti beristirahat. Tidak dipaksa."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pada sebuah bangku di bawah rindangnya pohon sawo, Pak Ustadz dan Mbah Rahmat saling bersapa. Akrab. Tak ada jarak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Jadi anak-anak pulang, Mbah?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ha..ha... Saya tidak tahu pasti. Tapi, biarlah mereka menentukan sendiri. Mau pulang, monggo. Tidak pulang ya tidak apa-apa. Mereka sudah punya kewajiban sendiri-sendiri. Tugas saya sudah selesai."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Mbah Rahmat nggak kangen?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Kangen? Oh, itu pasti. Karena mereka anak-anak yang hebat."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tersenyum mendengar ucapan terakhir Mbah Rahmat. Sebab ucapan itu adalah ucapan yang justru sering disuguhkan Pak Ustadz kepada Mbah Rahmat. Anak-anak Mbah Rahmat adalah anak-anak yang hebat! Sebab bagaimana tidak hebat bila delapan anak Mbah Rahmat semua jadi "orang penting". Ada yang jadi pejabat, wiraswasta, politisi, dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Apa Mbah dulu tidak repot mengurus anak begitu banyak. Saya dan istri saja kerepotan mengurus tiga anak."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ha...ha....ha...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Lagi-lagi Mbah Rahmat tertawa. Entah apa yang ditertawakan. Bagi Pak Ustadz, tertawa Mbah Rahmat seolah menyindir kemampuan dirinya dalam mengurus keluarga. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Rahasianya apa Mbah kok bisa ngurus anak banyak tanpa kerepotan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ah, bohong kalau ngurus anak tidak repot. Berapapun anak yang kita punyai kerepotan pasti akan datang. Cuma yang penting bagaimana mengurusnya..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Memang bagaimana cara Mbah dulu mengurusnya?" potong Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mbah Rahmat terdiam. Tapi, tangannya menyentuh Pak Ustadz supaya mendekat. Di telinga Pak Ustadz Mbah Rahmat berbisik. Lirih. Tak terdengar. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tertawa terbahak-bahak. Apa yang dibisikkan Mbah Rahmat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Mbah Rahmat, ia mengurus anak dengan manajemen keluarga ala Mbah Rahmat. Karena delapan anak, maka anak pertama bertanggung jawab menjaga anak kelima, anak kedua menjaga anak keenam, ketiga menjaga yang ketujuh, anak yang keempat menjaga yang kedelapan. * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-5838610755601537702?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/5838610755601537702/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=5838610755601537702' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/5838610755601537702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/5838610755601537702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/12/banyak-anak-banyak-pertolongan.html' title='MANAJEMEN KELUARGA'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-1547022169199900757</id><published>2009-11-25T12:15:00.003+07:00</published><updated>2009-11-25T14:23:52.887+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>SEPERTI MATAHARI</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ruangan Masjid Abubakar terasa panas. Pengap. Semua orang merasakannya. Mereka gerah. Keringatan. Padahal, malam itu udara sangat dingin. Angin berhembus keras, tanpa bisa dicegah oleh dinding-dinding masjid. Angin itu bahkan langsung menghantam tubuh-tubuh yang bersila.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pukul delapan. Sekitar 15 orang hadir. Campur aduk. Ada yang tua, ada pula yang muda. Ada yang pegawai negeri, ada pula yang swasta. Ketegangan sangat terasa. Tak hanya tegang, rasa marah seperti menerkam semua orang yang hadir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Masalahnya sepele. Malam itu mereka tengah membicarakan persoalan pergantian pengurus masjid. Suara mereka terpecah menjadi dua. Pertama, golongan muda. Kedua, golongan tua. Suara mereka sangat berbeda. Golongan tua berharap mereka dapat terpilih kembali, sebaliknya golongan tua berharap ada regenerasi.  Di tangan golongan tua, program masjid dinilainya mandeg. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Apakah akan kita lanjutkan rapat ini hingga muncul kesepakatan?" tanya Pak Ustadz yang hari itu memposisikan dirinya sebagai penasihat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Orang-orang saling berpandangan. Mereka seperti kebingungan menangkap maksud suara Pak Ustadz. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kita lanjutkan saja Pak Ustadz. Kalau bisa kita voting saja!" sergah Hanif yang dipersepsikan sebagai wakil golongan muda. Namun, suara Hanif terancam oleh usulan Pak Dadang yang tiba-tiba sudah bersuara keras.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Saya tidak setuju Pak Ustadz!" kata Pak Dadang sambil mengancungkan tangan. "Kita makhluk yang beradab. Tidak patut kita meminta voting sedangkan musyawarah saja masih terus kita usahakan. "&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Perkataan "makhluk beradab" membuat Hanif panas. Ia tidak menerima dirinya dituduh sebagai tidak beradab. Katanya kemudian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Voting bukan menunjukkan beradab dan tidaknya seseorang. Voting justru menunjukkan cakap dan tidaknya seseorang dalam mengelola masalah. Orang yang takut dengan voting sebenarnya orang yang lemah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kali ini gantian Pak Dadang yang panas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kamu memang tak punya sopan santun terhadap orang tua!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Hanif tak mau kalah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Bapak yang tidak menghargai suara orang muda!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kamu....!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Bapak....!" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz bertindak cepat. Ia tidak mau keributan terjadi di rumah Allah.  Ia langsung menghentikan pertikaian itu sebelum sampai muncul keributan yang lebih besar. Musyawarah dibubarkan. Ditunda. Semua orang bergegas pulang.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz menatap langit-langit masjid. Hari ini ia begitu kecewa. Ah, ternyata tidak mudah bersikap layaknya matahari saat berbicara tentang kedudukan atau jabatan. Matahari tahu kapan ia muncul, menyinari alam raya ini, untuk kemudian tenggelam. Sedangkan kita? * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-1547022169199900757?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/1547022169199900757/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=1547022169199900757' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1547022169199900757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1547022169199900757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/11/seperti-matahari.html' title='SEPERTI MATAHARI'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-6774090665663183420</id><published>2009-11-20T16:22:00.000+07:00</published><updated>2009-11-20T16:23:29.608+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AKHLAK'/><title type='text'>PENGEMIS ITU MEMBERI</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Nadia berlari-lari kecil menuju teras rumah. Tangannya menenteng pecahan uang seribuan. Matanya berbinar. Hatinya berbunga-bunga. Gadis yang manis, gadis yang solehah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tiba di depan pintu hatinya tertegun. Ini lagi! Ini lagi! Hatinya berontak. Wajahnya berubah kecut. Masam. Sangat tidak enak dilihat. Tapi, Nadia tak punya daya. Ia menyerahkan pecahan ribuan itu kepada si pengemis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dari jauh Pak Ustadz memperhatikan tingkah Nadia yang berubah. Setelah pengemis menghilang dari pandangan dan Nadia berbalik, Pak Ustadz bertanya lembut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Kenapa wajahmu, Nak. Kok tiba-tiba berubah kecut?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Nadia, gadis terkecil, putri Pak Ustadz mulanya tak mau menjawab. Namun, setelah ayahnya agak mendesak, ia akhirnya mau berbicara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Abi, Nadia &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;tuh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; kesel sama pengemis itu. Sering banget &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;deh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; ia ke sini. Kayaknya baru kemarin ia ke sini, eh sekarang sudah ke sini lagi...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Memang kalau ke sini terus kenapa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Lho, kan Abi sendiri yang sering bilang kalau 'memberi itu lebih baik daripada meminta'. Kalau pengemis itu terus-terusan ke sini, kapan pengemis itu punya waktu untuk memberi ke kita. Masa meminta terus?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tersenyum melihat ucapan Nadia. Dalam hatinya ia bersyukur Allah memberikan gadis yang cerdas kepadanya. Semoga ia menjadi anak yang sholehah, batin Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Nadia, pengemis itu juga memberi kepada kita. Setiap kedatangannya selalu memberi. Kita dan pengemis itu sebenarnya saling memberi."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Nadia tertegun. Ia bingung dengan ucapan ayahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Pengemis itu memberi....." gumam Nadia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ya benar! Pengemis itu memberi kesempatan kepada keluarga kita untuk memberikan sedikit rezeki yang kita punyai. Coba Nadia pikir, bagaimana kalau pengemis itu tidak datang ke sini? Kita jadi tidak memberi-kan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Nadia manggut-manggut &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;mendengar ucapan ayahnya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan ingat Nadia, tidak sedikit pengemis yang datang memberi doa kepada kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nadia kini tersenyum. Hatinya lega.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Anakku, "kata Pak Ustadz kemudian. "Setiap makhluk ciptaan Allah itu ditakdirkan untuk 'memberi'. Matahari memberi cahaya. Angin memberi hawa sejuk. Laut memberi ikan. Lebah memberi madu. Indahkan kalau kita memberi."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Nadia memeluk ayahnya. Ah, betapa bahagianya ia memiliki ayah yang baik hati. * * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-6774090665663183420?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/6774090665663183420/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=6774090665663183420' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6774090665663183420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6774090665663183420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/11/pengemis-itu-memberi_20.html' title='PENGEMIS ITU MEMBERI'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-1925868810897731372</id><published>2009-11-20T15:29:00.003+07:00</published><updated>2009-11-20T16:20:38.761+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>ILMU ITU CAHAYA ALLAH</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dua muda mudi itu tersipu malu. Mereka meninggalkan rumah Pak Ustadz dengan wajah bersemu merah. Tak mereka nyana, tak mereka kira. Keinginan untuk meminta nasihat malah membuat mereka menjadi tak nikmat.    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dari jauh Pak Ustadz termenung. Ia tak tahu mesti berbuat apa. Menangis? Tertawa? Sedih? Malu? Ah, muda-mudi sekarang memang umumnya begitu. Ingatan Pak Ustadz membayang beberapa menit yang lalu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dua muda-mudi bertamu di rumah Pak Ustadz. Mereka memperkenalkan diri sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Pak Ustadz tinggal. Si perjaka berwajah tampan, modis, dan terkesan anak orang berpunya. Si gadis berpakaian muslimah, sederhana, dan tampak cerdas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Mereka mengutarakan keresahannya. Kata si gadis itu, akhir-akhir ini dirinya merasakan hal yang aneh. Setiap ilmu yang diajarkan oleh dosennya tidak pernah bisa masuk ke otaknya. Setiap pengetahuan yang didapat dari buku yang dibacanya tidak mampu ia serap. Hilang begitu saja. Ilmu dan pengetahuan itu seperti lenyap tak berbekas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Akibatnya, nilai kuliahnya turun drastis. Tak hanya itu. Ia juga terancam tidak lagi mendapatkan beasiswa setiap semesternya dari sebuah Yayasan Islam. Padahal dulu-dulunya tidak seperti itu. Si gadis menginginkan otak dan daya ingatnya kembali seperti semula.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Jadi, apa yang Anda berdua inginkan dari saya?" tanya Pak Ustadz setelah mendengarkan kisah gadis itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dua muda mudi itu saling berpandangan. Mereka seolah bingung. Mereka tak tahu mesti berkata apa. Pak Ustadz mengerti keadaan. Katanya kemudian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Barangkali adik sedang punya masalah?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Oh, tidak, Pak Ustadz. Tidak."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Mungkin lagi sakit?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Tidak juga. Saya sehat selalu. "&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Mungkin tidak senang dengan dosen atau buku yang Adik baca?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Tidak, Pak Ustadz. Saya suka sekali dengan dosen-dosen di tempat saya kuliah. Buku-buku yang saya baca juga mengasyikkan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz termenung sejenak. Ia ikut bingung dengan kebingungan yang dialami dua muda-mudi itu. Namun, tiba-tiba tebersit pertanyaan di benak Pak Ustadz. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Maaf, adik berdua sudah menikah?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Muda-mudi itu terkejut. Mereka tak menyangka Pak Ustadz akan menanyakan seperti itu. Dengan malu-malu mereka menggelengkan kepalanya. Mereka berkata bahwa mereka adalah sepasang kekasih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz tersenyum. Ia kini tahu apa yang menjadi penyebabnya. Namun, Pak Ustadz tak tahu ia mesti mulai dari mana. Tiba-tiba saja sudah meluncur dari bibir Pak Ustadz kata-kata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Adik berdua, ilmu itu cahaya Allah. Dan cahaya Allah itu akan diberikan kepada orang-orang yang menjauhi maksiat. Jadi, kalau Adik berdua ingin pintar, cerdas, dan punya daya ingat tinggi, jauhilah maksiat...." * * * &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-1925868810897731372?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/1925868810897731372/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=1925868810897731372' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1925868810897731372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1925868810897731372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/11/ilmu-itu-cahaya-allah.html' title='ILMU ITU CAHAYA ALLAH'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-4316861792912105873</id><published>2009-11-15T04:49:00.006+07:00</published><updated>2009-11-15T06:58:34.184+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>HILANG MARAH, HILANG SETAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz berjalan agak tergesa-gesa. Ia takut terlambat. Sebentar lagi acara pengajian di masjid akan dimulai. Dari jauh ia melihat jalanan sudah sepi. Wah, pasti orang-orang sudah duduk rapi di masjid, batinnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Malam merambat naik. Di sebuah tikungan jalan, sebuah suara membuat langkah Pak Ustadz terhenti. Di kegelapan. Sejenak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Buru-buru amat, Pak Ustadz...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Usman dan Jamal, dua dedengkot kampung. Si&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;font-size:100%;" &gt; trouble maker&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;, pembuat keonaran. Mereka asyik duduk di bangku tepi jalan. Sebuah botol minuman tergeletak di samping mereka berdua. Pak Ustadz sudah menduga-duga. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Pak Ustadz aku mau nanya...." Jamal membuka suara. Nada bicaranya terdengar parau. Badannya agak limbung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Bagaimana &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;font-size:100%;" &gt;sih&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt; cara menghilangkan rasa marah?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz memandang tajam keduanya. Ia tahu, mereka sudah di ambang batas kesadaran. Air botol yang tergeletak di dekatnya adalah bukti. Tapi, Pak Ustadz tidak ingin menyakiti perasaan mereka berdua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ambil napas panjang. Begitu saja. Terus menerus," jawab Pak Ustadz sabar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kalau cara ini gagal, bagaimana Pak Ustadz?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kalian berdua tak usah banyak bicara. Diam saja. Insya Allah rasa marah kalian pelan-pelan akan hilang dengan sendirinya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Usman dan Jamal sepertinya tidak puas. Entah karena pengaruh minuman keras atau karena rasa ingin tahu yang berlebihan mereka kembali bertanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kalau dua cara ini juga gagal, bagaimana Pak Ustadz?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kalian bisa duduk-duduk sambil berdiam diri. Kemudian usahakan berbaring dengan santai sehingga syaraf-syaraf kita menjadi kendor."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz senang Jamal dan Usman sudah tidak lagi bicara. Namun, ia kecele. Rupanya, Usman belum puas juga. Bahkan bicaranya seperti tak terkontrol lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Nah, kalau cara ini juga gagal, rasa marah tetap saja masih ada, bagaimana Pak Ustadz?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz terdiam. Ia memperhatikan keduanya. Usman tak sabar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Bagaimana Pak Ustadz?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz berkata singkat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Bacalah taawuds. A'udubillahiminnassyaithonirrojim. Bismillahirrohmanirrohim."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Usman tak puas juga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Nah, kalau ini juga gagal. Saya marah terus-terusan, bagaimana?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz mulai hilang kesabarannya. Ia kini percaya, susah memang bicara dengan orang yang mabuk. Hilang sadarnya.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ambillah air dan berwudhulah. Kalau bisa segeralah sholat....."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Tapi, kalau ini gagal juga, terus saya bagaimana?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Usman tersenyum-senyum. Seperti mengejek. Pak Ustadz sudah hilang kesabarannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Berarti kalian telah menjadi setan!" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz berlalu dengan cepat. Usman dan Jamal terkejut. Tapi, hanya sesaat. Samar-samar Pak Ustadz mendengar Usman dan Jamal saling berceloteh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ha..ha... Kita setan! Setan! Ha...ha....!!!" * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-4316861792912105873?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/4316861792912105873/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=4316861792912105873' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4316861792912105873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4316861792912105873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/11/hilang-marah-hilang-setan.html' title='HILANG MARAH, HILANG SETAN'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-8289102641164854709</id><published>2009-11-14T07:07:00.003+07:00</published><updated>2009-11-14T08:04:06.556+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AKHLAK'/><title type='text'>AYO, SENYUMLAH!</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Pak Ustadz!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sebuah teriakan keras menyengat telinga Pak Ustadz. Sore itu, sehabis sholat asar. Pak Beni. Lelaki tegap yang mudah sekali tersenyum. Ramah. Ramah sekali. Semua orang tahu Pak Beni. Tahu, karena Pak Beni terkenal murah senyum dan ramah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ia berlari-lari dengan ketergesaan yang sungguh. Hampir terjatuh ia. Menyalami Pak Ustadz dengan kukuh dan memperlihatkan giginya yang putih teratur rapi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Pak Ustadz, bisakan nanti malam datang ke rumah saya? Oh ya, saya mau syukuran. Alhamdulillah, berkat doa restu Pak Ustadz dan warga di sini, saya terpilih menjadi ketua partai, "tutur Pak Beni. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ada kebahagiaan di wajah Pak Beni. Pak Ustadz tahu, Pak Beni aktif di salah satu partai politik yang ada di negeri ini. Kemarin Pak Ustadz memang mendengar Pak Beni mencalonkan dirinya sebagai ketua partai di tingkat kota. Syukur, kalau Pak Beni menang dan akhirnya terpilih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Itu cerita beberapa bulan yang lalu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kini, Pak Beni sudah muncul lagi di rumah Pak Ustadz dengan kebahagiaan serupa. Juga undangan yang serupa kepada Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Pak Ustadz, saya meminta Pak Ustadz hadir nanti malam di rumah saya. Saya mau syukuran..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Syukuran?! Syukuran apa, Pak Beni?" tanya Pak Ustadz sedikit kaget.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Alhamdulillah, berkat doa restu Pak Ustadz, juga seluruh warga di sini, saya terpilih menjadi anggota DPRD di kota kita ini..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz langsung berucap syukur. Ia menyalami Pak Beni kembali. Pak Ustadz senang ada salah seorang tetangganya yang kini menjadi wakil rakyat. Pak Ustadz berharap Pak Beni mampu menjalankan amanah yang dipikulnya itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Saya minta doanya saja Pak Ustadz. Moga-moga saya mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab yang berat ini. Saya berharap Pak Ustadz tidak berhenti mendoakan saya, " pinta Pak Beni beranjak pergi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz manggut-manggut. Ia yakin bila mau bekerja keras Pak Beni pasti akan mampu melaksanakan tanggung jawab itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Senyum terus terukir di bibir Pak Beni. Sepanjang jalan yang dilalui. Demi mengabarkan warta gembira ke setiap warga yang diundang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Jabatan telah mengundang Pak Beni untuk mendudukinya. Pak Beni senyum, Pak Beni teramat bahagia. Namun, dalam hati Pak Ustadz sebenarnya sangat merindukan senyuman Pak Beni yang lain. Ya, senyuman Pak Beni yang lain! Senyuman Pak Beni saat panggilan adzan memanggilnya. Bukan jabatan yang memanggil, tapi Allah yang memanggil!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kenapa demikian? Karena Pak Beni memang sulit sekali tersenyum ketika Allah memanggilnya. Ia bahkan kerap cemberut. Kapan ya Pak Beni mau tersenyum kepada panggilan Allah.... * * *&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-8289102641164854709?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/8289102641164854709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=8289102641164854709' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/8289102641164854709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/8289102641164854709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/11/ayo-senyumlah.html' title='AYO, SENYUMLAH!'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-2011416595161277370</id><published>2009-11-14T05:24:00.004+07:00</published><updated>2009-11-14T08:05:56.209+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AMAL'/><title type='text'>DIK, CUKUPLAH DIA JADI PENOLONGKU</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Ia serasa ingin menangis. Keras-keras. Biarlah seisi dunia, dan bahkan Allah sekalipun mendengarnya. Tidak apa-apa. Yang penting beban di dada lenyap tak berbekas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Duabelas tahun sudah ia menikah dengan istrinya, tapi segalanya masih saja tertatih-tatih. Tak ada kenyamanan, apalagi kenikmatan. Rumah megah dan mobil sangat jauh dari itu. Padahal anak sudah tiga. Baru kali ini Pak Ustadz merasa begitu bersalah. Bukan kepada siapa-siapa, melainkan kepada dirinya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mulanya hanya masalah sepele. Istri Pak Ustadz bercerita kalau Mak Iyem, tetangga sebelah baru membeli kulkas baru. Warnanya abu-abu, kulkas dua pintu. Kulkas itu dibeli setelah hampir tiga tahun ia tak membelinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Jangankan tiga tahun, kita malah tak punya sama sekali ya, Bi. Padahal Mak Iyem hanya jualan sayur-mayur di depan rumah, tapi kulkas terbeli."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tergetar. Meski pendek ucapan istrinya begitu menohok perasaannya. Perih.  Namun, Pak Ustadz tak menyahut. Ia asyik membaca deretan huruf pada sebuah buku yang baru beberapa hari dibelinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Yang lucu lagi, Mas Ribut. Setiap hari ia lewat di depan rumah kita. Ayam-ayam yang hendak dibawa ke pasar &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;nyantel&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; di motornya. Eh, beberapa tahun kemudian, motornya lenyap. Berganti dengan mobil bak yang penuh dengan ayam-ayam. Sukses juga Mas Ribut."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tergores. Sakit. Ada luka yang mulai menganga di hatinya. Ia tahu, istrinya sedang membanding-bandingkan kehidupan dirinya dengan orang lain. Entah sadar entah tidak. Ucapan itu telah melukai suaminya sebagai kepala keluarga, sang pencari nafkah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Nah, yang hebat tentu Pak Kamal. Ia bareng-bareng dengan kita sewaktu pertama kali pindah ke kampung ini. Malah duluan kita. Motornya butut seperti kita. Rumah ngontrak. Eh, sekarang. Rumah sudah terbeli, dibangun megah. Motor dua, mobil gonta-ganti. Pemborong sih...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz sudah tidak tahan lagi. Hatinya tersudut. Pada sebuah tempat yang membuat dirinya tak mampu bergerak, terjepit. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Dik, apakah kamu ingin semua itu? Kulkas, motor, rumah megah, mobil?!" tanya Pak Ustadz dengan bibir bergetar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Istri Pak Ustadz terperanjat. Ia sangat kaget dengan ucapan suaminya. Matanya langsung menyelidik. Ia melihat ada bayang-bayang wajah dirinya di bola mata suaminya. Genangan air mata! Pak Ustadz menangis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Istri Pak Ustadz terperanjat. Ia merasa bersalah. Ia sadar bahwa ucapan dirinya telah melukai perasaan suaminya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Dik, seandainya ada orang-orang yang mengajak engkau berlomba-lomba dalam kehidupan dunia, ajak dia supaya berlomba-lomba dalam kehidupan akhirat. Cukuplah Allah menjadi penolong kita," tutur Pak Ustadz dengan bibir yang masih bergetar.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz masuk ke kamar. Ia ingin sendiri. * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-2011416595161277370?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/2011416595161277370/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=2011416595161277370' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/2011416595161277370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/2011416595161277370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/11/dik-cukuplah-dia-jadi-penolongku.html' title='DIK, CUKUPLAH DIA JADI PENOLONGKU'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-103243075867745700</id><published>2009-11-10T15:13:00.006+07:00</published><updated>2009-11-10T16:08:16.715+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang CINTA'/><title type='text'>BANGGA DENGAN KEDURHAKAANNYA</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bunda Fifi tak kuasa menyembunyikan kesedihannya. Sepanjang jalan. Air matanya serasa tak terbendung. Mengalir terus. Jalan yang ditapakinya seolah basah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bunda Fifi masih saja tak percaya dengan kenyataan yang dialaminya. Seto, anak tunggalnya. Bertahun-tahun ia mengasuh dan mendidiknya. Tak lepas dari kasih sayang dan cinta kasih. Faktanya, Seto menjadi orang yang paling dicari. Kriminal. Kriminal akut!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mulanya, di usia SMP Seto sudah coba-coba merokok. Sembunyi-sembunyi. Di usia SMA ia sudah terang-terangan. Tanpa rasa takut. Di masa kuliah ia kecanduan narkoba. Akibatnya, kuliahnya berantakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ya Allah, jangan Engkau uji hambamu ini dengan ujian yang hamba tidak kuat menanggungnya..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kuliah berantakan Seto balik ke rumah. Namun, narkoba jalan terus. Kini, ia bahkan berani menipu ibunya sendiri. Bilangnya sudah sembuh, tapi semua harta di rumah diraupnya hingga habis. Tape, televisi, ponsel, motor, bahkan mobil peninggalan bapaknya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bunda Fifi tak mampu mencegah. Ia sudah tak berdaya. Bahkan ketika pada suatu hari beberapa orang polisi datang ke rumahnya. Mereka mencari Seto. Mereka menangkap Seto. Tak hanya dituduh terlibat sebagai pemakai narkoba, Seto juga disangka masuk dalam jaringan bisnis barang haram itu dan terlibat penipuan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ya Allah, apa hikmah di balik ini semua...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bunda Fifi telah mencap Seto sebagai anak durhaka. Ia sudah melupakan bahwa Seto pernah lahir dari rahimnya. Biarlah Seto menjadi urusan Tuhan semata, sang empunya sesungguhnya. Namun, haruskah kasih sayang ibu terus terbenam saat anaknya diberitakan pulang dan takut untuk menemuinya? Tidak! Tidak! Bunda Fifi memilih tidak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Di rumah Pak Ustadz. Bunda Fifi melihat Seto dengan perasaaan bercampur aduk. Rindu, dendam, sayang, benci. Ia tak mampu berkata-kata. Ia hanya berdiri mematung dengan tangis tak berhenti. Bahkan ketika anak yang dianggapnya durhaka itu memeluk dan bersujud di kakinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Bunda Fifi, Seto tetaplah Seto yang dahulu. Ia tetap anak yang durhaka...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bunda Fifi terkejut. Seto apalagi. Keduanya memandang Pak Ustadz dengan pandangan tak percaya. Tapi, Pak Ustadz tetap menyunggingkan senyum. Ia serasa tak bersalah dengan perkataannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Seto kini adalah Seto yang durhaka terhadap segala bentuk kemaksiatan. Seto durhaka terhadap minuman keras dan narkoba. Seto durhaka dengan praktik penipuan. Seto durhaka terhadap kebencian dan kemunafikan. Sekarang Bunda, Seto amat bangga dengan kedurhakaannya itu." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bunda Fifi tersenyum mendengar ucapan Pak Ustadz. Tapi, Pak Ustadz tidak paham apa makna di balik senyuman Bunda Fifi. Ia hanya sekadar meraba. * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-103243075867745700?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/103243075867745700/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=103243075867745700' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/103243075867745700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/103243075867745700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/11/bangga-dengan-kedurhakaannya.html' title='BANGGA DENGAN KEDURHAKAANNYA'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-457635762091407912</id><published>2009-11-10T06:46:00.005+07:00</published><updated>2009-11-10T08:54:12.522+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AKHLAK'/><title type='text'>IBU...IBU....IBU.....!!!</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;Pak Ustadz tak mampu memejamkan matanya. Sejak tadi dua orang pria yang duduk di belakangnya terus berbicara. Ngalor-ngidul. Tak karuan. Laju mulus kereta api eksekutif yang membawanya pergi ke Jakarta tak bisa membuat Pak Ustadz tertidur. Walau barang sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, telinga Pak Ustadz tiba-tiba serasa ditarik kekuatan untuk terus mendengarkannya. Ah, pembicaraan yang menarik buat sebuah pelajaran, batin Pak Ustadz. Dalih Pak Ustadz, bukan salah saya kalau saya mendengarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, kamu benar-benar sudah kawin lagi. Dua dong kalau gitu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria bersuara kecil tertawa lirih sembari menuding ke arah pria yang duduk di sebelahnya. Pria yang duduk di sebelahnya yang -ternyata- memiliki suara besar langsung bereaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sssst. Jangan keras-keras. Malu. Semua orang tahu nanti. Apa kata orang kalau tiba-tiba di kereta api ini ada tetanggaku. Mati aku!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, kenapa harus malu? Bukankah kamu mesti siap menghadapi setiap konsekuensi dari pilihan hidupmu itu. Kalau malu kenapa kamu lakukan ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si suara besar tak membalas. Ia hanya diam. Tapi, sejenak. Ia kemudian berkata lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang penting adil. Kalau kita merasa mampu berbuat adil. Ya, sudah laksanakan. Aku nggak mau munafik. Aku memang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pingin&lt;/span&gt; beristri lagi. Dan aku merasa mampu berbuat adil. Jadi, apa yang ditunggu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adil semuanya, termasuk hati?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, ya tidak. Adil dalam pengertian materi. Bukankah ini yang dicontohkan Rasulullah? Rasul saja selalu tak bisa melupakan Khadijah, istri pertama yang begitu dikasihinya. Tentu, maknanya adil materi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu saja alasanmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, tidak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apalagi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada hadist nabi yang berbunyi. Siapa yang harus saya hormati? Ibu. Lalu, siapa? Ibu. Siapa lagi? Ibu. Jelaskan, hadist ini secara tegas menyiratkan ada lebih dari seorang istri dalam keluarga. Nabi bahkan menyebutkan hingga tiga kali...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si suara kecil tertawa ngakak mendengar alasan si suara besar. Si suara besar tak ketinggalan. Mereka larut dalam canda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depannya, Pak Ustadz hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya mendengarkan percakapan keduanya. Kalau nafsu sudah bicara selalu saja ada akal untuk melogikakannya sebagai dalih. Ah, manusia! Manusia! * * *&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-457635762091407912?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/457635762091407912/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=457635762091407912' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/457635762091407912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/457635762091407912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/11/ibuibuibu.html' title='IBU...IBU....IBU.....!!!'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-2252896570054387027</id><published>2009-10-29T08:58:00.005+07:00</published><updated>2009-10-29T15:35:25.490+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>KAPAN ISRAEL KEOK?</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Fajar, Dadi, dan Gilang sedang bersiap-siap pergi. Mereka hendak turun  ke jalan, bergabung dengan massa yang lain. Umbul-umbul, mikropon dan bekal yang lain sudah mereka persiapkan. Pokoknya tinggal jalan dan teriak-teriak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Semangat 45. Begitu mereka menyebutnya. Hari ini mereka akan menyuarakan protes. Protes keras terhadap Israel. Ya, negara zionis itu kembali menyerang bangsa Palestina yang sudah terdesak. Padahal, apa sebenarnya yang dimaui Israel. Ia punya segalanya dan ia menguasai segalanya.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sepanjang jalan Fajar, Dadi, dan Gilang tak henti-hentinya berbicara persoalan yang terjadi di kawasan Timur Tengah itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Amerika biang keroknya. Coba kalau Amerika bisa bersikap adil, pasti Palestina tidak mengalami nasib yang demikian, " kata Gilang mulai berapi-api.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Benar. Amerika memang tukang bikin perkara, " dukung Fajar kepada Gilang. "Ngakunya polisi dunia, tapi perilakunya seenak udelnya sendiri. Afganistan diserang. Irak dihabisin. Jangan-jangan tak lama lagi Iran."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Makanya nanti di sana kita protes sama Amerika. Biar tahu dunia ini bahwa kita nggak suka sama bangsa yang sok pinter dan sok kuasa itu. Amerika kita setrika, Inggris kita linggis."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Fajar dan Gilang tertawa keras. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Dadi, benarkan pendapatku?" tanya Gilang kepada Dadi yang sedari tadi hanya mendengarkan kedua temannya bicara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dadi tersenyum tipis. Kata Dadi kemudian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Benar. Tapi, kita tidak boleh melupakan bahwa musuh kita sebenarnya adalah Israel. Israel yang biadab, Israel  yang tak beradab. Apa yang dilakukan di Palestina  menunjukkan bahwa mereka adalah bangsa yang tidak menghargai nilai-nilai kemanusiaan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Kalau Amerika?" tanya Gilang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Amerika hanya berusaha menjadi penengah yang tidak mungkin bisa adil karena mereka selalu punya agenda tersendiri di kawasan yang kaya minyak itu. Amerika tetap tidak bisa diharapkan perannya. Mereka lebih condong kepada Israel." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Fajar seperti tidak setuju dengan pendapat Dadi. Tapi, dia tak kuasa mendebatnya. Dadi di mata Gilang dan dirinya memang memiliki pengetahuan dan wawasan yang lebih luas. Karena itu, ia sering menjadi tempat bertanya bagi banyak orang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz lewat di depan mereka. Ah, kesempatan, kata Fajar dalam hati. Ini kesempatan bagi Fajar untuk paham, siapa sebenarnya yang harus  diprotes. Amerika atau Israel.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Pak Ustadz, siapa sebenarnya musuh kita dalam konflik di Palestina, Amerika atau Israel?" tanya Fajar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz memandang mereka dalam-dalam. Ia merasakan semangat yang membara  terhadap nasib umat Islam di Palestina dari ketiga anak muda itu. Sayang, mereka seringkali lupa membekali dirinya dengan pemahaman dan ilmu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Amerika musuh, itu benar. Israel musuh, itu juga benar!" tegas Pak Ustadz. "Tapi, musuh yang paling besar sebenarnya adalah diri kita sendiri."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ha...?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Makanya kalau kita sudah mampu mengalahkan diri kita sendiri, mudah bagi umat Islam untuk mengalahkan Israel atau Amerika sekalipun."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Fajar, Dadi, dan Gilang melongo mendengarkan penuturan Pak Ustadz. Setengah percaya mereka bertanya kepada Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Memang kita mampu mengalahkan Israel dan Amerika, Pak Ustadz?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Lho, ya mampu!" tegas Pak Ustadz. "Tapi, ada syaratnya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Apa syaratnya Pak Ustadz?" tanya Fajar dan Gilang berbarengan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Syaratnya kalau barisan sholat subuh umat Islam sudah seperti barisan sholat Jumat, maka Israel dan Amerika pasti bisa kita kalahkan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Fajar, Dadi, dan Gilang saling berpandangan mendengar jawaban Pak Ustadz. Mereka terpana, bahkan saat Pak Ustadz sudah beranjak pergi, juga untuk berdemo. * * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-2252896570054387027?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/2252896570054387027/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=2252896570054387027' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/2252896570054387027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/2252896570054387027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/10/kapan-israel-keok.html' title='KAPAN ISRAEL KEOK?'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-6832422020381807154</id><published>2009-10-28T05:01:00.004+07:00</published><updated>2009-10-28T06:33:12.211+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>SI PEMBERI NAFKAH, SANG PEMBERI REZEKI</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ba'da asar Pak Ustadz mengajak istrinya menengok Bang Jali. Hampir seminggu Bang Jali tidak kelihatan batang hidungnya. Terakhir ia masih terlihat keliling kampung menjajakan dagangannya, mie ayam. Sesudah itu, semua warga kampung tak bisa lagi menikmati mie ayam Bang Jali yang luar biasa enak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz terkejut. Di rumah Bang Jali. Ia tak menyangka Bang Jali menderita sakit yang cukup parah. Stroke! Ah, stroke sekarang ternyata bisa menyerang siapa saja, termasuk Bang Jali yang hidupnya terbilang sederhana. Stroke bukan lagi penyakit spesialis orang berpunya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tubuh Bang Jali kaku, sama sekali tak bisa digerakkan. Tangan, kaki, mulut, leher; semua seolah mati rasa. Hanya pandangan mata Bang Jali yang terlihat hidup. Pak Ustadz prihatin. Ujian yang sungguh berat, batin Pak Ustadz, bagi Bang Jali, lebih-lebih bagi istrinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Sabar...Sabar..." istri Pak Ustadz terus menyemangati istri Bang Jali yang tak henti-hentinya menangis sedih. Entah apa yang dirasakan istri Bang Jali kini. Beban berat mesti dipikulnya. Beban menyangga kehidupan Bang Jali dan tiga orang anak yang menjelang remaja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Saya tidak tahu lagi harus bagaimana Pak Ustadz..." tangis istri Bang Jali tak pernah surut. Seperti ada aliran air mata yang tak mungkin dibendung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz terdiam. Ia termenung sejenak. Sungguh bukan pekerjaan yang mudah untuk menyelesaikan persoalan yang menimpa keluarga Bang Jali. Pertama, sakitnya Bang Jali yang tentu harus disembuhkan. Kedua, kehidupan keluarga Bang Jali yang tidak boleh ambruk akibat sakitnya Bang Jali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Optimis! Optimis! Pak Ustadz menyemangati dirinya sendiri. Otaknya terus berputar mencari pemecahan masalah. Ia memang sedang menengok Bang Jali yang sakit. Namun,  ia tak mau yang ia lakukan hanya sekadar melihat keprihatinan dan kesusahan orang. Pak Ustadz ingin lebih dari itu.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Beban ini sungguh teramat berat...." kembali tangis istri Bang Jali terdengar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Saya tahu, tapi ibu mesti kuat. Kalau ibu tidak kuat, kasihan Bang Jali. Kasihan anak-anak. Saat ini yang dibutuhkan adalah ketabahan dan kekuatan ibu. Mereka semua menanti tampilnya ibu. Ibu yang kuat, ibu yang berani." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Tapi, saya sepertinya sudah tidak mampu lagi, Pak Ustadz...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dugh! Pak Ustadz kaget. Tak percaya. Ia tak percaya melihat istri Bang Jali benar-benar putus asa. Bagi istri Bang Jali, seperti tidak ada celah untuk keluar dari jalan yang buntu ini. Padahal Pak Ustadz tahu benar, siapa istri Bang Jali. Ia adalah muslimah yang tidak pernah absen dalam majelis-majelis ilmu yang diselenggarakan di masjid. Ternyata, ujian sakitnya Bang Jali telah membuatnya lemah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ibu, tanggung jawab lelaki memang memberi nafkah. Tapi, tanggung jawab Allah adalah memberi rezeki kepada makhluknya. Lalu, kenapa kita mesti khawatir dan takut saat si pemberi nafkah sudah tak berdaya. Bukankah masih ada sang Pemberi Rezeki?" kata Pak Ustadz lembut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kali ini gantian istri Bang Jali yang terkejut. Mulutnya segera berucap memohon ampun. Wajah istri Bang Jali seolah muncul cahaya. Binar matanya tak lagi redup. Kini hidup. Amat hidup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz melangkah pulang bersama istrinya. Di benaknya sudah muncul puluhan cara yang hendak dicobanya untuk menolong keluarga Bang Jali. Pak Ustadz tersenyum. * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-6832422020381807154?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/6832422020381807154/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=6832422020381807154' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6832422020381807154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6832422020381807154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/10/si-pemberi-nafkah-sang-pemberi-rezeki.html' title='SI PEMBERI NAFKAH, SANG PEMBERI REZEKI'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-942315881561472762</id><published>2009-10-27T04:55:00.005+07:00</published><updated>2009-10-28T07:00:26.615+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang IBADAH'/><title type='text'>BIARKAN DIA BERSUJUD</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bisik-bisik itu semakin keras. Tak bisa dicegah. Mulanya dua orang, lalu tiga, kemudian empat, selanjutnya hampir semua jamaah yang hadir di masjid. Bisik-bisik itu serupa ribuan laron kecil yang melingkari lampu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Sstt, dia mulai sholat. Ada angin apa ya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Mimpi kali. Dia tak sadar kalau sedang sholat. Coba kalau sadar, dia pasti tak jadi sholat."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Moga-moga seterusnya. Tidak malam ini saja. Sebab, bagaimanapun juga kehadirannya sangat ditunggu orang-orang. Kalau saja dia mau sholat, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;ah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; pasti masjid ini merasakan manfaat langsung dari kehadirannya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Farid menjadi bahan perbincangan. Malam itu. Di saat menjelang sholat isya. Mereka seolah melihat Pak Farid sebagai hantu. Aneh. Ganjil. Ya, karena sejak-sejak sebelumnya Pak Farid memang tidak pernah masuk masjid. Jangankan masuk, melihat pun ia tak mau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Farid orang yang kukuh. Pekerja keras. Tak mudah goyah. Maka kesuksesannya membuat banyak orang begitu menghargainya. Kekayaannya merambah semua sektor. Transportasi, pertanian, perdagangan. Dan, keberhasilannya itu, ia yakini sebagai buah kerja kerasnya selama ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Farid tak percaya ada tangan Tuhan di sana. Bahkan ketika ia didera sakit yang parah tanpa diketahui sebabnya, ia tetap tak percaya Tuhan. Ia percaya sakitnya itu karena buah kesalahannya yang tidak pernah hidup secara sehat. Berminggu-minggu. Berbulan-bulan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Maka, malam itu, di saat ia berjalan sendirian dengan tertatih-tatih menuju masjid, semua orang terpana. Tak percaya. Bahkan ketika ia pulang dan hilang lenyap dari pandangan mata, semua jamaah masih tak percaya dengan kehadirannya tadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Seperti mimpi ya..." cetus seseorang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Iya. Abisnya, jarang-jarang sih. Malah nggak pernah sama sekali, "timpal yang lain. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Alaaa, itukan karena dia sudah sakit. Coba kalau nggak sakit, mana mau dia masuk masjid dan sholat. Jadi, dia mulai takut mati. Karena takut mati dan dosanya seabreg, lalu dia sholat. Siapa tahu saat mati dosanya dapat ampunan...ha...ha..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Suara keras membahana di seluruh ruangan masjid. Namun, suara itu seolah hilang lenyap saat seseorang berkata lembut, tapi tegas. Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Syukur.... Akhirnya ia mau ruku' dan sujud juga. Semoga bukan karena semata-mata rasa takut akibat sakit yang sedang mendera. Tapi, bukankah ruku' dan sujud juga boleh dikarenakan rasa takut, selain harap dan cinta terhadap Yang Maha Tinggi?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Suasana senyap. Sunyi. Sepi. * * * &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-942315881561472762?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/942315881561472762/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=942315881561472762' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/942315881561472762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/942315881561472762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/10/biarkan-dia-bersujud.html' title='BIARKAN DIA BERSUJUD'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-7534764823457707637</id><published>2009-10-25T13:31:00.003+07:00</published><updated>2009-10-25T15:01:41.318+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AKHLAK'/><title type='text'>PERSAHABATAN INDAH</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz terus memperhatikan dua pria yang beranjak menjauh darinya. Keduanya terlihat sangat mesra. Mereka saling bergandengan. Mereka saling menggoda. Tak ada batas di antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz menghela napas panjang. Mulutnya terus memohon ampun kepada Allah. Ia tak berdaya menyaksikan kedua pria yang telah lenyap dari hadapannya. Hatinya menangis. Sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua daya dan upaya telah dilakukan, tapi kini Pak Ustadz tahu, Allah belum memberikan jalan kebenaran. Nasihat telah diucapkan. Peringatan sudah dilontarkan. Namun, Pak Ustadz memang harus menyerah. Ia memasrahkan segalanya kepada Sang Khalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menyerah Pak Ustadz...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah suara lirih menyapanya. Pak Ustadz menolehkan wajah. Firman, salah satu pemuda yang sering menemaninya bepergian. Ke mana saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz kembali menghela napas panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Kemampuan saya sangat terbatas. Dia sudah kukuh dengan kehidupannya. Dia merasa benar. Jadi, buat apa saya memberikan perhatian yang berlebih kepadanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, kasihan Pak Ustadz...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hidup adalah pilihan, Firman. Semua ada konsekuensinya. Aldi telah memilih hidupnya. ia tahu ia keliru. Salah. Ia tahu itu. Tapi, ia menerima konsekuensinya meski ia sebenarnya tidak menyadari konsekuensinya. Ia lupa dan lalai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz kembali terbayang wajah anak sahabatnya. Aldi yang lembut, Aldi yang manis. Namun, sejak remaja, Aldi berubah. Ayahnya terperanjat saat kelembutan Aldi berubah menjadi "selembut-lembutnya". Ibunya menangis ketika manisnya Aldi berganti menjadi Aldi yang "semanis-manisnya". Ayah dan ibunya pingsan tatkala Aldi berubah menjadi pencinta pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang mesti dilakukan Aldi sekarang, Ustadz?" tanya Firman lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz menunduk. Ia tak tahu harus menjawab apa. Tapi, Firman mengerti saat Pak Ustadz berkata tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Andai sebuah pertemanan atau persahabatan hanya menjadikan kita dekat dengan maksiat dan semakin jauh dari Allah, maka putuskanlah!" * * *  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-7534764823457707637?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/7534764823457707637/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=7534764823457707637' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/7534764823457707637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/7534764823457707637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/10/persahabatan-indah.html' title='PERSAHABATAN INDAH'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-928049194813842045</id><published>2009-10-25T08:51:00.006+07:00</published><updated>2009-10-25T09:36:55.212+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>DOA YANG (TIDAK) TERKABUL</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Akbar marah kepada dirinya sendiri. Ia merasa Pak Ustadz membohonginya. Segala nasihat yang diberikan Pak Ustadz telah ia laksanakan. Tapi, satupun tak ada yang sukses. Semua seolah tak membekas sama sekali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Maka ini hari ia harus bertemu Pak Ustadz. Ia hendak menyampaikan protes. Pokoknya protes! Keras! Sekeras-kerasnya. Biar Pak Ustadz sadar bahwa nasihatnya banyak yang tidak membawa keberhasilan pada umatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Di persimpangan jalan, Akbar tertegun. Dari jauh ia melihat sesosok tubuh yang amat dikenalnya. Nadira? Ya, Nadira. Gadis tercantik di kompleks perumahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dada Akbar berdesir. Mukanya memerah jambu. Ah, andai aku berhasil memilikinya, pasti senang hati ini. Mata Akbar tak berkedip, bahkan ketika Nadira sudah menegurnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Mari Mas Akbar....." sapa Nadira ramah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Akbar tergeragap. Hatinya limbung. Matanya mengerjap bagai burung hendak terbang lepas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Oh, ya...Mari...Mari...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Nadira tertawa terkekeh. Akbar mengutuki dirinya sendiri. Sialan! Kurang ajar! Hei, bukankan aku hendak ke rumah Pak Ustadz buat protes?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Akbar mempercepat langkahnya. Kebetulan, Pak Ustadz sedang membakar sampah dedaunan di halaman. Ia tersenyum melihat Akbar mendatanginya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Pak Ustadz, saya mau protes!" kata Akbar keras.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Oh, ya. Protes masalah apa, Akbar?" tanya Pak Ustadz tenang. Bibirnya tak lepas dari senyum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Saya sudah berdoa terus-menerus Pak Ustadz, tapi satupun doa yang saya inginkan tidak ada yang terkabul."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Oh, ya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Saya sudah berusaha jujur dalam berucap. Saya tak pernah bohong. Tapi, rezeki yang saya inginkan saat berdoa, macet melulu. Bisnis tak pernah lancar. Saya juga tak pernah makan makanan yang haram. Saya selalu memakan makanan yang halal. Namun, anak yang saya inginkan belum juga lahir dari rahim istri saya. Terus...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Terus, bagaimana Akbar?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Saya juga berusaha menjaga pandangan..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Akbar tidak meneruskan ucapannya. Bayangan peristiwa pertemuan dengan Nadira masih membekas. Indah, begitu indah. Tapi, ia sadar, dirinya tidak berusaha menjaga pandangan. Bahkan mimpi untuk memiliki Nadira masih terus bersemayam, meski ia sudah beristri sekalipun. Ah, Nadira.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Oh, ya. Pak Ustadz yang ketiga ini paling sulit. Saya belum mampu...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Akbar tersenyum malu. Benar! Ia didera rasa malu. Pak Ustadz terkekeh. Ia memaklumi perasaaan Akbar. Perasaan seorang laki-laki yang begitu susah menjaga pandangan mata dari perempuan cantik yang bukan muhrimnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Akbar ngeloyor pergi. Malu. Ia membatalkan protesnya.  * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-928049194813842045?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/928049194813842045/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=928049194813842045' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/928049194813842045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/928049194813842045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/10/doa-yang-tidak-terkabul.html' title='DOA YANG (TIDAK) TERKABUL'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-4527866780259246541</id><published>2009-10-25T05:20:00.005+07:00</published><updated>2009-10-25T06:33:32.070+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>KURIKULUM KELUARGA</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz berjalan cepat-cepat. Ia tidak mau terlambat. Sore ini ia mesti mengisi pengajian di rumah dr. Anhar. Malu kalau sampai terlambat! Selain rumahnya dekat dan dipandang sebagai tokoh masyarakat, dr. Anhar adalah juga orang yang sukses dalam mendidik putra-putrinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dr. Anhar memiliki empat anak, tiga putra dan satu putri. Keempatnya sudah dewasa. Tiga yang pertama, laki-laki sudah menikah dan berprofesi sebagai dokter. Sedangkan si bungsu, perempuan baru saja diwisuda sebagai sarjana teknik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Rumah dr. Anhar sudah penuh dengan jamaah. Ini hari dia sengaja mengundang Pak Ustadz untuk sekedar merayakan syukuran atas keberhasilan si bungsu. Pak Ustadz diminta berceramah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Terus-terang saya bingung untuk berbicara di depan keluarga pak dokter dan para jamaah sekalian," kata Pak Ustadz mengawali ceramahnya. Para jamaah memandang Pak Ustadz dalam-dalam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Justru semestinya pak dokter yang berbicara di depan kita semua. Pak dokter mesti memberikan kiat-kiat atau rahasia mendidik anak sehingga anak-anak kita menjadi anak yang berhasil. Sebab hal ini tidak mudah dilakukan. Banyak dari kita yang merasa mampu mendidik anak, pada kenyataannya gagal."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Para jamaah terdiam menyimak keterusterangan Pak Ustadz. Semua seperti mengangguk setuju.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Kata banyak orang, anak mesti diberi fasilitas agar sukses. Buku, komputer, motor diberikan. Tapi, yang terjadi anak kita malah menjadi anak yang liar. Alasannya belajar komputer, kenyataannya main kebut-kebutan di jalan...." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Para jamaah di rumah dr. Anhar terus menyimak ceramah Pak Ustadz. Ia memberikan penjelasan bagaimana mendidik anak yang berhasil. Kata Pak Ustadz, kunci keberhasilan mendidik anak ada tiga, yakni keikhlasan, keteladanan, dan kasih sayang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Keikhlasan, karena anak adalah amanah, tapi juga fitnah yang diberikan Allah. Rasa ikhlas akan mengantarkan kita pada sikap ketundukan dan kepasrahan dalam mendidik. Keteladanan, sebab anak perlu contoh, bukan teguran atau makian. Teladan akan membuat anak yakin bahwa kebenaran yang diteladankan orang tua adalah betul adanya. Kasih sayang, karena anak lahir sebagai buah cinta kedua orang tuanya. Kasih sayang menjadikan anak memahami arti persahabatan, pertemanan, dan rasa toleran.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz selesai memberikan ceramahnya. Ia sengaja duduk berlama-lama di rumah dr. Anhar. Jamaah sudah pulang semua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Pak dokter, apa sih kunci keberhasilan Pak dokter dalam mendidik anak?" tanya Pak Ustadz mengagetkan Pak dokter. Pak dokter terkejut sesaat. Ia tak menyangka Pak Ustadz bertanya seperti itu. Bukankah tadi Pak Ustadz sendiri yang sudah menjelaskannya? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak dokter memandang wajah Pak Ustadz. Ia melihat ketulusan pada mata Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Kurikulum keluarga!" kata Pak dokter singkat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Kurikulum keluarga?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak dokter mengiyakan. Kata pak dokter kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya menginginkan anak-anak menjadi dokter seperti saya. Maka saya membuat kurikulum keluarga terhadap anak saya agar ia menjadi dokter. Sejak dini anak-anak saya kenalkan dengan profesi dokter agar tumbuh rasa cinta. Kemudian, mereka mesti suka pelajaran sains. Hafalannya harus kuat. Tidak takut darah....." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz mengangguk-angguk. Ia tahu apa yang mesti dilakukan. Karena ia menginginkan anak-anaknya menjadi anak saleh, ia akan membuat kurikulum keluarga anak saleh. Sholat berjamaah, baca Qur'an bersama, hadir dalam majelis tak'lim, hidup bersih, dan lain-lain adalah persoalan yang mesti masuk dalam kurikulum keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz berjalan pulang. Kurikulum keluarga? Ia tersenyum-senyum. Sendirian.* * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-4527866780259246541?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/4527866780259246541/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=4527866780259246541' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4527866780259246541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4527866780259246541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/10/kurikulum-keluarga.html' title='KURIKULUM KELUARGA'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-8311265395201409496</id><published>2009-09-02T10:48:00.004+07:00</published><updated>2009-10-17T09:27:17.777+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AMAL'/><title type='text'>MEREMEHKAN AMAL</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sudah beberapa hari ini Pak Ustadz tidak lagi pernah melihat Mang Karma. Entah ke mana. Tak pernah lagi kelihatan batang hidungnya. Pagi, siang, sore, atau malam. Akibat Mang Karma raib, masjid menjadi sangat kotor. Tak terurus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Masjid sudah tak nyaman lagi buat beribadah. Lantai masjid jarang disapu dan dipel. Karpet penuh debu. Tempat wudhu tertempel daki. Toilet baunya tak &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;font-size:100%;" &gt;ketulungan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;. Pak Ustadz tak tahu, bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi. Ah, gara-gara Mang Karma!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Seusai sholat subuh Pak Ustadz mampir ke rumah Mang Karma. Minggu pagi itu. Ia ingin tahu alasan Mang Karma mengabaikan tanggung jawab kebersihan di masjid. Apalagi, tak hanya kebersihan, Mang Karma kini juga jarang ke masjid.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Alhamdulillah... ada!" batin Pak Ustadz saat melihat Mang Karma sedang asyik ngopi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kok nggak pernah kelihatan lagi, Mang. Ke mana &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;font-size:100%;" &gt;wae&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt; selama ini?" sapa Pak Ustadz ramah setelah terulur salam dari bibirnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Di rumah saja, Ustadz " jawab Mang Karma singkat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz manggut-manggut. Istri Mang Karma datang membawa secangkir teh dan pisang goreng. Pak Ustadz mencicipinya setelah ia dipersilakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Begini, Mang...." kata Pak Ustadz membuka cakap. "Itu masjid &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;font-size:100%;" &gt;kok&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt; kotor banget ya. Seperti tak terurus. Sampah ada di mana-mana. Debu seperti melingkari ruangan. Pengap rasanya. Pokoknya tak nyaman...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Mang Karma tahu, ia yang menjadi pokok masalahnya. Gara-gara saya, masjid jadi kotor! Batin Mang Karman. Ah, tapi peduli amat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Mang Karma tak bersuara. Bibirnya hanya tersenyum. Tipis. Mang Karma tak mau membuka mulutnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ada apa memang, Mang?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Mang Karma tetap tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ayo, sampaikan kepada saya. Siapa tahu saya bisa bantu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Mang Karma ragu. Namun, melihat ketulusan hati dan mata Pak Ustadz, Mang Karma luluh juga. Ia pun bicara. Saat pertama bicara, nadanya terdengar seperti tertekan. Semenit kemudian ia seolah meledak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Pak Ustadz, saya tidak peduli bila para jamaah tidak menghargai tugas dan tanggung jawab saya. Saya terima jika mereka menghina saya. Tukang jaga masjid! Tukang kebersihan masjid! Apa saja, silakan. Saya ikhlas. Tapi, jangan sekali-sekali mereka meremehkan tanggung jawab saya itu. Bagi saya, jika mereka meremehkan tugas itu, sama saja dengan mereka meremehkan amal perbuatan saya. Soal amal, biarlah Allah yang menilai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, jadi ini yang membuat Mang Karma mangkir dari tugasnya. Pak Ustadz tersedak. Ia kini yang tak mampu bicara. Mang Karma seolah memprotes dirinya. Karena kelalaian Anda dalam berdakwah, jamaah masjid menjadi lupa berakhlak mulia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz merasa bersalah. Pak Ustadz membatin. Mang Karma benar! Betapa banyak orang di sekeliling kita yang seolah alim, seolah ahli ibadah. Padahal, mereka niscaya orang yang lalai. Mereka lalai karena mereka suka meremehkan amal. Amal yang kecil! Amal yang tersembunyi! * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-8311265395201409496?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/8311265395201409496/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=8311265395201409496' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/8311265395201409496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/8311265395201409496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/09/meremehkan-amal.html' title='MEREMEHKAN AMAL'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-1406834423255906230</id><published>2009-08-27T13:37:00.002+07:00</published><updated>2009-10-17T07:41:39.753+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang CINTA'/><title type='text'>Ibadah Egois</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-size: 100%;"&gt;Mata Pak Ustadz lurus ke jamaah. Ia masih duduk bersila di tempatnya. Untuk kesekian kali pandangan matanya tertumbuk pada lelaki yang keluar dari jamaah sholat maghrib. Begitu terburu-buru, seolah ada pekerjaan yang menanti. Badi, nama lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz tidak pernah melupakan Badi. Badi yang di masa kecil terkenal bandel karena suka menyembunyikan sandal milik temannya di masjid. Badi yang hingga kini tetap menjadi perbincangan orang karena kegemarannya langsung beranjak pergi setelah salam sholat dikumandangkan sang imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Badi, jangan pulang dulu....!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badi berhenti sebelum ia sempat mengambil sandalnya. Wajahnya terheran-heran. Ia tahu siapa yang memanggilnya. Pak Ustadz! Badi berdiri tegak pada tangga masjid. Tapi, tak lama. Ia kemudian masuk ke masjid lagi dan mengambil tempat duduk di pojok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz menghampiri dengan senyum ramah. Para jamaah seperti tak peduli. Ada apa ya, batin Badi. Hatinya bertanya-tanya. Baru kali inilah Pak Ustadz menahannya sepulang sholat maghrib. Pak Ustadz dan Badi duduk berhadap-hadapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di, aku mau tanya....." Pak Ustadz menghentikan pertanyaannya. Ia seperti berusaha menunggu reaksi Badi. "Tidak apa-apakan aku bertanya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, nggak Pak Ustadz. Silakan saja. Ada apa memang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz membetulkan letak kopiahnya. Matanya lurus memandang Badi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan marah ya. Kenapa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana; font-size: 100%;"&gt;sih&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-size: 100%;"&gt; setiap selesai sholat kamu seperti terburu-buru keluar. Selalu begitu. Ada apa memang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badi terhenyak. Ha? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana; font-size: 100%;"&gt;Kok&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-size: 100%;"&gt; Pak Ustadz tahu saja. Badi sadar itu memang selalu ia lakukan. Prinsipnya, yang penting ikut sholat berjamaah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana; font-size: 100%;"&gt;Abis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-size: 100%;"&gt; itu ya langsung pulang. Tak ada keinginan untuk sekadar duduk berzikir atau berdoa sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh... saya juga tidak tahu, Ustadz. Pokoknya habis sholat jamaah, pinginnya keluar &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana; font-size: 100%;"&gt;aja&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-size: 100%;"&gt;," jawab Badi sekenanya. Rasa malu dan bersalah tak bisa ditutupinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz manggut-manggut. Ia mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cobalah....Belajar jadi orang yang memberi. Jangan egois. Berbagilah dengan orang lain, termasuk dalam ibadah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksud Pak Ustadz?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kapan kamu mendoakan kawan-kawanmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badi menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kapan kamu mendoakan saudara-saudaramu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi Badi menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kapan kamu mendoakan orang tuamu sendiri?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badi kali ini tertunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gunakan waktu sesudah sholat untuk berdoa sebanyak-banyaknya. Buat orang-orang yang kita sayangi. Orang tua, kakek, nenek, teman-teman, saudara. Semuanya! Itu akan melatih kita menjadi orang yang suka berbagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badi mengangguk-angguk. Ia mengerti. Badi paham apa yang mesti ia lakukan selanjutnya. * * *&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-1406834423255906230?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/1406834423255906230/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=1406834423255906230' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1406834423255906230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1406834423255906230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/08/ibadah-egois.html' title='Ibadah Egois'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-8793350964130971308</id><published>2009-08-24T11:05:00.010+07:00</published><updated>2009-09-02T11:48:39.388+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AKHLAK'/><title type='text'>MELEMBUTKAN HATI</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hari ini hari yang melelahkan bagi Azam. Sepanjang waktu, dari mulai pagi hingga menjelang maghrib, ia mesti mengikuti ajakan Pak Ustadz. Pergi melanglang buana. Ke mana saja? Menuruti kata hati, begitu kata Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Awalnya biasa saja. Pak Ustadz mencari Azam seusai sholat Isya berjamaah. Ketemu! Azam langsung ditarik ke sudut masjid. Sambil tersenyum ramah Pak Ustadz bertanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Azam, bisa tidak besok menemani saya keliling-keliling?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ke mana Pak Ustadz?" tanya Azam sedikit penasaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Yah.... ke mana saja. Mau nggak?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Azam tak mungkin menolak permintaan orang yang sangat dihormatinya itu. Ia hanya mengangguk sembari mulutnya berucap, iya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Esoknya Pak Ustadz sudah membawa sepeda motor tuanya. Tak lupa dua helm sudah ada di tangan. Sampai di rumah Azam, Pak Ustadz menampakkan senyumnya. Azam seolah kebingungan. Ke mana sebenarnya kita ini? Tapi, ia tidak peduli sebab ia tahu Pak Ustadz pasti mengajak ke jalan kebenaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Motor melaju dengan sedikit kencang. Pak Ustadz membawa Azam berkeliling. Ia membawa Azam berkunjung ke sebuah panti asuhan. Di situ Pak Ustadz asyik bermain dan bercanda dengan anak-anak yatim piatu. Pak Ustadz melawak, Pak Ustadz melucu, Pak Ustadz memberi semangat. Anak-anak tertawa gembira.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tidak sampai dua jam, Pak Ustadz membawa Azam ke rumah sakit. Ia hendak menengok salah seorang temannya yang sedang dirawat karena sakit. Di rumah sakit Pak Ustadz asyik bercengkerama dengan temannya yang dirawat itu. Ia mendengarkan derita sang teman. Sekali-kali ia menghiburnya dengan ucapan-ucapan yang baik. Sang teman terlihat senang dengan kunjungan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tidak lama, Pak Ustadz sudah melesat kembali di jalanan. Kali ini ia membawa Azam ke kolong jembatan. Di sana Pak Ustadz menemui semua orang. Mereka bercakap-cakap tentang segala hal. Kadang Pak Ustadz bicara panjang lebar. Kadang Pak Ustadz mendengarkan penuh perhatian.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Menjelang sore Pak Ustadz dan Azam pulang. Namun, di tengah jalan ia membelokkan motornya ke sebuah makam. Azam bergidik. Tapi, Pak Ustadz tetap melajukan kendaraannya. Pada sebuah pohon yang rindang, ia berhenti. Pak Ustadz melangkahkan kakinya ke makam. Ia memandang ke seluruh makam. Lama sekali. Selanjutnya, ia berdoa untuk kemudian pulang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Azam tidak mengerti kenapa ia dibawa ke tempat-tempat seperti itu. Panti Asuhan, rumah sakit, kolong jembatan, dan makam. Azam penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa Pak Ustadz pergi ke tempat-tempat seperti tadi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz terdiam sesaat. Ia tak menjawab. Kemudian....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sedang belajar melembutkan hati...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azam mengangguk. Tak percaya. * * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-8793350964130971308?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/8793350964130971308/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=8793350964130971308' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/8793350964130971308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/8793350964130971308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/08/melembutkan-hati.html' title='MELEMBUTKAN HATI'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-1678575558734574021</id><published>2009-08-13T17:49:00.006+07:00</published><updated>2009-08-13T20:19:40.753+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AMAL'/><title type='text'>LETAK KEBAHAGIAAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;Pak Ustadz baru saja menyelesaikan sholat Jum'at. Belum lagi ia berbalik dari mihrab, tempat dirinya menjadi khotib dan imam, tiba-tiba datang seorang lelaki menyalaminya. Tak cukup menyalami, lelaki itu kemudian memeluk erat Pak Ustadz kuat-kuat. Seolah tak mau lepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz terkejut. Keterkejutannya semakin besar sesaat dirinya menyadari bahwa pundaknya telah basah oleh air mata. Ya, lelaki yang memeluk Pak Ustadz itu menangis sesenggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mari Pak, kita duduk di sana...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz mengajak lelaki yang tidak dikenalnya itu duduk di pojok masjid. Pak Ustadz tahu diri. Ia tak ingin mempermalukan lelaki itu dengan tangisannya di hadapan orang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka duduk berhadap-hadapan. Pak Ustadz membiarkan lelaki itu menyelesaikan tangisannya. Sesekali Pak Ustadz memegang tangan lelaki itu untuk menguatkan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Pak Ustadz dan lelaki itu sama-sama terdiam. Tiba-tiba....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak Ustadz, di mana sebenarnya letak kebahagiaan itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz terkejut dengan pertanyaan lelaki itu. Naluri sebagai orang yang sering menghadapi orang-orang bermasalah mulai muncul. Pak Ustadz tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Pak Ustadz balik menanyakan, ada apa sebenarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu kemudian bercerita bahwa dirinya adalah seorang pengusaha. Perusahaannya memiliki banyak karyawan. Asetnya milyaran. Namun, ia merasakan beban berat yang luar biasa pada hidup dan kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang di dalam keluarganya seolah menggantungkan hidup dan kehidupan pada dirinya. Semua anggota keluarganya, dari mulai ayah, ibu, mertua, saudara, dan saudara iparnya, tak ada yang coba mengerti dirinya. Mereka seperti hanya mencari keuntungan dari dirinya. Ia merasa sudah tidak kuat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz manggut-manggut. Ia mendengarkan cerita lelaki itu dengan takzim. Pak Ustadz lalu memberikan sedikit pencerahan kepada lelaki itu. Di akhir pembicaraan, Pak Ustadz berucap lembut.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bapak, kebahagiaan itu letaknya ada pada kebaikan. Jika Bapak ingin bahagia, berbuat baiklah. Karena kebahagiaan itu selalu melekat pada kebaikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz lurus memandang lelaki itu. Lelaki itu hanya terdiam.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Khusu&lt;/span&gt;'. * * * &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-1678575558734574021?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/1678575558734574021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=1678575558734574021' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1678575558734574021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1678575558734574021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/08/letak-kebahagiaan.html' title='LETAK KEBAHAGIAAN'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-2638222374002547702</id><published>2009-07-14T09:45:00.007+07:00</published><updated>2009-07-16T10:58:48.629+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang TUBUH'/><title type='text'>UBAN OMPONG BONGKOK</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz memandangi lelaki di hadapannya. Ia seolah tak percaya. Ia seakan tak percaya bahwa lelaki yang berdiri di hadapannya adalah orang yang pernah akrab dengannya selama belasan tahun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Bener kamu Kang Sarbini?!" tanya Pak Ustadz tetap dengan pandangan tak percaya. Lelaki itu mengangguk lemah. Pak Ustadz menggeleng-gelengkan kepalanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kang Sarbini adalah sahabatnya dulu, saat masih &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;mondok&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; di pesantren. Tapi, Kang Sarbini bukan santri. Ia penduduk kampung yang biasa main di lingkungan pesantren. Umur Kang Sarbini sedikit lebih tua dibanding Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Namun, ya Allah! Kang Sarbini sudah berubah. Ia jauh dari Kang Sarbini yang dulu. Kang Sarbini sekarang terlihat renta. Rambutnya memutih di hampir seluruh kepala. Giginya ompong, tinggal sedikit yang tersisa. Tubuhnya membungkuk, bongkok.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Kang, bagaimana mungkin rambutmu memutih? Apa yang terjadi?" tanya Pak Ustadz prihatin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kang Sarbini tersenyum. Wajahnya menatap lembut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Allah telah mengingatkan saya agar segera bersiap menemuinya. Saya sudah tua. Alhamdulilah... Dia sudah memberi tanda. Bukankah lebih enak bagi kita bila Allah sudah memberi sinyal daripada Dia datang tiba-tiba dengan mengirim malaikat-Nya?"   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz terkejut. Ia tak menyangka bila Kang Sarbini akan menjawab seperti itu. Namun, ia tak mempermasalahkannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Lalu, kenapa gigimu habis seperti tak bersisa?" tanya Pak Ustadz lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kang Sarbini kembali tersenyum. Wajahnya tak berubah. Lembut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Inilah siklus kehidupan. Allah telah mencabut sedikit demi sedikit kenikmatan raga yang sebelumnya pernah aku rasakan. Ini juga pertanda! Pertanda bahwa saya sudah saatnya mencari kenikmatan jiwa yang lebih...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz mengangguk. Ia membenarkan jawaban Kang Sarbini. Namun, ia masih dibelit rasa penasaran. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Tapi, kenapa tubuhmu berubah bongkok?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Lagi-lagi Kang Sarbini tersenyum lembut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Tubuh ini sudah sedemikian rindu dengan tanah, makanya ia bongkok. Ia ingin berjumpa, bersama, dan menyatu dengannya. Adakah yang lebih rindu selain kerinduan tubuh untuk berjumpa dengan tanah, sang pemula itu...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tak kuasa membendung keharuan. Ia memeluk sahabatnya itu erat. Ia seperti tidak ingin berpisah. * * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-2638222374002547702?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/2638222374002547702/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=2638222374002547702' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/2638222374002547702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/2638222374002547702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/07/uban-ompong-bongkok.html' title='UBAN OMPONG BONGKOK'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-7762730098683438025</id><published>2009-07-12T08:45:00.008+07:00</published><updated>2009-07-14T13:07:52.015+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AKHLAK'/><title type='text'>PEMIMPIN YANG MENONJOLKAN DIRI</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hiruk pikuk politik usai sudah. Rakyat telah menentukan pilihannya. Lima tahun ke depan rakyat hanya berharap menunggu. Benar berharap! Karena rakyat memang tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh para pemimpinnya kelak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz melihat-lihat suasana jalanan. Sore itu, sehabis sholat asar. Ia sengaja menyempatkan diri. Ada keharuan yang senyap di mata Pak Ustadz. Hampir lima bulan ia telah melihat segalanya. Di televisi, di koran-koran, di majalah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ah, betapa sulit dan mahalnya ternyata mencari seorang pemimpin. Berduyun-duyun rakyat berjalan menuju lapangan. Di sana mereka bebas. Bertepuk tangan, berteriak marah, bahkan berjoget sekalipun. Tapi, apa yang sebenarnya rakyat dapatkan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz melayangkan pandangannya ke sudut-sudut jalan. Ia tetap duduk pada sepeda motor tuanya. Mata Pak Ustadz terpaku pada baliho, poster, atau spanduk yang masih menempel pada tempatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Benar, ini memang sebuah pesta. Pesta rakyat! Karena pesta, semua orang berhak merayakannya. Dan hanya ada satu perasaan yang mesti mengemuka dalam sebuah pesta, yakni perasaan bahagia. Namun, kenapa pesta itu tidak mampu menjadikan rakyat bahagia selamanya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz terus mengarahkan pandangannya. Kali ini matanya tertuju pada potret para calon pemimpin bangsa. Mereka memasang foto dirinya, juga mematut dirinya. Banyak macamnya. Ada yang pakai kopiah, jas, batik, atau pakaian tradisional. Ada yang tersenyum, diam berwibawa, atau nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz tersenyum simpul. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;"Mereka memang gagah. Yang perempuan-perempuan juga cantik. Ah, pasti mereka telah melakukan banyak hal yang membuat mereka mantap mencalonkan diri sebagai pemimpin bangsa. Mereka pasti tidak semata ingin berkuasa. Tapi, betulkah hati mereka meyakini sedalam-dalamnya bahwa mereka memang pantas untuk dipilih menjadi seorang pemimpin?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tak mengendurkan senyumnya. Mulutnya bahkan kini tersenyum agak lebar. Ia memang ingin tertawa. Tertawa sekeras-kerasnya. Sekencang-kencangnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Mereka pasti orang-orang yang rendah hati. Sebab hanya orang yang rendah hati sajalah yang mampu menjadi pemimpin. Orang yang suka menonjolkan diri hanya akan merengkuh kegagalan saat didaulat menjadi pemimpin. Namun, mengapa kerendahatian kini dilupakan? Kenapa yang muncul justru usaha untuk saling menonjolkan dirinya sendiri...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kini Pak Ustadz benar-benar tertawa. Ia tertawa terbahak-bahak. Mulutnya tak mungkin lagi dikunci. Saat foto para calon pemimpin bangsa itu seolah memandangi dirinya dengan tajam, Pak Ustadz menggelengkan kepalanya. Ia bahkan terus menggelengkan kepalanya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ah, betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, tapi mereka tidak tahu caranya...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sepeda motor Pak Ustadz melaju, meninggalkan asap yang mengepul dan menutupi foto-foto para calon pemimpin bangsa itu. ***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-7762730098683438025?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/7762730098683438025/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=7762730098683438025' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/7762730098683438025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/7762730098683438025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/07/pemimpin-yang-menonjolkan-diri.html' title='PEMIMPIN YANG MENONJOLKAN DIRI'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-7150513788676259157</id><published>2009-07-10T08:38:00.006+07:00</published><updated>2009-07-11T05:41:50.526+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang IBADAH'/><title type='text'>KENAPA ISLAM?</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Usai sholat Jum'at. Hari yang panas tidak menyurutkan langkah Pak Ustadz untuk meluncur ke pasar. Tak perlu heran karena jalan pulang menuju rumah memang melewati pasar. Pak Ustadz suka sekali dengan pasar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Di pasar Pak Ustadz menyapa ramah siapa saja. Dengan senyum sedikit, tentu. Bukankah senyum adalah bagian dari ibadah? Tapi, bukan itu sebenarnya tujuan utama Pak Ustadz. Di pasar Pak Ustadz dapat belajar apa saja kepada orang-orang yang ditemuinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ibu, kenapa ibu memeluk agama Islam?" tanya Pak Ustadz kepada seorang ibu yang lagi asyik memilih pakaian anak. Ibu muda berkerudung biru itu tersenyum. Malu. Ia bingung hendak menjawab apa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ah, Pak Ustadz pertanyaannya ada-ada saja.  Bingung ibu ini menjawabnya," timpal si ibu penjual baju yang sepertinya sudah kenal akrab dengan Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz mengalihkan pertanyaannya kepada seorang penjual pisang ambon yang nongkrong di depan kios ibu penjual baju tadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Pak, kenapa bapak beragama Islam?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sama seperti ibu yang sedang memilih baju, bapak penjual pisang itu juga kebingungan. Ia hanya memegang kopiah hitamnya yang sudah terlihat lusuh. Katanya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Wah bingung, Pak. Saya bingung mau jawab apa. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;Wong&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; sudah sejak dulu keluarga saya Islam. Kakek Islam, bapak Islam, ya saya juga Islam. Turun temurun Pak Ustadz, jadi saya tinggal ikut."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz manggut-manggut. Ia berusaha mengerti. Penjual pisang itu ditepuk-tepuknya dengan akrab. Bahkan tanpa canggung Pak Ustadz memeluknya dengan akrab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz melangkah lebih jauh. Ia lalu menghampiri seorang pemuda berambut gondrong yang menggunakan kaos hitam bertuliskan "Jihad". Pak Ustadz tersenyum senang. Ada semangat Islam pada dada anak itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Dik, apa alasan Anda memeluk agama Islam?" tanya Pak Ustadz seramah mungkin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pemuda itu tersenyum. Ia memandang Pak Ustadz dengan pandangan menyelidik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Bapak lebih tahu daripada saya tentang Islam. Kalaupun Bapak bertanya, saya tidak akan mampu menjawab pertanyaan Bapak dengan memuaskan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Tentang kaos itu...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Oh, saya tidak peduli dengan tulisannya, Pak. Saya suka kaos ini karena saya tertarik dengan desainnya. Unik dan artistik. Bapak suka?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hari ini Pak Ustadz disadarkan. Dakwah memang tidak boleh berhenti, terus berlanjut. Pak Ustadz tersenyum sendiri. Langkahnya di jalan dakwah semakin pasti. Allahu Akbar, desisnya. * * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-7150513788676259157?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/7150513788676259157/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=7150513788676259157' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/7150513788676259157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/7150513788676259157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/07/kenapa-islam.html' title='KENAPA ISLAM?'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-4749658050106249207</id><published>2009-07-09T08:35:00.007+07:00</published><updated>2009-07-09T10:51:01.197+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang IBADAH'/><title type='text'>Mazhab Cinta</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz sedang memberikan materi kajian tentang rukun ibadah. Kata Pak Ustadz, rukun ibadah itu ada tiga, yakni takut (&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;font-size:100%;" &gt;al khouf&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;), berharap (&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;font-size:100%;" &gt;roja'&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;), dan cinta (&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;font-size:100%;" &gt;mahabbah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;). Namun, di sela-sela memberikan materi kajian itu, Pak Ustadz beberapa kali diganggu oleh ucapan seorang pemuda yang hadir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz mulai jengah. Pertanyaan yang dilakukan seorang pemuda berpakaian lusuh dalam majelis taklim yang dipimpinnya benar-benar telah menyita seluruh perhatiannya. Mulanya Pak Ustadz berusaha sabar. Tapi, setelah berkali-kali pemuda itu memotong percakapannya, Pak Ustadz menjadi jengkel.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Sebenarnya apa yang saudara inginkan dari saya?" kata Pak Ustadz sedikit keras.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz tidak tahu siapa pemuda itu. Dari beberapa jamaah yang dikenalnya tidak ada yang seperti dia. Penampilannya ganjil. Ia berambut gondrong ketika yang lain berambut pendek. Ia memakai topi saat jamaah lain memakai kopiah. Ia berkaos ketika yang lain bergamis. Ia bercelana &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;font-size:100%;" &gt;jeans&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt; saat yang lain bersarung. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Saya ingin menolak secara keras pernyataan Ustadz. Menurut saya hanya &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;font-size:100%;" &gt;mahabbah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt; atau cinta yang patut kita jadikan sebagai rukun ibadah. Dengan cinta semua akan selesai. Bahkan cintalah yang akan membuat perang menjadi damai, bercerai menjadi satu. Cinta dan cinta. Tidak ada yang lain," kata pemuda itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz berusaha mendengarkan ucapan pemuda itu. Ia terus berusaha memendam kemarahan hatinya. Hati boleh panas, tapi kepala harus dingin. Maka Pak Ustadz membiarkan pemuda itu berbicara panjang lebar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Cinta adalah perekat utama keabadian. Tidak sempurna iman seseorang bila ia beribadah kepada Allah tanpa dilandasi cinta. Kalau kita sudah cinta kepada Allah, maka itulah hakikat ibadah yang sesungguhnya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kalau demikian apakah orang yang beribadah kepada Allah karena takut akan azab Allah, ia keliru?" sergah Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Bukan keliru Pak Ustadz, tapi salah. Salah besar!" tegas pemuda itu. "Ia berarti tidak mengenal hakikat ibadah yang sesungguhnya. Bagaimana mungkin ia menjadi hamba Allah, tapi ia justru takut kepada Allah. Allah bukan untuk ditakuti. Allah untuk dicintai."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz mencoba memahami ucapan pemuda itu. Namun, kembali lagi Pak Ustadz menyela ucapan pemuda itu sebelum ia melanjutkannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Apakah orang yang beribadah kepada Allah karena ia mengharap keridhoan Allah juga salah?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Itu juga salah, Pak Ustadz. Tidak boleh kita beribadah karena kita mengharap keridhoaan dan pahala Allah. Itu akan membuat ibadah kita tidak ikhlas. Hati mesti suci dalam beribadah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz manggut-manggut. Ia kini paham pikiran dan alur benak pemuda itu. Melihat pemuda itu Pak Ustadz jadi ingat kepada tokoh perempuan sufi, Rabiah al Adawiyah. Karena dari dialah sepertinya pemikiran pemuda itu bermula. Cinta, ya mazhab cinta!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kalau demikian apa yang Anda harapkan dari ibadah yang Anda lakukan?" tanya Pak Ustadz lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pemuda itu tergeragap. Ia tak menyangka Pak Ustadz akan bertanya seperti itu. Sesaat ia terdiam. Tak mau dirinya tersudut, pemuda itu menjawab dengan sedikit congkak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Oh, saya tidak mengharap apa-apa dari Allah. Saya cinta kepada Allah. Karena cinta, maka keinginan saya hanya satu, yaitu bertemu dengan pujaan saya itu. Tidak ada yang lain."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kalau demikian, saya pikir Anda keliru," cetus Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kok keliru?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;" Ya, keliru. Kalau Anda mencintai seorang wanita bukankah Anda menginginkan wanita itu memberikan apa yang Anda inginkan setelah Anda memberikan segalanya untuk dia?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Tapi, ini Allah, bukan wanita..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Apalagi Allah, zat yang Maha Kaya dan Maha Pemurah, tempat kita meminta dan memohon. Jelas tidak salah kalau kita berharap dari kemurahan Dia setelah kita ikhlas mencintai-Nya. Dan ingat, Allah memberikan kemurahan itu sebab Dia memang sudah berjanji kepada kita semua."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz sudah tak terbendung. Ia berusaha terus menjelaskan kepada pemuda itu tentang rukun ibadah. Bahkan akhirnya ia juga berusaha menjelaskan hakikat cinta agar pemuda itu tak keliru dalam memahami cinta. * * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-4749658050106249207?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/4749658050106249207/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=4749658050106249207' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4749658050106249207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4749658050106249207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/07/mazhab-cinta.html' title='Mazhab Cinta'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-4069656707698369355</id><published>2009-07-08T12:49:00.004+07:00</published><updated>2009-07-08T16:07:22.914+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>ISTRI YANG DITINGGAL SUAMINYA</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Hari Minggu. Pak Ustadz, istri, dan keempat anaknya berniat jalan-jalan. Mereka hendak memanfaatkan waktu liburan akhir pekan. Pak Ustadz ingin ke pantai. Istri Pak Ustadz ingin ke gunung. Anak-anaknya tak berubah dari keinginannya; pergi ke pusat perbelanjaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Seorang perempuan berkerudung hitam tiba-tiba sudah berdiri di pintu rumah. Pak Ustadz dan istrinya terkejut. Lebih-lebih anaknya. Mereka kaget karena perempuan itu datang seperti tanpa jejak dan suara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Perempuan itu datang tidak sendirian. Ia datang bersama dua anak balita. Seorang dituntunnya, seorang lagi masih dalam gendongannya. Mereka bukan peminta-minta. Tapi, dari gurat wajahnya, Pak Ustadz tahu bahwa perempuan itu sedang memendam kesedihan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Maaf Pak Ustadz, saya menganggu keluarga Bapak...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Perempuan itu memulai ucapannya dengan getir. Matanya menyipit, seperti telah lama menahan butiran airmata yang jatuh satu-satu. Beberapa kali ia memandang ke atas, lalu turun lagi ke bawah. Bibirnya tak lagi membuka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ada apa ibu? Apa yang bisa saya bantu?" tanya Pak Ustadz ramah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Perempuan itu menahan suaranya. Bujuk rayu Pak Ustadz agar perempuan itu segera menceritakan keluh resahnya seolah tak mempan. Perempuan itu asyik dengan kesedihannya. Namun, tak lama. Setelah istri Pak Ustadz campur tangan, perempuan berkerudung itu akhirnya membuka suara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Perempuan itu mengenalkan dirinya sebagai Surti, ibu tiga anak yang baru saja ditinggal mati suaminya. Ia kini tidak punya siapa-siapa. Ia kini tidak memiliki apa-apa. Perempuan empatpuluhan itu harus menanggung beban hidup ketiga anaknya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Surti hidup tanpa harapan. Ia takut dan bingung. Ia takut menghadapi masa depan yang tidak pasti. Ia bingung bagaimana mengasuh dan mendidik ketiga anaknya. Ia tak tahu mesti berbuat apa. Masa depan dan hidupnya gelap. Kelam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz dan istrinya mendengarkan kisah Surti hingga selesai. Mereka tak mampu menahan keharuan. Tapi, hidup memang terus berjalan. Sikap optimis harus dikedepankan. Maka Pak Ustadz dan istrinya berjanji kepada Surti akan membantunya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Insya Allah saya akan membantu sebisa mungkin, " janji Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ibu bisa ke rumah saya setiap hari. Saya dan ibu-ibu di sekitar sini biasa belajar keterampilan untuk mengisi waktu. Belajar memasak, belajar menjahit, dan keterampilan lain. Banyak ibu-ibu yang berhasil mandiri setelah belajar di sini," terang istri Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bibir Surti membelah. Ada sedikit harapan menyeruak dari sana. Tak berapa lama Surti berpamitan. Persis di depan pintu, istri Pak Ustadz berucap tegas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ibu, anak-anak yang sukses biasanya muncul dari seorang istri yang ditinggal suaminya, bukan muncul dari suami yang ditinggal mati istrinya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Surti tersenyum puas. Pak Ustadz terperanjat. Tapi, hatinya mengamini perkataan istrinya. * * *&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-4069656707698369355?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/4069656707698369355/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=4069656707698369355' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4069656707698369355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4069656707698369355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/07/istri-yang-ditinggal-suaminya.html' title='ISTRI YANG DITINGGAL SUAMINYA'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-9157240061679363505</id><published>2009-07-07T21:03:00.004+07:00</published><updated>2009-07-08T08:21:35.342+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>JATUH, MAKA BANGKIT</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Anak-anak TK Assalam itu berlarian ke sana kemari. Bebas. Lepas. Mereka tengah berusaha membebaskan dan melepaskan dirinya masing-masing. Tertawa dan bersorak, menangis dan gembira. Laki-laki dan perempuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tanah yang lapang itu serasa sempit, tak mampu menampung gejolak anak-anak Assalam. Suara lembut nan teduh dari para guru gagal membedungnya. Saran dan nasihat nan mencerahkan dari para orang tua tidak mereka pedulikan. Mereka demikian asyik hingga seperti terlupa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Anak-anak memang mata dunia...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz dan istrinya memandang dari jauh. Mereka menyaksikan Nadia, putri bungsunya larut dalam kegembiraan. Bersama teman-temannnya, Nadia tengah merayakan piknik liburan akhir sekolah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Nadia tubuhnya kecil, tidak seperti teman-teman yang lain. Meski sudah merangkak naik ke kelas yang lebih tinggi, tubuh Nadia tak berubah. Ia tetap kecil. Tubuh Nadia tidak seperti tubuh teman-temannya yang naik berat dan tingginya seiring dengan kenaikan kelas di sekolahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Walau kecil, Pak Ustadz selalu bangga dengan Nadia. Nadia tipikal anak yang tidak mau kalah dengan teman-temannya. Bahkan dengan teman yang lebih besar dan lebih tinggi. Nadia juga model anak yang pantang menyerah. Ia tidak mudah patah sebelum berjuang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bruk!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz terkejut. Istri Pak Ustadz menjerit. Nadia yang sedang berlomba lari dengan teman-temannya terjatuh. Tubuhnya terjerembab. Nadia meringis. Ia seperti memendam rasa sakit. Juga malu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sontak istri Pak Ustadz berdiri. Ia berniat menuju Nadia untuk menolongnya. Di saat kakinya melangkah, tangan Pak Ustadz mencengkeram pergelangan tangan istrinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Biarkan!" perintah Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Istri Pak Ustadz berusaha melepaskan diri. Ia tak tega membiarkan Nadia kesakitan. Tapi, Pak Ustadz malah bertambah keras mencengkeram. Istri Pak Ustadz tak berkutik. Ia terbenam dalam tempat berdirinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Lihat! Lihat saja!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Nadia perlahan bangkit. Ya, bangkit berdiri. Tak berapa lama ia telah berlari kembali. Ia berusaha menyusul teman-temannya yang sudah jauh di depan. Nadia tak putus asa. Ia terus mengejar dan mengejar. Terus mengejar!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kau tahu, kenapa Nadia terjatuh?" tanya Pak Ustadz kepada istrinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Mungkin ada benda yang menghalanginya. Atau mungkin karena dia kurang hati-hati," jawab istri Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz menggeleng.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Bukan. Bukan itu, " terang Pak Ustadz. "Nadia terjatuh karena dia hendak bangkit. Kemudian berdiri. Lalu berlari mengejar...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Istri Pak Ustadz memandang suaminya. Ia tak mengerti maksud jawaban suaminya itu. Pak Ustadz membalas pandangan istrinya dengan senyum. Tanpa kata. Hanya senyum. * * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-9157240061679363505?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/9157240061679363505/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=9157240061679363505' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/9157240061679363505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/9157240061679363505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/07/jatuh-maka-bangkit.html' title='JATUH, MAKA BANGKIT'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-2665045338873973424</id><published>2009-07-07T13:03:00.006+07:00</published><updated>2009-07-07T19:57:29.202+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang TUBUH'/><title type='text'>PUASALAH DENGAN HATI!</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Agus penasaran dengan kegemaran Pak Ustadz puasa Senin-Kamis. Apa sebenarnya yang dicari? Ibadah lengkap. Akhlak unggul. Ilmu tak tertandingi. Kalau segalanya telah paripurna, mestinya ia tak perlu berbuat "macem-macem".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Maka sepulang dari tempat kerjanya Agus langsung meluncur ke rumah Pak Ustadz. Waktu sudah menjelang maghrib. Alhamdulillah, bisik Agus dalam hati. Ia melihat Pak Ustadz tengah membaca buku di teras rumah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tetapi, dari jauh Pak Ustadz sudah menjulurkan senyum. Secara tak sengaja matanya telah melihat bayangan Agus yang sedang berjalan ke rumahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Baru pulang?" tanya Pak Ustadz ramah setelah menjawab salam Agus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Iya, pak. Mumpung lewat, sekalian mampir," sahut Agus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz sepertinya sudah siap pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah. Itu terlihat dari pakaiannya yang rapi. Sarung, baju gamis, dan kopiah menjadi asesoris yang melekat di tubuhnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Nunggu maghrib, Pak Ustadz?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tersenyum. Mulutnya tidak bersuara. Tapi, dari senyumnya Agus tahu Pak Ustadz sedang menunggu bedug maghrib. Ah, sebuah kenikmatan yang tiada tara. Menunggu bedug magrib untuk segera berbuka puasa setelah seharian bergelut dengan lapar dan dahaga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Pak Ustadz, saya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;kok&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; kalau puasa Senin-Kamis nggak pernah kuat ya?" tanya Agus. Mirip sebuah keluhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tidak segera menanggapi. Buku yang sedang dibaca ia letakkan di atas paha. Matanya menatap Agus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Memang kamu pingin puasa Senin-Kamis juga?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ya kepingin. Tapi, bagaimana lagi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;wong&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; nggak pernah kuat."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tersenyum. Agus merasa senyuman Pak Ustadz lebih mirip sebuah cibiran. Tapi, ia tidak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar Pak Ustadz, saya tidak bohong. Kalau puasa Ramadhan, saya kuat, tapi kalau puasa Senin-Kamis saya nggak pernah kuat. Batal terus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus terkekeh.Namun, Pak Ustadz jauh dari terkekeh. Matanya tetap terarah ke mata Agus. Katanya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Kamu nggak kuat puasa Senin-Kamis karena kamu belum menyertakan hatimu dalam berpuasa. Kalau kamu sudah menyertakan hatimu, kamu pasti kuat." kata Pak Ustadz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, Pak Ustadz ada-ada saja. Mana bisa hati berpuasa...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bisa!Bukankah hatimu yang memutuskan berniat puasa. Kalau hatimu yang memutuskan niat, hatimu pula yang akan melindungi puasamu. Karena itu, puasalah dengan hati! Jangan dengan yang lain...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau saya tidak kuat puasa berarti hati saya sebenarnya tidak kuat. Lalu ia kirim rasa tidak kuat itu ke otak dan dari otak lalu ke perut. Dari perut lalu ke kaki dan tangan untuk menuju warung makan hingga makanannya sampai di mulut."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, itu kamu tahu...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus tersenyum gembira mendengar pujian Pak Ustadz. Tapi, Agus akan lebih gembira lagi bila mulai besok ia sudah mampu puasa Senin-Kamis. Puasa dengan hati!* * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-2665045338873973424?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/2665045338873973424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=2665045338873973424' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/2665045338873973424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/2665045338873973424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/07/puasalah-dengan-hati.html' title='PUASALAH DENGAN HATI!'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-6456287488592936299</id><published>2009-07-07T10:25:00.004+07:00</published><updated>2009-07-07T12:40:24.031+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>"I LIKE MONDAY"</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Hari Senin. Matahari merekah cerah. Pak Ustadz asyik mengelap motor kesayangannya. Sepeda motor bebek tahun 80-an. Di tangan Pak Ustadz sepeda motor lawas itu masih terlihat kinclong. Jangan heran! Karena Pak Ustadz tak pernah lelah mencintainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Sibuk Pak Ustadz?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sebuah suara ramah menyentuh gendang telinga Pak Ustadz. Sesaat Pak Ustadz terkejut. Namun, bibir Pak Ustadz mengembang tipis melihat siapa yang menyapanya. Agus! Preman kampung yang mulai sadar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Eh, kamu Gus. Ya beginilah...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Agus tampak rapi. Kemeja berwarna oranye menyelimuti bajunya. Baju seragam. Ya, sejak satu bulan yang lalu Agus memang telah diangkat sebagai juru parkir di pasar. Sebuah anugerah yang sangat disyukuri Agus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Semuanya berkat jasa Pak Ustadz. Demikian Agus berkali-kali mengungkapkannya bila ada orang yang bertanya, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;font-size:100%;" &gt;kok&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt; bisa jadi tukang parkir di pasar. Karena Pak Ustadz telah menawari dirinya bekerja setelah Pak Ustadz melobi kepala pasar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Mau berangkat?" tanya Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ya, pak."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Baik-baiklah bekerja."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Terima kasih."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz menepuk-nepuk pundak Agus. Agus sedikit bergetar. Perhatian dan kasih sayang yang diberikan Pak Ustadz tak pernah berubah. Tetap seperti dulu. Entah bagaimana nasib diriku kalau Pak Ustadz tidak menolongku, batin Agus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ini hari Senin, jangan lupa. Semangat ya...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Insya Allah, Pak Ustadz."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"I Like Monday...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz tersenyum. Agus juga  tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kenapa memang Pak Ustadz?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Karena aku  bisa puasa Senin-Kamis."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Agus kembali bergetar. Ah, Pak Ustadz. Tak henti-hentinya Bapak memberikan arti dalam kehidupan ini. Agus melangkah pergi.* * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-6456287488592936299?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/6456287488592936299/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=6456287488592936299' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6456287488592936299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6456287488592936299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/07/i-like-monday.html' title='&quot;I LIKE MONDAY&quot;'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-536317178913543218</id><published>2009-07-03T13:38:00.006+07:00</published><updated>2009-07-05T07:43:42.351+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>JIHAD HUJAN (II)</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Irfan benar-benar tak mampu menyembunyikan perasaannya. Peristiwa mengantarkan Pak Ustadz berdakwah di kampung Karangsari membuatnya agak bergidik. Bukan ngeri, tapi takjub. Seumur-umur ia baru pertama kali mengalami kejadian seperti itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Jadi, kamu tidak kehujanan sampai di sana?" tanya Marwan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Heeh! Aku juga bingung!" jawab Irfan masih juga dengan kebingungannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sore itu, teras di rumah Irfan sumpek. Penuh ketidakpercayaan. Irfan harus menjelaskan kepada semua yang hadir. Teman-temannya. Ada Marwan yang hobi sekali adzan. Jafar yang bercita-cita mati di medan jihad. Juga Akmal si penggiat ilmu. Mereka tumplek demi mendengarkan cerita menakjubkan dari Irfan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Reaksi Pak Ustadz bagaimana saat itu?" selidik Marwan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Yah, biasa saja...." terang Irfan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Maksud kamu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ya biasa. Pak Ustadz tidak kaget dengan peristiwa itu. Sepertinya ia sudah biasa mengalami hal itu. Pak Ustadz juga hanya tersenyum saat beberapa orang kebingungan menyaksikan kejadian itu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Marwan mengangguk-angguk. Ia mulai sedikit mengerti. Tapi, tidak dengan Jafar. Ia masih penasaran dengan Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Apa sebelumnya Pak Ustadz baca doa-doa sebelum ia menembus hujan lebat itu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Tidak. Ia hanya berucap singkat. Bismillah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Jangan-jangan Pak Ustadz memelihara jin. Sebab bagaimana mungkin hujan deras itu tidak mampu membasahi tubuhnya. Ajaib sekalikan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Semua mata memandang ke arah Jafar. Mereka tidak menyangka Jafar berkata seperti itu. Soalnya, selama ini Pak Ustadz justru sangat melarang para jamaah pengajiannya untuk "bergaul" atau mencoba bergaul dengan makhluk halus. Jadi tidak mungkin Pak Ustadz memelihara jin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Oh, maaf. Maaf, "cetus Jafar menyadari kekeliruannya. "Soalnya aku juga bingung &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;kok&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Pak Ustadz bisa seperti itu. Kayak orang sakti saja."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Menurutku itu karomah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kali ini semua pandangan tertuju kepada ucapan Akmal. Karomah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Bagaimana kamu tahu itu karomah?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Irfan, Marwan, dan Jafar menunggu jawaban Akmal. Giliran Akmal sekarang memandang lurus ke arah Irfan. Irfan jadi bingung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Saat kamu dan Pak Ustadz pulang dari pengajian masih hujan?" tanya Akmal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Masih. Tapi hanya gerimis..." jawab Irfan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Apa kamu dan Pak Ustadz basah terkena air?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Irfan mengingat-ingat kejadian itu. Ia ingat benar baju dan celananya agak basah karena air gerimis terus menerpa badannya. Pak Ustadz juga demikian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Iya. Aku basah. Juga Pak Ustadz."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Yup! Akmal menjentikkan jarinya. Bibirnya tersenyum. Tapi, senyuman Akmal malah membuat teman-temannya bertambah bingung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Kok senyum-senyum?" protes Jafar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Lho kalian bagaimana?! Bukankah Pak Ustadz sendiri yang pernah menerangkan bahwa karomah bisa diterima siapa saja asal ia terus berusaha mendekat kepada Allah. Tapi, Pak Ustadz pula yang menjelaskan kalau karomah hanya bisa diterima satu kali pada satu kejadian. Kalau berkali-kali itu pasti perbuatan jin...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Semua mendengar penjelasan Akmal dengan penuh perhatian. Mereka baru ingat, iya Pak Ustadz memang pernah menerangkan hal itu. * * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-536317178913543218?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/536317178913543218/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=536317178913543218' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/536317178913543218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/536317178913543218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/07/karomah-sekali.html' title='JIHAD HUJAN (II)'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-276466907989520064</id><published>2009-07-03T10:01:00.005+07:00</published><updated>2009-07-05T07:43:14.165+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang CINTA'/><title type='text'>JIHAD HUJAN (I)</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sudah lebih dari setengah jam Pak Ustadz dan Irfan berteduh. Hujan masih mengguyur deras kampung Karangsari di kaki bukit Karangkobar. Langit gelap, dan awan biru seolah enggan memunculkan pesonanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz dan Irfan berteduh dalam sebuah warung kecil. Sambil menanti hujan reda, mereka berusaha menikmati makanan kecil yang terhidang. Pak Ustadz memesan teh hangat. Irfan menyeruput kopi hitam kegemarannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Masih hujan deras Pak Ustadz, bagaimana ini?" tanya Irfan meminta pendapat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz melihat jam di pergelangan tangannya. Kepalanya lalu mendongak, melongok langit di atas. Ia tersenyum tipis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Kita berteduh saja dulu. Masih banyak waktu. Insya Allah kita tidak terlambat."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ini adalah kesekian kalinya Irfan diajak Pak Ustadz berdakwah. Awalnya, Irfan tidak mau karena takut dirinya akan menjadi beban bagi Pak Ustadz. Tapi, Pak Ustadz memaksanya. Pak Ustadz bahkan menunjukkan kepada dirinya bahwa ia diperlukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Irfan memang ahli dalam mengendarai motor. Jadi, apa salahnya bila Pak Ustadz merasa nyaman bepergian dengan Irfan. Selain itu, Irfan juga cepat hafal dengan situasi jalanan. Maka tak salah jika Pak Ustadz meminta Irfan mengantarkan ke mana saja ia pergi berdakwah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Irfan bersyukur dapat berdekatan dengan Pak Ustadz yang ia hormati. Ia jadi bisa belajar banyak kepada Pak Ustadz. Soal-soal agama yang tidak ia pahami dengan mudah bisa ia mengerti setelah bertanya kepada Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Irfan, sepertinya hujan tidak akan reda&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;. Padahal, waktu kita mendesak. Kasihan para jamaah yang sudah menunggu...." ucap Pak Ustadz. "Kita lanjutkan saja!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Tapi, masih hujan Pak Ustadz. Bisa basah kuyup kita sampai di sana."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Insya Allah tidak apa-apa."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Jadi nekad kita &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;nih&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;, Pak Ustadz..." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz tersenyum. Irfan menyalakan motornya. Pak Ustadz membonceng di belakang. Berdua mereka menyibak hujan yang deras.  Mereka seolah tidak peduli semua itu. Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah secepatnya sampai di tujuan dan betrtemu jamaah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sekitar setengah jam Pak Ustadz dan Irfan sampai di tempat pengajian. Pak Ustadz turun dan Irfan memarkir motornya. Betapa terkejutnya Irfan saat mendapati tubuhnya jauh dari basah. Kering sama sekali! Bajunya kering, celananya kering. Aneh, padahal di jalanan tadi hujan deras mengguyur kepala.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Irfan memandang Pak Ustadz yang sedang bersalaman dengan panitia pengajian. Sama! Baju dan celana Pak Ustadz juga tidak basah. Kering! Menyaksikan hal itu, Irfan tertegun. Ia seperti hendak pingsan. Ia tidak tahu apa yang terjadi. * * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-276466907989520064?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/276466907989520064/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=276466907989520064' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/276466907989520064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/276466907989520064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/07/jihad-hujan.html' title='JIHAD HUJAN (I)'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-2927637276583427697</id><published>2009-07-02T10:47:00.005+07:00</published><updated>2009-07-02T15:10:41.557+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AMAL'/><title type='text'>JEBAKAN AMAL</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz tersipu-sipu. Ia benar-benar tak mampu menahan rasa malu sekaligus bangganya. Di hadapan jamaah yang kebanyakan ibu-ibu, salah seorang jamaah memuji habis-habisan akhlak Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Pak Ustadz, saya ingin anak-anak saya nantinya seperti Pak Ustadz. Alim, lembut, tidak suka marah, baik kepada semua orang, dan disayangi para jamaah," cetus ibu muda yang berkerudung putih itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Mulanya Pak Ustadz terkejut dengan pernyataan ibu itu. Karena setelah selesai memberikan kajian, para ibu sebenarnya diminta mengajukan pertanyaan. Namun, yang keluar dari ibu itu malah sebuah pujian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Pak Ustadz, zaman sekarang sulit sekali kita mencari teladan. Di televisi, koran, kita sering menjumpai orang yang baik. Ia santun. Suka menolong. Perhatian terhadap rakyat. Eh, tak tahunya ia seorang koruptor."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz membiarkan ibu itu terus berbicara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ada pula orang terkenal. Ia layak jadi panutan. Halus budinya. Pintar otaknya. Tinggi ilmunya. Tak tahunya ia suka sekali melakukan kekerasan terhadap anak istrinya. Keluarganya hancur. Istrinya kabur. Anaknya lebur."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Para ibu tergelak mendengar ibu itu. Si ibu bertambah semangat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Pak Ustadz, saya tidak mau tertipu dengan televisi atau koran. Saya juga tidak mau tertipu dengan omongan orang. Saya telah lama mengikuti kajian Pak Ustadz. Dan menurut saya, hanya Pak Ustadz yang pantas menjadi teladan di mata kami semua. Ibu-ibu di sini...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tepuk tangan menggemuruh. Para ibu bersorak sorai. Mereka mengamini perkataan ibu berkerudung putih itu. Pak Ustadz menjadi salah tingkah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ibu, mohon pertanyaan saja...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Oh, saya tidak akan bertanya, Pak Ustadz, " ucap ibu itu terus-terang. "Saya hanya ingin mengucapkan bahwa kita semua sebenarnya telah kehilangan figur teladan. Hanya Pak Ustadz yang sebenarnya layak menjadi teladan bagi kami semua."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pernyataan ibu itu telah sungguh meninabobokan Pak Ustadz. Ia menjadi tidak fokus. Untung sekali itu terjadi sebelum ia menutup acara pengajian. Kalau tidak bisa &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;font-size:100%;" &gt;berabe&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt; nantinya. Bisa-bisa acara pengajian bubar sebelum waktunya gara-gara ustadnya grogi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;font-size:100%;" &gt;abis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sepulang dari pengajian itu, Pak Ustadz tercenung. Benarkah ia seperti yang ibu itu bayangkan? Benarkah ia seorang ahli ibadah? Benarkah ia seorang ahli ilmu? Pak Ustadz tersenyum. Di hatinya terselip rasa bangga yang susah ia tepis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tiba-tiba sebuah suara dari kedalaman mengusir keras senyum Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ahli ibadah kerap terjerembab oleh sikap &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;font-size:100%;" &gt;ghuluw&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;, berlebih-lebihan dalam beribadah. Ahli ilmu sering terjebak pada sikap &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;font-size:100%;" &gt;riya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;, sombong sehingga merasa dirinya paling benar. Berhati-hatilah...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz terkaget-kaget. Mulutnya segera berucap, memohon ampun kepada Sang Khalik. * * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-2927637276583427697?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/2927637276583427697/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=2927637276583427697' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/2927637276583427697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/2927637276583427697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/07/jebakan-amal.html' title='JEBAKAN AMAL'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-2853962175926098140</id><published>2009-06-25T08:30:00.006+07:00</published><updated>2009-06-25T09:26:33.909+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>BOLEH IRI (II)</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz dan Zada meninggalkan rumah Bang Salim. Mereka tidak bertemu Bang Salim. Kata istrinya, Bang Salim sudah satu minggu tidak pulang. Entah ke mana, tidak ada yang tahu. Ia hanya pergi berdua bersama sopirnya. Pesan Bang Salim, tak usah ditunggu dan dicari karena ini urusan bisnis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sebagai seorang perempuan, istri Bang Salim tahu ia dibohongi. Namun, sebagai seorang istri ia tidak ingin ribut. Malu sama tetangga, malu sama anak-anak, malu sama keluarga besarnya. Istri Bang Salim hanya menginginkan keluarganya tetap utuh dan harmonis. Ia tidak ingin anak-anaknya menjadi korban dari keegoan dia dan suaminya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tetapi, istri Bang Salim menyadari bahwa dia hanya seorang istri biasa. Ia dapat marah dan sedih, kecewa dan menangis. Maka di hadapan Pak Ustadz dan Zada, istri Bang Salim menumpahkan segalanya. Kata istri Bang Salim, seorang perempuan yang lebih muda dari dirinya telah mengoyak-oyak keharmonisan keluarganya yang telah dibangun hampir 20 tahun.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Bang Salim mungkin sedang lupa ya Pak Ustadz?" gumam Zada.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Saya tidak tahu apa Bang Salim sedang lupa atau malah sengaja lupa..." timpal Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz dan Zada terus berjalan meninggalkan kediaman Bang Salim yang agak mewah untuk ukuran desanya. Dalam benak mereka terbayang kegigihan seorang Bang Salim dalam berusaha. Tanpa kenal lelah setiap pagi sebelum bedug subuh berbunyi rumah Bang Salim sudah penuh dengan aktivitas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Para penjual ayam potong di pasar berebut di rumah Bang Salim demi mendapatkan ayam potong yang hendak dijualnya ke pasar. Padahal, pada awalnya, Bang Salim mesti meyakinkan para penjual ayam potong di pasar agar mau mengambil ayam potong darinya. Kini mereka malah berbodong-bondong ke rumahnya tanpa Bang Salim perlu meyakinkannya lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bang Salim sudah sukses. Tapi, kesuksesan itu telah membuatnya lupa. Ia lupa masjid yang dulu sering dikunjunginya untuk sekadar sholat berjamaah. Ia lupa untuk kembali duduk dalam majelis taklim yang kerap mendatangkan kedamaian dalam hatinya. Ia lupa terhadap anak dan istrinya yang kerap menjadi tumpah kasih dan sayang demi hilangnya rasa lelah.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ah, saya jadi tak ingin seperti Bang Salim, Pak Ustadz. Takut lupa..." kata Zada getir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz tersenyum. Katanya kemudian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kau boleh merengkuh dunia. Kau boleh mengambil segala isinya agar kau bisa disebut kaya, bahkan kaya raya. Tapi, setelah kau rengkuh, jangan kau letakkan dunia itu dalam hatimu. Sekali kau taruh dunia di hatimu, maka dua penyakit akan langsung mendatangimu. Tanpa bisa dicegah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Dua penyakit?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ya. Cinta dunia dan takut mati!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Zada merinding mendengar perkataan Pak Ustadz. Ia kini sadar apa yang sebenarnya ia inginkan dalam hidup.* * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-2853962175926098140?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/2853962175926098140/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=2853962175926098140' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/2853962175926098140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/2853962175926098140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/06/boleh-iri-ii.html' title='BOLEH IRI (II)'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-8594126952225074582</id><published>2009-06-23T20:53:00.005+07:00</published><updated>2009-06-23T21:36:31.194+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>BOLEH IRI (I)</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz hendak pergi ke rumah Bang Salim. Lama sekali ia tidak berjumpa dengannya. Mungkin sudah lebih dari satu bulan. Sejak terdengar kabar bahwa bisnis jual beli ayam potongnya sukses besar, Bang Salim tak pernah lagi tampak di masjid.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz tidak pergi sendirian. Ia mengajak Zada, anak muda yang selalu rindu kepada masjid. Dengan Zada di sampingnya Pak Ustadz merasa memiliki teman bicara di sepanjang jalan yang dilaluinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kira-kira Bang Salim seperti apa ya sekarang?" tanya Pak Ustadz membuka pembicaraan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Banyak orang bilang sekarang Bang Salim sudah makmur, Pak Ustadz. Usahanya sukses. Karyawannya bertambah terus," jawab Zada.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Baguslah kalau begitu. Saya senang kalau salah satu jamaah kita berhasil. Sebab itu membuat nama jamaah masjid kita terangkat."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz tersenyum. Zada manggut-manggut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kau ingin seperti Bang Salim?" tanya Pak Ustadz tiba-tiba.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Zada tergeragap. Ia bingung bagaimana menjawabnya. Katanya kemudian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ah, saya tidak tahu, Pak Ustadz. Tapi, siapa &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;font-size:100%;" &gt;sih&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt; yang tidak ingin berhasil. Semua juga ingin sukses."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kau iri dengan kesuksesan Bang Salim?" tanya Pak Ustadz lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kembali Zada tergeragap. Kali ini ia benar-benar tak mampu menjawabnya. Ia ingin seperti Bang Salim, tapi ia tidak tahu apakah ia dilingkupi rasa iri atau tidak. Pokoknya, kalau bisa ia ingin seperti Bang Salim. Titik!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Kau tidak boleh iri terhadap Bang Salim. Kau hanya boleh iri terhadap dua orang...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Dua orang?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Ya. Kau hanya boleh iri terhadap orang kaya yang menginfakkan hartanya di jalan Allah. Kau juga boleh iri terhadap orang berilmu yang tidak pernah putus menyebarkan ilmunya ke tengah masyarakat. Selain kepada dua orang itu, kau tidak boleh iri."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Zada mengangguk-angguk mendengar perkataan Pak Ustadz. Tapi, di manakah dua orang yang boleh ia irikan itu? Zada ingin sekali bertemu. * * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-8594126952225074582?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/8594126952225074582/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=8594126952225074582' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/8594126952225074582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/8594126952225074582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/06/boleh-iri-i.html' title='BOLEH IRI (I)'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-4937574710628992382</id><published>2009-06-22T10:06:00.003+07:00</published><updated>2009-07-16T09:12:29.497+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang IBADAH'/><title type='text'>ISLAM YANG SEDERHANA</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sore ini Pak Ustadz kedatangan tamu. Simon namanya. Usia Simon masih muda. Sekitar tiga puluhan. Meski sudah menginjak usia tigapuluh, Simon  belum lagi menikah. Ia masih suka melajang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Alasan Simon melajang membuat Pak Ustadz tertawa. Katanya, ia belum mau menikah karena ia masih mengejar ilmu keagamaan. Lucunya, demikian kata Simon selanjutnya, semakin ia belajar agama, semakin bingung ia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Memang Bang Simon belajar agama ke mana &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;kok&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; malah bingung?" tanya Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Oh, semua acara agama pasti saya datangi Pak Ustadz, " jawab Simon tegas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Simon lalu menceritakan kegiatannya. Setiap hari tidak ada acara keagamaan yang tidak ia ikuti. Dari mulai majelis zikir, majelis taklim, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;liqo, halaqah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;; semua ia ikuti. Dari mulai aliran Islam yang "lembut" hingga yang paling "keras" sekalipun, ia datangi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tetapi, semakin ia bersemangat, semakin ia tidak paham, mana yang benar dan mana yang keliru. Mana ajaran yang harus diikuti dan mana yang mesti diabaikan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Saya jadi jengkel Pak Ustadz. Semangat saya mengaji jadi turun..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kok&lt;/span&gt; Pak Ustadz malah tersenyum," protes Simon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz kali ini tertawa. Simon menjadi semakin tidak enak hati. Tapi, Pak Ustadz langsung memupus ketidakenakan hati Simon dengan berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau Bang Simon tak mau bingung syaratnya hanya dua....?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa itu Pak Ustadz?" sergah Simon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Niatkan hati Bang Simon mengaji semata-mata karena Allah, jangan karena yang lain. Ikhlas! Yang kedua, ikutilah jejak Nabi dalam beragama, jangan mengikuti yang macem-macem. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Itiba'&lt;/span&gt;! Kalau Nabi tidak memberi contoh ya jangan diikuti, bikin susah nanti."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hanya itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz mengangguk lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sederhana sekali Pak Ustadz?" Simon tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya. Islam memang agama yang sederhana. Islam tidak diciptakan untuk membuat sulit umatnya..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini Pak Ustadz berdoa, semoga dengan penjelasannya itu Simon tidak bingung lagi sehingga ia segera dapat mengakhiri masa lajangnya. * * *&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-4937574710628992382?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/4937574710628992382/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=4937574710628992382' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4937574710628992382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/4937574710628992382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/06/bang-simon.html' title='ISLAM YANG SEDERHANA'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-3327577579281361021</id><published>2009-06-21T07:58:00.001+07:00</published><updated>2009-07-14T13:17:13.719+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AKHLAK'/><title type='text'>ANAK DOA</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz pulang dari pemakaman. Hatinya haru. Ratusan pelayat rela mengantarkan jenazah ibunya hingga ke pemakaman. Sepanjang jalan menuju pulang, tak henti-hentinya ia bersalaman dan berucap terima kasih kepada para pelayat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz merasakan letih. Derita sakit sang ibu hingga kematian menjemput telah mendera Pak Ustadz lahir batin. Hatinya memang ikhlas dan tulus. Tapi, Pak Ustadz tak mungkin mengingkari kenyataan bahwa dirinya teramat letih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hampir sebulan ia menjaga ibunya. Hampir sebulan Pak Ustadz lebih banyak membuka mata dibanding menutup mata. Hampir sebulan ia menyadari bahwa kasih ibu memang sepanjang hayat, sedangkan kasih anak cuma sepanjang hasta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz masuk ke rumahnya. Ia terkejut karena masih banyak pelayat yang antre menunjukkan rasa bela sungkawanya. Kebanyakan dari mereka para ibu. Ada yang sudah duduk, ada yang masih berdiri, ada pula yang malah baru datang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Terima kasih. Terima kasih."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz menyapa para pelayat dengan senyum ramah. Ia berusaha tidak menampakkan keletihannya. Bagaimanapun juga tamu adalah orang-orang yang terhormat. Siapa lagi yang akan menghormati tamu kalau bukan si tuan rumah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz menarik kursi untuk duduk. Belum lima menit ia menyapa para pelayat, Pak Ustadz dikejutkan oleh melayangnya sebuah botol air minum ke kepalanya. Ups! Untung Pak ustadz menghindar. Lalu...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Abi! Abi! Kakak nakal!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebuah tangisan kecil ada dalam dekapan Pak Ustadz. Nadia, putri bungsu Pak Ustadz yang baru berusia lima tahun. Ia tersedu-sedan. Pak Ustadz tahu apa yang terjadi. Dari dalam rumah keluar tiga anak hampir sebaya yang saling bercanda, tertawa. Lepas. Liar. Merusak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Fakih, Abdan, dan Zaki. Mereka adalah anak-anak pertama hingga ketiga Pak Ustadz. Mereka saling melempar botol minuman. Tubuh Zaki basah kuyup. Juga Abdan. Si sulung Fakih tergelak dalam tawa kemenangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Para pelayat tak mampu berucap. Mereka seolah takjub dengan pemandangan yang sangat tidak biasa itu. Entah apa yang ada dalam benak mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Fakih, Zaki, Abdan. Duduk di sini kalian, dekat Abi."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ajaib! Hanya dalam beberapa kata perintah yang bernada lembut, dan bahkan terasa halus, ketiga anak itu beringsut duduk di dekat ayah mereka. Tak bersuara. Diam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Bapak-bapak. Ibu-ibu. Tolong aminkan doa saya ini...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Maka Pak Ustadz segera menengadahkan tangannya. Lisannya berucap dengan doa-doa berbahasa Arab yang ditutup dengan kata-kata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ya Allah, jadikanlah putra-putra kami layaknya Ismail putra Ibrahim dan putri kami layaknya Fathimah putri Muhammad..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Amin. Amin."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Para pelayat seolah tersihir dengan doa Pak Ustadz. Namun, mereka lebih terpesona dengan cara Pak Ustadz mendidik putra-putrinya. Sungguh elok!* * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-3327577579281361021?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/3327577579281361021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=3327577579281361021' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/3327577579281361021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/3327577579281361021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/06/anak-doa.html' title='ANAK DOA'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-6412912899916812310</id><published>2009-06-20T07:57:00.000+07:00</published><updated>2009-06-20T09:21:44.156+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>MAKAM INDAH</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;Ibu Pak Ustadz dimakamkan sore itu. Tidak perlu menunggu keesokan harinya. Terlalu lama nanti. Sesudah dimandikan, dikafani, dan disholatkan, ratusan pelayat mengantar jenazah ibu Pak Ustadz ke tempat pemakaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalan menuju makam, semua larut dalam duka. Beberapa kerabat bahkan masih menyisakan kesedihan yang mendalam. Ibu Pak Ustadz memang ibarat dewi. Segala kebaikan dan ketulusan, keramahan dan kelembutan seperti tidak lekang dimakan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sepanjang jalan yang terdengar dari bibir para pelayat adalah kebaikan. Kalau tidak mengabarkan kebaikan ibu Pak Ustadz, bibir mereka bergumam, menyebut nama kebesaran Sang Khalik. Mereka seakan ingin bicara, ibu Pak Ustadz, kebaikan, dan Sang Khalik adalah tiga hal yang menyatu. Tak mungkin terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu Pak Ustadz memang perempuan hebat. Hatinya yang bersih sukar untuk dilupakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya. Hatinya selalu tertambat pada masjid. Ibadahnya tak pernah putus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setuju. Tapi, hati beliau juga selalu menyapa orang kecil yang kesusahan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allahu Akbar! Allahu Akbar!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Pak Ustadz diistirahatkan di pemakaman keluarga. Jarak dari rumah keluarga menuju pemakaman hanya sekitar satu kilometer. Tidak terlalu jauh. Karena itu, para pelayat tidak perlu berpeluh saat mengantarkan jenazah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berada di pemakaman, mereka tertegun sesaat. Sebagian besar dari mereka tidak percaya bahwa mereka berada di pemakaman. Sebab mereka tidak melihat makam yang umumnya kerap mereka lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makam itu lebih mirip sebuah taman. Bersih. Indah. Menyegarkan. Rumput yang tumbuh terlihat jelas ditata rapi. Batu-batu kecil terhampar sebagai pijakan kaki. Teratur. Memang terdapat beberapa pohon besar, tapi pohon besar itu amat menyatu dengan lingkungan makam. Tak ada kesan menakutkan apalagi angker saat berada di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pelayat terpesona dengan makam keluarga Pak Ustadz. Mereka seperti tidak ingin meninggalkannya. Mereka merasa betah. Dalam hati mereka bahkan muncul kerinduan untuk datang ke situ lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba seorang pelayat berucap lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, pantas dulu Pak Ustadz pernah berkata. Nabi menganjurkan kita untuk sering melakukan ziarah kubur. Kenapa kita memberlakukan makam sebagai tempat yang angker hingga kita takut mengunjunginya?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pelayat kini mengerti apa arti sebuah makam bagi Pak Ustadz. Makam memang bukan sekadar kuburan bagi yang mati. Makam juga adalah "perpustakan" bagi yang hidup, tempat semua orang bisa belajar dari kisah kematian seseorang. * * *&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-6412912899916812310?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/6412912899916812310/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=6412912899916812310' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6412912899916812310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6412912899916812310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/06/makam-yang-indah.html' title='MAKAM INDAH'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-6432582255649989659</id><published>2009-06-18T13:49:00.000+07:00</published><updated>2009-06-20T07:51:11.066+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang CINTA'/><title type='text'>IBU (II)</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hari ini Pak Ustadz berduka. Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit ibu Pak Ustadz akhirnya berpulang ke hadirat Ilahi Robbi. Tidak ada yang menyangka kepergian ibu Pak Ustadz akan secepat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari terakhir kondisinya malah terlihat semakin baik. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kesadaran ibu Pak Ustadz sudah mulai pulih. Matanya tidak terpejam lagi. Bibirnya telah menyunggingkan senyum. Wajahnya berbinar tulus. Tapi, semua tidak menyangka bahwa itu adalah pertanda. Pertanda untuk yang terakhir kalinya.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Semua merasakan kehilangan. Untuk beberapa saat Pak Ustadz tak henti-hentinya meneteskan air mata. Bahkan Pak Ustadz seolah tidak berniat menghentikannya. Ia seperti ingin menunjukkan bahwa kehilangan seorang ibu ibarat sebuah bencana yang maha hebat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ibu adalah sumur kelembutan bagi kami semua. Ia marah, tapi tidak memerah. Ia benci, namun tidak membabi. Dengan kelembutan itu ibu menyapa kami. Anak-anak, cucu-cunya...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bibir Pak Ustadz bergetar. Ia terbata-bata dengan hati membuncah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Kami selalu ingat. Pada ibulah kami semua bergayut manja. Juga pada ibulah kami memeluk memohon perlindungan. Pada ibulah kami memohon agar ia mau membuka pintu hatinya hingga bibirnya berucap doa untuk anak-anaknya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mata Pak Ustadz menerawang ke langit. Jelang senja itu. Tapi, hatinya tak lepas dari wanita yang telah melahirkannya itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Ibu telah membuat anak-anaknya menjadi manusia. Seutuh-utuhnya manusia. Tak henti-hentinya ibu mendorong kami semua untuk berbagi. Dengan berbagi, kami tahu bahwa kami telah menjadi manusia."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz mengenang dengan segenap jiwa. Tapi, tiba-tiba ia bertanya dengan penuh gugatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Tahukah kalian semua, kenapa aku harus begitu bersedih untuk seorang manusia yang dipanggil ibu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Para peziarah saling berpandangan. Mereka tak tahu harus menjawab apa. Kata Pak Ustadz kemudian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Karena Allah telah menutup satu lubang amal pada diriku. Maka berbahagialah kalian semua yang masih memiliki ibu. Buat ia menangis! Buat ia menangis dengan kasih sayangmu, tapi jangan buat ia menangis dengan kedurhakaanmu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Air mata Pak Ustadz membajir. Para peziarah menunduk haru. Tapi, dari getar tulus suaranya, para peziarah tahu, Pak Ustadz adalah mutiara yang dicetak tangan lembut seorang ibu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-6432582255649989659?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/6432582255649989659/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=6432582255649989659' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6432582255649989659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6432582255649989659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/06/ibu-ii.html' title='IBU (II)'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-6190652639885618448</id><published>2009-06-18T09:49:00.000+07:00</published><updated>2009-06-18T13:35:41.445+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang CINTA'/><title type='text'>IBU (I)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Hari ini Pak Ustadz terus berjaga di rumah sakit. Ibunya sudah beberapa hari dirawat. Penyakit &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;"&gt;sepuh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt; telah menghalangi ibunya untuk terus dapat sehat seperti sediakala. Pak Ustadz sudah pasrah dengan keadaan ibunya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Namun, Pak Ustadz tak mau kehilangan kasih dari orang yang melahirkannya. Maka setiap hari Pak Ustadz tidak pernah tidak berdiam di rumah sakit. Ia selalu berada di rumah sakit! Setiap malam ia memilih berjaga demi ibunya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Apakah Pak Ustadz selalu tidur di sini?" tanya seorang ibu penjenguk yang merupakan jamaah pengajian bimbingan Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Iya, ibu. Saya berusaha untuk selalu dekat dengan ibu saya. Selalu dekat. Momen-momen seperti ini membuat saya selalu ingat bahwa apa yang saya lakukan untuk ibu, tidak sebanding dengan apa yang ibu saya lakukan untuk saya, " jawab Pak Ustadz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Mata ibu Pak Ustadz terpejam. Tidak membuka dan sama sekali tidak pernah membuka. Sejak dibawa ke rumah sakit setelah terjatuh di kamar mandi saat hendak mengambil air wudhu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Pak Ustadz tidak bergantian dengan adik atau kakak Pak Ustadz?" tanya jamaah yang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz menggeleng. Bibirnya tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Adik dan kakak saya selalu ke sini. Tapi, saya berusaha untuk terus menunggui ibu saya. Tidak peduli apakah kakak atau adik saya berada di sini."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bibir ibu Pak Ustadz mengerang. Ia seperti merasakan sakit. Tubuhnya mengeluarkan keringat. Banyak. Amat banyak. Tubuh ibu Pak Ustadz seolah bermandi keringat. Pak Ustadz bergegas menghampiri ibunya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pak Ustadz menyeka keringat itu dengan penuh welas. Penuh kasih. Ia ingin ibunya merasakan kasih tulus darinya. Bibir Pak Ustadz terus berdoa. Tanpa henti.  Ia tak ingin ibunya merasakan derita. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Karena ibuku ini pintu masuk ke surga akan terbuka untukku hingga bisa aku masuki, " ucap Pak Ustadz dengan bibir bergetar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Semua pembesuk menunduk. Takjub. * * *&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-6190652639885618448?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/6190652639885618448/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=6190652639885618448' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6190652639885618448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6190652639885618448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/06/ibu-i.html' title='IBU (I)'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-225932573007971686</id><published>2009-06-17T14:04:00.001+07:00</published><updated>2009-07-14T13:10:28.775+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AKHLAK'/><title type='text'>DAKWAH MALU</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;Malam sudah merambat ke tengah. Pak Ustadz hendak pulang ke rumah. Dakwah yang dilakukannya sejak pagi hingga sore telah menyita perhatiannya. Dampaknya, ia mesti pulang larut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angkot bersliweran di depan Pak Ustadz. Meski malam, jalan raya di daerahnya tetap ramai. Namun, hingga hampir setengah jam, ia belum menemukan angkot yang dicarinya. Hati Pak Ustadz sedikit gundah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alhamdulillah..." batin Pak Ustadz tak lama setelah melihat angkot yang hendak dinaikinya muncul juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz menghentikan angkot itu. Ia langsung naik dan mencari tempat duduk yang kosong. Diperhatikannya para penumpang yang ada. Oh, tidak terlalu penuh. Hanya ada lima orang termasuk dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angkot melaju perlahan-lahan. Pak Ustadz berharap angkot berjalan cepat. Ia sudah tak sabar ingin sampai di rumahnya. Namun, belum lama angkot melaju, Pak Ustadz mulai terganggu dengan suara cekikikan di pojok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang muda-mudi tampak asyik bercanda ria. Mereka asyik bermesraan. Beberapa kali sang pemudi mencubit manja pasangannya. Sedangkan yang pemuda tak berhenti menggoda sang pemudi. Sesudah itu mereka saling berpandangan. Mesra sekali. Tangan keduanya saling menggenggam, tak bisa dilepaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz gelisah. Ia paham muda-mudi itu telah mengganggu penumpang yang lain. Ia juga paham apa yang dilakukan keduanya merupakan perbuatan yang tidak semestinya. Tapi, Pak Ustadz sendiri bingung apa yang mesti dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ia memiliki akal. Ia tahu dakwah harus dilakukan dengan lembut dan membawa hikmah. Lembut artinya dakwah dilakukan dengan kata-kata yang sopan dan tindakan serta sikap yang santun. Hikmah, artinya dakwah itu mampu memberi pencerahan, baik kepada orang yang didakwahi maupun sang pendakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz menyapa ramah kepada sepasang muda-mudi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dik, putranya berapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang muda-muda itu terkejut. Mereka tidak menyangka ada orang yang bertanya seperti itu. Mereka tidak menjawab. Namun, mereka amat malu. Buru-buru sang pemuda meminta sopir untuk menghentikan angkotnya. Lalu, ia menarik pasangannya turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat itu, Pak Ustadz hanya bisa tersenyum simpul. Juga penumpang yang lain. * * *&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-225932573007971686?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/225932573007971686/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=225932573007971686' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/225932573007971686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/225932573007971686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/06/dakwah-malu.html' title='DAKWAH MALU'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-6267331121410571295</id><published>2009-06-17T09:27:00.000+07:00</published><updated>2009-06-19T08:43:25.512+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang AMAL'/><title type='text'>ORANG BANGKRUT</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz kedatangan tamu. Pak Amir namanya. Ia adalah juragan kayu yang ternama. Perusahaannya berkembang pesat. Karyawannya ratusan. Mobilnya puluhan. Kekayaannya bejibun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Meski kaya, Pak Amir orang yang rendah hati. Ia juga terkenal dermawan. Ia tidak pernah memamerkan kekayaan miliknya. Ia juga tidak pernah menghardik peminta-minta atau pencari sumbangan yang mampir ke rumahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kali ini Pak Amir datang ke rumah Pak Ustadz dengan muka tertunduk. Mukanya ditekuk. Parasnya kuyu. Seperti ada beban di pundak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Oh, Pak Amir. Bagaimana kabarnya?" tanya Pak Ustadz ramah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Buruk, Tadz. Usaha saya hancur. Saya ketipu habis-habisan. Mitra bisnis saya yang selama ini amat saya percayai ternyata tega berbuat nista. Ia menerima kiriman kayu saya, tapi tanpa mau membayarnya..." keluh Pak Amir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz terkejut. Ia tidak menyangka nasib Pak Amir akan seperti itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Lalu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Saya tidak tahu harus berbuat apa. Para karyawan satu persatu sudah mulai meninggalkan saya. Sedangkan pihak bank mulai mengancam. Kalau tidak segera dilunasi utang-utang saya beserta bunganya, maka saya harus siap-siap angkat kaki dari rumah yang saya tinggali. Mobil-mobil saya pun hendak disita."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz manggut-manggut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Saya kasihan dengan istri dan anak-anak saya. Akibat kebodohan bapaknya, mereka mesti menanggung akibatnya. Coba kalau saya tidak terlalu percaya dengan mitra bisnis saya itu, mungkin kejadian ini tak akan terjadi...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz hanya diam. Ia tak mampu berkata-kata. Ia paham dirinya bukan seorang pebisnis. Jadi, mana mungkin ia mampu memberi jalan keluar atas kesulitan yang dialami Pak Amir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Saya kini telah menjadi orang yang bangkrut...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Ustadz terkejut mendengar ucapan Pak Amir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Tidak, Pak Amir. Pak Amir bukan orang yang bangkrut. Pak Amir hanya orang yang sedang diuji, " kata Pak Ustadz tegas. "Sebab orang yang bangkrut adalah orang yang amal kebaikannya tidak mampu menutupi perbuatan buruknya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Amir mendongak dan memandang Pak Ustadz. Mata Pak Ustadz membalasnya lembut.&lt;br /&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-6267331121410571295?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/6267331121410571295/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=6267331121410571295' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6267331121410571295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/6267331121410571295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/06/bangkrut.html' title='ORANG BANGKRUT'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-1876949225211420306</id><published>2009-06-17T08:43:00.000+07:00</published><updated>2009-06-17T09:23:42.098+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang ILMU'/><title type='text'>TONGKAT MUSA</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: left;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Udin dan Joko asyik berdebat di gardu ronda. Mereka ramai memperdebatkan persoalan mi'raj Nabi. Kedua-duanya saling bersikeras dengan pendapatnya masing-masing. Keduanya tidak ada yang mau mengalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak benar kalau Nabi pergi ke langit dengan badannya. Ini tidak masuk akal. Bagaimana logika kita bisa menerimanya?" sergah Joko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udin tak mau kalah. "Lho bisa saja. Apa yang tidak  mampu dilakukan oleh Allah. Tinggal bilang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kun fa yakun&lt;/span&gt;, jadi maka jadilah. Ya, sudah Nabi sudah berada di langit ke tujuh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, kacau pendapatmu. Saya lebih percaya kalau yang naik ke langit hanya ruhnya. Sedangkan badannya tertinggal. Sebab, kalau ke langit dengan badannya, pasti badan Nabi akan hancur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hancur bagaimana? Bukankah Allah yang akan melindungi Nabi? Dengan kekuasaan Allah yang Maha Segalanya, tubuh Nabi akan tetap utuh, baik saat pergi maupun saat pulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ok. Aku setuju tentang ke-Maha Segalanya- Allah. Tapi, seharusnya tafsiran agama mesti bisa diterima akal. Kalau akal susah menerima, bagaimana kita mau percaya agama itu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho,tafsiran mana yang tidak masuk akal?! Tafsiran ruh dan tubuh Nabi ke langit juga masuk akal. Bukankah Muhammad seorang Nabi yang pasti akan dilindungi Allah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar. Muhammad memang seorang Nabi. Tapi, Muhammad juga manusia biasa, seperti manusia yang lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya. Nabi memang manusia biasa. Tapi, dia &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ma'shum,&lt;/span&gt; terlindung dari dosa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, dia manusia!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya! Tapi, manusia yang luar biasa!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, manusia!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, manusia luar biasa!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udin dan Joko terus berdebat tanpa akhir. Masing-masing kukuh dengan pendapatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama, Pak Ustadz lewat di depan keduanya. Joko dan Udin meminta pendapat Pak Ustadz untuk menengahi. Pak Ustadz manggut-manggut mendengar curahan hati keduanya. Lalu, Pak Ustadz menerangkan masalah itu sejelas-jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir pembicaraan, sambil berlalu Pak Ustadz berucap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita memang rajin berdebat tentang tongkat Musa yang terbuat dari kayu atau besi. Namun, kita selalu malas merengkuh pelajaran tentang semangat Musa dalam mendakwahi kaumnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko dan Udin saling berpandangan. Mereka menerka-nerka apa maksud ucapan Pak Ustadz. * * *&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-1876949225211420306?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/1876949225211420306/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=1876949225211420306' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1876949225211420306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/1876949225211420306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/06/tongkat-musa.html' title='TONGKAT MUSA'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4276892455797722680.post-5505252637557115499</id><published>2009-06-16T16:51:00.001+07:00</published><updated>2009-07-05T08:01:48.410+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang TUBUH'/><title type='text'>MATA YANG SELAMAT</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;Sore itu Pak Ustadz hendak menengok Bang Muhar yang sedang dirawat di rumah sakit. Bang Muhar terjatuh dari motor saat menuju kantornya. Bang Muhar bekerja sebagai satpam di sebuah instansi pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sedang berada dalam pembaringan, Bang Muhar terkejut mendapati Pak Ustadz sudah berada di depan pintu kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Eh, Pak Ustadz. Masuk, pak. Masuk!” seru Bang Muhar setelah menjawab salam Pak Ustadz. Pak Ustadz tersenyum mendengar seruan Bang Muhar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lho, kok nggak ada yang jaga?” tanya Pak Ustadz. ”Sendirian saja, nih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Muhar tersenyum kecil. Ia tahu Pak Ustadz ingin menggoda dirinya karena bukankah dirinya memang belum menikah. Masih sendiri. Belum ada yang mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz memperhatikan sekujur tubuh Bang Muhar. Semua tampak tidak ada masalah, kecuali matanya. Mata yang sebelah kiri bahkan tertutup rapat karena diplester.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Bang Muhar, mata itu terkena sodokan setang motor miliknya. Ia jatuh terjerembab setelah gagal menghindari lubang yang berada di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Setang motormu sukses menyentuh matamu. Tapi, aku doakan, api neraka tidak mampu menyentuh kedua matamu,” kata Pak Ustadz setengah serius, setengah bercanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Muhar merasa tersanjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ah, Pak Ustadz ada-ada saja. Memang mata seperti apa yang tidak akan terkena api neraka, Pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mata yang tidak tersentuh api neraka ada dua. Pertama, mata yang selalu meneteskan air mata karena takut kepada azab Allah. Kedua, mata yang selalu begadang sebab berjaga di jalan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati Bang Muhar berbunga. Ia tersenyum.” * * *&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4276892455797722680-5505252637557115499?l=bsigitwidiantoro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/feeds/5505252637557115499/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4276892455797722680&amp;postID=5505252637557115499' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/5505252637557115499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4276892455797722680/posts/default/5505252637557115499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bsigitwidiantoro.blogspot.com/2009/06/mata_16.html' title='MATA YANG SELAMAT'/><author><name>pemungut "sampah hikmah"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08201986509845161308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
